تسجيل الدخولUdara malam di kawasan Puncak terasa semakin dingin. Gerimis halus yang turun membuat permukaan tanah di halaman belakang vila licin, namun langkah kaki Satria tetap ringan tanpa suara, bagaikan bayangan yang menyatu dengan pekatnya malam.Dia sudah berhasil melewati pagar kawat berduri di sisi barat tanpa memicu sistem pengamanan apa pun. Kini, Satria berdiri di balik dinding kaca besar ruang utama vila tempat Oemar Kartawidjaja dan para petinggi sindikat sedang mengadakan pertemuan rahasia.Dari balik tirai tipis yang setengah terbuka, Satria bisa melihat jelas situasi di dalam ruangan. Ada lima orang pria paruh baya berjas rapi duduk melingkar di meja kerja besar. Di ujung meja, duduk seorang pria tua berambut putih bersih dengan tatapan mata yang tajam dan dingin—Oemar Kartawidjaja."Rencana serangan balasan ini tidak boleh gagal lagi seperti kasus keluarga Aryatama," suara Oemar terdengar berat dan berwibawa, menggema pelan di dalam ruangan. "Perusahaan Hadiwinata harus runtuh se
Satria mencerna setiap informasi yang keluar dari mulut pria itu. Polanya mulai terlihat jelas. Ini bukan lagi soal persaingan bisnis keluarga Aryatama yang picik, melainkan dendam lama dan perebutan aset gelap masa lalu yang melibatkan sindikat tingkat tinggi."Di mana Oemar Kartawidjaja sekarang?" tanya Satria tajam."Malam ini... dia sedang mengadakan pertemuan tertutup dengan para petinggi sindikat di sebuah vila peristirahatan mewah di kawasan Puncak," jawab pria itu jujur. "Mereka berencana merancang serangan akhir untuk melumpuhkan Hadiwinata Group secara total minggu depan."Satria menarik belatinya menjauh dari leher pria tersebut, lalu menyimpannya kembali ke pinggang. Tanpa banyak bicara, Satria melayangkan pukulan telak ke arah rahang pria itu hingga pingsan seketika dan ambruk di lantai.Satria menekan mic kecil di kerah jaketnya. "Bim, lo dengar semuanya?"Dari seberang telepon, suara Bima terdengar serius. "Jelas banget, Sat! Rekaman audionya udah otomatis gue simpan di
Pukul sebelas malam lewat empat puluh menit. Suasana di kawasan pelabuhan peti kemas Tanjung Priok tampak lengang dan basah karena gerimis tipis yang baru saja reda. Barisan kontainer raksasa berukuran empat puluh kaki berjejer rapi bagaikan labirin raksasa berwarna-warni di bawah temaram lampu sorot kuning dermaga.Sebuah motor sport hitam melaju tanpa suara dengan lampu utama dimatikan, menyelinap di antara celah-celah kontainer yang sepi. Satria menghentikan motornya di dekat sudut gudang nomor 42—bangunan terbengkalai yang dari luar tampak tua dan usang, namun berdasarkan data GPS dari ponsel enkripsi tadi, tempat itu adalah pusat kendali operasional sindikat misterius tersebut.Satria mematikan mesin, melepas helmnya, lalu mengenakan topi hitam serta sarung tangan taktis. Di pinggangnya terselip belati militer kesayangannya."Bim, status koneksi?" bisik Satria pelan melalui mic kecil di kerah jaketnya."Koneksi aman, Sat. Kamera CCTV eksternal gudang sudah gue loop rekamannya. Da
Suasana di dalam ruang kerja apartemen Bima tampak remang-remang, hanya diterangi oleh pendar cahaya biru dari tiga layar monitor besar yang berjejer rapi di atas meja. Berbagai baris kode pemrograman berjalan cepat naik-turun, menciptakan ritme sunyi di ruangan yang dipenuhi tumpukan perangkat keras komputer itu.Satria meletakkan sebuah ponsel pintar berenkripsi tinggi di atas meja tepat di sebelah keyboard Bima.Bima menghentikan ketikannya, lalu menatap ponsel berwarna hitam legam itu dengan kening berkerut. "Ini barang apa lagi, Sat? Jangan bilang lo baru saja dapet oleh-oleh baru dari preman jalanan.""Ponsel milik orang yang mencoba menyergap gue di restoran tadi siang," jawab Satria tenang sambil menarik kursi plastik lalu duduk di sebelah Bima. "Sebelum sempat gue interogasi lebih jauh, dia bunuh diri pakai kapsul sianida."Mata Bima langsung membelalak kaget. Dia bersandar ke belakang kursinya. "Sianida? Wah, gila. Ini sih bukan level preman pasar atau anak buah Surya Aryata
Satria berdiri menatap jasad pria berjaket kulit yang terkapar tak bernyawa di lantai kamar mandi restoran. Aroma amandel pahit khas racun sianida masih menguar tipis di udara sempit ruangan tersebut. Gerakan bunuh diri yang begitu cepat dan terencana membuktikan satu hal: orang ini bukan sekadar preman sewaan atau pembunuh bayaran biasa, melainkan anggota sindikat rahasia yang memiliki protokol kematian yang sangat ketat.Satria merogoh saku jaket pria itu dan menemukan sebuah ponsel pintar berjenis enkripsi tinggi. Layar ponsel terkunci dengan sistem pemindai wajah, membuatnya tidak bisa diakses sembarangan.Satria menyembunyikan ponsel itu ke sakunya sendiri, lalu merapikan sedikit kerah bajunya agar kembali terlihat rapi. Sebelum keluar, dia memastikan tidak ada jejak mencurigakan yang tertinggal.Begitu Satria kembali melangkah ke ruang makan utama, suasana di meja tampak masih berjalan normal. Pak Baskoro dan Vera sedang membicarakan rancangan kontrak kerja sama sambil tersenyum
Begitu sosok pemuda itu benar-benar tak terlihat lagi, Tuan Besar Salim menghembuskan napas yang sedari tadi tertahan di dadanya. Pria paruh baya yang memegang kendali atas ribuan karyawan dan jaringan rumah sakit terbesar di kota itu tampak menyeka peluh dingin di pelipisnya.Bukan hal yang berlebihan. Jika tamu agungnya itu sampai tersinggung karena dituduh maling dan memutuskan pergi, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah menyia-nyiakan utusan Sang Dewa Penolong!Di sisinya, Wina akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Pecahan vas keramik di dekat kakinya menjadi saksi bisu betapa syoknya wanita cantik itu melihat ayahnya membungkuk pada pemuda tak dikenal."Papa!" panggil Wina dengan nada tinggi, setengah menuntut. Rasa pusing akibat begadang dua hari dua malam seolah lenyap seketika, digantikan oleh rasa penasaran dan jengkel yang memuncak. "Apa-apaan semua ini?! Kenapa Papa membungkuk hormat pada pria yang penampilannya seperti gelandangan itu?! Siapa







