Share

Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan
Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan
Penulis: Stars

Bab 1

Penulis: Stars
Tunanganku menawar paling tinggi di lelang demi cinta pertamanya, tetapi untukku dia hanya memberikan sarung tangan cuci piring hasil menukar poin supermarket.

Di pulau liburan pribadi terbesar di dalam negeri, begitu Kevin turun dari pesawat sambil menggandeng Renata yang mengenakan gaun haute couture model ekor ikan, dia langsung menjadi pusat perhatian semua orang.

"Pak Kevin, benaran nggak nyangka kamu juga datang ke pesta amal ini. Katanya baru lima tahun mengambil alih perusahaan, kamu sudah menjatuhkan puluhan perusahaan sejenis. Benar-benar muda dan berbakat."

Kevin tersenyum tipis. "Pesta amal ini cuma kedok. Bukankah semua yang hadir di sini ingin merebut perhatian investor itu?"

Semua orang mengangguk setuju, karena tuan rumah pesta amal ini memang investor langka yang sulit ditemui.

Seseorang mengalihkan pandangan ke Renata dan terus memujinya. "Ini pasti Nyonya Kevin. Cantik dan menawan sekali, Pak Kevin benaran beruntung."

Renata segera merangkul lengan Kevin dan tertawa sambil menutup mulutnya. "Kami belum nikah. Kevin bilang setelah proyek ini berhasil, kami akan menggelar pernikahan. Kali ini pernikahannya pasti dibuat besar-besaran."

Sekilas kekhawatiran melintas di mata Kevin, tetapi dia segera menenangkan diri dan tersenyum lagi. "Pada akhirnya itu cuma selembar kertas. Selama di hati kami ada satu sama lain, itu sudah cukup."

Aku agak terkejut mendengarnya.

Lima tahun lalu, setelah aku putus dengan Kevin, dia langsung melamar Renata. Keesokan harinya, berbagai media besar mengumumkan pertunangan mereka, bahkan mengadakan konferensi pers.

Saat itu Kevin dan Renata adalah pasangan mesra yang dikagumi semua orang. Bagaimana mungkin pernikahan ini tertunda sampai lima tahun?

Saat aku masih merasa bingung, seorang pelayan sementara berjalan ke arahku dengan wajah dingin.

Dia menatapku dari atas ke bawah dengan jijik, penghinaan di matanya sama sekali tidak disembunyikan.

"Maaf, Nona. Saat ini sedang berlangsung pesta. Pembersih baru dibutuhkan setelah acara selesai."

Aku dan putraku menjalani praktik membersihkan pantai seharian. Aku mengambil pakaian kerja usang dari gudang untuk dipakai. Dibandingkan para tamu yang berkilau di sekelilingku, aku memang tidak tampak seperti tamu undangan.

Aku segera menjelaskan. "Pantai ini milikku, aku datang ke sini buat… "

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, pelayan itu sudah tertawa terbahak-bahak. "Kamu pandai bercanda. Seorang petugas kebersihan rumah CEO malah anggap pantai ini miliknya sendiri."

"Silakan segera pergi. Kalau nggak, aku bakal panggil satpam."

Suaranya yang keras menarik perhatian para tamu di sekitar. Tatapan merendahkan mereka tertuju padaku seperti sorotan lampu.

Di antara mereka ada Kevin yang sedang berbincang santai dengan orang lain.

Saat pandangan kami bertemu, Kevin jelas tertegun sejenak. "Celine."

Pelayan itu menatapnya dengan terkejut. "Pak Kevin, apa dia temanmu?"

Kevin segera menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Nggak bisa dibilang teman. Dia cuma perempuan yang suka menempel pada orang kaya."

Dia berbalik masuk ke tengah kerumunan dan tidak pernah menoleh lagi ke arahku, seolah-olah aku mengotori pandangannya.

Pelayan itu tidak banyak bicara lagi dan langsung mendorongku. "Buruan pergi. Yang datang ke sini semuanya CEO berstatus. Kalau kamu mau cari orang kaya buat hidupi kamu, pergilah ke klub malam."

Kata-katanya makin keterlaluan. Aku menangkap tangannya dan berkata dengan nada dingin. "Aku cuma datang untuk menyelesaikan praktik sosial orang tua dan anak. Setelah pantai ini bersih, aku akan pergi. Kalau sampai menimbulkan kerugian, aku akan menanggungnya sendiri."

