Share

BAB 115

last update publish date: 2026-04-01 20:44:13

Di dalam kamar mandi yang ukurannya cuma sepetak itu, Satria menyandarkan punggungnya ke pintu. Dia membuang napas panjang. Udara di dalam kamar mandi ini ternyata sama saja, dipenuhi wangi sabun stroberi dan sampo bunga yang biasa dipakai Dinda.

Satria menatap handuk biru muda di tangannya. Entah kenapa, ucapan jahil Dinda tadi malah terus terngiang ngiang di kepalanya, bikin otaknya traveling ke mana mana. Satria buru buru menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk mengusir pikiran kotor yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 177

    Suasana di dalam Alphard semakin tegang. Satria terus menatap tajam ke arah SUV hitam yang makin agresif mengejar mereka di belakang. Jarak kedua mobil itu perlahan mulai menipis.Satria menyadari satu hal. Kalau mereka sampai masuk ke jalan tol, kecepatan mobil memang bisa bertambah. Tapi di jalan tol yang panjang dan terbuka, ban mobil Alphard ini akan jadi sasaran tembak yang sangat empuk bagi penembak jitu. Kalau ban meledak dalam kecepatan tinggi, mereka semua bisa mati karena kecelakaan, bukan karena peluru."Pak Maman, cari tempat yang agak gelap di depan. Pinggirkan mobilnya sebentar," perintah Satria tiba-tiba.Perintah itu langsung membuat seisi mobil kaget."Kamu gila, Satria?!" protes Vera dengan suara keras. "Kita lagi dikejar pembunuh bawa pistol. Kamu malah minta berhenti?""Saya mau turun di sini, Non," jawab Satria datar, sambil melepaskan sabuk pengamannya. "Pak Maman nanti pelan saja sebentar. Habis saya lompat keluar, Bapak langsung tancap gas lagi bawa Nona Vera d

  • Satria Idaman Wanita   BAB 176

    Mobil Alphard hitam itu berhenti tepat di depan lobi restoran. Pak Maman memindahkan tuas persneling ke posisi parkir. Vera sudah bersiap mengambil tas tangannya, sedangkan Kiki sudah tidak sabar ingin segera turun. Laras juga bersiap merapikan posisi duduknya.Tiba-tiba, bulu kuduk Satria berdiri tegak. Otot lehernya menegang.Insting bertarungnya bereaksi sangat keras. Dia merasakan hawa niat membunuh yang sangat pekat mengunci area kepalanya. Arahnya bukan dari sekitar lobi restoran, melainkan dari tempat yang jauh lebih tinggi di seberang jalan.Tepat saat tangan Vera menyentuh gagang pintu mobil, Satria bergerak cepat menahan lengan bosnya itu."Tunggu. Jangan buka pintunya, Non," ucap Satria dengan nada suara rendah dan sangat serius.Vera menoleh bingung. "Kenapa, Satria? Kita sudah sampai."Satria langsung menekan tombol kunci sentral otomatis. Bunyi klik terdengar mengunci seluruh pintu mobil. Matanya menatap tajam menembus kaca mobil yang gelap, mengarah lurus ke atap gedung

  • Satria Idaman Wanita   Bab 175

    Malam pun tiba. Suasana rumah mewah di kawasan Menteng itu terasa jauh lebih ceria dari biasanya. Kemenangan mutlak atas keluarga Darmawan tadi siang membuat beban berat di pundak Vera akhirnya terangkat.Vera turun dari tangga dengan memakai gaun malam yang santai namun tetap terlihat elegan. Kiki mengekor di belakangnya. Wajah si bungsu sudah kembali segar dan didandani rapi, meski tadi pagi dia sempat disidang habis-habisan oleh kakaknya karena kejadian mabuk semalam.Di ruang tamu, Larasati sudah bersiap di atas kursi rodanya dengan memakai baju rajut yang manis. Satria juga baru saja keluar dari paviliun belakang, memakai kemeja kasual berwarna biru muda yang pas dengan tubuh besarnya."Laras, Satria, ayo bersiap," panggil Vera dengan senyum tipis di wajahnya. "Malam ini kita makan malam di luar. Saya sudah memesan meja VIP di restoran pusat kota. Kita adakan syukuran kecil-kecilan merayakan kembalinya proyek besar perusahaan."Mata Satria langsung berbinar terang mendengarnya. U

