Home / Fantasi / Sang Villainess Yang Disayang / 3. Target Pertama Misi

Share

3. Target Pertama Misi

Author: Hydragea
last update publish date: 2026-06-06 01:56:24

Teriakan pelayan itu terdengar menyakitkan. Scarlett langsung menginjak tangan pelayan itu dengan keras, tanpa memberi kesempatan pelayan itu untuk melawan.

Pelayan itu meringis kesakitan, namun Scarlett tak menunjukkan belas kasihan. Malah dirinya menambah tekanan pada injakkannya.

"Kembali dan beri tahu Rosalie, jika anjingnya tidak diikat, malah menggonggong dan menggigit sembarangan, aku sebagai kakaknya akan mencabut semua gigi dan cakarnya."

Scarlett mengatakan itu dengan suara tenang yang justru berbahaya, sambil mengambil kalung miliknya dari lantai dan mengelus batu safir kalung itu.

Pelayan anjing itu, gemetar ketakutan mendengar ancaman Scarlett. Dia bersikap kurang ajar seperti tadi, karena dia tahu, Scarlett tak akan berani melawan secara langsung. Namun dugaannya salah, Scarlett tanpa belas kasih membalas perlakuan dirinya.

"Kalau Rosalie ingin kalung ini, suruh dia merangkak ke sini sendiri!" Ada jeda dingin dari ucapan Scarlett. "Suruh dia berlutut di bawah gaunku dan memohon meminta kalung ini sebagai hak miliknya."

Pelayan anjing itu berlari terbirit-birit tanpa sempat memberi hormat pada Scarlett, setelah Scarlett melepaskan injakkannya.

"TING"

Suara denting monitor terdengar, mengalihkan fokus Scarlett yang sedang menatap kepergian pelayan anjing itu.

"Menindas pelayan Farel mengumpulkan 150 poin penderitaan. Naik ke peringkat 98 di daftar penjahat." Suara riang Pixie terdengar.

Scarlett tersenyum lebar mendengar pemberitahuan itu. Lihat, betapa mudahnya melakukan akting seperti ini.

'Dengan aktingku ini, dapet piala oscar gak berlebihan kan?' batin Scarlett kegirangan.

Pixie hanya menatap diam Scarlett dengan mata bulatnya yang imut. Dengan gerakan anggun dirinya terbang ke arah samping Scarlett. Meletakkan tangan kecilnya di bahu Scarlett dan berkata dengan suara riangnya.

"Mau lanjut memanen poin lagi?"

Scarlett melebarkan matanya, ada binar ketertarikkan di dalamnya.

"Lalu, siapa target pertama untuk memanen poin ini?" tanya Scarlett dengan tak sabaran.

Pixie tersenyum lebar, jemari kecilnya menunjuk ke arah monitor transparan di depan Scarlett, memperlihatkan pemandangan pelataran kuil suci di bawah sinar bulan. Di sana, seorang pria berjubah putih bersih sedang berlutut tegak secara khusyuk di depan altar batu, merapalkan doa di tengah kesunyian gereja.

Scarlett tetap diam, tak menyela. Namun ada kerutan halus di dahinya.

"Target pertama Anda telah dikunci," ucap Pixie. "Caspian. Seorang pendeta agamis yang sangat taat, murni, dan tidak pernah tersentuh dosa. Berikan dia penderitaan batin, hancurkan kesucian jiwanya, dan bawa poin pertamamu malam ini juga!"

Scarlett menatap siluet pria di bawah sana. Seringai di bibir merahnya semakin melebar. Perburuan di dunia baru ini... resmi dimulai.

Senyuman Scarlett hilang, saat pintu kamarnya didobrak dari luar. Pelayan wanita masuk tergesa, dengan raut wajah yang pucat pasi. Lantas dirinya menjatuhkan diri, lututnya menabrak lantai yang dingin.

"Nona Besar." Napas pelayan itu memburu."Pendeta Caspian mencoba bunuh diri."

Pelayan itu masih menunduk, sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Pendeta Caspian dikurung di Kediaman Penguasa Kota."