Namun, dia malah mencibir. "Kamu sanggup ganti rugi barang-barang di sini? Sebuah gelas anggur saja, meski kamu memungut sampah seumur hidup, kamu nggak bakal mampu menggantinya."

Aku baru hendak menjelaskan ketika Kevin tiba-tiba kembali. "Celine, aku tahu kamu datang demi aku, tapi kita sudah selesai. Apa pun caramu menarik perhatianku, aku nggak bakal tertarik."

"Aku bakal kasih kamu 1 miliar, carilah pekerjaan yang layak dan jangan memungut sampah lagi."

Aku tersenyum enteng tanpa menghiraukannya, lalu terus memungut sampahku.

Diabaikan seperti itu membuat Kevin tidak tahan karena malu, lalu dia mengulurkan tangan dan menarik paksa pakaian kerjaku.

Sret... pakaian kerjaku robek.

Kalung mutiara di leherku ikut terputus olehnya, butiran mutiara berjatuhan ke tanah satu per satu.

Saat itu, Renata yang bermata tajam tiba-tiba menutup mulutnya dan berseru kaget. "Astaga, ternyata kamu jadi simpanan orang lain."

Aku langsung membentak marah. "Bicara ngawur apa kamu?"

Namun, Renata menganalisis dengan wajah serius. "Aku nggak mungkin salah lihat. Kalung di lehermu ini dibeli di lelang tahun lalu oleh seorang pengusaha kaya misterius yang bawa seorang anak. Sekarang kalung itu ada padamu. Kalau bukan simpanan, terus apa?"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 9

    Aku mengira semuanya akan berakhir sampai di situ.Namun sepulang kerja, aku kembali melihat sosok yang familier di depan kantor."Celine… " Mata Kevin memerah, kondisi mentalnya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Penampilannya yang berantakan benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu penuh percaya diri.Aku tidak tahu apa saja yang dia alami setelah meninggalkan pulau itu.Dia menyodorkan sebuah buku tebal ke hadapanku. "Celine, kamu masih ingat mereka?"Aku membuka buku itu dan melihat setiap halaman berisi spesimen mawar yang dia awetkan dengan sangat rapi."Semua mawar yang kamu berikan padaku kusimpan. Aku takut mereka layu, makanya kujepit di dalam buku ini. Lihat, betapa indahnya mereka."Kevin memaksakan senyum lemah. "Kamu pernah bilang, selama mawar nggak layu, kamu akan selalu mencintaiku. Kita mulai lagi dari awal, ya?"Aku tidak menghentikan langkahku, hanya berkata dengan tenang. "Nggak ada gunanya, buang saja. Kita sudah nggak butuhkan hal-hal ini."Kevin memanggilku d

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 8

    "Cukup." Kalau aku tidak menghentikannya sekarang, Yohan bisa cemburu selama setengah tahun. "Kamu sendiri yang bilang nggak akan pernah menoleh kembali. Sekarang kamu bicara begini, bukannya itu menjilat ludah sendiri?"Kevin jelas panik, nadanya tergesa-gesa. "Bukan begitu. Waktu itu aku cuma bicara karena emosi. Aku selalu menunggumu."Aku menghela napas dan menggeleng. "Aku sudah jadi istri dan ibu. Kamu nggak perlu buang waktu menungguku. Carilah wanita yang mencintaimu dan menikahlah. Mulai sekarang, kita masing-masing menempuh jalan sendiri.""Nggak!" Kevin tiba-tiba menjadi emosional. "Seumur hidupku aku nggak akan menemukan wanita kedua yang mencintaiku lebih dari kamu. Aku bisa menunggu, menunggu kamu berce… "Kalimatnya belum selesai ketika tinju Yohan yang sudah gatal lebih dulu mendarat di wajahnya."Di hadapanku kamu berani bilang menunggu istriku bercerai. Apa kamu terlalu meremehkan aku sebagai suaminya?"Suara Yohan dingin dan mengerikan, membuat siapa pun yang mendeng

