Mag-log inPanitia acara butuh waktu sekitar lima belas menit untuk menenangkan suasana. Setelah polisi datang dan mengamankan si pelayan palsu, acara lelang akhirnya kembali dilanjutkan. Para tamu undangan mulai duduk di tempat masing-masing meski sesekali masih terdengar bisik-bisik tegang di antara mereka.Di atas panggung, pembawa acara berdeham pelan di depan mikrofon untuk memusatkan perhatian."Baiklah hadirin sekalian, mari kita lanjutkan acara malam ini. Barang terakhir yang akan dilelang adalah aset properti yang sangat bernilai tinggi," ucap pembawa acara dengan nada kembali semangat. "Sertifikat hak milik lahan komersial seluas dua hektar di kawasan berkembang Jakarta Timur. Lahan ini sangat strategis untuk proyek pembangunan megaproyek."Vera langsung membenarkan posisi duduknya. Mata indahnya berbinar menatap layar proyektor yang menampilkan foto lahan dari udara."Ini dia yang aku tunggu," bisik Vera pelan kepada Satria.Satria menaikkan sebelah alisnya. "Cuma lahan kosong Non?"V
Mata Satria terus mengunci pergerakan pelayan pria itu tanpa berkedip. Jarak antara pelayan tersebut dengan kursi Natasha kini hanya tinggal tiga langkah. Tangan kanan pelayan itu perlahan mulai terlepas dari bawah nampan perak yang dia bawa. Ada kilatan logam tajam yang memantulkan cahaya lampu ballroom.Itu pisau lipat taktis.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Satria melompat dari kursinya. Gerakannya sangat cepat, membuat Vera yang duduk di sebelahnya sampai terkesiap kaget.Di depan sana, pelayan itu menjatuhkan nampan minumannya ke lantai dan langsung mengayunkan pisau tajamnya tepat ke arah leher belakang Natasha. Natasha yang sedang asyik menertawakan kemenangannya sama sekali tidak menyadari ancaman mematikan yang sudah berjarak hitungan sentimeter dari kulitnya.Prang!Suara pecahan gelas dari nampan yang jatuh berpadu dengan suara benturan keras.Tepat sebelum ujung pisau itu menyentuh leher Natasha, tangan kokoh Satria sudah mencengkeram erat pergelangan tangan si pelayan.
Lampu utama ballroom mulai diredupkan. Sorot lampu kini terpusat pada sebuah panggung megah di depan. Seorang pembawa acara berpakaian rapi naik ke atas panggung dan membuka malam dana tersebut dengan pidato singkat.Vera duduk dengan anggun di kursinya. Satria duduk di sebelahnya dengan postur santai tapi matanya terus menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Meja mereka berada di deretan tengah, posisi yang sangat strategis untuk mengamati meja VIP di depan sana. Di salah satu kursi VIP itu, Natasha duduk dengan dagu terangkat bangga."Nona sepertinya santai banget," bisik Satria pelan sambil mencondongkan badannya sedikit ke arah Vera. "Sudah ada incaran barang yang mau dibeli malam ini?"Vera menutupi bibirnya dengan ujung gelas sampanye lalu tersenyum tipis. "Ada satu barang yang memang aku butuhkan. Tapi sebelum barang itu keluar, kita harus main-main sedikit dengan Nona Sombong di depan sana."Satria tertawa pelan. Dia langsung paham maksud bos cantiknya ini.Lelang pun dimulai. Beb
Berikut adalah Bab 341, di mana ketegangan mulai terasa saat mereka tiba di lokasi acara lelang dan langsung berhadapan dengan pihak lawan.Bab 341: Panggung Pembuktian di Malam AmalBallroom Hotel Grand Batavia malam itu terlihat sangat mewah dan terang benderang. Puluhan mobil mewah bergantian menurunkan para tamu undangan di depan pintu lobi utama. Acara malam dana dan lelang amal tahunan ini memang selalu menjadi ajang kumpul para pengusaha papan atas Jakarta.Mobil yang dikendarai Satria berhenti tepat di depan karpet merah. Pemuda itu turun lebih dulu dengan gerakan gesit. Tuksedo hitam yang membalut tubuh tegapnya membuat Satria terlihat seperti eksekutif muda yang sukses, bukan sekadar pengawal pribadi.Satria berjalan memutar lalu membukakan pintu penumpang. Dia mengulurkan tangannya dengan sopan. Vera menyambut uluran tangan itu dan melangkah keluar dari mobil. Gaun malam berwarna merah marun yang dikenakannya langsung membuat banyak mata menoleh ke arah mereka. Vera terliha
Dua hari setelah insiden di area parkir, suasana kantor Hadiwinata Group berjalan normal. Vera sedang duduk di meja kerjanya sambil mengecek jadwal di tablet."Satria," panggil Vera tanpa mengalihkan pandangan dari layar.Satria yang sedang membaca majalah otomotif di sofa langsung mendongak. "Ya Non?""Besok malam kita ada acara," ucap Vera sambil meletakkan tabletnya di meja. "Acara malam dana dan lelang amal tahunan dari Kamar Dagang Jakarta. Hadiwinata Group jadi salah satu sponsor utama. Aku harus datang.""Siap Non. Jam berapa kita berangkat besok?" jawab Satria santai."Acara mulai jam tujuh malam. Tapi masalahnya bukan cuma jam keberangkatan," kata Vera sambil tersenyum geli melihat pakaian Satria hari ini yang hanya kemeja hitam polos dan celana bahan biasa. "Kamu tidak mungkin pakai baju seperti itu ke acara sekelas ini."Satria melihat pakaiannya sendiri lalu menggaruk kepalanya. "Kenapa Non? Rapi begini. Lagian tugas saya kan jaga keamanan, bukan ikut lelang."Vera berdiri
Satria melangkah keluar dari lift eksekutif dengan santai. Dia berjalan menyusuri lorong yang sepi dan sempat mengangguk pelan saat melewati meja Kiki. Sekretaris itu membalas dengan senyuman kecil sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.Begitu pintu ruang kerja CEO dibuka, Satria melihat Vera baru saja melepas earpiece dari telinganya dan menutup layar laptop. Rapat virtualnya sepertinya baru saja selesai. Wanita itu merenggangkan kedua tangannya ke atas, mencoba melemaskan otot-ototnya yang kaku."Lama banget sih," protes Vera ringan saat melihat Satria masuk. "Katanya cuma mau ngecek satpam baru di bawah. Ini sampai satu jam lebih."Satria menutup pintu rapat-rapat lalu berjalan menghampiri sofa. Dia menjatuhkan tubuhnya di sana dengan nyaman."Tadi ada tamu dadakan di area parkir Non," jawab Satria santai.Vera yang baru mau menyesap air putihnya langsung menghentikan gerakannya. Dia menaruh gelas itu kembali ke meja lalu berjalan mendekati Satria."Tamu siapa? Anak buah Bima bik







