LOGIN
"Dasar wanita munafik!"
Suara makian terdengar jelas di antara suara para crew film yang sedang memberi perintah dan bekerja. "Kalo ada orang kaya Rosalie di dunia ini, bakal kucakar-cakar habis mukanya!" Wanita yang sedang duduk istirahat sambil membaca novel online di lokasi syuting itu adalah Scarlett. Gadis cantik sekaligus aktris yang hampir mencapai puncak kariernya. Projek film yang sedang dia kerjakan sekarang adalah projek terakhirnya sebelum pengumuman nominasi oscar aktris berbakat. Tahun ini, dia harus memenangkan penghargaan itu. "Semua kembali ke posisi!" Suara sutradara terdengar lantang. Lantas Scarlett menyimpan kembali gadgetnya dengan gerakan kasar. Dirinya berjalan ke arah sky lift untuk adegan selanjutnya. "Semua unit bersiap! Action!" Suara megafon sutradara menggema di set syuting film kolosal modern itu. Scarlett menarik napas dalam-dalam, memantapkan pijakkannya di atas replika tebing setinggi sepuluh meter. Sebagai aktris papan atas yang dikenal totalitas tanpa pemeran pengganti (stuntwoman), Scarlett tahu persis bagaimana cara memberikan ekspresi putus asa yang estetis di depan kamera. Sesuai skenario, dia harus berlari menghindari ledakan, lalu melompat ke arah jaring pengaman di bawah. BOOM! Ledakan efek visual buatan berdentum tepat di belakangnya. Hawa panas menyengat punggung Scarlett. Dia berlari, melompat dengan anggun, membiarkan rambut panjangnya berkibar di udara. Di tengah detik-detik melayang itu, Scarlett sempat membatin sinis, 'setelah adegan melelahkan ini, aku akan langsung mengunci diri di kamar dan melanjutkan membaca novel reverse harem sialan itu.' Novel yang dimaksud adalah buku picisan yang baru dibelinya kemarin. Kisah tentang Rosalie, si pahlawan wanita yang digadang-gadang sebagai gadis suci dan baik. Namun kenyataan di pertengahan bab, Rosalie ternyata membunuh sang FL ke dua yang dikenal sebagai antagonis, Scarlett. Dirinya membunuh Scarlett, karena untuk mengurangi jumlah calon kandidat sebagai Penerus Penguasa Kota. Adapun kelima pria milik Scarlett, dibunuh juga oleh Rosalie guna menutup mulut. Padahal kelima pria binatang Scarlett selalu berpihak pada Rosalie. Namun, lamunan Scarlett buyar dalam sekejap. KRETEK! BRAKK! Suara besi patah memekakkan telinga. Scarlett membelalak. Jaring baja yang seharusnya menyangga tubuhnya runtuh akibat kegagalan teknis. Bumi seolah melambat saat gravitasi menarik tubuhnya langsung ke atas lantai beton keras tanpa pelindung apa pun. "Scarlett! Jaringnya lepas!" Terlambat. Pandangan Scarlett berkunang-kunang. Rasa sakit yang luar biasa menghantam seluruh tubuhnya, meremukkan tulang-tulangnya dalam satu kedipan mata. Cairan hangat amis mulai mengalir dari kepalanya, membasahi lantai semen yang dingin. Di sela-sela jeritan histeris kru film yang memudar menjadi dengungan senyap, kesadaran Scarlett perlahan tersedot ke dalam kegelapan abadi. 'Sialan... mati muda begini tidak ada estetisnya sama sekali...' ******* "Uhuk! Uhuk!" Scarlett tersedak hebat, menghirup oksigen secara rakus seolah baru saja tenggelam dari dasar laut. Dia refleks menyentuh dadanya. Tidak ada tulang yang patah. Tidak ada darah. Rasa sakit yang sedetik lalu meremukkan tubuhnya lenyap tak berbekas. Namun, aroma di sekitarnya telah berubah. Ini bukan bau semen atau asap mesin set syuting. Ini adalah bau dupa yang kuat bercampur dengan bau wangi mawar. Scarlett membuka matanya dan langsung terperangah. Dia tidak lagi berada di studio. Dia sedang