Share

Bab 4

Penulis: Stars
Mawar?

Aku menunduk dan melihat layar kunci ponselku.

Itu sebenarnya mawar yang tumbuh di halaman belakang rumahku. Karena terlihat indah, aku memotretnya dan menjadikannya layar kunci.

Namun, setelah Kevin berkata begitu, aku tiba-tiba teringat beberapa tahun lalu saat Kevin patah hati hingga ingin mengakhiri hidupnya, aku membelikannya setangkai mawar.

"Bagus, nggak?" Aku meletakkan bunga itu ke tangan Kevin.

Kevin mengangguk sambil menahan air mata.

"Mari kita buat janji. Selama mawar ini nggak layu, kamu harus selalu bahagia."

Sejak itu, setiap hari aku pergi ke toko bunga untuk membeli mawar baru, menyambungnya dengan bunga hari sebelumnya, agar mawar di dalam vas selalu segar.

Semua kejadian bertahun-tahun itu sebenarnya sudah kulupakan.

Kevin memandangku dari atas dengan nada dingin. "Celine, aku sebentar lagi nikah sama Renata, nggak ada kemungkinan apa pun di antara kita. Jangan coba-coba menarikku kembali."

Aku sungguh tidak ingin berbicara lebih jauh dengan mereka. Saat hendak menyalakan ponsel, aku mendapati tanah di tanganku menghalangi sidik jari sehingga ponsel tidak bisa dibuka.

Aku mencoba pemindai wajah, tetapi gagal karena wajahku terkena debu.

Saat hendak memasukkan kata sandi, Renata yang berada di samping langsung merebut ponselku.

"Bahkan layar kunci saja nggak bisa dibuka. Kayaknya ponsel ini hasil curian, ya."

Aku langsung tertegun menahan amarah. "Balikin ponselnya padaku."

Namun, dia tidak hanya tidak mengembalikan ponselku, dia bahkan memanggil pelayan. "Ponsel ini milik tamu entah siapa, dicuri sama wanita ini. Masukkan ke bagian barang hilang, lalu siapkan kapal nelayan buat usir wanita ini keluar."

"Ini ponselku!" teriakku.

"Kalau kamu terus kacaukan ketertiban, kami akan lapor polisi," bentak pelayan sambil memegang ponsel. "Tolong bekerja sama."

Tiba-tiba Kevin menahan satpam. "Dia nggak sengaja. Demi akku, anggap saja selesai."

Renata ikut menimpali. "Kalau sampai dilaporkan, minimal harus dipenjara dua tahun."

Aku membalas dengan marah. "Lalu kamu tahu memfitnah orang bisa dipenjara berapa tahun?"

Satpam mencengkeramku dan menyeretku keluar.

Tepat saat itu, sebuah kapal pesiar melaju dari kejauhan. Begitu merapat, seorang anak laki-laki kecil berlari ke arahku sambil melompat-lompat.

Aku berusaha melepaskan diri dari satpam dan berjongkok hendak memeluknya, tetapi Renata tiba-tiba menjambak rambutku dan menjatuhkanku ke tanah.

Anak itu yang melihat hal ini pun langsung terkejut hingga menangis keras. "Ibu! Ibu!"

Renata menggendong anak itu. "Wanita jahat ini bukan ibumu. Tante bakal bawa kamu cari ibumu yang sebenarnya."

Putraku meronta keras dalam gendongan Renata, lengan dan betisnya memar dengan beberapa bekas merah.

"Nggak mau! Aku mau ibuku!"

"Lepasin putraku!"

Melihat wajah anak itu memerah, aku langsung bergegas menghampirinya tanpa berpikir panjang, namun dihentikan oleh seorang satpam.

Suara ejekan di sekeliling semakin tajam.

"Kurasa kamu sudah gila. Wanita kayak kamu mana mungkin punya anak."

"Cepat kurung dia, mungkin dia kabur dari rumah sakit jiwa."

Kevin datang ke hadapanku dan menarikku dari tangan satpam.

