Share

Sang Villainess Memikat Tiga Pria!
Sang Villainess Memikat Tiga Pria!
Author: Amaleo

Chapter 1.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-03-11 17:06:27

“Ini sudah kesalahan kedua kalinya dalam seminggu. Kamu harus lebih baik dari ini, Yuna. Atau saya akan pertimbangkan ulang posisi kamu di sini.”

Suara Kai yang dingin dan tajam memecah keheningan ruang rapat Firma Hukum Verazo & Associates.

Dia berdiri di depan meja konferensi panjang sambil tangan disilangkan di dada, mata hitamnya menusuk langsung ke arah Yuna yang sedang duduk di kursinya dengan gestur tubuhnya yang menegang.

Jas hitamnya terlihat sempurna membalut tubuh tegap dan atletis itu, tapi auranya ... membekukan seluruh ruangan.

Semua mata tertuju pada Yuna yang wajahnya kini memucat. Tangan Yuna bergetar pelan di bawah meja.

Yuna menelan ludah, tapi dalam hati dia menangis pilu.

'Kenapa sih nasibku gini terus? Di kehidupan sebelumnya, aku sering dimarahi bos karena kerjaan kecil-kecil. Gaji pas-pasan, hidup susah, akhirnya kecelakaan truk itu bikin aku koma. Bangun-bangun di tubuh Yuna Rein ini, masih aja dimarahi bos. Apa aku dikutuk jadi budak korporat selamanya?'

Ya. Dia bukan Yuna Rein yang asli. Dia adalah ... seseorang dari dunia nyata. Seorang pembaca novel yang kecelakaan mobil truk, koma, lalu bangun di sini. Di tubuh seorang pengacara junior di firma hukum yang sangat bergengsi ini.

Ini dunia novel reverse harem yang dia baca sebelum kecelakaan. Judulnya Tiga Bayang Pria Alpha.

Dia ingat plot besarnya: Alya Reizka, tokoh utama yang manis, polos, tapi seperti magnet bagi tiga pria alpha.

Salah satunya pria di depan mata Yuna. Kai Verazo. Pengacara top se Asia, sekaligus bos dingin, disiplin kelewatan, killer di pengadilan. Dan tipe red flag king yang digemari banyak perempuan.

Di novel, pria inilah yang nantinya akan berakhir dengan Alya. Sang bos yang berhasil menaklukan sang pemeran utama di cerita tersebut.

Kalau Yuna sendirinya, aslinya adalah tokoh antagonis, rekan kerja Alya yang diam-diam iri karena Alya didekati tiga pria utama.

Kecemburuannya perlahan berubah menjadi obsesi. Ia merancang berbagai intrik terhadap Alya, sampai akhirnya kisahnya berakhir tragis.

Yuna yang sekarang menghela napas dalam-dalam.

Ia sudah membulatkan tekad. Demi bisa bertahan di kehidupan ini, ia akan menjauhi plot utama, menghindari drama, dan mencari cara pulang ke dunia asli!

Rapat bubar. Semua orang buru-buru keluar, namun Kai memanggilnya dengan suara rendah.

“Yuna. Ke ruang saya. Sekarang.”

Yuna bangkit dengan langkah yang terasa berat. Dia ikut Kai ke ruang pribadinya. Ruangannya besar dengan jendela kaca dari lantai ke plafon, pemandangan gedung-gedung tinggi di sore hari.

Kai duduk di kursi kulit hitam besar di belakang meja. Kancing kemeja atasnya terbuka sedikit, memperlihatkan garis leher tegas dan sedikit dada berotot. Dia menyerahkan tumpukan berkas tebal.

“Pelajari ini semua. Jangan pulang sebelum selesai. Dan jangan ada lagi satu kesalahan pun.”

Rasanya Yuna ingin protes. Dia capek, lapar, dan otaknya masih pusing adaptasi dunia baru ini. Tapi tatapan Kai ... seperti predator yang sedang mengukur mangsa.

Lantas, kata-kata protes tertelan mentah-mentah.

“Baik, Pak Kai,” jawabnya pelan, suara hampir bergetar.

Dia ambil berkas itu dan keluar ruangan dengan cepat.

