Share

BAB 27

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-19 22:22:55

Satria mengunci pintu kamarnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Dia menyandarkan punggung lebarnya ke daun pintu, lalu merosot pelan hingga terduduk di lantai keramik yang dingin. Dadanya naik turun dengan cepat, memompa oksigen ke paru-parunya yang terasa sesak.

"Gila ... gila ... gila!" gumam Satria panik, mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. "Ini rumah kutukan macam apa sih? Pagi diuji kesabaran sama Bos galak, siang diuji nyali ngelawan preman, malam diuji iman liat a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 262

    Matahari sudah mulai bergerak condong ke arah barat, memancarkan sinar kemerahan yang menerobos masuk lewat celah gorden ruang kerja Sang Bos Besar. Di dalam ruangan yang luas itu, suasana masih terasa sangat tegang. Sang Bos Besar duduk diam di kursi kulitnya, sementara asbak di atas mejanya sudah dipenuhi oleh beberapa puntung cerutu yang sengaja dimatikan dengan kasar.Pintu ganda ruangan itu tiba-tiba diketuk dua kali dengan ketukan yang ritmis. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Rendra melangkah masuk dengan terburu-buru. Wajah pria jangkung itu tampak sangat serius, dan di tangan kanannya terdapat sebuah gawai tablet yang layarnya masih menyala menampilkan beberapa baris data grafik."Tuan Besar, tim mata-mata kita di lapangan baru saja menghubungi saya. Mereka berhasil melacak posisi dan pergerakan bocah bernama Satria itu," lapor Rendra sambil membungkuk hormat.Sang Bos Besar yang tadinya bersandar langsung menegakkan tubuhnya. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci waj

  • Satria Idaman Wanita   BAB 261

    Setelah menyelesaikan makan siang mereka yang nikmat dan mengenyangkan di tengah sawah, Satria dan Vera memutuskan untuk segera kembali ke kota. Perjalanan pulang terasa jauh lebih santai daripada saat mereka berangkat tadi pagi. Hawa sejuk persawahan perlahan berganti dengan pemandangan jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan.Satria fokus mengemudikan mobil SUV mewah itu dengan kecepatan stabil. Di sampingnya, Vera tampak sibuk melihat-lihat kembali hasil foto yang diambil oleh Satria di ponselnya. Sesekali, sudut bibir wanita cantik itu terangkat, tersenyum puas melihat hasil jepretan pengawal pribadinya yang ternyata cukup estetik.Suasana di dalam kabin mobil sebenarnya sangat nyaman dan tenang, sampai akhirnya Satria berdeham kecil untuk membuka obrolan baru."Non Vera, mumpung kita lagi jalan santai, ada satu hal yang mau saya bicarakan ...," ucap Satria dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin.Vera tidak langsung menoleh, matanya masih menatap layar ponsel. "

  • Satria Idaman Wanita   BAB 260

    Pesanan mereka akhirnya datang juga. Pelayan rumah makan menyusun piring-piring anyaman bambu di atas meja kayu saung. Aroma harum dari nasi liwet yang masih mengepul, ayam bakar bumbu rujak yang kecokelatan meresap, tahu goreng, tempe goreng, hingga semangkuk penuh lalapan segar langsung menusuk hidung. Tidak ketinggalan, cobek batu berisi sambal terasi ulek dadakan yang masih berminyak ikut disajikan.Aroma makanan itu benar-benar mengundang selera, membuat perut Vera berbunyi lebih nyaring.Satria langsung menuangkan air dari kendi ke mangkuk cuci tangan. Setelah tangannya bersih, tanpa ragu sedikit pun dia langsung mengambil sepiring nasi hangat, menyobek sedikit daging ayam bakar, lalu mencocolnya ke sambal terasi. Dengan gerakan lincah dan terbiasa, Satria menyuap makanan itu ke dalam mulutnya."Hmm, mantap sekali, Non. Ayamnya empuk, sambalnya juga pas pedasnya," ucap Satria sambil mengunyah dengan ekspresi wajah yang sangat menikmati makanan tersebut.Vera memperhatikan Satria

  • Satria Idaman Wanita   BAB 259

    Sang Bos Besar kembali mengembuskan asap cerutunya yang tebal ke udara. Matanya yang tajam beralih dari langit-langit ruangan, lalu tertuju lurus pada Baskoro yang masih menempelkan dahinya di atas lantai marmer yang dingin.Suasana di dalam ruang kerja itu terasa begitu menekan, bahkan detak jarum jam dinding pun terdengar sangat jelas."Satu orang menghancurkan dua puluh petarung Kelas C dengan tangan kosong ... menarik," ucap Sang Bos Besar dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan rasa penasaran.Dia kemudian bangkit dari kursi kulitnya, berjalan perlahan memutari meja kerja jati miliknya, lalu berhenti tepat di samping tubuh Baskoro yang sedang gemetaran. Tanpa ada peringatan apa pun, Sang Bos Besar mengayunkan ujung sepatu pantofel kulitnya yang keras tepat ke arah rusuk Baskoro.Bugh!"Aaaakh!" Baskoro menjerit kesakitan sambil berguling ke samping, memegangi perutnya yang mendadak terasa sangat mulas akibat tendangan tersebut."Kamu benar-benar tidak berguna, Basko

  • Satria Idaman Wanita   BAB 258

    Sementara Satria dan Vera sedang menikmati suasana sejuk di tengah persawahan, situasi yang sangat kontras terjadi di sebuah kawasan vila mewah tersembunyi di pinggiran kota. Tempat itu dikelilingi oleh tembok beton tinggi dengan kawat berduri, dijaga ketat oleh belasan pria berwajah dingin yang mengenakan pakaian taktis hitam.Orang-orang yang berjaga di sini bukan lagi preman pasar atau pengawal biasa. Di pinggang mereka, terlihat jelas senjata api asli yang terselip di balik rompi. Tempat ini adalah markas rahasia dari jaringan orang-orang kuat yang bergerak di dunia bawah.Ciiiiiit!Mobil SUV hitam yang dikemudikan Baskoro berhenti mendadak di depan lobi vila setelah menerobos gerbang utama dengan ugal-ugalan. Baskoro keluar dari mobil dengan tubuh yang gemetaran hebat. Penampilannya benar-benar mengenaskan. Kedua pipinya bengkak memar berwarna keunguan akibat tamparan Satria, pakaian safarinya kotor penuh debu, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.Beberapa penjaga bert

  • Satria Idaman Wanita   BAB 257

    Setelah memastikan para teknisi mulai bergerak membenahi saluran limbah, Vera melihat jam tangan miliknya. Jarum jam ternyata sudah menunjukkan pukul satu siang lewat. Pantas saja perutnya sudah berkali-kali memberikan sinyal lapar sejak tadi. Energinya memang cukup terkuras setelah menghadapi drama korupsi Baskoro dan kepungan para preman.Vera membalikkan badan, lalu menatap Satria yang sedang merapikan kaus oblong hitamnya."Satria, ayo kita pergi dari sini," ajak Vera sambil berjalan menuju mobil mereka. "Ini sudah siang sekali. Jujur saja, aku sudah lapar setengah mati karena menahan emosi dari tadi."Satria tersenyum mendengar keluhan jujur dari bos cantiknya itu. Dia segera membukakan pintu mobil untuk Vera dengan sigap."Baik, Non. Perut saya juga rasanya sudah mulai berdemo sejak melihat balok kayu berterbangan tadi," canda Satria sambil berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.Mesin mobil SUV mewah itu menyala dengan halus. Satria perlahan melajukan kendaraan merek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status