Share

Bab 3

Penulis: Stars
Tangan Kevin yang memegang gelas anggur sedikit bergetar. "Kamu sudah nikah tapi masih melakukan hal kayak gitu, apa suamimu tahu?"

Aku tidak menjawab. Kerutan di dahi Kevin sedikit mengendur, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan. "Ha, aku mengerti sekarang. Kamu bohong, mau pakai trik ini buat memancingku agar kembali. Celine, aku nggak nyangka kamu sebegitu liciknya."

"Tapi kita sudah lama berakhir. Sekalipun kamu bilang kamu punya anak, aku nggak akan peduli."

Tentu saja aku tahu.

Orang yang Kevin pedulikan di hatinya hanyalah Renata.

Padahal dulu Kevin yang lebih dulu mengejarku.

Dia takut masih ada ganjalan di hatiku, sampai berlutut di hadapanku dan bersumpah bahwa dia sudah lama melupakan Renata.

Karena melihat keteguhan Kevin itulah aku setuju menjalani hubungan dengannya.

Tetapi sekarang, dari mulut Kevin justru aku yang menjadi orang yang terus melekat dan tidak mau melepaskannya.

Renata yang ada di samping pun langsung menumpahkan seluruh isi kantong sampah di tanganku ke tanah. "Dengan penampilan miskin seperti kamu masih berani memungut sampah orang kaya? Dengar, ya. Hari ini satu botol pun nggak akan kamu bawa pergi dari sini."

Begitu melihat hasil tugas praktik sosial putraku yang susah payah kukerjakan ditumpahkan begitu saja, amarahku langsung memuncak. Aku mengulurkan tangan hendak merebut kantong sampah dari tangan Renata.

Namun, aku tidak menyangka, sebelum aku menyentuhnya, dia tiba-tiba mencondongkan tubuh ke belakang dan jatuh ke pasir.

"Ah! Kamu… kamu wanita murahan, beraninya mendorongku!"

Dalam hatiku diam-diam memutar bola mata. Akting serendah ini hanya bisa menipu orang buta mata seperti Kevin.

Renata duduk di tanah sambil menangis tersedu-sedu. "Lihat, gaunku jadi kotor gara-gara kamu. Ganti rugi!"

Kevin melirik Renata yang menangis lalu mengunci pandangannya padaku. "Celine, memungut sampah di pantai pribadi saja sudah salah. Renata mengingatkanmu dengan baik, tapi kamu malah mendorongnya. Kok bisa ada wanita sejahat kamu?"

Aku mencibir dingin. Renata yang ada di samping terus-menerus menuntut agar aku membayar ganti rugi.

Kevin menghela napas. "Renata, jangan manja. Lihat Celine kayak gini, apa dia tampak sanggup ganti gaun itu?"

Renata tersenyum licik. "Benar juga. Kalau gitu, berlututlah dan minta maaf padaku, nanti aku bakal maafin kamu."

Aku sungguh tertawa karena marah. Aku tidak ingin terus berurusan dengan mereka berdua, lalu mengeluarkan ponselku.

"Cuma sebuah gaun, 'kan? Aku bakal ganti."

Renata mengerutkan kening dengan nada meremehkan. "Kamu tahu berapa harga gaun ini? Kamu kira seratus dua ratus ribu di ponselmu bisa ganti?"

Aku mengabaikannya dan baru hendak membuka ponsel ketika sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tanganku.

Tatapannya terpaku pada layar kunci ponselku, matanya memerah. Napasnya memburu, seperti anjing gila yang kelaparan.

Setelah susah payah menenangkan napasnya, Kevin berkata dengan suara serak. "Celine, kok bisa kamu masih nggak paham aja? Aku sudah lama nggak butuh mawar-mawar ini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 9

    Aku mengira semuanya akan berakhir sampai di situ.Namun sepulang kerja, aku kembali melihat sosok yang familier di depan kantor."Celine… " Mata Kevin memerah, kondisi mentalnya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Penampilannya yang berantakan benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu penuh percaya diri.Aku tidak tahu apa saja yang dia alami setelah meninggalkan pulau itu.Dia menyodorkan sebuah buku tebal ke hadapanku. "Celine, kamu masih ingat mereka?"Aku membuka buku itu dan melihat setiap halaman berisi spesimen mawar yang dia awetkan dengan sangat rapi."Semua mawar yang kamu berikan padaku kusimpan. Aku takut mereka layu, makanya kujepit di dalam buku ini. Lihat, betapa indahnya mereka."Kevin memaksakan senyum lemah. "Kamu pernah bilang, selama mawar nggak layu, kamu akan selalu mencintaiku. Kita mulai lagi dari awal, ya?"Aku tidak menghentikan langkahku, hanya berkata dengan tenang. "Nggak ada gunanya, buang saja. Kita sudah nggak butuhkan hal-hal ini."Kevin memanggilku d