Saat keluar dari ruangan Kai, Yuna langsung dihadang oleh seorang senior wanita, Rosie, yang sudah lama di firma ini.

Rosie adalah figuran di novel yang tugasnya seolah menuang minyak ke dalam api. Kalau ada skandal, langsung menyebar gosip. Kalau tokoh utama terlibat masalah, ia ikut menghujat habis-habisan.

Wajah Rosie menyeringai sinis, dikelilingi dua rekan senior lain yang ikut-ikutan tertawa pelan.

“Wah, Yuna lagi-lagi dipanggil bos ya? Pasti lagi modusin Pak Kai, kan? Liat aja, baju rok pendek gitu, sengaja biar keliatan kaki mulus?” ejek Rosie sambil menyikut rekannya.

Wajah Yuna terasa panas. Begitulah memang sifat Yuna yang asli. Iri, penuh ambisi, dan menjadi sumber masalah bagi kehidupan Alya.

Namun Yuna yang sekarang merasa itu bukan dirinya.

Di dunia nyata, ia hanyalah orang biasa yang lebih suka hidup tenang dan tidak menonjol. Ia sama sekali tidak ingin menjadi pusat konflik, apalagi berakhir sebagai villainess dengan nasib tragis di akhir cerita.

Tidak. Ia tidak mau berakhir seperti itu. Yuna tak melawan, melainkan ia tersenyum paksa sambil menggeleng pelan.

“Nggak kok. Cuma tugas biasa.”

Rosie malah melempar tumpukan berkas tambahan ke tangan Yuna.

“Oh ya? Kalau gitu, ini kerjaan saya yang belum selesai. Kamu kerjain ya, biar saya bisa pulang duluan. Kamu kan lagi lembur sama Pak Kai, sekalian aja. Jangan bilang nggak mau, nanti saya lapor ke HR loh!”

Yuna menggigit bibir dan mengangguk kecil. Ia mengambil berkas itu sebelum kembali ke mejanya.

Ia memutuskan tidak protes. Menambah musuh bukan ide yang bagus. Hidupnya sebagai Yuna—tokoh antagonis dalam cerita ini—sudah cukup rumit. Yang ingin ia lakukan sekarang hanya satu: menjalani plotnya tanpa menimbulkan lebih banyak drama.

Malam pun semakin larut. Kantor sudah sepi hingga lampu-lampu sudah redup, hanya suara AC dan ketikan keyboard Yuna yang terdengar. Jam di layar laptop menunjukkan pukul 23:15.

Akhirnya berkas selesai. Yuna capek luar biasa, badan terasa pegal sekaligus matanya terasa perih. Dia ambil tas, matikan lampu meja, dan berjalan ke lift menuju basement parkiran.

Gedung sudah sepi, basement pun sudah gelap. Hanya lampu emergency kuning yang menyala redup.

Dia melihat mobil sport hitam Kai yang masih terparkir di spot khusus bos.

“Loh, dia belum pulang?” gumam Yuna bertanya-tanya.

Yuna lewat dekat mobil itu. Dan benar saja, kaca pengemudi agak terbuka hingga cukup untuk melihat siluet di dalam.

Kai ... sedang berciuman panas dengan seorang wanita berambut panjang hitam bergelombang. Wanita itu pun memakai gaun ketat merah marun.

Tangan Kai mencengkeram pinggang wanita itu erat sambil menariknya lebih dekat dalam ciuman yang penuh hasrat. Napas mereka tersengal di antara jarak yang tak tersisa.

Amaleo

Selamat datang di novel ke-tiga saya. Semoga kalian menikmati alur cerita ini yang kali ini lebih 'fresh'! Ditunggu komentar dari kalian semua, ya :) -Amaleo

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 226.