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 7

    Renata membelalakkan matanya tidak percaya, cengkeramannya pada tangan Kevin makin mengencang."Kevin, apa maksudmu? Aku ini tunanganmu, kok bisa kamu malah belain orang lain!"Kevin menatap Renata dengan tenang, "Meski kamu tunanganku, aku nggak bisa memutarbalikkan fakta cuma demi melindungimu."Saat mendapati Kevin tidak berniat memihaknya, tangan Renata yang mencengkeram jas Kevin pun terkulai lemas, dia mencibir dengan suara lesu."Ha, aku mengerti sekarang. Ini semua karena Celine, bukan? Apa kamu masih berharap buat balikan sama dia? Kalau kamu masih memikirkannya, terus gimana sama aku? Apa arti tahun-tahun yang kuhabiskan bersamamu!"Kevin menggelengkan kepala, "Dulu kamu yang kasih aku ide buat belikan Celine sarung tangan cuci piring demi menguji ketulusannya. Aku melakukannya, dan akhirnya aku kehilangan orang yang paling kucintai."Kevin tertawa mengejek diri sendiri, "Aku mencarinya selama lima tahun penuh, dan baru sekarang aku menyadari betapa bodohnya aku saat itu.""B

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 6

    Begitu kata-kata itu terucap, seluruh pantai seketika sunyi senyap, udara terasa sedingin bongkahan es abadi."Aku tahu kamu takut status sebagai Nyonya Yohan akan bikin orang lain memperlakukanmu secara istimewa, tapi kita juga nggak boleh biarin diri ditindas. Lain kali kalau menghadapi situasi seperti ini, sebut saja namaku. Ada suamimu yang akan melindungimu."Aku menelan ludah dengan gugup. Entah mengapa, tiba-tiba rasa sesak dan sedih menyeruak di dalam hatiku.Aku tidak menangis saat difitnah mencuri, aku juga tidak menangis saat dipermalukan oleh mantan pacarku. Namun, ketika Yohan berkata, "Jangan takut, ada suamimu yang melindungimu," air mataku mengalir deras tanpa bisa dibendung.Yohan seketika panik saat melihat air mata berlinang di mataku. Dia segera mengelus kepalaku dan menghibur, "Jangan menangis, jangan menangis. Apa aku salah bicara atau aku menyakitimu?"Yohan yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan, ternyata bisa merasa tidak berdaya saat melihat wanita

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 5

    Anakku menggigit lengan Renata dengan keras, meninggalkan deretan bekas gigi yang rapi.Renata menjerit dan refleks melepaskan tangannya, putraku pun langsung melompat turun dari gendongannya."Dasar bocah sialan, berani-beraninya kamu menggigitku!" Renata mengangkat tangan hendak memukul punggung anakku.Namun, tangannya tertahan di udara dan tidak bisa diturunkan.Yohan mencengkeram pergelangan tangan Renata dengan wajah tanpa ekspresi, lalu dengan satu entakan melemparkannya ke tanah.Putraku berlari memeluk betis Yohan, wajahnya penuh air mata, sambil menunjuk Renata yang terpaku. "Ayah, wanita jahat ini, mencengkeramku dan menjatuhkan Ibu."Wajah Renata memucat karena menyadari siapa yang telah dia singgung, tubuhnya gemetar ketakutan.Namun, Yohan hanya melirik Renata sekilas, lalu memerintahkan asistennya untuk membawa putraku pergi.Putraku bersandar di bahu asisten dan berkata dengan kesal kepada Yohan. "Mereka menindas Ibu, Ayah harus hukum mereka."Aku menghela napas lega sa

  • Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan   Bab 4

    Mawar?Aku menunduk dan melihat layar kunci ponselku.Itu sebenarnya mawar yang tumbuh di halaman belakang rumahku. Karena terlihat indah, aku memotretnya dan menjadikannya layar kunci.Namun, setelah Kevin berkata begitu, aku tiba-tiba teringat beberapa tahun lalu saat Kevin patah hati hingga ingin mengakhiri hidupnya, aku membelikannya setangkai mawar."Bagus, nggak?" Aku meletakkan bunga itu ke tangan Kevin.Kevin mengangguk sambil menahan air mata."Mari kita buat janji. Selama mawar ini nggak layu, kamu harus selalu bahagia."Sejak itu, setiap hari aku pergi ke toko bunga untuk membeli mawar baru, menyambungnya dengan bunga hari sebelumnya, agar mawar di dalam vas selalu segar.Semua kejadian bertahun-tahun itu sebenarnya sudah kulupakan.Kevin memandangku dari atas dengan nada dingin. "Celine, aku sebentar lagi nikah sama Renata, nggak ada kemungkinan apa pun di antara kita. Jangan coba-coba menarikku kembali."Aku sungguh tidak ingin berbicara lebih jauh dengan mereka. Saat hend

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status