LOGINTeriakan pelayan itu terdengar menyakitkan. Scarlett langsung menginjak tangan pelayan itu dengan keras, tanpa memberi kesempatan pelayan itu untuk melawan.
Pelayan itu meringis kesakitan, namun Scarlett tak menunjukkan belas kasihan. Malah dirinya menambah tekanan pada injakkannya. "Kembali dan beri tahu Rosalie, jika anjingnya tidak diikat, malah menggonggong dan menggigit sembarangan, aku sebagai kakaknya akan mencabut semua gigi dan cakarnya." Scarlett mengatakan itu dengan suara tenang yang justru berbahaya, sambil mengambil kalung miliknya dari lantai dan mengelus batu safir kalung itu. Pelayan anjing itu, gemetar ketakutan mendengar ancaman Scarlett. Dia bersikap kurang ajar seperti tadi, karena dia tahu, Scarlett tak akan berani melawan secara langsung. Namun dugaannya salah, Scarlett tanpa belas kasih membalas perlakuan dirinya. "Kalau Rosalie ingin kalung ini, suruh dia merangkak ke sini sendiri!" Ada jeda dingin dari ucapan Scarlett. "Suruh dia berlutut di bawah gaunku dan memohon meminta kalung ini sebagai hak miliknya." Pelayan anjing itu berlari terbirit-birit tanpa sempat memberi hormat pada Scarlett, setelah Scarlett melepaskan injakkannya. "TING" Suara denting monitor terdengar, mengalihkan fokus Scarlett yang sedang menatap kepergian pelayan anjing itu. "Menindas pelayan Farel mengumpulkan 150 poin penderitaan. Naik ke peringkat 98 di daftar penjahat." Suara riang Pixie terdengar. Scarlett tersenyum lebar mendengar pemberitahuan itu. Lihat, betapa mudahnya melakukan akting seperti ini. 'Dengan aktingku ini, dapet piala oscar gak berlebihan kan?' batin Scarlett kegirangan. Pixie hanya menatap diam Scarlett dengan mata bulatnya yang imut. Dengan gerakan anggun dirinya terbang ke arah samping Scarlett. Meletakkan tangan kecilnya di bahu Scarlett dan berkata dengan suara riangnya. "Mau lanjut memanen poin lagi?" Scarlett melebarkan matanya, ada binar ketertarikkan di dalamnya. "Lalu, siapa target pertama untuk memanen poin ini?" tanya Scarlett dengan tak sabaran. Pixie tersenyum lebar, jemari kecilnya menunjuk ke arah monitor transparan di depan Scarlett, memperlihatkan pemandangan pelataran kuil suci di bawah sinar bulan. Di sana, seorang pria berjubah putih bersih sedang berlutut tegak secara khusyuk di depan altar batu, merapalkan doa di tengah kesunyian gereja. Scarlett tetap diam, tak menyela. Namun ada kerutan halus di dahinya. "Target pertama Anda telah dikunci," ucap Pixie. "Caspian. Seorang pendeta agamis yang sangat taat, murni, dan tidak pernah tersentuh dosa. Berikan dia penderitaan batin, hancurkan kesucian jiwanya, dan bawa poin pertamamu malam ini juga!" Scarlett menatap siluet pria di bawah sana. Seringai di bibir merahnya semakin melebar. Perburuan di dunia baru ini... resmi dimulai. Senyuman Scarlett hilang, saat pintu kamarnya didobrak dari luar. Pelayan wanita masuk tergesa, dengan raut wajah yang pucat pasi. Lantas dirinya menjatuhkan diri, lututnya menabrak lantai yang dingin. "Nona Besar." Napas pelayan itu memburu."Pendeta Caspian mencoba bunuh diri." Pelayan itu masih menunduk, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Pendeta Caspian dikurung di Kediaman Penguasa Kota." Scarlett menimang sesuatu, takut dirinya salah langkah. Namun dia hanya menyuruh pelayan itu keluar tanpa menjawab apapun. Setelah pintu kamarnya tertutup kembali, Scarlett menoleh ke arah Pixie yang berada di sampingnya. Pixie hanya bisa dilihat olehnya, karena hanya dirinya yang