  • Satria Idaman Wanita   BAB 174

    Ponsel hitam di atas meja kayu bergetar singkat. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi transfer masuk senilai sepuluh miliar rupiah. Pria berwajah tirus dengan bekas luka melintang di pipi kirinya itu tersenyum miring. Dia adalah Elang Hitam, eksekutor nomor satu di dunia bawah tanah Jakarta."Bayaran di muka sudah masuk. Sepuluh miliar penuh," ucap Elang Hitam sambil meletakkan kembali ponselnya.Di dalam ruangan bekas gudang yang minim cahaya itu, tiga pria lain sedang duduk mengelilingi meja. Mereka bukan preman jalanan biasa, melainkan pembunuh bayaran profesional yang sering bekerja sama dengan Elang Hitam untuk misi tingkat tinggi."Targetnya siapa kali ini, Elang? Bos besar mana yang harus kita singkirkan sampai bayarannya sebesar itu?" tanya pria berbadan tegap dengan tato kalajengking di lehernya. Pria ini biasa dipanggil Kobra.Elang Hitam melemparkan sebuah tablet ke atas meja. Layar tablet itu menampilkan foto Satria yang diambil diam-diam dari jarak jauh. Di foto itu,

  • Satria Idaman Wanita   BAB 173

    Mendengar tawaran dari Satria, wajah Kevin pucat pasi. Melompat dari lantai dua jelas sama saja dengan cari mati. Dengan sisa sisa tenaga dan harga diri yang sudah hancur lebur, Kevin memilih pilihan pertama. Pria klimis itu susah payah berdiri, menundukkan kepalanya dalam dalam, lalu berlari terbirit birit keluar dari ruang rapat VIP itu tanpa berani menoleh lagi ke belakang.Tawanya yang tadi begitu sombong kini lenyap tanpa sisa. Kevin kabur meninggalkan puluhan preman sewaannya yang masih mengerang kesakitan di lantai.Satu jam kemudian, di sebuah rumah gedongan yang tidak kalah mewah dari kediaman Vera, suara bantingan barang pecah belah terdengar sangat keras dari ruang kerja utama.Prang!Sebuah asbak kristal mahal hancur berkeping keping menghantam dinding. Pak Darmawan, ayah Kevin sekaligus pimpinan perusahaan saingan Vera, berdiri dengan napas memburu dan dada naik turun. Wajah tua yang dipenuhi kerutan licik itu kini merah padam menahan amarah yang meledak ledak.Di depanny

  • Satria Idaman Wanita   BAB 172

    Melihat Kevin sudah tak berdaya tersungkur di lantai sambil memegangi jidatnya, suasana kembali hening. Hanya ada paduan suara rintihan pelan dari puluhan preman yang masih terkapar.Tiba tiba, dari kolong meja rapat yang sebagian sudah hancur berantakan, muncul sebuah kepala yang gemetar hebat. Pak Haryo merangkak keluar dengan susah payah. Kacamata tebalnya miring, jas abunya penuh debu karpet dan serpihan kaca.Pria paruh baya itu langsung bersimpuh di lantai. Dia sama sekali tidak berani menatap mata Satria yang berdiri menjulang bak malaikat maut di dekatnya."Ampun... ampun, Mas Satria. Nona Vera, saya minta maaf!" suara Pak Haryo bergetar parah, nyaris menangis ketakutan.Vera melangkah maju perlahan mendekati meja. Jas hitam Satria masih tersampir rapi di lengannya. Wajah CEO muda itu kembali tenang dan sedingin es, kembali ke mode bos besar seutuhnya."Jelaskan, Pak Haryo," desak Vera langsung pada poinnya. "Kenapa Bapak tiba tiba membatalkan kesepakatan kita dan memasukkan k

  • Satria Idaman Wanita   BAB 13

    Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kem

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 12

    Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 14

    "Bodo amat!" balas Vera ketus, terus menariknya keluar dari area warung, melewati para tukang yang sedang bekerja.Para tukang bangunan yang melihat kejadian itu bersiul-siul menggoda."Wuidih! Diculik bidadari tuh Bang Jagoan!" celetuk salah satu tukang."Hati-hati, Bang! Jangan sampe lecet!" timp

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 11

    Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status