เข้าสู่ระบบDi dalam mobil yang melaju membelah kota, suasana terasa sangat mencekam. Siska terus menjelaskan detail masalah tender tersebut dengan suara bergetar, sementara Vera hanya terdiam menatap layar tabletnya dengan raut wajah yang semakin mengeras."Mereka bilang dokumen legalitas proyek kita cacat, Bu. Tapi saya yakin seratus persen kalau dokumen itu sudah lengkap dan diverifikasi bulan lalu," ujar Siska.Satria yang duduk di kursi pengemudi—karena hari ini dia yang mengambil alih kemudi—sesekali melirik ke kaca spion. Instingnya sebagai pengawal terlatih berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak wajar."Non, ini terlalu rapi untuk sebuah kelalaian," celetuk Satria tenang. "Biasanya kalau masalah dokumen, mereka akan mengirim surat resmi melalui email atau pos, bukan mengancam lewat telepon di hari Sabtu dan minta pertemuan mendadak seperti ini."Vera mengangguk setuju. "Kamu benar, Satria. Ini seperti skenario yang sudah direncanakan."Setibanya di sebuah kafe privat yang disewa untuk per
Satria hanya bisa geleng-geleng kepala melihat punggung Vera yang perlahan menjauh masuk ke dalam rumah. Pintu kaca besar itu pun tertutup rapat, menyisakan dirinya di halaman samping bersama Pak Maman yang kini sedang menahan senyum—atau mungkin lebih tepatnya menahan tawa."Wah, Mas Satria. Kayaknya posisi Mas sekarang sudah naik kelas nih. Dari cuma asisten pribadi, sekarang sudah merangkap jadi 'teman makan siang' bos besar di hari libur," goda Pak Maman sambil menyemprotkan air ke ban mobil.Satria hanya bisa menghela napas panjang, tapi ada senyum geli yang menghiasi wajahnya. "Ya mau gimana lagi, Pak Maman. Kalau bos sudah mengeluarkan titah, mana berani saya membantah? Bisa-bisa gaji saya dipotong, atau yang lebih parah, saya disuruh balik ke posko pengawalan."Satria kembali fokus pada motornya. Dia mengambil kain mikrofiber dan mulai mengelap bagian rangka motor dengan teliti. Meski mulutnya menggerutu kecil, jauh di dalam hatinya, Satria merasa aneh. Biasanya di hari Sabtu
Setelah memastikan seluruh lampu di ruang tamu dan dapur dimatikan, Satria berjalan menuju kamar kecilnya yang terletak di bagian belakang rumah utama. Kamar itu sederhana, jauh dari kata mewah, namun baginya itu adalah satu-satunya tempat di mana dia bisa melepas topeng sebagai "asisten pribadi".Satria merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang tipis. Suara detak jam dinding terdengar begitu nyaring di ruangan yang sempit itu. Biasanya, setelah hari yang melelahkan, dia akan langsung terlelap. Namun malam ini, matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang mulai mengelupas.Pikirannya melayang jauh. Kejadian hari ini—Vera, Laras, ketoprak, hingga perjalanan pulang yang terasa begitu personal—membuatnya sejenak melupakan kenyataan pahit yang selama ini dia simpan rapat-rapat.Tangannya merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah liontin tua yang sudah sedikit berkarat. Liontin itu adalah satu-satunya peninggalan yang dia miliki dari ayahnya."Sudah berapa lama ya?" guma
Begitu pintu utama rumah terbuka, Vera melangkah masuk dengan perasaan yang masih melambung tinggi. Dia tersenyum sendiri, membayangkan momen-momen manis di pinggir jalan tadi. Namun, senyum itu langsung lenyap saat dia melihat ruang tamu yang masih terang benderang.Bukan hanya lampu yang menyala, tapi sosok Laras sudah duduk manis di sofa sambil memeluk bantal sofa, lengkap dengan sisa bumbu martabak di sudut bibirnya. Gadis itu tidak tidur, melainkan sedang menunggu dengan mata yang berbinar jenaka."Wah, baru pulang?" goda Laras begitu melihat kakaknya masuk bersama Satria. "Kok mukanya merah banget, Kak? Habis makan jagung bakar atau habis makan yang lain nih?"Vera yang tadinya merasa sangat tenang seketika berubah jadi salah tingkah. Dia menutup pintu dengan sedikit kasar, mencoba menyembunyikan wajahnya dari sorotan lampu ruang tamu yang terang."Laras! Kenapa belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam," tegur Vera, suaranya naik satu oktaf karena malu.Laras tidak menggubris
Angin malam di pinggir kota semakin menusuk, apalagi mereka berada di tempat terbuka. Vera, yang hanya mengenakan jaket kulit tipis, mulai merasakan hawa dingin merayap ke pori-pori kulitnya. Dia memeluk bahunya sendiri, mencoba mengusir rasa menggigil yang mulai menyerang.Satria yang menyadari perubahan sikap Vera—wanita itu sedikit gemetar dan sesekali menggosok kedua lengan atasnya—langsung bereaksi tanpa perlu diminta.Tanpa sepatah kata pun, Satria melepaskan jaket rider tebal yang sedari tadi ia kenakan. Dia berdiri, lalu dengan cekatan menyampirkan jaket itu ke bahu Vera. Jaket itu masih menyimpan sisa hangat dari tubuh Satria, dan wanginya yang khas—perpaduan antara aroma maskulin dan sedikit bau asap knalpot motor—langsung menyelimuti indra penciuman Vera."Pakai saja, Non. Angin malam ini tidak bersahabat kalau terus didiamkan," ucap Satria dengan nada tenang.Vera tertegun. Dia menatap jaket yang kini membungkus tubuhnya, lalu mendongak menatap Satria yang kini hanya menge
Suasana di pinggir jalan itu terasa sangat intim. Hanya ada suara gesekan panggangan jagung dan sesekali deru kendaraan yang melintas di kejauhan. Vera, yang awalnya sangat menjaga image sebagai wanita anggun, kini benar-benar larut dalam kesederhanaan malam ini.Dia menggigit jagung bakar dengan lahap, tidak lagi memedulikan sisa bumbu kacang atau saus pedas manis yang mungkin menempel di sudut bibirnya. Dia sedang menikmati kebebasan yang langka."Non, hati-hati," tegur Satria tiba-tiba sambil terkekeh pelan."Hati-hati apa?" jawab Vera dengan mulut yang masih penuh. Dia menatap Satria dengan tatapan menantang, sama sekali tidak sadar kalau sudut bibirnya sudah berantakan oleh olesan saus pedas berwarna merah.Satria tidak langsung menjawab. Pemuda itu meletakkan jagung bakarnya di atas piring plastik, lalu mengambil selembar tisu dari dalam saku jaketnya. Dengan gerakan yang sangat halus namun pasti, Satria mencondongkan tubuhnya ke arah Vera.Vera membeku.Awalnya, dia mengira Sat







