แชร์

Sang Villainess Yang Disayang
Sang Villainess Yang Disayang
ผู้แต่ง: Hydragea

1. Kecelakaan Kerja

ผู้เขียน: Hydragea
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-06 01:53:43

"Dasar wanita munafik!"

Suara makian terdengar jelas di antara suara para crew film yang sedang memberi perintah dan bekerja.

"Kalo ada orang kaya Rosalie di dunia ini, bakal kucakar-cakar habis mukanya!"

Wanita yang sedang duduk istirahat sambil membaca novel online di lokasi syuting itu adalah Scarlett. Gadis cantik sekaligus aktris yang hampir mencapai puncak kariernya.

Projek film yang sedang dia kerjakan sekarang adalah projek terakhirnya sebelum pengumuman nominasi oscar aktris berbakat. Tahun ini, dia harus memenangkan penghargaan itu.

"Semua kembali ke posisi!" Suara sutradara terdengar lantang.

Lantas Scarlett menyimpan kembali gadgetnya dengan gerakan kasar. Dirinya berjalan ke arah sky lift untuk adegan selanjutnya.

"Semua unit bersiap! Action!" Suara megafon sutradara menggema di set syuting film kolosal modern itu.

Scarlett menarik napas dalam-dalam, memantapkan pijakkannya di atas replika tebing setinggi sepuluh meter. Sebagai aktris papan atas yang dikenal totalitas tanpa pemeran pengganti (stuntwoman), Scarlett tahu persis bagaimana cara memberikan ekspresi putus asa yang estetis di depan kamera. Sesuai skenario, dia harus berlari menghindari ledakan, lalu melompat ke arah jaring pengaman di bawah.

BOOM!

Ledakan efek visual buatan berdentum tepat di belakangnya. Hawa panas menyengat punggung Scarlett. Dia berlari, melompat dengan anggun, membiarkan rambut panjangnya berkibar di udara.

Di tengah detik-detik melayang itu, Scarlett sempat membatin sinis, 'setelah adegan melelahkan ini, aku akan langsung mengunci diri di kamar dan melanjutkan membaca novel reverse harem sialan itu.'

Novel yang dimaksud adalah buku picisan yang baru dibelinya kemarin.

Kisah tentang Rosalie, si pahlawan wanita yang digadang-gadang sebagai gadis suci dan baik. Namun kenyataan di pertengahan bab, Rosalie ternyata membunuh sang FL ke dua yang dikenal sebagai antagonis, Scarlett. Dirinya membunuh Scarlett, karena untuk mengurangi jumlah calon kandidat sebagai Penerus Penguasa Kota. Adapun kelima pria milik Scarlett, dibunuh juga oleh Rosalie guna menutup mulut. Padahal kelima pria binatang Scarlett selalu berpihak pada Rosalie.

Namun, lamunan Scarlett buyar dalam sekejap.

KRETEK! BRAKK!

Suara besi patah memekakkan telinga. Scarlett membelalak. Jaring baja yang seharusnya menyangga tubuhnya runtuh akibat kegagalan teknis.

Bumi seolah melambat saat gravitasi menarik tubuhnya langsung ke atas lantai beton keras tanpa pelindung apa pun.

"Scarlett! Jaringnya lepas!"

Terlambat.

Pandangan Scarlett berkunang-kunang. Rasa sakit yang luar biasa menghantam seluruh tubuhnya, meremukkan tulang-tulangnya dalam satu kedipan mata. Cairan hangat amis mulai mengalir dari kepalanya, membasahi lantai semen yang dingin.

Di sela-sela jeritan histeris kru film yang memudar menjadi dengungan senyap, kesadaran Scarlett perlahan tersedot ke dalam kegelapan abadi.

'Sialan... mati muda begini tidak ada estetisnya sama sekali...'

*******

"Uhuk! Uhuk!"

Scarlett tersedak hebat, menghirup oksigen secara rakus seolah baru saja tenggelam dari dasar laut.

Dia refleks menyentuh dadanya. Tidak ada tulang yang patah. Tidak ada darah. Rasa sakit yang sedetik lalu meremukkan tubuhnya lenyap tak berbekas.

Namun, aroma di sekitarnya telah berubah. Ini bukan bau semen atau asap mesin set syuting. Ini adalah bau dupa yang kuat bercampur dengan bau wangi mawar.

Scarlett membuka matanya dan langsung terperangah. Dia tidak lagi berada di studio. Dia sedang terduduk di atas ranjang besar berkelambu sutra berwarna putih, nuansa kamar ini didominasi warna ungu dan emas.

Kamar ini sangat luas, dipenuhi furnitur bergaya abad pertengahan yang megah namun bernuansa gotik.

"Di mana ini? Harusnya para kru membawaku ke rumah sakit, tapi rumah sakit macam apa ini?" gumamnya heran.

Dia melangkah turun, mendekati cermin besar berbingkai emas di sudut ruangan. Begitu melihat pantulan di cermin, jantung Scarlett hampir copot. Wajah di cermin itu memang wajahnya—cantik, sensual, dengan bola mata berwarna ungu yang tajam dan tubuhnya terbalut gaun tidur sutra transparan yang sangat berani.

Ini bukan penampilannya saat syuting tadi.

Tiba-tiba, kepalanya berdenyut menyengat. Gelombang ingatan asing memaksa masuk ke dalam otaknya. Informasi, nama tempat, peta wilayah, dan... identitas diri.

Kekaisaran Beastman. Kuil Agung Gadis Murni. Scarlett, putri bangsawan arogan yang menjadi kandidat suci.

"Tunggu... Scarlett?!" Suara wanita itu tertahan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sang Villainess Yang Disayang   107. Perhatian Para Suami Binatang (2)

    "Terlebih... jangan membuatku menunggu terlalu lama," bisik Elian, suaranya bergetar dengan nada menuntut yang nakal. "Aku juga sangat ingin merasakan... apa yang sudah dirasakan oleh Valerian malam itu." DEG! Kalimat itu bagai sengatan listrik yang langsung membuat tubuh Scarlett menegang sesaat. Matanya membelalak kecil. Bagaimana bisa rubah licik ini mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar pribadi Valerian dua malam lalu?! "Kamu... tau?" Elian hanya menyeringai tipis, matanya berkedip genit satu kali ke arah Scarlett. Lalu dia menegakkan punggungnya lagi, wajahnya dibuat setenang mungkin, padahal satu detik sebelumnya baru saja mengucapkan satu rahasia Scarlett. Banyak sekali pertanyaan yang mendadak berputar di dalam kepala Scarlett setelah mendengar bisikan nakal dari Elian. Dia ingin sekali menuntut penjelasan dari mana rubah licik itu bisa mengendus rahasia malam intimnya dengan Valerian. Namun, sebelum kata pertama sempat keluar dari bibirnya, sebuah be

  • Sang Villainess Yang Disayang   106. Perhatian Para Suami Binatang

    TAK! TAK! TAK! Di tengah riuhnya gemuruh penonton dan kepulan energi sihir dari gerbang ilusi, Scarlett mendengarkan sesuatu yang berbeda. Indera pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki ritmis di lantai batu tepat di belakangnya. Ada sekitar lima pasang kaki yang berjalan mendekat dengan langkah mantap dan penuh wibawa. Tanpa perlu membalikkan badannya, Scarlett sudah tahu persis siapa mereka. Mereka adalah kelima suami binatang miliknya, para pria kuat yang garis takdirnya kini telah saling bertautan dengan jiwanya. Kelimanya langsung berjalan mengelilingi Scarlett, membentuk barisan pelindung yang membuat para penonton di tribun berbisik heboh. Kini posisi Scarlett berdiri di kelilingi pagar betis tinggi dan tegap, membuat hampir semua orang iri saat melihatnya. Orang pertama yang maju mengambil inisiatif untuk berinteraksi adalah Valerian. Sang panglima perang itu mengulurkan tangannya yang besar, lalu menggenggam erat jemari lentik Scarlett. "Apa

