Share

Bab 2

Penulis: Stars
Usai mendengar ucapan Renata, aku baru teringat bahwa kalung itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan putraku tahun lalu.

Demi memberiku kejutan, mereka sengaja menyembunyikan identitas saat pergi ke lelang, maka tidak ada yang tahu siapa pembeli kalung itu.

Saat melihat Renata berbicara begitu yakin, Kevin benar-benar memercayainya dan mengerutkan kening sambil bertanya padaku. "Kukira kamu cuma materialistis, nggak nyangka kamu sampai jadi simpanan orang lain demi uang?"

Aku hanya diam, karena menurutku tidak perlu membuang kata-kata untuk orang seperti ini.

Namun, diamku justru dianggap Kevin sebagai tanda bahwa ucapannya tepat sasaran. Dia mengeluarkan ponselnya dan berkata dengan munafik. "Kamu mau berapa, aku bakal kasih, anggap saja sebagai ganti rugi karena aku merusak kalungmu."

"Nggak perlu, nilainya nggak seberapa," ucapku dingin.

Aku tidak berbohong, kalung ini dibeli dengan uang saku putraku, maka memang tidak mahal.

Lagi pula, kalau aku menerima uang dari mantan pacar, entah berapa lama orang di rumah akan cemburu jika mengetahuinya.

Kevin tertegun sejenak lalu tertawa ringan. "Celine, jangan salah paham. Aku kasih kamu uang karena nggak tega melihatmu terus terpuruk. Lagian ini pesta amal, kasih sedikit uang pada mantan pacar demi bertahan hidup juga atas dasar kemanusiaan."

"Aku sama sekali nggak ada pikiran lain sama kamu."

Aku yang sama sekali tidak memberi muka pada Kevin pun membuat Renata melangkah keluar dari belakang Kevin, lalu merangkul lengan dan menarik Kevin pergi. "Sayang, jangan hiraukan dia. Orang yang jual tubuhnya mungkin membawa penyakit, kita nggak boleh tertular."

"Selain itu, dia gini-gini juga lulusan perguruan tinggi top nasional. Sekalipun jatuh miskin, cari kerjaan sebagai pelayan pun masih bisa makan. Tapi dia justru milih cari pria, semua itu karena dia malas dan nggak mau maju… "

"Renata," ucapku memotong perkataan Renata dengan suara keras. "Jaga ucapanmu. Menyebarkan fitnah ada konsekuensi hukumnya."

Renata terdiam, lalu mundur ke belakang Kevin. Sebelum itu, dia masih sempat melotot ke arahku. "Kenapa? Berani berbuat tapi nggak berani mengaku?"

Aku benar-benar mulai gelisah sekarang. Matahari hampir terbenam, sedangkan tugas praktik sosial putraku belum selesai, aku sungguh tidak punya waktu untuk membuang-buang waktu dengan dua orang di depanku ini.

Saat aku hendak menunduk mengambil sebuah botol, lenganku ditarik kasar oleh Kevin.

"Celine, dulu kamu meremehkan sarung tangan yang kuberikan, sekarang malah memungut sampah di sini."

"Sekalipun kamu berlutut di hadapanku sambil nangis dan memohon, aku nggak akan menoleh melihatmu."

Aku benar-benar dibuat tidak bisa berkata apa-apa olehnya.

Apakah Kevin mengira aku memutuskan hubungan hanya karena sepasang sarung tangan?

Saat itu, Renata memutuskan Kevin demi pria tua beristri. Kevin putus asa dan berniat mengakhiri hidup di jembatan penyeberangan, kebetulan aku lewat dan menyelamatkannya.

Demi mencegahnya bunuh diri di tempat yang tidak bisa kulihat, aku menemaninya melewati masa yang penuh penderitaan itu.

Mungkin karena kehadiranku mengisi kekosongan yang ditinggalkan Renata di hatinya, perasaan Kevin padaku makin lama makin dalam. Akhirnya, setelah dia terus mengejarku, aku pun menerima pernyataan cintanya.

Namun suatu hari, Renata yang tertipu baik tubuh maupun perasaannya oleh pria tua itu kembali.

Sejak hari itu, Kevin mulai menjauh dariku, tidak mengangkat telepon dan tidak membalas pesan.

