تسجيل الدخولMatahari pagi bersinar sangat terang, memantulkan sinarnya ke seluruh penjuru kota Jakarta melalui dinding-dinding kaca gedung Hadiwinata Group. Udara pagi terasa begitu segar, seolah ikut merayakan berakhirnya badai yang selama ini menghantam perusahaan.Di ruang kerjanya, Vera duduk dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Laporan keuangan bulanan menunjukkan grafik naik yang sangat drastis, dan proyek pembangunan mal kini berjalan tanpa ada satu pun hambatan atau gangguan misterius.Pintu ruangan diketuk ringan, lalu Laras masuk dengan membawa secangkir teh hangat dan map dokumen."Nona Vera, laporan akhir minggu dari kontraktor sudah masuk. Semuanya aman, tidak ada kendala material maupun masalah lapangan," lapor Laras dengan wajah berseri-seri.Vera menerima map tersebut lalu mengangguk puas. "Terima kasih banyak ya Ras. Kabari Pak Seno kalau minggu depan kita akan adakan syukuran kecil-kecilan buat seluruh pekerja proyek.""Siap Non! Pasti pada senang tuh," jawab Lar
Kediaman mewah keluarga Aryatama malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Surya Aryatama mondar-mandir di ruang kerjanya dengan cemas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi belum ada satu pun laporan masuk dari tim algojo profesional yang dia sewa.Biasanya, orang-orang bayaran itu sudah mengirimkan kabar atau foto bukti setelah target berhasil dibungkam. Tapi kali ini, sunyi senyap.Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Natasha masuk dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah. Putri kesayangannya itu tampak sangat ketakutan sampai-sampai menjatuhkan tas tangan desainer yang dibawanya ke lantai."Ayah... ini gila! Ini benar-benar gila!" teriak Natasha histeris, suaranya bergetar hebat.Surya menghentikan langkahnya, menatap putrinya dengan kening berkerut. "Ada apa Natasha? Kenapa malam-malam begini kamu masuk kamar kerja Ayah seperti orang kesurupan?"Natasha merogoh ponsel dari sakunya dengan tangan gemetar, lalu melempar benda pipih itu
Berikut adalah Bab 387, menceritakan puncak pertempuran sengit Satria melawan para algojo profesional dan pesan terakhir yang ditinggikannya.Bab 387: Monster di KegelapanSuara letupan peluru berperedam beruntun memecah kesunyian malam. Percikan api berpijar di atas aspal setiap kali timah panas menimpa bodi truk dan pembatas jalan beton.Di dalam kabin mobil, Vera menutup telinganya rapat-rapat sambil meringkuk ketakutan di kursi belakang. Air matanya menetes deras. Suara baku tembak di luar sana terdengar sangat mengerikan. Dia hanya bisa berdoa dalam hati agar Satria selamat dari sergapan brutal ini.Di luar, situasi benar-benar tidak seimbang bagi para pembunuh bayaran. Meskipun mereka dibekali senjata api dan latihan militer tingkat tinggi, mereka berhadapan dengan Satria—pria yang insting tempurnya telah teruji di medan paling mematikan.Dua orang algojo merangsek maju secara bersamaan dari sisi kiri dan kanan, mencoba menjepit Satria dalam sudut mati. Satria tidak menghindar.
Langit Jakarta malam itu berubah menjadi gelap gulita. Awan mendung menggantung rendah, menutupi kerlip bintang tanpa menyisakan setitik pun cahaya bulan.Satria mengemudikan mobil SUV hitam milik Vera dengan kecepatan sedang membelah jalanan lingkar luar kota. Di kursi belakang, Vera sedang menutup matanya rapat-rapat sambil memijat pelipisnya karena kelelahan setelah seharian membereskan sisa urusan kantor yang menumpuk."Mau mampir makan dulu, Non? Atau langsung pulang ke rumah?" tanya Satria sambil melirik lewat kaca spion tengah."Langsung pulang saja, Sat. Saya pengin langsung istirahat. Badan rasanya remuk semua," jawab Vera dengan suara lemas."Baik, Non."Namun, begitu mobil melewati sebuah ruas jalan raya yang agak sepi dan dikelilingi oleh pepohonan rimbun di sisi kiri dan kanan, mata Satria mendadak menyipit tajam. Insting militernya berteriak kencang. Di kaca spion, dua buah truk boks besar berukuran sedang tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan kecepatan tinggi, meny
Di ruang kerja mewah miliknya, Surya Aryatama membanting vas kristal antik ke lantai hingga berkeping-keping. Berita utama di semua televisi dan portal berita siang ini kompak menyoroti kegagalan total kantor hukum mereka dalam kasus gugatan palsu tanah proyek Hadiwinata.Hendrawan, sang pengacara kepercayaan, berdiri gemetar di hadapannya dengan kepala tertunduk dalam."Bodoh! Kalian semua benar-benar tidak berguna!" bentak Surya dengan suara menggelegar. Urat-urat di leher pria tua itu menonjol keluar menahan amarah yang luar biasa. "Hanya mengurus sengketa tanah murahan saja kalian bisa kecolongan dan membuat nama keluarga kita jadi bahan tertawaan publik!""Maafkan saya Tuan Surya... Kami tidak menyangka pengawal Vera itu bergerak selambat dan sesenyap itu mencari Mardani," jawab Hendrawan dengan suara parau ketakutan."Keluar!" teriak Surya penuh murka.Tanpa buang waktu, Hendrawan langsung berlari terbirit-birit keluar dari ruangan, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.Sury
Keesokan paginya, suasana di ruang tunggu Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mendadak riuh. Para wartawan media hiburan dan bisnis berkumpul setelah mendapat bocoran bahwa sidang sengketa lahan proyek mal Hadiwinata Group akan memasuki agenda mediasi awal.Vera datang didampingi oleh tim hukum perusahaan dan Satria yang berdiri tegap di belakangnya. Wajah direktur muda itu tampak tenang, meski ada sedikit rasa penasaran tentang hasil temuan Satria kemarin sore.Di sisi seberang ruangan, pengacara kepercayaan keluarga Aryatama—Hendrawan—duduk bersama klien mereka, Mardani. Hendrawan tampak sangat percaya diri. Sambil merapikan jas mahalnya, dia tersenyum sinis ke arah Vera, seolah sudah di atas angin.Pintu ruang sidang utama terbuka. Hakim ketua memanggil kedua belah pihak untuk masuk dan duduk di kursi pesakitan."Baiklah, agenda hari ini adalah mendengarkan pokok perkara dan tanggapan awal dari pihak penggugat terkait sengketa lahan di tapak proyek Hadiwinata," buka hakim ketua dengan







