Share

BAB 197

last update publish date: 2026-05-26 20:57:51

Melihat puluhan preman bersenjata itu berlari beringas ke arahnya, Satria sama sekali tidak menunjukkan raut ketakutan. Sebaliknya, sebuah senyum lebar nan mematikan justru terukir di wajah pemuda itu. Rasa bosan yang sedari tadi menyiksa otot ototnya akhirnya menemukan tempat pelampiasan yang pas.

Bukannya mundur atau memasang kuda kuda bertahan, Satria malah mengambil inisiatif. Dia merendahkan postur tubuhnya sedikit, lalu melesat berlari kencang menyongsong kerumunan preman yang datang dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 199

    Melihat empat puluh anak buahnya terkapar mengerang kesakitan tak berdaya di atas aspal, harga diri Bang Scorpio sebagai penguasa jalanan benar benar hancur lebur. Rasa takut sebenarnya sudah merayap naik ke tengkuknya, tapi gengsi dan amarah yang meledak ledak menutupi akal sehatnya."Bocah bangsat! Keparat kau!" maki Bang Scorpio dengan urat leher yang nyaris putus karena berteriak terlalu keras.Preman bertato kalajengking itu langsung melempar tongkat bisbolnya yang bergetar ke tanah. Tangan kanannya dengan cepat merogoh ke saku dalam jaket kulit hitamnya. Hanya dalam hitungan detik, tangannya keluar sambil menggenggam sebuah belati perak berukuran cukup panjang.Dengan gerakan kasar dan penuh emosi, Bang Scorpio menarik wadah penutup belati itu lalu membuangnya begitu saja ke aspal. Bunyi nyaring gesekan logam terdengar cukup mengerikan. Mata belati itu berkilat kilat memantulkan cahaya matahari siang, menandakan betapa tajam dan berbahayanya senjata tersebut.Bang Scorpio melang

  • Satria Idaman Wanita   BAB 198

    Preman kurus itu kehilangan keseimbangan dan tertarik keras ke depan. Satria menyambut wajah preman itu dengan hantaman lutut kanan yang sangat telak. Terdengar bunyi tulang hidung patah yang mengerikan, lalu preman itu langsung tumbang mencium aspal tanpa suara.Belum sempat Satria menurunkan kakinya, tiga preman bertubuh kekar sudah menyergap dari sisi kanan dan kiri. Dua orang mengayunkan pipa besi panjang, sementara satu orang lagi menusukkan pisau belati langsung ke arah perut Satria.Di sinilah kemampuan bertarung Satria yang sebenarnya terlihat. Gerakannya sangat mengalir bagaikan air, tidak ada satu pun tenaga yang terbuang percuma.Satria memutar pinggulnya ke samping, menghindari tusukan belati dengan jarak setipis kertas. Tangannya bergerak cepat menangkis ayunan pipa besi pertama menggunakan punggung tangannya yang sudah dialiri tenaga dalam. Ajaibnya, pipa besi itu malah melengkung akibat berbenturan dengan lengan Satria.Tanpa memberi ampun, Satria mencengkeram kerah baj

  • Satria Idaman Wanita   BAB 197

    Melihat puluhan preman bersenjata itu berlari beringas ke arahnya, Satria sama sekali tidak menunjukkan raut ketakutan. Sebaliknya, sebuah senyum lebar nan mematikan justru terukir di wajah pemuda itu. Rasa bosan yang sedari tadi menyiksa otot ototnya akhirnya menemukan tempat pelampiasan yang pas.Bukannya mundur atau memasang kuda kuda bertahan, Satria malah mengambil inisiatif. Dia merendahkan postur tubuhnya sedikit, lalu melesat berlari kencang menyongsong kerumunan preman yang datang dari arah depan.Kecepatannya berlari sangat di luar nalar. Beberapa preman di barisan terdepan sampai terkejut dan sempat memperlambat langkah mereka karena tidak menyangka mangsa mereka berani menyerang balik secara frontal.Tepat saat jarak mereka tersisa kurang dari dua meter, Satria menghentakkan kaki kanannya kuat kuat ke aspal. Tubuhnya langsung melompat tinggi ke udara, melayang ringan menentang gravitasi tepat di atas kepala para preman tersebut.Di udara, Satria memutar pinggulnya dengan t