terduduk di atas ranjang besar berkelambu sutra berwarna putih, nuansa kamar ini didominasi warna ungu dan emas. Kamar ini sangat luas, dipenuhi furnitur bergaya abad pertengahan yang megah namun bernuansa gotik. "Di mana ini? Harusnya para kru membawaku ke rumah sakit, tapi rumah sakit macam apa ini?" gumamnya heran. Dia melangkah turun, mendekati cermin besar berbingkai emas di sudut ruangan. Begitu melihat pantulan di cermin, jantung Scarlett hampir copot. Wajah di cermin itu memang wajahnya—cantik, sensual, dengan bola mata berwarna ungu yang tajam dan tubuhnya terbalut gaun tidur sutra transparan yang sangat berani. Ini bukan penampilannya saat syuting tadi. Tiba-tiba, kepalanya berdenyut menyengat. Gelombang ingatan asing memaksa masuk ke dalam otaknya. Informasi, nama tempat, peta wilayah, dan... identitas diri. Kekaisaran Beastman. Kuil Agung Gadis Murni. Scarlett, putri bangsawan arogan yang menjadi kandidat suci. "Tunggu... Scarlett?!" Suara wanita itu tertahan.Scarlett menimang sebentar ajakan Elian. Di tengah banyaknya urusan takhta, tatapan mata rubah pria itu terlihat begitu menuntut. Scarlett akhirnya mengembuskan napas pendek lalu mengiyakan. "Baiklah, ayo," jawab Scarlett kemudian. Senyum manis langsung mengembang lebar di bibir Elian, matanya berkilat senang. "Pilihan yang bagus, Nona Besar. Mari ikut aku." Elian mengulurkan tangan, menuntun Scarlett berjalan bersama meninggalkan ruang audiens menuju ke arah taman belakang Kediaman Penguasa Kota. Scarlett menerima uluran tangan Elian. Seketika itu juga Elian langsung menggenggam erat jari Scarlett. Padahal sudah sering sekali Scarlett melakukan kontak intens dengan Elian serta yang lain, tapi selalu saja detak jantungnya berdegup menggila. Begitu pintu kayu besar taman terbuka, embusan angin segar langsung menyambut mereka. Di taman itu terdapat sebuah danau kecil yang jernih dan hamparan taman yang dipenuhi oleh berbagai jenis bunga yang sedang mekar dengan indah. Elia
"Nghhh..." Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar, membangunkan Scarlett dari tidur nyenyaknya. Dia mengerjapkan mata ungunya, lalu menoleh ke arah samping ranjang. Tempat di mana Caspian memeluknya semalam kini sudah kosong dan mendingin. "Pria itu... sudah pergi lagi sepagi ini? Benar-benar pendeta yang sibuk," gumamnya lirih, seraya beranjak duduk. TOK! TOK! TOK! Suara ketukan pintu memutus lamunannya. Pelayan pribadinya melangkah masuk dengan kepala menunduk khidmat, membawa nampan berisi naskah agenda hari ini. "Selamat pagi, Yang Mulia Penguasa Kota. Hamba datang untuk membantu Anda bersiap. Hari ini adalah hari penting di mana Anda harus menetapkan struktur anggota pemerintahan yang baru." Ya ampun! Karena banyaknya masalah yang terjadi belakangan ini, Scarlett hampir melupakan hal penting ke penguasaannya. Tapi Scarlett tak melupakan undangan pribadi malam ini dari sang Kaisar Vulpisgard. Scarlett mengangguk tegas, beranjak dari ranjang. "Bai
Caspian terdiam mematung selama beberapa saat setelah bayangan tubuh tegap Zayn sepenuhnya menghilang di balik pintu keluar Altar Agung. Kalimat tajam sang raja laut dalam yang menuduhnya bertingkah kekanakan terus berputar di kepalanya, bertabrakan dengan nasihat bijak yang baru saja dilontarkan oleh Alden. Perlahan, Caspian memalingkan wajahnya, melirik ke arah pendeta junior di sampingnya. Menatap binar ketulusan di mata Alden, sebuah pencerahan mendadak menyambar benaknya. Dia seolah-olah telah menemukan jawaban yang dia butuhkan untuk memecahkan dilema hidupnya. Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, Caspian melangkah maju lalu merengkuh tubuh Alden ke dalam sebuah pelukan persaudaraan yang kuat. Alden terkejut setengah mati, tubuhnya menegang kaku karena tidak mengira sang Pendeta Agung akan melakukan tindakan sefrontal ini. Namun, menyadari bahwa pelukan itu adalah simbol dari runtuhnya beban batin sang pemimpin, Alden memilih untuk tidak bertanya lebi
