MasukOtak cerdasnya langsung merangkai benang merah. Rambut hitam panjang, sifat angkuh, wilayah kuil. Ini adalah latar belakang karakter figuran antagonis dalam novel reverse harem yang dia baca sebelum mati. Tokoh yang ditakdirkan mati tragis di tangan Rosalie dan kelima beastman miliknya.
"Aku bertransmigrasi? Menjadi antagonis dan mati di tangan pemeran utama?" Scarlett mencengkeram tepi meja rias hingga jemarinya memutih. "Tidak. Sialan. Aku baru saja meniti karier sampai puncak di dunia asli! Aku tidak mau mati konyol di tangan sekumpulan hewan peliharaan bermutasi!" TING! Sebuah suara denting digital yang jernih memecah keheningan kamar. Tepat di depan wajah Scarlett, udara memudar dan membentuk sebuah layar monitor transparan bercahaya biru neon. Di tengah layar tersebut, muncul pusaran cahaya yang kemudian memadat menjadi sesosok makhluk kecil seukuran telapak tangan. Makhluk itu menyerupai peri dengan gaun hijau daun, namun anehnya, dia tidak memiliki sayap sama sekali di punggungnya. Dia melayang dengan bantuan gelembung sihir kecil. "Halo, Tuan Putri Scarlett! Selamat datang di Dunia Novel 'Belenggu Cinta Lima Beastman'!" Peri kecil itu memberi hormat dengan membungkuk sopan, suaranya melengking tinggi mirip lonceng. Scarlett mundur selangkah, matanya menyipit waspada. "Siapa kau? Properti CGI jenis apa ini?" "Aku bukan CGI! Perkenalkan, namaku Pixie, pemandu sistem pribadimu," peri tanpa sayap itu berkacak pinggang, mengerucutkan bibirnya yang mungil. "Jiwa aslimu di bumi sudah mati akibat kecelakaan kerja. Jika Anda ingin hidup kembali ke tubuh asli Anda di bumi, Anda harus menyelesaikan misi dari Sistem Utama." Mendengar kata 'kembali', mata Scarlett langsung berbinar tajam. "Kembali ke tubuh asli? Bagaimana caranya?" Pixie menjentikkan jarinya yang sekecil korek api. Layar transparan di depan Scarlett berubah, menampilkan sebuah grafik batang kosong berwarna merah menyala dengan tulisan besar di atasnya: [POIN PENDERITAAN: 0 ] "Misi pertama adalah mengalahkan pemeran utama wanita dan menaklukkan kelima suami beastman. Misi kedua dalah mengumpulkan 'poin penderitaan' hingga penuh, dan menjadi penjahat nomor 1 di dunia ini," jelas Pixie riang. "Jalan utama yang paling disarankan oleh sistem untuk mengumpulkan poin ini dengan cepat adalah... menjadi antagonis sungguhan! Anda harus membuat alur cerita menderita, memprovokasi karakter, dan menyiksa target agar energi emosional negatif mereka bisa diserap sistem untuk memicu sihir pembalikkan dimensi." Scarlett menyeringai tipis, melipat kedua tangannya di depan dada. Menjadi antagonis? Sebagai aktris peraih penghargaan, peran wanita kejam, manipulatif, dan licik adalah keahlian utamanya. Menghancurkan mental orang adalah hal mudah. "Menarik," sahut Scarlett dingin. "Bertransmigrasi dan ada sistem penaut antagonis, aku bisa berbuat apapun sesuka hati!" Setelah itu, dirinya tertawa. Suara tawa Scarlett terdengar renyah. Bagaimana tidak? Bertindak gila dan berbuat jahat tanpa ampun, itu suatu hal yang tidak bisa dilakukan di dunia modern-nya. Karena sekarang dirinya tertaut sistem dan bukan di dunia miliknya, jadi ini benar-benar jackpot bagi Scarlett. BRAK! Tiba-tiba pintu kamarnya didobrak paksa oleh pelayan pria bertelinga anjing, menghentikan tawa Scarlett. Tanpa kata dan memberi hormat, pelayan itu berjalan