Mag-log in
“Ini sudah kesalahan kedua kalinya dalam seminggu. Kamu harus lebih baik dari ini, Yuna. Atau saya akan pertimbangkan ulang posisi kamu di sini.”
Suara Kai yang dingin dan tajam memecah keheningan ruang rapat Firma Hukum Verazo & Associates. Dia berdiri di depan meja konferensi panjang sambil tangan disilangkan di dada, mata hitamnya menusuk langsung ke arah Yuna yang sedang duduk di kursinya dengan gestur tubuhnya yang menegang. Jas hitamnya terlihat sempurna membalut tubuh tegap dan atletis itu, tapi auranya ... membekukan seluruh ruangan. Semua mata tertuju pada Yuna yang wajahnya kini memucat. Tangan Yuna bergetar pelan di bawah meja. Yuna menelan ludah, tapi dalam hati dia menangis pilu. 'Kenapa sih nasibku gini terus? Di kehidupan sebelumnya, aku sering dimarahi bos karena kerjaan kecil-kecil. Gaji pas-pasan, hidup susah, akhirnya kecelakaan truk itu bikin aku koma. Bangun-bangun di tubuh Yuna Rein ini, masih aja dimarahi bos. Apa aku dikutuk jadi budak korporat selamanya?' Ya. Dia bukan Yuna Rein yang asli. Dia adalah ... seseorang dari dunia nyata. Seorang pembaca novel yang kecelakaan mobil truk, koma, lalu bangun di sini. Di tubuh seorang pengacara junior di firma hukum yang sangat bergengsi ini. Ini dunia novel reverse harem yang dia baca sebelum kecelakaan. Judulnya Tiga Bayang Pria Alpha. Dia ingat plot besarnya: Alya Reizka, tokoh utama yang manis, polos, tapi seperti magnet bagi tiga pria alpha. Salah satunya pria di depan mata Yuna. Kai Verazo. Pengacara top se Asia, sekaligus bos dingin, disiplin kelewatan, killer di pengadilan. Dan tipe red flag king yang digemari banyak perempuan. Di novel, pria inilah yang nantinya akan berakhir dengan Alya. Sang bos yang berhasil menaklukan sang pemeran utama di cerita tersebut. Kalau Yuna sendirinya, aslinya adalah tokoh antagonis, rekan kerja Alya yang diam-diam iri karena Alya didekati tiga pria utama. Kecemburuannya perlahan berubah menjadi obsesi. Ia merancang berbagai intrik terhadap Alya, sampai akhirnya kisahnya berakhir tragis. Yuna yang sekarang menghela napas dalam-dalam. Ia sudah membulatkan tekad. Demi bisa bertahan di kehidupan ini, ia akan menjauhi plot utama, menghindari drama, dan mencari cara pulang ke dunia asli! Rapat bubar. Semua orang buru-buru keluar, namun Kai memanggilnya dengan suara rendah. “Yuna. Ke ruang saya. Sekarang.” Yuna bangkit dengan langkah yang terasa berat. Dia ikut Kai ke ruang pribadinya. Ruangannya besar dengan jendela kaca dari lantai ke plafon, pemandangan gedung-gedung tinggi di sore hari. Kai duduk di kursi kulit hitam besar di belakang meja. Kancing kemeja atasnya terbuka sedikit, memperlihatkan garis leher tegas dan sedikit dada berotot. Dia menyerahkan tumpukan berkas tebal. “Pelajari ini semua. Jangan pulang sebelum selesai. Dan jangan ada lagi satu kesalahan pun.” Rasanya Yuna ingin protes. Dia capek, lapar, dan otaknya masih pusing adaptasi dunia baru ini. Tapi tatapan Kai ... seperti predator yang sedang mengukur mangsa. Lantas, kata-kata protes tertelan mentah-mentah. “Baik, Pak Kai,” jawabnya pelan, suara hampir bergetar. Dia ambil berkas itu dan keluar ruangan dengan cepat. Saat keluar dari ruangan Kai, Yuna langsung dihadang oleh seorang