terikat oleh sistem. "Kenapa Caspian dikurung?" "Pendeta Caspian dikurung karena ketampanannya." Mendengar jawaban Pixie, imajinasi Scarlett melaju jauh. Seganteng apa sih? Apa seperti karakter manhwa? Kalau iya itu bagus! Sebenarnya tak apa, jika tadi Scarlett langsung bertanya pada Pixie saat masih ada pelayan itu. Namun karena dia baru datang, dia harus lebih berhati-hati. Tak ingin identitasnya yang bukan Scarlett asli diketahui. Scarlett menarik kembali imajinasi liarnya. Berjalan ke arah meja rias dengan wajah tenang, namun bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis. "Pelayan!" Suara Scarlett terdengar dingin namun ada ketegasan di nadanya. Seorang pelayan berambut bondol masuk. Dia adalah pelayan pribadi Scarlett yang asli. Sejak tadi memang dia sudah berdiri di dekat pintu, melihat semua kekacauan dan keributan yang terjadi. Namun dia tetap diam, tak banyak berkomentar. Pelayan itu menundukkan kepala, dengan kedua tangan yang bertumpu di samping depan badannya. Gestur memberi hormat. "Saya, Nona Besar." "Bantu aku bersiap. Pakaikan gaun dengan belahan pinggir yang tinggi. Aku ingin bertemu dengan Pendeta Caspian sekarang."Suasana ruang kerja yang megah namun sunyi. Lilin-lilin besar menerangi meja kayu jati yang dipenuhi tumpukan dokumen dan peta wilayah. Pintu ruang ganda terbuka. Scarlett melangkah masuk dengan gaun berwarna ungu lilac–ciri khasnya, yang sedikit berdebu, kelelahan setelah melewati hari panjang dengan berdebat bersama Caspian. "Sialan. Caspian benar-benar sudah gila." batinnya menggerutu sepanjang perjalanan. Killain berjalan satu langkah di belakangnya, tangan kanannya secara refleks selalu berada di dekat gagang pedangnya. Scarlett menghela napas panjang. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja, lalu mendudukkan diri. Baru saja punggung Scarlett menyentuh sandaran kursi, mencoba mencari ketenangan— BRAKK!!! Pintu ruang kerja dibuka paksa dari luar hingga membentur dinding dengan keras. Killain langsung melesat ke depan Scarlett, menghunuskan separuh pedangnya dari sarung dengan bunyi desingan logam yang tajam. Prajurit Garth, utusan setia Valeria
Mendengar tuduhan polos yang mengarah pada Scarlett, detak jantung Caspian seolah berhenti.Rasa ketakutan yang teramat besar langsung menyerang dadanya—bukan takut akan takdir hukum gereja, melainkan ketakutan jika nama baik Scarlett kembali dicap jelek, kejam, dan jahat oleh seluruh lapisan masyarakat setelah semua usaha pembersihan nama yang mereka lakukan.Caspian mempererat genggaman tangannya pada jemari sang anak, menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru dan panik."Tidak, Sayang! Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu! Nona Penguasa Kota Scarlett sama sekali bukan orang yang jahat!"Caspian menoleh menatap Scarlett dari samping sesaat, sebelum kembali memusatkan pandangannya pada anak kecil di depannya."Penguasa Kota... dia adalah wanita yang sangat mulia, bahkan jauh lebih suci dari siapa pun di kekaisaran ini!"Anak kecil itu mengerjapkan matanya yang masih basah oleh air mata, menatap bingung."Benarkah, Pendeta Agung? Tapi kata para pendeta senior yang lain, Nona