mendekati meja rias milik Scarlett dan mengambil kalung mewah berliontin safir berwarna ungu. "Nona Besar, Nona Kedua meminta kalung ini untuk dipakai hari ini." Suara pelayan itu terdengar ketus. Dengan entengnya, pelayan itu lantas berjalan mendekati pintu keluar sambil membawa kalung milik Scarlett. Scarlett mengernyit dalam, tanda dia tak menyukai sikap kurang ajar pelayan rendahan itu. "Mau mencoba bagaimana sistem bekerja?" Pixie menjeda kalimatnya. "Siksa pelayan itu sekarang." Scarlett menampilkan smirk tipis di bibirnya. Lihat bagaimana aktris berbakat melakukan akting totalitasnya. "Berhenti!" Suara Scarlett terdengar dingin. Lantas dirinya berdiri dari kursi meja riasnya. Menatap punggung pelayan itu yang masih berjalan tanpa mematuhi perintahnya. "Siapa yang mengizinkanmu masuk?" Pelayan itu berhenti, hanya menatap sinis dari sudut matanya tanpa menoleh sedikit pun. "Ada masalah? Aku tak punya banyak waktu untuk dibuang di sini. "Pelayan itu lantas berjalan kembali, "Nona Kedua sedang menunggu." Tanpa aba-aba, Scarlett menendang punggung pelayan kurang ajar itu. Pelayan itu pun tersungkur ke lantai dan kalung yang dipegangnya pun terlepas. "Akhggg!""Maaf," jawab Elian, suaranya terdengar bariton, kaku, dan tanpa fluktuasi emosi sedikit pun. "Aku di sini hanya menangani urusan resmi kekaisaran. Aku tidak memiliki waktu untuk menghadiri undangan pribadi yang tidak penting, apalagi membuang waktu untuk sekadar minum alkohol." Taktik godaan yang dilancarkan Scarlett ternyata tidak membuahkan hasil instan seperti biasanya. Di dalam dimensi batin ini, pesona sensual yang ia pancarkan seolah membentur dinding es yang tebal. Elian sama sekali tidak bergeming. Alih-alih terbuai oleh tatapan genit Scarlett, sepasang mata rubah milik pria itu justru memancarkan kilat ketidaksukaan yang amat ketara Scarlett seketika tertegun di tempatnya berdiri, matanya membelalak kecil karena terkejut. Di dalam benaknya, rasa heran bercampur tidak percaya bergejolak hebat. "Mengapa situasinya menjadi seperti ini?" Scarlett bertanya-tanya, menatap bingung pada sosok di hadapannya
Setelah perbincangan intim di bawah siraman cahaya bintang di atas atap gazebo mereda, kesadaran Scarlett kini telah berpindah. Dia sudah berada di dalam keheningan kamar tidur utamanya yang megah. Tanpa membuang-buang waktu yang berharga untuk beristirahat, wanita bergaun lilac itu langsung memfokuskan pikirannya. Dia memanggil Pixie di dalam benaknya, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat dingin dan tegas. "Sistem, Akses ruang batin Elian sekarang juga." "Perintah diterima. Memproses pengurangan poin penderitaan... Membuka kunci gerbang dimensi khusus. Sedang mengakses ruang batin target keempat: Elian." WUSH! Seketika itu juga, monitor virtual transparan di depan wajahnya menyala dengan pendaran cahaya merah keunguan yang pekat. Detik berikutnya sistem berkata. "Akses Berhasil." Gelom
