Mag-log inFiras tampak membeku di hadapan Yuna. Rahangnya mengencang tipis, dan Yuna juga menyadari perubahan ekspresi Firas yang kini terlihat tak percaya seolah pria itu salah mendengar perkataannya barusan.
“Yuna …” suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang hati-hati. “Maksud kamu apa?”Yuna menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, hingga suaranya nyaris tidak keluar.“Saya … nggak punya pilihan, Firas,” bisiknya pelan. “Semua biaya operasi, perawatan Ibu … semuanya dia yang tangguYuna tetap diam. Namun di dalam kepalanya, semuanya justru semakin kacau. Perkataan Yuvita tadi terus bergema di kepalanya hingga Yuna mulai ketakutan. Karena kalau Yuvita tak sengaja tahu dari orang lain … terutama Firas yang sudah mengetahuinya lebih dulu darinya …. Dadanya langsung terasa sesak. Napasnya memburu tanpa bisa ia kendalikan. Kalau Firas dengan segala empati yang ia tunjukkan, ditambah sisa amarah yang sempat terlihat di koridor tadi, benar-benar memilih untuk berbicara … semuanya bakal hancur berantakan. Bukan hanya kontrak, dan bukan juga hanya dirinya yang hancur. Tapi ibunya … dan Karier Firas. Yuna mengepalkan tangannya. Pikirannya berputar cepat untuk mencari celah, mencari alasan apa saja agar Yuvita percaya. “Ibu …” Yuna akhirnya membuka mulut. Suaranya sedikit serak. “Aku nggak mau Ibu sakit lagi kalau Ibu terus mikirin hal-hal seperti ini. Apalagi—” Tok. Tok Tok. Ucapan Yuna terpotong saat pintu ruang inap terbuka pelan, membuat Yuna dan Yuvit
Keheningan di dalam kamar rawat inap terasa lebih berat dari sebelumnya. Yuvita masih menangkup wajah Yuna dengan kedua tangannya. Tatapannya semakin tajam, meski suaranya masih lembut. “Yuna …” panggil Yuvita pelan. “Sekarang jawab Ibu dengan jujur. Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?” Yuna merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Ia berusaha tersenyum, tapi senyumannya terasa kaku dan rapuh. “Bu, aku sudah jelasin waktu itu. Itu bonus dari kantor. Kebetulan beberapa kasus terakhir berhasil, jadi aku dapat apresiasi lebih.” Yuvita tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah Yuna lekat-lekat, seolah sedang mencari kebohongan di balik mata anaknya. “Jawaban itu lagi?” suaranya tetap pelan. “Bonus dari kantor … sampai bisa nutup semua utang kartu kredit, beli rumah atas nama kamu, dan sekarang bayar perawatan VIP?” Ia menatap Yuna lebih dalam. “Apa itu masuk akal menurut kamu, Nak?” Yuna
Saat pintu sudah terbuka, Yuna menangkap sosok Ibunya yang sudah duduk di pinggir ranjang dengan pakaian yang lebih rapi dan wajah yang tampak jauh lebih segar. Dadanya langsung terasa penuh. “Bu …” suaranya nyaris pecah. Yuvita menoleh dengan wajah sumringah sambil menyambut putrinya. “Yuna?” panggil Ibunya lembut. “Kamu akhirnya datang jemput Ibu.” Tanpa menunggu, Yuna langsung mendekat dan memeluk Yuvita erat. Pelukan mereka begitu hangat, hingga membuatnya ingin menangis sejak detik pertama. “Syukurlah … Ibu sudah boleh keluar dari rawat inap,” bisiknya pelan di bahu Yuvita. Yuvita sedikit terkejut dengan pelukan itu. Lalu tangannya terangkat dan mengusap punggung Yuna dengan lembut seperti dulu. “Iya, Nak. Ibu juga senang akhirnya boleh keluar dari kamar ini,” jawabnya ringan, bahkan terdengar ceria. “Ibu sudah jauh lebih enakan sekarang.” Namun beberapa detik kemudian, tubuh Yuvita sedikit kaku dan tak bisa bergerak lantaran pelukan Yuna kali ini tidak biasa, seolah … tak