  • Satria Idaman Wanita   BAB 196

    Suasana di pelataran parkir itu sangat tegang, tapi anak buah Bang Scorpio justru masih berdiri diam menunggu aba aba dari bos mereka. Satria yang sudah bosan menunggu akhirnya mendecak kesal."Ah, lama sekali kalian ini," keluh Satria sambil meletakkan kedua tangan di pinggang. "Katanya preman ganas, tapi mau maju saja pakai mikir panjang dulu."Satria lalu menoleh ke arah Vera yang masih mematung di dekatnya."Non Vera, cepat minggir ke sana. Menjauh dari sini," usir Satria pelan tapi tegas.Vera malah menggeleng keras. Wajah cantiknya pucat, tapi sifat keras kepalanya muncul. "Aku tidak mau pergi! Kalau aku pergi, mereka pasti langsung mengeroyok dan membunuhmu. Aku ini bos di perusahaan ini, aku yang harus tanggung jawab untuk semuanya!"Satria menghela napas panjang. Menghadapi bosnya yang keras kepala ini ternyata jauh lebih merepotkan daripada menghadapi puluhan preman bertato di depannya.Tanpa banyak bicara lagi, Satria melangkah maju mendekati bosnya. Dalam satu gerakan cepa

  • Satria Idaman Wanita   BAB 195

    "Jangan remehkan dia, Bang. Pengawalku yang badannya besar besar saja tumbang semua. Anak ini lumayan licin," elak Gilang mencoba membela diri.Baru saja Bang Scorpio mau mengangkat tangannya memberi isyarat pada anak buahnya untuk maju, pintu kaca lobi tiba tiba terbuka dengan kasar.Vera berlari keluar dengan napas memburu. Wajah cantiknya pucat pasi, tapi dia memaksa kakinya melangkah maju membelah pelataran parkir yang panas. Beberapa petugas keamanan mencoba memanggil dari belakang, tapi CEO muda itu sudah terlanjur nekat."Tunggu! Tolong hentikan semuanya!" teriak Vera panik.Dia langsung menempatkan dirinya beberapa langkah di depan Satria. Kedua tangannya direntangkan seolah ingin melindungi asistennya dari amukan Geng Scorpio.Satria seketika mengerutkan keningnya. Dia benar benar heran melihat bosnya yang biasanya sangat tegas dan pemberani itu kini tampak begitu gemetar ketakutan."Pak Broto, Gilang, saya minta maaf atas kekacauan ini," ucap Vera dengan suara bergetar. Dia

  • Satria Idaman Wanita   BAB 194

    Suara decit ban mobil bergesekan keras dengan aspal memecah teriknya pelataran parkir siang itu. Lima mobil van berwarna hitam pekat melaju cepat dan mengerem mendadak, mengepung area depan kantor.Di bagian samping setiap mobil van itu, tercetak jelas sebuah logo kalajengking merah berukuran besar.Melihat logo tersebut dari balik pintu kaca lobi, mata Vera membelalak ngeri. CEO muda itu langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Lututnya seketika terasa lemas, tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Dia terpaksa bersandar pada dinding kaca agar tidak jatuh terduduk di lantai."Astaga... Scorpio," bisik Vera dengan suara bergetar ketakutan. Para petugas keamanan dan karyawan yang ikut mengintip dari belakang seketika pucat pasi. Geng Scorpio sangat terkenal sebagai kelompok bawah tanah paling beringas di wilayah tersebut. Mereka tidak pernah segan menghancurkan targetnya sampai tak bersisa.Sementara itu di pelataran parkir, Satria yang sedang asyik bermain game terpaksa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status