"Gimanapun, dia datang karena aku, jadi aku yang akan mengantarnya pergi."

Kapal nelayan sudah siap, dia menyeretku ke arah pantai.

"Lepasin aku, Kevin. Kamu bakal menyesal."

Aku meronta mati-matian, hingga hampir dilempar ke atas kapal nelayan.

Sebuah kapal pesiar lain mendekat dengan kencang.

Sosok bertubuh tegap turun dari kapal pesiar itu.

Setelan jas abu-abu yang pas menonjolkan fisiknya, matanya yang gelap tanpa kacamata hitam, memperlihatkan tatapan dingin dan tegas.

"Pak Yohan." Semua orang di tempat itu memberi salam dengan penuh hormat.

Dan saat pandanganku bertemu dengan Yohan, mataku tiba-tiba memerah tanpa bisa kutahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 9

    Aku mengira semuanya akan berakhir sampai di situ.Namun sepulang kerja, aku kembali melihat sosok yang familier di depan kantor."Celine… " Mata Kevin memerah, kondisi mentalnya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Penampilannya yang berantakan benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu penuh percaya diri.Aku tidak tahu apa saja yang dia alami setelah meninggalkan pulau itu.Dia menyodorkan sebuah buku tebal ke hadapanku. "Celine, kamu masih ingat mereka?"Aku membuka buku itu dan melihat setiap halaman berisi spesimen mawar yang dia awetkan dengan sangat rapi."Semua mawar yang kamu berikan padaku kusimpan. Aku takut mereka layu, makanya kujepit di dalam buku ini. Lihat, betapa indahnya mereka."Kevin memaksakan senyum lemah. "Kamu pernah bilang, selama mawar nggak layu, kamu akan selalu mencintaiku. Kita mulai lagi dari awal, ya?"Aku tidak menghentikan langkahku, hanya berkata dengan tenang. "Nggak ada gunanya, buang saja. Kita sudah nggak butuhkan hal-hal ini."Kevin memanggilku d

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 8

    "Cukup." Kalau aku tidak menghentikannya sekarang, Yohan bisa cemburu selama setengah tahun. "Kamu sendiri yang bilang nggak akan pernah menoleh kembali. Sekarang kamu bicara begini, bukannya itu menjilat ludah sendiri?"Kevin jelas panik, nadanya tergesa-gesa. "Bukan begitu. Waktu itu aku cuma bicara karena emosi. Aku selalu menunggumu."Aku menghela napas dan menggeleng. "Aku sudah jadi istri dan ibu. Kamu nggak perlu buang waktu menungguku. Carilah wanita yang mencintaimu dan menikahlah. Mulai sekarang, kita masing-masing menempuh jalan sendiri.""Nggak!" Kevin tiba-tiba menjadi emosional. "Seumur hidupku aku nggak akan menemukan wanita kedua yang mencintaiku lebih dari kamu. Aku bisa menunggu, menunggu kamu berce… "Kalimatnya belum selesai ketika tinju Yohan yang sudah gatal lebih dulu mendarat di wajahnya."Di hadapanku kamu berani bilang menunggu istriku bercerai. Apa kamu terlalu meremehkan aku sebagai suaminya?"Suara Yohan dingin dan mengerikan, membuat siapa pun yang mendeng

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 7

    Renata membelalakkan matanya tidak percaya, cengkeramannya pada tangan Kevin makin mengencang."Kevin, apa maksudmu? Aku ini tunanganmu, kok bisa kamu malah belain orang lain!"Kevin menatap Renata dengan tenang, "Meski kamu tunanganku, aku nggak bisa memutarbalikkan fakta cuma demi melindungimu."Saat mendapati Kevin tidak berniat memihaknya, tangan Renata yang mencengkeram jas Kevin pun terkulai lemas, dia mencibir dengan suara lesu."Ha, aku mengerti sekarang. Ini semua karena Celine, bukan? Apa kamu masih berharap buat balikan sama dia? Kalau kamu masih memikirkannya, terus gimana sama aku? Apa arti tahun-tahun yang kuhabiskan bersamamu!"Kevin menggelengkan kepala, "Dulu kamu yang kasih aku ide buat belikan Celine sarung tangan cuci piring demi menguji ketulusannya. Aku melakukannya, dan akhirnya aku kehilangan orang yang paling kucintai."Kevin tertawa mengejek diri sendiri, "Aku mencarinya selama lima tahun penuh, dan baru sekarang aku menyadari betapa bodohnya aku saat itu.""B