    Hari pernikahan telah tiba.Langit sore di The Orchid Garden berwarna keemasan. Ribuan bunga putih dan baby’s breath menghiasi altar sederhana namun elegan sesuai permintaan Yuna. Undangan dibatasi hanya keluarga dan orang-orang terdekat, menciptakan suasana intim yang hangat.Yuna berjalan menyusuri aisle dengan gaun A-line ber-detail lace yang dipilihnya bersama ibunya. Tangannya gemetar ringan di lengan Yuvita yang mengantarnya.Di ujung altar, Kai berdiri tegap dengan tuksedo hitam. Tatapannya tidak pernah lepas dari Yuna sedetik pun. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak lembut, bahkan sedikit tegang menahan emosi.Saat Yuna sampai di hadapannya, Kai mengulurkan tangan. Yuna meletakkan tangannya di atas telapak Kai yang hangat.“Kamu cantik sekali,” bisik Kai pelan, hanya untuk mereka berdua.Yuna tersenyum malu. “Kamu juga tampan.”Upacara berlangsung singkat, namun sarat khidmat. Saat mengucapkan janji pernikahan, suara Yuna sempat bergetar, menahan haru yang memenuhi dadan

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 225.

    “Jadi, sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?” Pertanyaan Kendrik yang lugas itu membuat Yuna hampir tersedak air putihnya. Matanya membulat dan jantungnya berdegup kencang. “Eh? Sekarang?” tanyanya tanpa sadar. Kai yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis. Ia menjawab dengan tenang, seolah sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama. “Tanggal 18 Oktober. Venue utama di The Orchid Garden, kapasitas 300 orang. Resepsi malam hari. Saya sudah pesan tanggalnya dua minggu lalu.” Yuna menoleh cepat ke arah Kai. Yang benar saja, pria ini malah bergerak cepat dari yang ia kira?! “Kamu … sudah pesan?!” Kai mengangguk santai, seolah itu hal biasa. “Saya tidak suka menunda hal penting.” Ah, benar. Memang begitulah Kai. Begitu sudah mengambil keputusan, ia tak pernah suka menunda atau mengulur waktu. Yuvita langsung berseri-seri, matanya berbinar penuh semangat. “Wah, tanggalnya bagus! Ibu setuju. Kita harus pilih gaun secepatnya, Yuna! Ibu bayangkan yang model A-line denga

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 224.

    Beberapa hari setelah malam itu, Yuna akhirnya mengambil keputusan. Dengan langkah mantap, ia masuk ke ruangan Kai di lantai Firma Hukum Verazo & Associates dan meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja kerja pria itu. Sejak terbangun di dunia novel ini, Yuna selalu berusaha menghindari alur yang telah ditentukan sambil berharap bisa lolos dari akhir tragis yang menanti sang antagonis. Namun kini, saat memutuskan meninggalkan firma itu, Yuna menyadari sesuatu. Tanpa pernah ia rencanakan, ia telah melangkah begitu jauh hingga tak lagi sibuk melarikan diri dari takdir. Kai membaca surat itu sekilas. Sudut bibirnya perlahan terangkat, lalu berubah menjadi senyum lebar yang begitu puas—ekspresi yang nyaris tak pernah ia perlihatkan di kantor. Yuna mendengus pelan dan menyilangkan tangan di depan dada. “Udah puas, kan? Saya sudah menurut apa kata kamu.” Kai tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, mengitari meja kerja dengan langkah santai namun penuh kuas

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 223.

    Kai membeku di tempat. Tatapannya yang biasanya tajam dan penuh kendali, kali ini dipenuhi kejutan yang tak bisa disembunyikan. Detik berikutnya, tangannya bergerak cepat. Ia menarik kepala Yuna ke dadanya dan memeluknya erat di koridor luar penthouse. “Terima kasih …” bisik Kai dengan suara berat, hampir parau. “Terima kasih karena sudah memberi saya kesempatan.” Pelukannya begitu kuat, seolah ia takut Yuna akan menghilang jika dilepaskan. Yuna terkubur dalam pelukan itu, menghirup aroma Kai yang sudah sangat familiar. Yuna tersenyum kecil di dada pria itu. “Terima kasih juga … karena sudah membuat hidup saya seperti roller coaster sejak kenal Anda.” Kai terkekeh pelan. Getaran tawanya terasa di dada Yuna. Ia melepas pelukan sedikit, cukup untuk menatap wajah Yuna, lalu mengambil cincin dari kotak itu. Kai mengangkat tangan Yuna dengan hati-hati. Tanpa terburu-buru, ia menyematkan cincin itu ke jari manis gadis itu. Saat cincin itu melingkar sempurna, keduanya hanya saling menat

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 222.

