Share

BAB 243

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 21:33:14

Keesokan paginya, matahari baru saja muncul ketika Satria sudah bersiap di area teras. Dia mengenakan pakaian taktis yang rapi namun tetap kasual, siap untuk mengawal Vera ke lokasi bantaran sungai. Setelah merenung sepanjang malam, tekad Satria sudah bulat. Dia harus segera menyampaikan keputusannya untuk pindah sebelum situasi di dalam rumah ini makin tidak terkendali.

Tidak lama kemudian, Vera keluar dari pintu utama. Penampilannya tampak kasual namun tetap berwibawa dengan kemeja putih dan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 380

    Sinar matahari pagi mulai menembus sela-sela gorden ruang keluarga. Malam yang panjang dan menegangkan itu akhirnya berlalu tanpa ada kejadian mencurigakan. Satria masih duduk di sofa dalam kegelapan yang perlahan memudar. Matanya sesekali melirik ke arah layar tablet yang terhubung langsung dengan semua kamera CCTV rumah. Semuanya aman. Tidak ada pergerakan aneh di luar pagar maupun di area taman belakang.Satria menghela napas panjang lalu mematikan layar tabletnya. Dia bangkit berdiri dan meregangkan otot-otot punggung dan lehernya yang terasa kaku setelah semalaman tidak tidur. Pistol baja dan pisau taktis yang semalam dia siapkan sudah kembali masuk ke dalam kotak penyimpanannya di lantai ruang kerja. Dia tidak ingin Vera melihat barang-barang itu dan menjadi panik.Setelah mencuci muka di kamar mandi bawah, Satria langsung berjalan ke dapur. Dia mulai memasak nasi goreng kecap dengan irisan sosis, menu sarapan sederhana yang lumayan sering mereka makan akhir-akhir ini. Aroma baw

  • Satria Idaman Wanita   BAB 379

    Sinar matahari sore mulai meredup, meninggalkan semburat warna jingga yang menghiasi langit di atas taman belakang rumah. Angin bertiup pelan, menggerakkan daun-daun tanaman hias yang berjejer rapi di pinggir kolam ikan kecil. Suasana terasa sangat damai, jauh dari kebisingan jalan raya.Satria meletakkan nampan berisi dua cangkir teh chamomile hangat dan setoples kecil biskuit gandum di atas meja kayu. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki ringan terdengar mendekat. Vera muncul dari ambang pintu kaca. Penampilannya terlihat jauh lebih segar setelah mandi. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai setengah basah, dan dia mengenakan pakaian santai berupa kaus katun longgar berwarna persik serta celana pendek selutut."Wah, aromanya kecium sampai ke dalam," ucap Vera sambil tersenyum lebar. Dia menarik kursi rotan lalu duduk tepat di sebelah Satria.Satria menyodorkan salah satu cangkir ke hadapan Vera. "Spesial buat bos besar yang lagi mau istirahat. Silakan dinikmati mumpung masih hangat

  • Satria Idaman Wanita   BAB 378

    Debu jalanan yang sempat mengepul akibat hantaman ban mobil SUV hitam itu perlahan-lahan mengendap, menyisakan keheningan yang kembali merayap di sepanjang blok perumahan. Satria berdiri tegak di tengah teras rumahnya, menatap lurus ke arah pintu pagar besi yang kini terbuka lebar.Tidak ada sisa kepanikan di wajahnya. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara pagi mengisi penuh rongga dadanya untuk menetralkan sisa-sisa adrenalin yang sempat melonjak tinggi saat konfrontasi kilat tadi terjadi. Tangannya yang sempat terkepal erat kini perlahan mengendur, masuk kembali ke dalam saku celana katun hitamnya.Ia melangkah pelan mendekati meja kecil di sudut teras. Secangkir kopi hitam yang sedari tadi ditinggalkannya masih mengepulkan uap tipis, belum sempat tersentuh sejak mobil asing itu mendadak berhenti di depan gerbang. Satria meraih cangkir keramik tersebut, lalu meneguknya pelan. Rasanya sudah sedikit menghangat, namun tetap memberikan kelegaan instan di tenggorokannya.Kejadian ha

  • Satria Idaman Wanita   BAb 377

    Pukul sembilan malam. Suasana di dalam rumah Satria terasa sangat hening dan menenangkan. Di luar, lampu jalanan kompleks memancarkan pendar kuning lembut yang menembus celah jendela kaca, sementara angin malam berhembus pelan membawa kesejukan ke setiap sudut ruangan.Satria duduk berselonjor santai di atas sofa abu-abu yang empuk di ruang keluarga. Ia mengenakan kaus oblong hitam yang nyaman, menikmati waktu luang setelah seharian merapikan beberapa urusan rumah. Di atas meja kayu di hadapannya, semangkuk kecil kacang rebus dan dua cangkir cokelat panas tersaji rapi, menemani layar televisi yang sedang menayangkan siaran dokumenter alam liar beresolusi tinggi.Kejadian menegangkan di persimpangan jalan pagi tadi kini sudah benar-benar lenyap dari pikirannya. Tidak ada lagi sisa emosi atau kewaspadaan berlebih. Yang tersisa hanyalah rasa nyaman yang mendalam, menghuni setiap jengkal ruang di rumah yang telah ia bangun dengan penuh cucuran keringat dan perjuangan di masa lalu.Satria

  • Satria Idaman Wanita   BAB 376

    Ban mobil sedan hitam milik dua orang suruhan itu sudah lama meninggalkan jejak debu di ujung jalan kompleks, namun ketegangan sisa perkelahian singkat tadi masih menyisakan sedikit sensasi dingin di udara pagi. Satria berdiri terpaku sejenak di tepi trotoar, memastikan tidak ada warga sekitar yang sempat keluar rumah atau menyaksikan keributan kilat tersebut. Beruntung, suasana blok C pada jam-jam sibuk pagi hari memang selalu lengang.Satria menghela napas panjang, membiarkan udara pagi mengisi penuh rongga dadanya sebelum menghembuskannya perlahan. Ia merapikan tali serut jaket hoodie-nya, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda menuju minimarket di ujung kompleks.Kehadiran dua orang asing tadi pagi sebenarnya bukan kejutan yang sepenuhnya menyenangkan, tapi di sisi lain, insiden itu memberikan satu kepastian penting: masa lalunya belum seratus persen menutup lembaran. Kendati demikian, reaksi fisik dan insting bertarungnya yang masih sangat tajam membuktikan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 375

    Malam beranjak larut, membawa serta keheningan yang menenangkan ke seluruh sudut rumah Satria. Lampu teras luar memancarkan pendar kuning lembut, menyinari bodi motor matik hitam doff miliknya yang terparkir rapi di balik pagar, menjadi saksi bisu atas perjalanan hari yang baru saja ia lewati.Di dalam rumah, Satria duduk berselonjor santai di sofa ruang keluarga. Televisi menyiarkan tayangan malam dengan volume rendah, sekadar mengisi kekosongan suara di ruangan. Di atas meja kayu di hadapannya, secangkir teh chamomile hangat mengepulkan uap tipis yang membawa aroma relaksasi setelah seharian beraktivitas.Insiden nyaris celaka di jalan pagi tadi kini sudah sepenuhnya menjadi cerita masa lalu yang tenggelam bersama lelahnya fisik. Yang tertinggal di benaknya hanyalah rasa syukur karena ia masih diberi keselamatan, serta kepuasan kecil atas keputusan-keputusan tepat yang ia ambil hari ini, termasuk membawa pulang kendaraan baru untuk mobilitas kedepannya.Satria meneguk tehnya perlaha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status