Scarlett menimang sesuatu, takut dirinya salah langkah. Namun dia hanya menyuruh pelayan itu keluar tanpa menjawab apapun.

Setelah pintu kamarnya tertutup kembali, Scarlett menoleh ke arah Pixie yang berada di sampingnya.

Pixie hanya bisa dilihat olehnya, karena hanya dirinya yang terikat oleh sistem.

"Kenapa Caspian dikurung?"

"Pendeta Caspian dikurung karena ketampanannya."

Mendengar jawaban Pixie, imajinasi Scarlett melaju jauh. Seganteng apa sih? Apa seperti karakter manhwa? Kalau iya itu bagus!

Sebenarnya tak apa, jika tadi Scarlett langsung bertanya pada Pixie saat masih ada pelayan itu. Namun karena dia baru datang, dia harus lebih berhati-hati. Tak ingin identitasnya yang bukan Scarlett asli diketahui.

Scarlett menarik kembali imajinasi liarnya. Berjalan ke arah meja rias dengan wajah tenang, namun bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis.

"Pelayan!" Suara Scarlett terdengar dingin namun ada ketegasan di nadanya.

Seorang pelayan berambut bondol masuk. Dia adalah pelayan pribadi Scarlett yang asli. Sejak tadi memang dia sudah berdiri di dekat pintu, melihat semua kekacauan dan keributan yang terjadi. Namun dia tetap diam, tak banyak berkomentar.

Pelayan itu menundukkan kepala, dengan kedua tangan yang bertumpu di samping depan badannya. Gestur memberi hormat.

"Saya, Nona Besar."

"Bantu aku bersiap. Pakaikan gaun dengan belahan pinggir yang tinggi. Aku ingin bertemu dengan Pendeta Caspian sekarang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Villainess Yang Disayang   69. Mencium Caspian

    Suara gemericik air yang dimainkan terdengar memenuhi ruang mandi Scarlett. Di Tepian kolam berendam, Caspian yang berdiri di atas lutut dengan kaku. Kedua matanya terpejam rapat, menyisakan gurat kecemasan dan rona merah di kedua pipinya. Jubah putih keemasannya yang agung tampak kontras dengan atmosfer ruangan yang intim. Scarlett terkekeh manja, menyandarkan tubuhnya di tepian kolam. Lihat pendeta tampan yang polos dan lugu ini! Menggemaskan! "Buka matamu, Caspian. Bagaimana bisa kau membantuku mandi dan berganti pakaian jika matamu terus terpejam seperti itu? Apakah tubuhku ini terlihat seperti monster yang menakutkan bagimu?" Caspian menjawab dengan suaranya bergetar, jakunnya naik turun karena gugup. "Ma-maafkan aku Nona Scarlett... Perbuatan ini... melanggar sumpah kesucian yang hamba pegang. Hamba tidak pantas melihat..." Scarlett memercikkan air ke arah Caspian sambil tersenyum menggoda. "Aku adalah tuanmu saat ini, Pendeta Suci. Perintahku adalah sumpah barumu. Ay

  • Sang Villainess Yang Disayang   68. Menggoda Caspian

    "Apa isi ujian yang akan di lakukan besok?" Caspian menarik napas pelan sebelum menjawab. Wajahnya berubah serius. "Ujian kali ini jauh lebih berat..." Caspian menggantung ucapannya. Scarlett mengangkat alisnya. "Para peserta harus melewati tiga wilayah berbahaya." Ia mengangkat satu jari. "Pertama... peserta harus melewati 'Hutan Tersembunyi Kabut Ilusi'" Jari kedua terangkat. "Kedua... melewati 'Gurun Pasir Hisap Api'" Jari ketiga menyusul. "Terakhir... bertahan hidup di 'Gunung Salju Es Beku'" Caspian menatap Scarlett. "Setiap peserta diwajibkan mencapai puncak gunung dan menancapkan bendera sebagai bukti telah menyelesaikan ujian. Barulah peserta dinyatakan lulus." Scarlet