senior wanita, Rosie, yang sudah lama di firma ini. Rosie adalah figuran di novel yang tugasnya seolah menuang minyak ke dalam api. Kalau ada skandal, langsung menyebar gosip. Kalau tokoh utama terlibat masalah, ia ikut menghujat habis-habisan. Wajah Rosie menyeringai sinis, dikelilingi dua rekan senior lain yang ikut-ikutan tertawa pelan. “Wah, Yuna lagi-lagi dipanggil bos ya? Pasti lagi modusin Pak Kai, kan? Liat aja, baju rok pendek gitu, sengaja biar keliatan kaki mulus?” ejek Rosie sambil menyikut rekannya. Wajah Yuna terasa panas. Begitulah memang sifat Yuna yang asli. Iri, penuh ambisi, dan menjadi sumber masalah bagi kehidupan Alya. Namun Yuna yang sekarang merasa itu bukan dirinya. Di dunia nyata, ia hanyalah orang biasa yang lebih suka hidup tenang dan tidak menonjol. Ia sama sekali tidak ingin menjadi pusat konflik, apalagi berakhir sebagai villainess dengan nasib tragis di akhir cerita. Tidak. Ia tidak mau berakhir seperti itu. Yuna tak melawan, melainkan ia tersenyum paksa sambil menggeleng pelan. “Nggak kok. Cuma tugas biasa.” Rosie malah melempar tumpukan berkas tambahan ke tangan Yuna. “Oh ya? Kalau gitu, ini kerjaan saya yang belum selesai. Kamu kerjain ya, biar saya bisa pulang duluan. Kamu kan lagi lembur sama Pak Kai, sekalian aja. Jangan bilang nggak mau, nanti saya lapor ke HR loh!” Yuna menggigit bibir dan mengangguk kecil. Ia mengambil berkas itu sebelum kembali ke mejanya. Ia memutuskan tidak protes. Menambah musuh bukan ide yang bagus. Hidupnya sebagai Yuna—tokoh antagonis dalam cerita ini—sudah cukup rumit. Yang ingin ia lakukan sekarang hanya satu: menjalani plotnya tanpa menimbulkan lebih banyak drama. Malam pun semakin larut. Kantor sudah sepi hingga lampu-lampu sudah redup, hanya suara AC dan ketikan keyboard Yuna yang terdengar. Jam di layar laptop menunjukkan pukul 23:15. Akhirnya berkas selesai. Yuna capek luar biasa, badan terasa pegal sekaligus matanya terasa perih. Dia ambil tas, matikan lampu meja, dan berjalan ke lift menuju basement parkiran. Gedung sudah sepi, basement pun sudah gelap. Hanya lampu emergency kuning yang menyala redup. Dia melihat mobil sport hitam Kai yang masih terparkir di spot khusus bos. “Loh, dia belum pulang?” gumam Yuna bertanya-tanya. Yuna lewat dekat mobil itu. Dan benar saja, kaca pengemudi agak terbuka hingga cukup untuk melihat siluet di dalam. Kai ... sedang berciuman panas dengan seorang wanita berambut panjang hitam bergelombang. Wanita itu pun memakai gaun ketat merah marun. Tangan Kai mencengkeram pinggang wanita itu erat sambil menariknya lebih dekat dalam ciuman yang penuh hasrat. Napas mereka tersengal di antara jarak yang tak tersisa.Selamat datang di novel ke-tiga saya. Semoga kalian menikmati alur cerita ini yang kali ini lebih 'fresh'! Ditunggu komentar dari kalian semua, ya :) -Amaleo
