로그인Di sebuah rumah bergaya klasik di kawasan elit Menteng, Victor berdiri dengan kepala menunduk. Di depannya, duduk seorang pria tua berambut putih panjang yang diikat ke belakang. Pria itu memakai kemeja sutra hitam longgar. Meski usianya terlihat sudah di atas enam puluh tahun, badannya masih tegap dan berotot.Dia adalah Ki Seta, salah satu tetua dari Asosiasi Naga Hitam sekaligus guru bela diri Victor.Natasha duduk di sofa yang agak jauh dari mereka. Perempuan itu menyilangkan kaki, mencoba terlihat tenang meski sebenarnya dia merasa terintimidasi oleh hawa keberadaan pria tua di ruangan itu."Jadi tanganmu dipatahkan sama pengawal muda?" suara Ki Seta terdengar serak dan berat. Dia menyesap teh dari cangkir keramik kecil di tangannya."Benar Guru," jawab Victor pelan. "Gerakannya sangat cepat. Dia jelas punya latar belakang militer atau semacamnya. Saya tidak sempat menangkis serangannya."Ki Seta meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja. Tiba-tiba, dia menekan cangkir keramik
Hendra jatuh terduduk di atas karpet ruangan Vera. Tubuhnya gemetar hebat dan napasnya tersengal. Semua rencana rapi yang dia susun semalaman hancur berkeping-keping di depan mata pengawal muda itu."Ampun Bu Vera. Saya benar-benar khilaf. Tolong jangan bawa masalah ini ke polisi," mohon Hendra dengan suara bergetar. Dia menatap Vera dengan tatapan memelas.Vera membuang muka. Rasa kecewa dan marah bercampur jadi satu di dadanya. Orang yang dia percaya bertahun-tahun ternyata rela menjual perusahaan hanya demi uang judi."Buka akses dananya sekarang juga Pak Hendra," perintah Vera dengan nada dingin. "Setelah itu kemasi semua barang Bapak. Saya tidak mau melihat wajah Bapak lagi di gedung ini."Hendra tidak berani membantah. Dia buru-buru mengeluarkan laptop dari tasnya, tangannya gemetar saat mengetik kata sandi. Dalam waktu kurang dari lima menit, semua dana operasional proyek dan pembayaran untuk Pak Candra sudah kembali terbuka dan berhasil ditransfer.Laras mengecek notifikasi di
Satria menyipitkan mata saat melihat seorang pria paruh baya keluar dari pintu samping kelab malam. Pria itu mendekap erat koper hitam di dadanya sambil berjalan tergesa-gesa menuju tempat parkir. Wajahnya berkeringat meski udara malam cukup dingin.Tanpa banyak gerak, Satria mengeluarkan ponsel retaknya dan memotret Hendra. Kamera ponsel murah itu memang kurang bagus, tapi cukup jelas untuk menangkap wajah panik sang manajer keuangan dan sosok Victor yang mengantarnya sampai pintu."Tebakan saya ternyata benar. Ular yang satu ini gigitannya dari dalam," gumam Satria pelan. Dia menyalakan mesin motor sportnya lalu melaju pergi membelah jalanan sepi Jakarta. Dia sengaja tidak langsung menangkap Hendra. Biar saja tikus itu merasa aman dulu sebelum perangkapnya benar-benar ditutup.Keesokan paginya di kantor Hadiwinata Group.Vera baru saja menyesap kopi hangatnya saat pintu ruangannya diketuk cepat. Laras masuk dengan wajah kusut dan napas ngos-ngosan."Ada apa lagi Ras? Pagi-pagi muka
Suara dentingan gelas beradu mengiringi tawa renyah Vera. Siang itu, sang bos cantik memutuskan untuk mentraktir Satria, Laras, dan Pak Seno makan siang di sebuah restoran Sunda yang jaraknya tidak jauh dari lokasi proyek."Ayo dimakan ayam bakarnya Pak Seno, mumpung masih panas. Laras juga, nambah lagi nasinya," ucap Vera ramah sambil menuangkan sambal ke piringnya. Bebannya rasanya menguap begitu melihat pengerjaan fondasi akhirnya berjalan mulus."Terima kasih Bu Vera. Rezeki nomplok ini namanya," jawab Pak Seno sambil tersenyum lebar. "Jarang-jarang hari pertama proyek langsung makan enak begini."Satria duduk di seberang Vera, mengunyah makanannya dengan tenang. Matanya sesekali mengawasi keadaan sekitar restoran. Insting pengawalnya tidak pernah mati, apalagi setelah kejadian semalam.Vera menyadari sikap Satria yang masih terlalu waspada. "Santai sedikit Sat. Kita kan lagi merayakan kemenangan kecil. Kamu tidak perlu terus-terusan pasang muka tegang begitu. Natasha pasti sekara
Matahari mulai terasa menyengat di lokasi proyek. Vera duduk di dalam tenda sementara sambil mengipasi wajahnya dengan map berkas. Laras sibuk menelepon beberapa staf kantor untuk mengurus administrasi, sementara Satria berdiri santai di dekat pintu tenda sambil memperhatikan jalan masuk proyek.Tidak sampai satu jam sejak Satria menelepon, suara gemuruh mesin disel terdengar dari arah jalan raya. Tiga truk tronton berukuran besar yang membawa material tiang pancang beton masuk perlahan melewati gerbang seng. Di belakangnya, dua unit alat berat ekskavator dan mesin pemancang tiang ikut masuk dengan gagah.Vera langsung berdiri dari kursi lipatnya. Wajahnya yang tadi terlihat lelah kini berubah cerah. Dia berjalan keluar tenda diikuti Laras yang masih memegang berkas kontrak."Gila, beneran datang secepat ini," gumam Vera takjub melihat deretan kendaraan berat itu parkir di area lahan.Satria menoleh ke arah bosnya lalu tersenyum tipis. "Kan saya sudah bilang Non. Pak Candra itu orangn
Vera menatap Laras dengan pandangan tidak percaya. Suasana pagi yang cerah di lokasi proyek mendadak terasa panas."Dibatalkan sepihak? Kok bisa mendadak begini Ras?" tanya Vera dengan nada sedikit tinggi.Laras mengangguk cepat. Tangannya masih memegang ponsel yang layarnya menyala. "Iya Non. Saya sudah coba telepon balik manajer mereka, tapi katanya ada pihak lain yang berani bayar denda pembatalan kontrak kita. Pihak itu juga memborong semua material dengan harga dua kali lipat."Pak Seno membuang napas kasar. Arsitek tua itu menggelengkan kepalanya. "Wah, kalau begini ceritanya kita tidak bisa mulai kerja hari ini Bu Vera. Alat berat tidak ada, tiang pancang juga tidak ada. Waktu kita terbuang percuma."Vera memijat pelipisnya perlahan. Otaknya langsung tertuju pada satu nama. "Ini pasti ulah Natasha. Dia sengaja memborong semua material di Jakarta supaya proyek kita mandek."Satria yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya maju satu langkah. "Semalam saya sudah peringatkan anak