Keheningan di koridor terasa menekan setelah perkataan Kai jatuh begitu saja. Yuna masih berdiri kaku di sisinya. Pergelangan tangannya berada dalam genggaman Kai yang tidak terasa menyakitkan, namun cukup tegas untuk membuatnya sadar bahwa ia tidak punya ruang untuk bergerak bebas. Firas menatap tangan itu sejenak, lalu kembali mengangkat pandangannya ke wajah Kai. Rahangnya mengeras tipis, namun ia tetap menjaga sikapnya. Kai melanjutkan dengan nada datar tanpa ekspresi. “Kalian tidak akan bertemu untuk sementara,” ucap Kai datar. “Setidaknya sampai ‘semuanya’ selesai.” Firas mengerutkan dahi. “Semuanya selesai …?” Kai mengangguk singkat sambil melanjutkan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih rendah. “Sepertinya Yuna sudah bicara cukup panjang soal saya,” katanya pelan. “Dan menariknya … baru kali ini saya melihat dia bisa bicara terang-terangan pada orang lain, terutama pada Anda.” Kai melirik Yuna sekilas dengan sorot matanya yang penuh kepemilikan. “Saya bena
Firas tampak membeku di hadapan Yuna. Rahangnya mengencang tipis, dan Yuna juga menyadari perubahan ekspresi Firas yang kini terlihat tak percaya seolah pria itu salah mendengar perkataannya barusan.“Yuna …” suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang hati-hati. “Maksud kamu apa?”Yuna menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, hingga suaranya nyaris tidak keluar.“Saya … nggak punya pilihan, Firas,” bisiknya pelan. “Semua biaya operasi, perawatan Ibu … semuanya dia yang tanggung.”Firas mengerutkan dahi dengan napasnya yang mulai memburu.“Yuna, bantuan biaya bukan hal yang aneh,” katanya dengan napas sedikit berat. “Tapi bukan berarti kamu harus … mengorbankan diri kamu seperti ini.”Yuna menggeleng cepat. Matanya mulai berkaca-kaca. Pikirannya sudah buntu sejak ia sudah terlanjur jujur pada Firas.“Ini bukan bantuan biasa,” ucapnya lirih. “Ada perjanjian, ada syarat, dan … saya sudah terlanjur terikat terlalu dalam.”Firas menatapnya tajam sekar
Yuna berdiri kaku di samping Kai, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa mau meledak. Karena detik itu juga, Yuna tahu ini bukan sekadar pertemuan biasa. Yuna merasa dunia berputar. Ini sangat … sangat salah. Karena seingat Yuna, ini tidak seharusnya terjadi! Dalam cerita Novel yang ia ingat, tidak pernah ada adegan seperti ini. Tidak ada pertemuan antara Firas dan Kai di rumah sakit, apalagi di koridor rawat inap seperti sekarang! Situasi seperti ini … tidak ada di alur yang ia kenal. Dan sekarang, semuanya terasa sudah melenceng terlalu jauh dari jalur semestinya. Firas menatap mereka berdua bergantian. Wajahnya masih tenang, tapi sorot matanya berubah waspada. “Kai … Verazo?” ulangnya pelan sambil memastikan. Kai tidak terlihat terkejut. Ia justru berjalan maju setengah langkah dengan sikap tenang dan penuh kendali. Ia mengulurkan tangan lebih dulu. “Dokter Firas,” sapa Kai datar sambil sedikit mengangguk. “Senang bertemu dengan Anda. Terima kasih atas kerj
Yuna menoleh cepat, matanya membelalak. “Sa–salon?” Kai mengangguk sekali. “Kamu kelihatan seperti orang yang tidak merawat diri selama berminggu-minggu. Itu tidak boleh.” Yuna merasa darahnya naik ke wajah. Bukan karena malu, tapi karena kata-kata itu terdengar seperti perintah sekaligus pe
Yuna menatap Kai dengan mulut setengah terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa sakit di dada. “B–bukan siapa-siapa,” jawabnya pelan, hampir tak terdengar. Kai tidak berkedip. Tatapannya tetap tajam, seolah bisa melihat langsung ke da
Yuna menatap Alya dengan mata membelalak. Alya … kenapa? Kenapa dia malah bilang seolah ia yang tak suka dibela? Hati Yuna hancur lebur. Entah kenapa apa yang dikatakan sang tokoh utama itu membuat ia tambah merasa bersalah, bahkan merasa tak pantas dapat pembelaan darinya. Ruangan kembali he
Alya membeku di tempat. Matanya berkaca-kaca, napasnya bergetar, seolah kata-kata Yuna barusan masih menggema keras di kepalanya. “Kak … kenapa Kakak ngomong gitu? Aku cuma nggak mau liat Kakak diinjak terus. Aku punya salah apa sama Kakak sampai Kakak teriakin aku kayak gini?” Yuna langsung