“Firas?” suara Yuna terdengar kaku dan terkejut. “K-kenapa kamu di sini?” Pertemuan ini benar-benar datang di waktu yang salah. Firas berjalan mendekat dengan napas masih sedikit tidak beraturan seolah ia memang datang terburu-buru. “Tadi kamu menutup telepon terlalu cepat,” jawabnya. “Saya jadi khawatir.” Yuna langsung merasa bersalah. “Ah, maaf, Firas. Tadi ada sesuatu yang buat saya harus putusin panggilannya lebih dulu.” Firas terdiam sebelum matanya bergeser ke Kai di samping Yuna. Saat tatapannya langsung jatuh ke sudut bibir Kai yang masih berdarah, ekspresinya berubah. Firas memicingkan mata dan terkekeh pelan—suara tawa yang sarkastik dan tajam, sangat berbeda dari nada lembutnya yang biasa. “Bekas pukulan itu …” gumamnya sambil menatap Kai. “Saya nggak nyangka ternyata Anda malah terlibat masalah lagi di rumah sakit ini.” Yuna menegang keras di tempat dengan perasaan gelisah. “Firas, tolong … jangan bilang seperti itu,” ucap Yuna pelan. Firas menoleh ke Y
Jantung Yuna terasa diremas pelan. Untuk sesaat, ia hanya bisa menatap pria itu tanpa kata-kata. Karena Kai Verazo bukan tipe orang yang mudah meminta maaf, bahkan mungkin terlalu jarang. Namun kali ini, tidak ada kesombongan dan tidak ada pembelaan diri. Hanya penyesalan yang sederhana dan jujur. Yuna menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu. Langkah kaki Yuna terasa jauh lebih berat dibanding saat ia keluar dari kamar rawat inap tadi. Pikirannya berputar tanpa henti tentang Kai, kontrak yang tersisa delapan hari dan tentang dirinya sendiri, bahkan juga Firas yang mau menunggunya sampai kontrak selesai. Awalnya semua terasa sederhana. Ia tinggal menjalani kontrak tersebut, bertahan di roller coaster kehidupan yang tak ada habisnya. Asal bisa menyelamatkan ibunya dan dirinya sendiri, maka semuanya akan berakhir begitu saja. Tapi sekarang, semakin lama, semakin banyak hal yang bergerak keluar dari jalur cerita yang pe
Kai terdiam cukup lama setelah pertanyaan Yuna meluncur. Gadis itu langsung menyesal. Mungkin seharusnya ia tidak bertanya sejauh itu. Tapi pertanyaan itu sudah terlanjur keluar dan tidak bisa ditarik kembali. Kai hanya menatapnya tanpa berkedip. Lalu ia menghembuskan napas pelan dan menggeleng tipis. “Kalau kamu bertanya apakah saya menyukai kamu … atau bahkan mencintai kamu,” ucap Kai jujur, suaranya rendah, “saya tidak tahu. Saya tidak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya.” Ia terdiam sejenak, rahangnya menegang. “Yang saya tahu … saya tidak mau kehilangan kamu.” Tatapannya semakin dalam. “Saya tahu saya peduli. Saya tahu saya terus memikirkan kamu. Dan saya tahu … fakta bahwa kontrak ini tinggal delapan hari lagi berakhir, membuat saya jauh lebih terusik daripada seharusnya.” Kai menatap Yuna lekat. “Perasaan apa sebenarnya ini … saya sendiri belum punya jawabannya, Yuna.” Yuna berdiri membeku. Dadanya naik-turun tidak karuan. Ucapan Kai terlalu jujur, hingga
Dunia Yuna seolah berhenti berputar. Seluruh tubuhnya langsung membeku di tempat. Jadi itu alasan Kendrik memukul Kai? Kai ... sudah jujur soal kontrak satu bulan mereka? Bagaimana bisa? Dan … kenapa Kai justru memilih mengakui hal itu kepada Kendrik? Padahal pria itu selama ini selalu menutupi semuanya, meski kadang perhatiannya di depan beberapa orang memancing reaksi penasaran dan curiga pada mereka berdua. “Apa …?” “Ya,” ucap Kai dengan suara dalam. “Ayah saya sudah curiga sejak kita menginjakan kaki di sini, bahkan ketika beliau akhirnya tahu saya mengetahui kamu anak dari Tante Yuvita. Dan ditambah … saya bilang ‘tidak keberatan dijodohkan’ tadi.” Jantung Yuna terasa jatuh ke perutnya. Kendrik … benar-benar curiga? Memang tidak bisa dipungkiri, saat Kai tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya ‘tidak keberatan dijodohkan’ dengan wajah serius di tengah candaan Yuvita tadi, ucapan itu pasti langsung menarik perhatian Kendrik. Apalagi bagi seorang ayah yang mengenal putran