PLAK! Suara hantaman telapak tangan Scarlett yang mendarat keras di pipi Caspian menggema nyaring di bawah selasar paviliun yang sunyi . Tamparan itu begitu tiba-tiba, memaksa kepala sang Pendeta Agung menoleh ke samping. Caspian seketika membatu. Gejolak emosi batin dan tekad gilanya yang berapi-api runtuh dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata yang kembali berubah menjadi lugu dan polos. Dia menatap nanar ke arah Scarlett, meraba pipinya yang terasa panas dengan ujung jemarinya yang gemetar, benar-benar syok karena baru saja ditampar oleh wanita yang dia agungkan sebagai Tuhannya. "Buka matamu dan sadarlah, Caspian bodoh!" bentak Scarlett dengan napas memburu dan dada naik turun menahan amarah yang membuncah. Scarlett mencengkeram bahu Caspian, mengguncangnya kasar sembari meluapkan seluruh kekesalan dan usaha keras yang telah dia lakukan demi pria itu. "Kamu pikir posisi Pendeta Agung yang kamu duduki sekarang adalah barang murah yang bisa kamu buang begitu saja karena e
Beberapa saat yang lalu... Suasana di bawah selasar batu putih terasa amat dingin dan kaku. Empat pendeta senior berpakaian jubah bersulam benang emas berdiri mengelilingi Caspian yang tampak tegak, tak bergeming dengan keputusan gila yang dibawanya dari Taman Gethsemane. Pendeta Senior 1, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, memegang sebuah perkamen besar berisi sumpah pelepasan. "Pendeta Agung Caspian, kami akan menanyakan ini untuk terakhir kalinya sebelum segalanya terlambat. Pikirkanlah matang-matang. Melepas jabatan Pendeta Agung bukan hal sepele." Pendeta Senior 2, menimpali dengan nada berat, pura-pura panik. "Benar, Caspian! Kamu adalah pilar kejujuran di Gereja Suci ini! Jika kamu pergi, bagaimana kami harus menjelaskan pada seluruh rakyat kekaisaran?!" Namun, di balik topeng keprihatinan itu, hati para pendeta senior bersorak senang bukan main. Mereka diam-diam tersenyum licik
Kelopak bunga lili putih mistis bergoyang lambat ditiup angin, saksi bisu dari keputusan paling radikal yang pernah terucap di bawah pohon zaitun kuno. Setelah mendeklarasikan niatnya untuk menanggalkan jubah suci, atmosfer di sekeliling Caspian membeku dengan wibawa yang absolut. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, pria bertubuh tinggi tegap itu membalikkan badannya secara tegas. Jubah putihnya berkibar menyapu kelopak bunga lili saat dia melangkah lebar meninggalkan Scarlett. Tekadnya sudah bulat seutuhnya. Tujuannya kali ini sangat jelas: menemui jajaran pendeta senior untuk melakukan ritual pelepasan sumpah suci dan menanggalkan jabatan Pendeta Agung demi menjadi pelayan pribadi Scarlett agar bisa melangsungkan pernikahan pengikat kontrak totem binatang. Scarlett berdiri mematung, tubuhnya membeku seketika di tengah taman yang sunyi. Pikirannya melayang jauh, dilingkupi oleh kecemas
Kata "Tidak" yang keluar begitu tegas dari bibir Scarlett bergaung di antara deru angin yang menggoyangkan kelopak lili putih di sekitar mereka.Kehangatan yang sempat menyelimuti Taman Gethsemane menguap dalam sekejap, menyisakan keheningan yang luar biasa kaku dan mencekam.Caspian membatu di tempatnya berdiri. Sepasang manik mata abu-perak miliknya yang semula berbinar penuh harapan kini mendadak meredup, menyipit tajam dihantam rasa syok yang teramat besar. Genggaman pada jubah pendeta putihnya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan beban hantaman emosional yang seakan meremukkan seluruh harga diri dan ketulusan jiwanya."Tidak...? Mengapa, Nona?" Suaranya terdengar begitu lirih, parau, dan bergetar hebat oleh luka yang menyayat hati.Dia menunduk sesaat, lalu mendongak. kembali membuka mulutnya melanjutkan ucapannya."Tolong katakan alasanmu... Kenapa kamu menolaknya begitu spontan?"Scarlett