  • Sang Villainess Yang Disayang   67. Bocoran Ujian Seleksi

    Lorong kediaman keluarga Grand Duke begitu sunyi. Scarlett berhenti tepat di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Pintu kamar Rosalie. Caspian berdiri satu langkah di belakangnya. "Nona Besar..." Scarlett tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada pintu di hadapannya. Perlahan, ia mengangkat tangan. KREK! Pintu itu terdorong terbuka. Ruangan di dalam tampak rapi. Terlalu rapi. Tak ada satu benda pun yang tampak berantakan. Di dekat jendela, seorang wanita duduk dengan tenang. Rosalie. Ia duduk menghadap ke luar, memandangi taman seperti yang selalu diceritakan para pelayan. Tidak bergerak. Tidak menoleh. Seolah kedatangan Scarlett dan Caspian sama sekali tidak mengganggunya. Caspian mengembuskan napas pelan. "Jadi benar..." Namun Scarlett justru menyipitkan mata.

  • Sang Villainess Yang Disayang   66. Alibi Yang Sempurna

    Valerian menangkap perubahan sekecil apa pun pada ekspresi Caspian. Sebagai siluman elang, instingnya langsung memberi peringatan. Ia merasakan aura milik Caspian mulai berubah. Aura rusa yang biasanya lembut kini memancarkan tekanan yang jauh lebih kuat. Valerian tidak melepaskan genggaman tangannya. Sebaliknya... Aura elang hitamnya perlahan menyebar. Tak menyerang. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan mundur. Dalam sekejap, udara di antara kedua pria itu terasa jauh lebih berat. Scarlett yang berada tepat di tengah langsung merasakan perubahan tersebut. Bulu kuduknya meremang. Tatapannya bergantian antara Valerian dan Caspian. Meski keduanya masih berdiri tenang, tekanan spiritual yang saling berhadapan mulai memengaruhi udara di sekitar mereka. Scarlett mengembuskan napas pelan.

  • Sang Villainess Yang Disayang   65. Kedatangan Caspian

    Sorak kemenangan masih menggema di seluruh ngarai. Scarlett berdiri beberapa langkah dari kerumunan, mengembuskan napas panjang. Tiba-tiba, suara Pixie kembali terdengar di dalam benaknya. TING! "Poin ketertarikan Valerian meningkat. Poin saat ini: 80 per 100." Scarlett mengangkat alis. Belum sempat ia bereaksi, layar sistem kembali berpendar. "Selamat, Inang! Anda memperoleh hadiah misterius. Item Eksklusif: Jubah Bulu Elang Hitam Api. Efek: Serangan +40%, Penyembuhan +35%, Kecepatan +25%. Dalam radius 5 meter dari pemakai dapat menangkal satu efek negatif." Mata Scarlett langsung berbinar. Sudut bibirnya terangkat. "...Akhirnya." Dia tersenyum puas. "Gak sia-sia." Pixie terdengar terkikik. "Sistem tidak pernah mengecewakan in

  • Sang Villainess Yang Disayang   64. Valerian Dan Scarlett Yang Kompak

    Sebelum Scarlett sempat bereaksi, Valerian telah membawa Scarlett terbang bersamanya. Angin kencang menerpa wajah mereka. Scarlett segera mengaktifkan lapisan pelindung spiritual tipis di sekitar tubuhnya untuk meredam terpaan angin saat mereka melesat di udara. Begitu posisi mereka stabil, Scarlett langsung memahami maksud Valerian. Ia mengangkat busur peralatan dewanya. Tatapannya menyapu medan perang dari ketinggian. "Terbang lebih tinggi." Valerian langsung mengepakkan sayapnya. Mereka naik semakin tinggi hingga seluruh formasi musuh terlihat jelas di bawah. Scarlett menarik tali busur. Busur dewa itu memancarkan cahaya terang. Pada saat yang sama, hadiah sistem yang baru diperolehnya aktif. TING! "Kemampuan: Tembakan Beruntun." Energi spiritual berkumpul di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status