LOGINBi Inah memegang lengan Kiki dan mencoba menariknya menjauh dari Satria. Tapi Kiki malah memberontak. Tenaga orang mabuk terkadang memang tidak bisa ditebak. Gadis itu menghentakkan tangannya dan kembali merangkul erat lengan Satria."Gak mau!" rengek Kiki keras keras, suaranya menggema di ruang tamu. Matanya yang sayu menatap tajam ke arah Bi Inah. "Kiki mau di sini aja sama Kak Satria! Kak Satria anget badannya, wangi lagi. Bi Inah sana pergi!"Satria memutar bola matanya malas. Dia melirik ke arah Vera yang rahangnya sudah mengeras menahan malu melihat kelakuan murahan adiknya sendiri di depan para pegawai."Ki, udah sana lu tidur di atas," bujuk Satria sambil berusaha melepaskan tangan Kiki dari jasnya satu per satu. "Kasur lu di atas jauh lebih empuk daripada berdiri di sini. Lagian gue juga mau mandi, lengket banget ini badan.""Mandi bareng!" racau Kiki ngawur sambil tersenyum lebar dan matanya merem melek.Mata Vera melotot mau keluar mendengarnya. Urat kesabarannya benar bena
Namun, begitu kaki Satria dan Kiki melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang terang benderang, hawa dingin yang jauh lebih menusuk daripada angin malam langsung menyambut mereka.Di tengah ruangan yang luas itu, Vera berdiri tegak bagaikan patung dewi keadilan yang bersiap menjatuhkan hukuman mati. Wajah cantiknya terlihat sangat kaku dan dingin. Kedua tangannya bertolak pinggang, menatap lurus menembus adiknya yang sedang bergelendotan manja di lengan asistennya.Melihat pemandangan di depan matanya itu, urat di dahi Vera langsung menonjol. Napasnya memburu menahan amarah yang sudah naik sampai ke ubun ubun. Adiknya yang seharusnya belajar menjadi wanita elegan malah pulang nyaris tengah malam dalam kondisi setengah sadar, bau alkohol yang menyengat sampai ke jarak dua meter, dan menempel pada seorang pria seperti tidak punya harga diri."KIKI!" bentak Vera dengan suara melengking yang menggema ke seluruh penjuru rumah besar itu.Suaranya terdengar sangat keras dan penuh tekanan, samp
Di dalam mobil Alphard yang melaju membelah jalanan ibu kota, rencana Satria untuk duduk tenang di kursi depan ternyata gagal total. Baru sepuluh menit perjalanan, Kiki yang tidurnya tidak tenang mulai mengigau dan menendang nendang jok. Khawatir gadis itu tidak sengaja membuka pintu mobil, Satria terpaksa pindah ke kursi belakang untuk menjaganya.Suasana di dalam mobil cukup gelap dan hening. Satria menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan di dada, matanya terus mengawasi jalanan dari balik jendela kaca.Tiba tiba, Kiki mulai mengerang pelan. Pengaruh alkohol sepertinya sedikit memudar, membuat kesadarannya kembali meski masih sangat samar. Gadis itu membuka matanya perlahan. Pandangannya yang masih buram langsung menangkap sosok berbadan besar yang duduk tepat di sebelahnya.Aroma maskulin bercampur sedikit peluh dari jas Satria langsung menyapa hidung Kiki. Senyum bodoh perlahan mengembang di wajah gadis yang sedang teler itu. Dia menyadari kalau pria pujaannya benar benar a
Keheningan di dalam kelab malam itu masih belum pecah. Ratusan pasang mata hanya bisa menatap ngeri ke arah tiga pemuda kaya yang kini mengerang kesakitan di lantai. Tidak ada satu pun teman mereka yang berani mendekat untuk menolong. Para petugas keamanan kelab yang biasanya garang juga cuma bisa berdiri kaku di tempat mereka masing masing.Satria menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya yang tajam memastikan tidak ada lagi ancaman yang mengintai di antara kerumunan tamu."Gak ada yang mau maju lagi kan?" tanya Satria dengan suara lantang dan santai, memecah keheningan yang mencekam itu.Tidak ada jawaban. Semua orang memilih bungkam. Bahkan DJ yang berdiri di atas panggung pun ikut menelan ludah ketakutan."Oke, terima kasih buat waktunya. Mari semuanya, silakan dilanjut lagi acara minumnya," ucap Satria sambil mengangguk sopan, seolah olah dia baru saja selesai memberikan presentasi kerja di kantor, bukan selesai meremukkan tulang orang.Tanpa membuang waktu lagi, S
Tiga pria yang masih berdiri itu menelan ludah dengan susah payah. Melihat teman mereka hancur bersama meja VIP di depan mata seharusnya sudah cukup menjadi peringatan keras. Tapi sayang, akal sehat mereka sudah tumpul karena alkohol dan rasa malu yang luar biasa besar karena ditonton oleh ratusan pasang mata di dalam kelab malam tersebut.Mereka saling melempar pandangan singkat, lalu mengangguk secara bersamaan. Gengsi mengalahkan rasa takut. Mereka sepakat untuk mengeroyok Satria secara bersama sama."Maju! Hajar dia bareng bareng! Dia cuma sendirian!" teriak pria berbadan kurus yang tadi memecahkan botol.Ketiga pemuda itu langsung berlari menerjang Satria dari arah depan, kiri, dan kanan secara serempak. Tangan mereka mengepal bersiap memukul, mencari celah dari segala arah.Melihat serangan keroyokan itu, Satria sama sekali tidak mundur. Tapi sudut matanya menangkap sesuatu yang lebih gawat. Kiki yang tadi disuruh bersandar di pilar malah berdiri sempoyongan dan nyaris jatuh ke
Kengerian yang sempat menyergap gerombolan pemuda itu ternyata tidak bertahan lama. Pengaruh alkohol yang sudah meracuni otak mereka membuat akal sehat mereka benar benar lumpuh. Bukannya mundur atau minta ampun melihat lengan Satria yang tidak terluka, mereka malah saling pandang lalu meledak dalam tawa yang sangat meremehkan.Pria ikal yang sejak tadi paling bawel dan merasa paling jagoan kembali melangkah maju. Dia menunjuk wajah Satria sambil tertawa merendahkan."Hahaha! Lu pikir lu jagoan kebal, hah?!" ejek pria ikal itu dengan suara parau. "Paling juga jas lu doang yang dilapisin plat besi dari pasar loak! Gak usah sok pakai ilmu hitam deh lu, babu sialan! Lu tetep aja kacung miskin yang gak pantes ada di sini!"Teman temannya yang lain ikut tertawa terbahak bahak menimpali ejekan itu, mengira Satria cuma menang trik murahan pelindung di balik jasnya.Satria memejamkan matanya sejenak. Kesabarannya yang setipis tisu sudah benar benar habis terbakar malam ini. Dia menghela napas
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan
"Biasakan dirimu, Satria," ucap Vera. "Di lantai atas nanti, suasananya akan lebih 'panas' daripada di lobi. Kalau di bawah tadi cuma karyawan biasa yang suka gosip, di atas sana ada ular-ular berbisa yang suka menggigit."Satria menoleh, wajahnya berubah serius. "Maksud Nona, para 'tikus' manajeme
Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran