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 8

    "Cukup." Kalau aku tidak menghentikannya sekarang, Yohan bisa cemburu selama setengah tahun. "Kamu sendiri yang bilang nggak akan pernah menoleh kembali. Sekarang kamu bicara begini, bukannya itu menjilat ludah sendiri?"Kevin jelas panik, nadanya tergesa-gesa. "Bukan begitu. Waktu itu aku cuma bicara karena emosi. Aku selalu menunggumu."Aku menghela napas dan menggeleng. "Aku sudah jadi istri dan ibu. Kamu nggak perlu buang waktu menungguku. Carilah wanita yang mencintaimu dan menikahlah. Mulai sekarang, kita masing-masing menempuh jalan sendiri.""Nggak!" Kevin tiba-tiba menjadi emosional. "Seumur hidupku aku nggak akan menemukan wanita kedua yang mencintaiku lebih dari kamu. Aku bisa menunggu, menunggu kamu berce… "Kalimatnya belum selesai ketika tinju Yohan yang sudah gatal lebih dulu mendarat di wajahnya."Di hadapanku kamu berani bilang menunggu istriku bercerai. Apa kamu terlalu meremehkan aku sebagai suaminya?"Suara Yohan dingin dan mengerikan, membuat siapa pun yang mendeng

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 7

    Renata membelalakkan matanya tidak percaya, cengkeramannya pada tangan Kevin makin mengencang."Kevin, apa maksudmu? Aku ini tunanganmu, kok bisa kamu malah belain orang lain!"Kevin menatap Renata dengan tenang, "Meski kamu tunanganku, aku nggak bisa memutarbalikkan fakta cuma demi melindungimu."Saat mendapati Kevin tidak berniat memihaknya, tangan Renata yang mencengkeram jas Kevin pun terkulai lemas, dia mencibir dengan suara lesu."Ha, aku mengerti sekarang. Ini semua karena Celine, bukan? Apa kamu masih berharap buat balikan sama dia? Kalau kamu masih memikirkannya, terus gimana sama aku? Apa arti tahun-tahun yang kuhabiskan bersamamu!"Kevin menggelengkan kepala, "Dulu kamu yang kasih aku ide buat belikan Celine sarung tangan cuci piring demi menguji ketulusannya. Aku melakukannya, dan akhirnya aku kehilangan orang yang paling kucintai."Kevin tertawa mengejek diri sendiri, "Aku mencarinya selama lima tahun penuh, dan baru sekarang aku menyadari betapa bodohnya aku saat itu.""B

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 6

    Begitu kata-kata itu terucap, seluruh pantai seketika sunyi senyap, udara terasa sedingin bongkahan es abadi."Aku tahu kamu takut status sebagai Nyonya Yohan akan bikin orang lain memperlakukanmu secara istimewa, tapi kita juga nggak boleh biarin diri ditindas. Lain kali kalau menghadapi situasi seperti ini, sebut saja namaku. Ada suamimu yang akan melindungimu."Aku menelan ludah dengan gugup. Entah mengapa, tiba-tiba rasa sesak dan sedih menyeruak di dalam hatiku.Aku tidak menangis saat difitnah mencuri, aku juga tidak menangis saat dipermalukan oleh mantan pacarku. Namun, ketika Yohan berkata, "Jangan takut, ada suamimu yang melindungimu," air mataku mengalir deras tanpa bisa dibendung.Yohan seketika panik saat melihat air mata berlinang di mataku. Dia segera mengelus kepalaku dan menghibur, "Jangan menangis, jangan menangis. Apa aku salah bicara atau aku menyakitimu?"Yohan yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan, ternyata bisa merasa tidak berdaya saat melihat wanita

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 5

    Anakku menggigit lengan Renata dengan keras, meninggalkan deretan bekas gigi yang rapi.Renata menjerit dan refleks melepaskan tangannya, putraku pun langsung melompat turun dari gendongannya."Dasar bocah sialan, berani-beraninya kamu menggigitku!" Renata mengangkat tangan hendak memukul punggung anakku.Namun, tangannya tertahan di udara dan tidak bisa diturunkan.Yohan mencengkeram pergelangan tangan Renata dengan wajah tanpa ekspresi, lalu dengan satu entakan melemparkannya ke tanah.Putraku berlari memeluk betis Yohan, wajahnya penuh air mata, sambil menunjuk Renata yang terpaku. "Ayah, wanita jahat ini, mencengkeramku dan menjatuhkan Ibu."Wajah Renata memucat karena menyadari siapa yang telah dia singgung, tubuhnya gemetar ketakutan.Namun, Yohan hanya melirik Renata sekilas, lalu memerintahkan asistennya untuk membawa putraku pergi.Putraku bersandar di bahu asisten dan berkata dengan kesal kepada Yohan. "Mereka menindas Ibu, Ayah harus hukum mereka."Aku menghela napas lega sa

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 4

    Mawar?Aku menunduk dan melihat layar kunci ponselku.Itu sebenarnya mawar yang tumbuh di halaman belakang rumahku. Karena terlihat indah, aku memotretnya dan menjadikannya layar kunci.Namun, setelah Kevin berkata begitu, aku tiba-tiba teringat beberapa tahun lalu saat Kevin patah hati hingga ingin mengakhiri hidupnya, aku membelikannya setangkai mawar."Bagus, nggak?" Aku meletakkan bunga itu ke tangan Kevin.Kevin mengangguk sambil menahan air mata."Mari kita buat janji. Selama mawar ini nggak layu, kamu harus selalu bahagia."Sejak itu, setiap hari aku pergi ke toko bunga untuk membeli mawar baru, menyambungnya dengan bunga hari sebelumnya, agar mawar di dalam vas selalu segar.Semua kejadian bertahun-tahun itu sebenarnya sudah kulupakan.Kevin memandangku dari atas dengan nada dingin. "Celine, aku sebentar lagi nikah sama Renata, nggak ada kemungkinan apa pun di antara kita. Jangan coba-coba menarikku kembali."Aku sungguh tidak ingin berbicara lebih jauh dengan mereka. Saat hend

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status