  • Sang Villainess Yang Disayang   105. Hari Final Seleksi

    Rasa perih yang tertinggal di tubuhnya membuat Scarlett tidak bisa langsung memejamkan mata. Dengan helaan napas panjang, dia memfokuskan energi spiritual dalam dirinya. Scarlett mengaktifkan mantra penyembuhan internal. Gelombang hangat yang lembut mengalir perlahan, membasuh rasa sakit yang ditimbulkan oleh 'milik' Valerian tadi. Setelah tubuhnya terasa jauh lebih nyaman, dia bangkit dari ranjang dengan gerakan anggun. Scarlett meraih kembali jubah tidur tipisnya, memakainya dengan rapi untuk menutupi tubuh polosnya. Sebelum melangkah pergi, Scarlett berbalik sesaat. Dia menatap Valerian yang kini sudah tertidur lelap dengan napas yang teratur. Wajah pria itu tampak begitu damai, sangat berbeda dengan sosok panglima perang yang garang atau pria penuh hasrat beberapa saat lalu. Scarlett memutar kenop pintu tanpa suara, lalu melangkah keluar dari kamar Valerian. Dia berjalan menyusuri lorong mansion yang sepi menuju kamarnya sendiri. Saat membuka pintu kamarnya, suasana su

  • Sang Villainess Yang Disayang   104. Malam Panas Di Ranjang Valerian (21+)

    Scarlett menyambut ciuman Valerian tanpa ragu. Bibir mereka bertemu dalam keheningan kamar yang hanya diterangi cahaya temaram dari lampu di sisi ranjang. Untuk pertama kalinya, bukan Scarlett yang mengambil inisiatif. Valerianlah yang mendekat lebih dulu, seolah seluruh keberaniannya terkumpul dalam satu tindakan sederhana itu. Dan ketika Scarlett membalasnya, dada Valerian seakan dipenuhi letupan bunga. Dia tidak ditolak. Perasaan itu membuat ciumannya semakin dalam, semakin penuh emosi yang selama ini berusaha dia sembunyikan. Tangannya bergerak perlahan ke belakang kepala Scarlett, menahannya agar keduanya tetap dekat. Scarlett menghela napas kecil ketika Valerian memperdalam ciuman mereka. Tanpa melepaskan tautan bibir, Valerian perlahan mendorong tubuh Scarlett hingga wanita itu berbaring di atas ranjang. Suasana kamar berubah semakin sunyi, tetapi justru karena itulah setiap tarikan napas dan detak ja

  • Sang Villainess Yang Disayang   103. Janji Scarlett Pada Valerian

    Scarlett perlahan mengurai pelukannya, membiarkan tubuh mereka berjarak beberapa senti saja. Dia mendongak, lalu menangkup pipi cekung Valerian yang ternoda bercak darah ilusi dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Kulit Valerian terasa kasar dan dingin, bergetar akibat gejolak amarah dan ketakutan yang belum reda."Yang tidak bisa kamu jaga adalah penyesalan masa lalu," ucap Scarlett dengan nada suara yang jernih, mantap, dan sarat akan penekanan. "Tapi kamu bisa menjaga dirimu yang sekarang."Saat kalimat itu meluncur dari bibirnya, sepasang mata ungu Scarlett berkilat tajam. Manik ungu yang jernih itu mengunci rapat-rapat mata merah darah Valerian yang masih berapi-api, memancarkan perpaduan antara kesedihan mendalam dan trauma pengkhianatan yang belum usai. Tatapan Scarlett bertindak bagai jangkar, memaksa kesadaran sang panglima perang untuk berhenti tenggelam dalam memorinya sendiri.Perlahan, kedua tangan Scarlett

  • Sang Villainess Yang Disayang   102. Ketakutan Panglima Valerian

    Belum sempat Scarlett mencerna sosok Valerian remaja yang sedang meratap di atas tanah gersang, sebuah distorsi spasial kembali terjadi. Pemandangan medan perang masa lalu itu mendadak mengabur, digantikan oleh pendaran cahaya magis yang menyilaukan. Pusaran energi batin itu menarik paksa kesadaran Scarlett, menyeretnya lebih dalam ke lapisan memori yang lain—lapisan waktu saat Valerian telah tumbuh dewasa. WUSH! Saat penglihatan Scarlett kembali jernih, dia mendapati dirinya berdiri di tengah-tengah benteng pertahanan yang setengah hancur. Bau mesiu, debu tanah, dan aroma anyir darah yang jauh lebih pekat dari sebelumnya langsung menyengat indera penciumannya. Di depannya, Valerian dewasa sedang berada dalam posisi bertempur yang mengerikan. Pria itu bergerak secepat kilat, bagai bayangan merah yang haus darah. Tanpa berkedip sedikit pun dan tanpa ampun, Valerian mengayunkan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status