Bahkan di hari ulang tahunku, dia menukar poin supermarket untuk memberiku sarung tangan cuci piring sebagai hadiah. Bukankah itu isyarat bahwa di matanya aku hanya seorang pembantu?

Ironisnya, saat itu aku masih menaruh harapan pada Kevin.

Sampai aku melihat pemberitaan media bahwa Kevin menawar paling tinggi di lelang demi memenangkan permata seharga 10 miliar untuk Renata, barulah perasaanku benar-benar mati.

Apakah Kevin tidak tahu bahwa yang kupedulikan sejak awal bukanlah sepasang sarung tangan?

Aku menghempaskan tangan Kevin dan mengusap pergelangan tanganku yang sakit. "Kevin, hidupku sekarang baik-baik saja, nggak perlu kamu khawatirkan."

Kevin tetap menatapku dengan curiga. Aku menghela napas.

"Selain itu, aku sudah punya suami. Kalau dia melihat kamu menarik-narikku kayak gini, dia nggak akan senang."

Kevin mundur dua langkah, wajahnya dipenuhi keterkejutan.

"Kamu berani menikah diam-diam?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 9

    Aku mengira semuanya akan berakhir sampai di situ.Namun sepulang kerja, aku kembali melihat sosok yang familier di depan kantor."Celine… " Mata Kevin memerah, kondisi mentalnya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Penampilannya yang berantakan benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu penuh percaya diri.Aku tidak tahu apa saja yang dia alami setelah meninggalkan pulau itu.Dia menyodorkan sebuah buku tebal ke hadapanku. "Celine, kamu masih ingat mereka?"Aku membuka buku itu dan melihat setiap halaman berisi spesimen mawar yang dia awetkan dengan sangat rapi."Semua mawar yang kamu berikan padaku kusimpan. Aku takut mereka layu, makanya kujepit di dalam buku ini. Lihat, betapa indahnya mereka."Kevin memaksakan senyum lemah. "Kamu pernah bilang, selama mawar nggak layu, kamu akan selalu mencintaiku. Kita mulai lagi dari awal, ya?"Aku tidak menghentikan langkahku, hanya berkata dengan tenang. "Nggak ada gunanya, buang saja. Kita sudah nggak butuhkan hal-hal ini."Kevin memanggilku d

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 8

    "Cukup." Kalau aku tidak menghentikannya sekarang, Yohan bisa cemburu selama setengah tahun. "Kamu sendiri yang bilang nggak akan pernah menoleh kembali. Sekarang kamu bicara begini, bukannya itu menjilat ludah sendiri?"Kevin jelas panik, nadanya tergesa-gesa. "Bukan begitu. Waktu itu aku cuma bicara karena emosi. Aku selalu menunggumu."Aku menghela napas dan menggeleng. "Aku sudah jadi istri dan ibu. Kamu nggak perlu buang waktu menungguku. Carilah wanita yang mencintaimu dan menikahlah. Mulai sekarang, kita masing-masing menempuh jalan sendiri.""Nggak!" Kevin tiba-tiba menjadi emosional. "Seumur hidupku aku nggak akan menemukan wanita kedua yang mencintaiku lebih dari kamu. Aku bisa menunggu, menunggu kamu berce… "Kalimatnya belum selesai ketika tinju Yohan yang sudah gatal lebih dulu mendarat di wajahnya."Di hadapanku kamu berani bilang menunggu istriku bercerai. Apa kamu terlalu meremehkan aku sebagai suaminya?"Suara Yohan dingin dan mengerikan, membuat siapa pun yang mendeng

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 7

    Renata membelalakkan matanya tidak percaya, cengkeramannya pada tangan Kevin makin mengencang."Kevin, apa maksudmu? Aku ini tunanganmu, kok bisa kamu malah belain orang lain!"Kevin menatap Renata dengan tenang, "Meski kamu tunanganku, aku nggak bisa memutarbalikkan fakta cuma demi melindungimu."Saat mendapati Kevin tidak berniat memihaknya, tangan Renata yang mencengkeram jas Kevin pun terkulai lemas, dia mencibir dengan suara lesu."Ha, aku mengerti sekarang. Ini semua karena Celine, bukan? Apa kamu masih berharap buat balikan sama dia? Kalau kamu masih memikirkannya, terus gimana sama aku? Apa arti tahun-tahun yang kuhabiskan bersamamu!"Kevin menggelengkan kepala, "Dulu kamu yang kasih aku ide buat belikan Celine sarung tangan cuci piring demi menguji ketulusannya. Aku melakukannya, dan akhirnya aku kehilangan orang yang paling kucintai."Kevin tertawa mengejek diri sendiri, "Aku mencarinya selama lima tahun penuh, dan baru sekarang aku menyadari betapa bodohnya aku saat itu.""B