Caspian terhenyak, bibirnya membisu mendengar kalimat bijak yang keluar dari mulut pendeta junior di sampingnya. Kata-kata Alden bagai seberkas cahaya menembus kegelapan labirin pikirannya, memaksanya untuk merenungkan kembali strategi baru yang jauh lebih taktis tanpa harus mengorbankan perasaan ataupun rakyatnya. Alden tidak mendesak Caspian untuk memberikan jawaban cepat, dia juga tidak mencoba untuk meyakinkan atau memengaruhi keputusan sang pemimpin lebih jauh lagi. Dia tahu, seluruh keputusan penentu masa depan tatanan suci ini berada sepenuhnya di dalam genggaman tangan Caspian sendiri. Perlahan seulas senyum lembut yang tulus merekah di bibir Caspian yang pucat, dia menatap Alden dengan binar mata penuh rasa syukur. "Terima kasih banyak, Alden. Kamu... kamu benar-benar telah berhasil membuka mata batinku yang sempat buta oleh kecemburuan." Alden tersenyum tulus, tak menjawab, namun kepalanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Namun, tepat di saat kelegaan ter
Keheningan malam yang sunyi membungkus Altar Gereja Suci dengan atmosfer yang sakral. Cahaya temaram dari puluhan lilin putih raksasa yang menyala di sepanjang altar memantulkan bayangan pilar-pilar batu yang tinggi melengkung. Di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah patung simbol ketuhanan yang agung, Caspian tampak sedang bersujud di atas kedua lututnya. Pemuda itu menundukkan kepala, merajut jemarinya di depan dada dalam posisi berdoa yang kaku, mencoba mencari jawaban atas dilema terbesar yang sedang meretakkan batinnya. Caspian mengembuskan napas pendek yang terasa sesak di dadanya. Sepasang mata abu-peraknya menatap sayu ke arah lilin yang bergoyang ditiup angin malam. "Tuhan... Tolong berikan hamba-Mu ini petunjuk yang jernih. Apa yang sebenarnya harus kulakukan saat ini?" gumamnya dengan nada lirih dan parau. "Bagaimana caranya agar aku tetap bisa mengikat kontrak pengaktifan totem dengan Scarlett sebagai suaminya... namun di saat yang sama, rumah suci in
"Kalau begitu, minumlah tehnya sampai habis, Tuan... Dan setelah itu, biarkan aku membantu merilekskanmu." Mendengar bisikan sensual tepat di telinganya, Scarlett perlahan membuka kelopak mata ungunya. Sentuhan jari-jari putih pucat Zayn di bahunya, berpadu dengan kehangatan tubuh pria duyung itu yang menempel di punggungnya, perlahan-lahan mengikis tumpukan kepenatan yang menggelayuti benaknya sejak pagi. "Kau selalu tahu cara memanfaatkan situasi, Zayn," ucap Scarlett dengan nada suara yang rendah dan rileks. Zayn terkekeh rendah, sama sekali tidak tersinggung ucapan Scarlett. "Benarkah aku seperti itu... di matamu?" "Ya." Scarlett mendongak, menatap Zayn dari bawah. "Bisa dibilang, kau pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan." Zayn menunduk, dan terkekeh kembali, kali ini sedikit lebih keras. Matanya berkedip sebelah–gestur menggoda genit. "Ku anggap itu pujian, Nona Besar." Tawa Scarlett pecah, Zayn pun ikut tertawa bersamanya. "Lalu dengan cara apa k