Beberapa menit berlalu setelah Kendrik meninggalkan kamar rawat inap, Kai belum juga kembali masuk. Suasana yang tadi hangat kini berubah menjadi lebih tenang. Televisi masih menyala pelan di sudut ruangan, tapi perhatian Yuna dan Yuvita sama sekali tidak lagi tertuju ke sana. Yuvita menatap pintu kamar beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil. "Yuna, kenapa Kai belum juga masuk, ya?" Yuna terdiam. Ia sebenarnya memikirkan hal yang sama sejak tadi. Sejak Kendrik masuk seorang diri dengan wajah tegang dan berpamitan secara mendadak. Belum lagi, Kai sama sekali tidak muncul kembali setelah itu. "Aku nggak tahu, Bu." Yuvita mengernyit kecil. "Lalu sebenarnya apa yang terjadi di luar tadi?" Yuna menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu." Namun bahkan saat mengucapkannya, perasaan tidak nyaman masih mengendap di dadanya. Karena firasatnya mengatakan bahwa sesuatu memang sedang terjadi yang berhubungan dengan percakapan Kai dan Kendrik tadi. Dan Yuna merasa dirinya harus
Yuna menelan ludah berat dan menjawab pelan."Firas, Bu."Yuvita lngsung tersenyum lebar seketika itu juga. “Angkat dong, Nak. Ibu kangen ngobrol sama Dokter Firas.”Yuna menelan ludah gelisah sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Layar menampilkan wajah Firas yang sedang duduk di kursi kemudi mobil. Wajahnya tersenyum lembut. Lampu jalan malam memantul samar di kaca jendela belakang."Halo."Yuna berusaha tersenyum normal."Halo. Firas, kamu lagi di jalan?""Iya, nih." Tatapan Firas lalu bergerak ke belakang Yuna. "Yuna, kamu lagi di mana? Kamu di rumah sakit?"Yuna mengangguk."Iya, lagi jenguk Ibu.""Oh,” ucap Firas mengerti.Lalu Yuna menggeser ponselnya ke arah Yuvita."Ibu juga di sini."Yuvita masuk ke frame layar ponsel, dan wajahnya langsung berbinar. "Halo, Dokter tampan."Firas langsung tertawa kecil."Halo, Ibu. Ibu terlihat makin sehat ya?"Senyum Yuvita semakin lebar. Mereka mulai mengobrol sambil Firas masih memperhatikan wajah Yuvita beberapa saat."Ada ke
Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b
Yuna meringkuk di ujung ranjang, selimut menutupi dagunya. Matanya terpaku pada noda darah tipis di sprei yang mulai mengering. Tangan kanannya gemetar saat menyentuhnya, seolah bisa menghapus kejadian malam ini dari ingatan.“Ini darah pertama … demi Ibu,” bisiknya dalam hati
Yuna langsung panik. Tangannya refleks menepis cengkeraman Kai di pergelangan, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Malah jarinya mengencang pelan. Ia mendengus kesal sekaligus malu. “Ma–mau ke mana lagi? S–saya mau tidur di kamar tamu lah!” jawab Yuna gelagapan, suaranya naik setengah o
Pintu lift yang mengarah ke koridor Presidential Suite Hotel X terbuka pelan. Yuna melangkah keluar dengan dress hitam satin yang menempel dingin di kulitnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini, dan ia sudah memilihnya. Demi Yuvita. Demi operasi bypass. DP