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 6

    Begitu kata-kata itu terucap, seluruh pantai seketika sunyi senyap, udara terasa sedingin bongkahan es abadi."Aku tahu kamu takut status sebagai Nyonya Yohan akan bikin orang lain memperlakukanmu secara istimewa, tapi kita juga nggak boleh biarin diri ditindas. Lain kali kalau menghadapi situasi seperti ini, sebut saja namaku. Ada suamimu yang akan melindungimu."Aku menelan ludah dengan gugup. Entah mengapa, tiba-tiba rasa sesak dan sedih menyeruak di dalam hatiku.Aku tidak menangis saat difitnah mencuri, aku juga tidak menangis saat dipermalukan oleh mantan pacarku. Namun, ketika Yohan berkata, "Jangan takut, ada suamimu yang melindungimu," air mataku mengalir deras tanpa bisa dibendung.Yohan seketika panik saat melihat air mata berlinang di mataku. Dia segera mengelus kepalaku dan menghibur, "Jangan menangis, jangan menangis. Apa aku salah bicara atau aku menyakitimu?"Yohan yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan, ternyata bisa merasa tidak berdaya saat melihat wanita

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 5

    Anakku menggigit lengan Renata dengan keras, meninggalkan deretan bekas gigi yang rapi.Renata menjerit dan refleks melepaskan tangannya, putraku pun langsung melompat turun dari gendongannya."Dasar bocah sialan, berani-beraninya kamu menggigitku!" Renata mengangkat tangan hendak memukul punggung anakku.Namun, tangannya tertahan di udara dan tidak bisa diturunkan.Yohan mencengkeram pergelangan tangan Renata dengan wajah tanpa ekspresi, lalu dengan satu entakan melemparkannya ke tanah.Putraku berlari memeluk betis Yohan, wajahnya penuh air mata, sambil menunjuk Renata yang terpaku. "Ayah, wanita jahat ini, mencengkeramku dan menjatuhkan Ibu."Wajah Renata memucat karena menyadari siapa yang telah dia singgung, tubuhnya gemetar ketakutan.Namun, Yohan hanya melirik Renata sekilas, lalu memerintahkan asistennya untuk membawa putraku pergi.Putraku bersandar di bahu asisten dan berkata dengan kesal kepada Yohan. "Mereka menindas Ibu, Ayah harus hukum mereka."Aku menghela napas lega sa

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 4

    Mawar?Aku menunduk dan melihat layar kunci ponselku.Itu sebenarnya mawar yang tumbuh di halaman belakang rumahku. Karena terlihat indah, aku memotretnya dan menjadikannya layar kunci.Namun, setelah Kevin berkata begitu, aku tiba-tiba teringat beberapa tahun lalu saat Kevin patah hati hingga ingin mengakhiri hidupnya, aku membelikannya setangkai mawar."Bagus, nggak?" Aku meletakkan bunga itu ke tangan Kevin.Kevin mengangguk sambil menahan air mata."Mari kita buat janji. Selama mawar ini nggak layu, kamu harus selalu bahagia."Sejak itu, setiap hari aku pergi ke toko bunga untuk membeli mawar baru, menyambungnya dengan bunga hari sebelumnya, agar mawar di dalam vas selalu segar.Semua kejadian bertahun-tahun itu sebenarnya sudah kulupakan.Kevin memandangku dari atas dengan nada dingin. "Celine, aku sebentar lagi nikah sama Renata, nggak ada kemungkinan apa pun di antara kita. Jangan coba-coba menarikku kembali."Aku sungguh tidak ingin berbicara lebih jauh dengan mereka. Saat hend

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status