LOGIN"Ini bukan sekadar pendapat pribadi, Nona Vera!" potong Pak Anton mulai meninggikan suaranya. Wajahnya memerah karena merasa kredibilitasnya sebagai pakar seni sedang diinjak injak. "Anda sedang meragukan reputasi saya dan yayasan ini. Barang itu sudah melewati proses kurasi ketat. Sertifikat keasliannya ada. Tuduhan Anda sangat tidak berdasar dan merugikan nama baik kami."Siska menyeringai puas dari belakang punggung Pak Anton. "Tuh dengar sendiri, Vera. Kalau memang lagi gak punya uang, mending diam saja. Jangan nekat bikin malu diri sendiri pakai fitnah barang palsu."Dada Vera sedikit berdesir. Dia memang percaya pada Satria, tapi dihadapkan langsung dengan kurator seni yang mengamuk dan membawa bawa sertifikat keaslian tentu saja membuatnya sedikit terpojok. Dia tidak punya bukti fisik, hanya bermodal omongan asistennya.Melihat bos besarnya mulai diserang secara terang terangan, Satria tidak bisa tinggal diam lagi. Preman jalanan itu langsung berdiri dari kursinya. Badannya yan
Vera sama sekali tidak terlihat marah, malu, atau tersinggung. Wanita bergaun biru dongker itu malah menyandarkan punggungnya dengan sangat rileks ke sandaran kursi. Kaki jenjangnya disilangkan dengan elegan. Ada senyum tipis yang sangat tenang, cenderung meremehkan, bertengger di bibir merah marunnya.Bagi Vera yang sekarang sudah mengantongi rahasia dari Satria, hinaan Siska tidak lagi terasa menyakitkan. Malahan, ucapan wanita sombong itu terdengar seperti lelucon paling bodoh yang pernah dia dengar."Selamat ya Siska buat kemenangan lelangnya," balas Vera dengan nada suara yang sangat tenang dan anggun, sama sekali tidak terpancing emosi. "Saya bukannya gak mampu. Saya cuma lebih selektif dalam memilih barang. Bagi saya, menghamburkan uang lima puluh juta untuk sebuah guci yang kualitasnya... sangat diragukan, adalah sebuah kebodohan finansial."Siska langsung mengerutkan keningnya. Senyum sombongnya sedikit luntur. "Kualitas diragukan gimana maksudmu? Jelas jelas MC nya bilang in
"Kamu jangan gila, Satria! Sembarangan banget mulut kamu," tegur Vera setengah berbisik sambil melotot. "Ini acara kelas atas. Semua barang yang dilelang di sini udah lewat proses kurasi ketat sama pakar seni dan sejarah. Kamu tahu dari mana coba itu barang palsu? Lulusan sarjana sejarah aja bukan."Satria terkekeh pelan mendengar omelan bosnya. Preman terminal ini sama sekali tidak terlihat terintimidasi oleh embel embel 'pakar seni' atau 'acara kelas atas'."Saya emang bukan sarjana, Non. Tapi mata saya masih sehat," jelas Satria dengan nada tenang. Dia menunjuk ke arah layar proyektor dengan dagunya."Dulu, guru silat saya waktu di desa punya guci yang persis banget kayak gitu. Motif naga emasnya, bentuk lekukannya, semuanya persis sama. Guru saya bilang itu emang barang warisan turun temurun peninggalan zaman kerajaan," cerita Satria serius.Vera mengerutkan kening, mulai tertarik mendengarkan. "Terus? Kalau persis sama, berarti yang di depan itu asli juga kan?""Beda, Non," poton
"Non," panggil Satria dengan nada rendah yang bergetar menahan amarah. Dia sedikit mencondongkan badannya ke arah Vera. "Masa kita diam aja diginiin? Kalau ini di terminal atau di pasar, mulut perempuan itu udah saya sumpal pakai kain pel. Sombongnya gak ketulungan."Vera menatap kosong ke arah gelas air putih di depannya. Tidak ada kilatan perlawanan dari matanya saat ini. Wanita tangguh itu benar-benar merasa kalah telak oleh situasi."Ini bukan terminal, Satria," jawab Vera getir, suaranya terdengar sangat lelah. "Ini dunia bisnis. Di sini, otot dan pukulan kamu gak ada harganya. Di ruangan ini, peluru utamanya adalah uang. Dan hari ini, senjata saya benar-benar kosong. Mereka berhak menertawakan orang yang datang ke medan perang tanpa bawa senjata."Satria terdiam. Dadanya terasa sesak melihat bos yang biasanya selalu tampil galak, berkuasa, dan menamparnya tanpa ragu itu, kini terlihat begitu rapuh dan putus asa. Preman jalanan ini sadar, di dunia atas ini, uang memang bisa membu
Pak Darmawan tertawa pelan, geleng geleng kepala meremehkan. "Maklum saja, perusahaan rintisan tanpa modal kuat dari orang tua ya begini. Kadang cash flow nya seret. Beda kelas sama kita kita ini."Dada Vera naik turun menahan amarah yang sudah memuncak sampai ke ubun ubun. Dipermalukan mentah mentah di depan relasi bisnis penting adalah hal yang paling menghancurkan harga dirinya. Tangannya mengepal kuat memegangi gelas minumannya sampai buku buku jarinya memutih. Dia benar benar mati kutu karena fakta bahwa dia memang tidak membawa persiapan dana segar hari ini.Namun sebelum kelompok itu kembali melempar makian, Satria tiba tiba mengambil langkah panjang ke depan. Pemuda berbadan besar itu berdiri tepat di samping Vera. Bahunya yang lebar seakan menjadi tameng hidup yang menghalangi Vera dari tatapan merendahkan kelompok sombong tersebut.Satria menatap langsung ke arah mata Siska dan ayahnya secara bergantian dengan sorot mata preman yang mematikan, bersiap membalikkan keadaan di
Setibanya di ballroom Hotel Mulia, suasana elegan yang dipenuhi lampu kristal raksasa langsung menyambut mereka. Para tamu yang datang rata rata memakai setelan desainer ternama dan perhiasan berkilau.Satria berjalan tegap tepat di belakang sebelah kiri Vera. Wajah premannya disetel sedatar mungkin. Setelan jas biru malam yang pas di tubuh kekarnya sukses membuat Satria terlihat seperti pengawal VVIP profesional, bukan lagi preman pasar yang sering nongkrong di terminal.Baru saja Vera mengambil segelas minuman dari nampan pelayan yang lewat, sekelompok orang berjalan menghampiri mereka. Ada tiga wanita seumuran Vera yang memakai gaun mencolok. Ketiganya datang didampingi oleh pria pria paruh baya berjas rapi yang merupakan ayah mereka. Mereka adalah komplotan saingan bisnis Vera yang sejak dulu selalu iri dengan pencapaian wanita muda tersebut."Wah, lihat siapa yang datang. Nona Vera kita yang selalu sok sibuk," sapa seorang wanita bergaun merah menyala bernama Siska. Senyumnya dit
Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja
Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan