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 6

    Begitu kata-kata itu terucap, seluruh pantai seketika sunyi senyap, udara terasa sedingin bongkahan es abadi."Aku tahu kamu takut status sebagai Nyonya Yohan akan bikin orang lain memperlakukanmu secara istimewa, tapi kita juga nggak boleh biarin diri ditindas. Lain kali kalau menghadapi situasi seperti ini, sebut saja namaku. Ada suamimu yang akan melindungimu."Aku menelan ludah dengan gugup. Entah mengapa, tiba-tiba rasa sesak dan sedih menyeruak di dalam hatiku.Aku tidak menangis saat difitnah mencuri, aku juga tidak menangis saat dipermalukan oleh mantan pacarku. Namun, ketika Yohan berkata, "Jangan takut, ada suamimu yang melindungimu," air mataku mengalir deras tanpa bisa dibendung.Yohan seketika panik saat melihat air mata berlinang di mataku. Dia segera mengelus kepalaku dan menghibur, "Jangan menangis, jangan menangis. Apa aku salah bicara atau aku menyakitimu?"Yohan yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan, ternyata bisa merasa tidak berdaya saat melihat wanita

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 5

    Anakku menggigit lengan Renata dengan keras, meninggalkan deretan bekas gigi yang rapi.Renata menjerit dan refleks melepaskan tangannya, putraku pun langsung melompat turun dari gendongannya."Dasar bocah sialan, berani-beraninya kamu menggigitku!" Renata mengangkat tangan hendak memukul punggung anakku.Namun, tangannya tertahan di udara dan tidak bisa diturunkan.Yohan mencengkeram pergelangan tangan Renata dengan wajah tanpa ekspresi, lalu dengan satu entakan melemparkannya ke tanah.Putraku berlari memeluk betis Yohan, wajahnya penuh air mata, sambil menunjuk Renata yang terpaku. "Ayah, wanita jahat ini, mencengkeramku dan menjatuhkan Ibu."Wajah Renata memucat karena menyadari siapa yang telah dia singgung, tubuhnya gemetar ketakutan.Namun, Yohan hanya melirik Renata sekilas, lalu memerintahkan asistennya untuk membawa putraku pergi.Putraku bersandar di bahu asisten dan berkata dengan kesal kepada Yohan. "Mereka menindas Ibu, Ayah harus hukum mereka."Aku menghela napas lega sa

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 4

    Mawar?Aku menunduk dan melihat layar kunci ponselku.Itu sebenarnya mawar yang tumbuh di halaman belakang rumahku. Karena terlihat indah, aku memotretnya dan menjadikannya layar kunci.Namun, setelah Kevin berkata begitu, aku tiba-tiba teringat beberapa tahun lalu saat Kevin patah hati hingga ingin mengakhiri hidupnya, aku membelikannya setangkai mawar."Bagus, nggak?" Aku meletakkan bunga itu ke tangan Kevin.Kevin mengangguk sambil menahan air mata."Mari kita buat janji. Selama mawar ini nggak layu, kamu harus selalu bahagia."Sejak itu, setiap hari aku pergi ke toko bunga untuk membeli mawar baru, menyambungnya dengan bunga hari sebelumnya, agar mawar di dalam vas selalu segar.Semua kejadian bertahun-tahun itu sebenarnya sudah kulupakan.Kevin memandangku dari atas dengan nada dingin. "Celine, aku sebentar lagi nikah sama Renata, nggak ada kemungkinan apa pun di antara kita. Jangan coba-coba menarikku kembali."Aku sungguh tidak ingin berbicara lebih jauh dengan mereka. Saat hend

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status