    Yuna membeku dengan jantung berdegup cepat, sampai rasanya terasa sakit. Wajahnya mendadak panas dan malu setengah mati. Karena pertama kali dalam hidupnya, ia dilamar oleh dua pria yang berbeda dalam satu malam.Yuna tergagap sambil tangannya bergerak ke mana-mana tanpa arah."Tu-tunggu, Kai! Ini ... ini terlalu tiba-tiba! Sa-saya ....”“Saya tahu, Yuna. Saya benar-benar tahu,” potong Kai rendah. “Awalnya saya pikir ... saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya. Tapi ternyata tidak.”Kai tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh keyakinan."Semakin saya mencoba melepaskanmu, semakin saya sadar, saya memang tidak ingin kehilanganmu.” Kai menunduk sekilas ke cincin di tangannya, lalu kembali menatap Yuna. "Saya belum tahu apakah ini yang orang-orang sebut cinta. Yang saya tahu … saya sudah memutuskan."Yuna menahan napas sejenak, dadanya semakin sakit karena debaran jantung yang semakin kacau."Kalau kamu bersedia ...." Kai mengangkat kotak cincin itu sedikit lebih tinggi. "Hab

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 221.

    Yuna terdiam. Angin malam kembali berhembus membawa dingin yang menyelip di antara keduanya. Dada Yuna terasa sesak oleh rasa bersalah yang mulai menghantuinya. “Apa karena kamu sudah menduga kalau ini bakal terjadi, Firas?” Yuna mengangkat wajahnya menatap pria itu. “Kamu bakal pergi karena … saya menolakmu?” Firas diam sejenak sebelum tersenyum kecil. "Tidak." Suaranya tenang. "Tawaran itu sudah ada beberapa hari yang lalu. Saya hanya … belum memutuskan." "Berarti kamu sudah memutuskannya?" "Sekarang sudah," jawabnya pelan. Yuna menunduk. Jemarinya meremas ujung blazer tanpa sadar. "Firas, saya—" "Yuna." Suara Firas memotong lembut. "Kamu tidak perlu merasa bersalah." "Tapi saya memang merasa bersalah, Firas. Selama ini kamu sudah sangat baik sama saya." Firas menghela napas pelan. Ia menatap hamparan lampu kota di bawah sana yang berkelip tenang. "Saya pergi bukan karena kamu menolak saya," ucapnya akhirnya. "Tapi karena … mungkin memang sudah waktunya saya m

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 102.

    Yuna seketika membeku di tempat. Napasnya tertahan. Firas menghela napas pelan dengan tatapan masih khawatir. Ia melanjutkan dengan nada lebih hati-hati. “Kalau benar begitu … saya ingin tahu. Karena saya tidak mau jadi orang yang tanpa sadar menambah luka kamu.” Yuna menunduk. Angin malam semaki

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 100.

    Yuna menelan ludah. Ia berusaha menata ekspresi secepat mungkin agar Firas tidak curiga. “Iya,” jawabnya singkat. “Mau pulang.” Namun, mata Firas membesar sepersekian detik. Tatapannya turun sebentar seperti memperhatikan mata Yuna yang sembab. Bahkan, wajah Yuna yang terlalu tegang untuk disebut

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 6.

    Yuna menatap pria itu, mulutnya kering. Darren hanya mengangguk sopan sambil tersenyum tipis. “Wah, saya nggak tahu ini sial atau beruntung, tabrakan dengan perempuan cantik seperti kamu,” katanya dengan nada santai. Yuna menelan ludah berat. “B–bisa aja. Tapi saya yang salah. Maaf—” “Tidak ap

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 5.

    Yuna menatap Kai dengan mata membelalak, napanya tercekat. Kata-kata ‘partner di ranjang selama satu bulan’ masih bergema di telinganya seperti tamparan keras. Kepalanya terasa kosong beberapa detik. Ia benar-benar tidak menyangka. Pria itu … bisa mengucapkan hal seperti itu dengan wajah yang tena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status