Scarlett tahu betul niat itu, namun dia mengiyakan ajakan Elian. Elian memantapkan posisinya. Tanpa memedulikan tatapan penuh tanya dari para bangsawan yang tersisa di aula perjamuan, dia membawa Scarlett pergi dari sana. Pria itu menggendong Scarlett dengan gaya bridal style—mendekap tubuh ramping sang Penguasa Kota yang baru dengan sangat posesif di dada bidangnya. Langkah kaki sepatu bot Elian terdengar sangat mantap saat menaiki undakan tangga batu menuju lantai tertinggi mansion. Tidak ada sedikit pun riak oleng pada tubuh tegapnya, membuktikan bahwa toleransi alkohol sang Putra Mahkota ras rubah ini memang berada di tingkatan yang luar biasa tinggi. Ketika mereka akhirnya sampai di area atap aula perjamuan, embusan angin malam yang sejuk langsung menerpa kulit mereka, menyapu sisa-sisa aroma pekat alkohol dari dalam ruangan tadi. Di sana, terdapat sebuah gazebo terbuka yang megah dengan alas karpet beludru yang nyaman. Elian menurunkan Scarlett dengan sangat hati-hati,
Malam itu, aula utama kediaman dipenuhi oleh kemegahan yang luar biasa. Elian, dengan segala pesona dan koneksi luasnya sebagai seorang Putra Mahkota, mengadakan sebuah jamuan perayaan yang teramat mewah. Acara ini digelar khusus untuk merayakan kemenangan mutlak Scarlett yang kini telah resmi dinobatkan sebagai Penguasa Kota yang baru. Musik klasik mengalun indah, berpadu dengan dentingan gelas-gelas kristal berisi anggur terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu dan pekatnya malam, kekuatan alkohol mulai bekerja pada tubuh para pria perkasa di sekeliling Scarlett. Valerian, sang panglima perang yang biasanya berdiri kokoh bagai tebing karang, kini tampak goyah. Efek wine madu yang pekat membuat kesadarannya menipis. Saat mencoba bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, tubuh kekarnya limbung dan hampir saja jatuh tersungkur ke lantai. Beruntung, Caspian yang duduk tidak jauh darinya memiliki refleks yang sigap. Pendeta Agung itu langsung melangkah maju dan menopang tu
Gemuruh sorak-sorai di dalam aula Grand Forum of Trials masih terdengar membahana. Di tengah keriuhan itu, gerbang dimensi emas di sebelah Scarlett mendadak meredup dan hancur perlahan. Sosok Rosalie melangkah keluar dengan napas yang memburu. Namun, begitu kedua kelopak matanya terbuka sempurna dan indera pendengarannya menangkap gema suara MC yang mengumumkan kemenangan telak Scarlett, tubuh Rosalie seketika membeku. Wajahnya yang semula penuh ambisi langsung memucat pasi. Dia tercengang, menatap layar magis dengan pandangan tidak percaya. "Tidak mungkin... Tidak mungkin aku kalah!" teriak Rosalie, suaranya melengking frustrasi di antara kerumunan. Kedua belah tangannya mengepal dengan sangat kuat di sisi gaun kuning emasnya hingga kain berenda itu kusut. Rasa hancur dan amarah yang meluap membuat akal sehatnya hilang. Dia berteriak histeris ke arah pang
Di tengah ruang makan palsu yang sunyi dan mencekam, Scarlett berdiri tegak dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja merebut kembali takhtanya. Sepasang mata ungunya berkilat tajam, tidak lagi menyisakan setitik pun keraguan atau ketakutan. Dia menatap lurus ke arah kegerangan hampa di depannya, lalu melanjutkan ucapannya dengan nada suara yang memancarkan keteguhan absolut. "Jadi... tolong percaya juga bahwa aku bisa bangun dengan kekuatanku sendiri," ucap Scarlett, suaranya menggema penuh otoritas, memotong sisa-sisa melodi ilusi yang menakutkan. "Satu-satunya keinginanku saat ini adalah... bawa aku pergi dari tempat terkutuk ini!" WUSH! Tepat setelah kata terakhir itu selesai diucapkan, semua pendaran cahaya di tempat itu mendadak lenyap total dalam sekejap mata. Suasana menjadi gelap gulita selama satu detik, sebelum akhirnya







