تسجيل الدخولPukul satu siang lewat sepuluh menit, sebuah mobil SUV hitam yang dikemudikan Satria berhenti dengan mulus di halaman depan sebuah restoran bergaya kolonial Belanda di kawasan Menteng. Bangunan itu tampak asri dengan pilar-pilar tinggi dan pepohonan rindang di sekelilingnya, menyuguhkan suasana yang tenang di tengah hiruk-pikuk ibu kota.Vera merapikan blazernya sejenak sebelum membuka pintu mobil. Satria bergerak cepat keluar dari kursi kemudi, lalu membukakan pintu untuk bosnya itu dengan sigap."Terima kasih, Sat," ucap Vera sambil tersenyum tipis."Sama-sama, Non. Mari," balas Satria singkat, lalu berjalan di samping Vera mengiringi langkah wanita itu memasuki area restoran.Di meja reservasi bagian sudut ruangan yang semi-outdoor, seorang pria paruh baya berbusana batik rapi tampak melambaikan tangan begitu melihat kedatangan Vera. Dia adalah Pak Baskoro, pemilik perusahaan tekstil dan manufaktur besar asal Bandung yang hari ini dijadwalkan menjalin kerja sama strategis dengan Ha
Matahari pagi kembali menyapa ibu kota dengan sinarnya yang hangat. Udara di halaman depan kantor Hadiwinata Group terasa sejuk, menyisakan sisa embun tipis di dedaunan tanaman hias yang tertata rapi di lobi utama.Vera melangkah masuk lewat pintu kaca otomatis dengan setelan blazer abu-abu muda yang elegan. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Tidak ada lagi beban tekanan dari ancaman luar atau bayang-bayang gugatan fiktif yang siap meledak kapan saja. Semuanya bersih, rapi, dan berada di bawah kendali penuh.Di belakangnya, Satria berjalan santai dengan tangan kanannya yang sesekali merapikan jas luar yang dipakainya."Pagi, Non Vera!" sapa beberapa karyawan resepsionis dengan senyum cerah dan penuh rasa hormat.Vera membalas sapaan itu dengan anggukan ramah dan senyuman tulus. Dulu, senyuman itu sering kali terlihat kaku karena tertutup rasa cemas. Tapi sekarang, aura ketenangan terpancar jelas dari wajahnya.Begitu mereka tiba di lantai atas, Laras sudah berdiri
Matahari pagi bersinar sangat terang, memantulkan sinarnya ke seluruh penjuru kota Jakarta melalui dinding-dinding kaca gedung Hadiwinata Group. Udara pagi terasa begitu segar, seolah ikut merayakan berakhirnya badai yang selama ini menghantam perusahaan.Di ruang kerjanya, Vera duduk dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Laporan keuangan bulanan menunjukkan grafik naik yang sangat drastis, dan proyek pembangunan mal kini berjalan tanpa ada satu pun hambatan atau gangguan misterius.Pintu ruangan diketuk ringan, lalu Laras masuk dengan membawa secangkir teh hangat dan map dokumen."Nona Vera, laporan akhir minggu dari kontraktor sudah masuk. Semuanya aman, tidak ada kendala material maupun masalah lapangan," lapor Laras dengan wajah berseri-seri.Vera menerima map tersebut lalu mengangguk puas. "Terima kasih banyak ya Ras. Kabari Pak Seno kalau minggu depan kita akan adakan syukuran kecil-kecilan buat seluruh pekerja proyek.""Siap Non! Pasti pada senang tuh," jawab Lar
Kediaman mewah keluarga Aryatama malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Surya Aryatama mondar-mandir di ruang kerjanya dengan cemas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi belum ada satu pun laporan masuk dari tim algojo profesional yang dia sewa.Biasanya, orang-orang bayaran itu sudah mengirimkan kabar atau foto bukti setelah target berhasil dibungkam. Tapi kali ini, sunyi senyap.Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Natasha masuk dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah. Putri kesayangannya itu tampak sangat ketakutan sampai-sampai menjatuhkan tas tangan desainer yang dibawanya ke lantai."Ayah... ini gila! Ini benar-benar gila!" teriak Natasha histeris, suaranya bergetar hebat.Surya menghentikan langkahnya, menatap putrinya dengan kening berkerut. "Ada apa Natasha? Kenapa malam-malam begini kamu masuk kamar kerja Ayah seperti orang kesurupan?"Natasha merogoh ponsel dari sakunya dengan tangan gemetar, lalu melempar benda pipih itu
Berikut adalah Bab 387, menceritakan puncak pertempuran sengit Satria melawan para algojo profesional dan pesan terakhir yang ditinggikannya.Bab 387: Monster di KegelapanSuara letupan peluru berperedam beruntun memecah kesunyian malam. Percikan api berpijar di atas aspal setiap kali timah panas menimpa bodi truk dan pembatas jalan beton.Di dalam kabin mobil, Vera menutup telinganya rapat-rapat sambil meringkuk ketakutan di kursi belakang. Air matanya menetes deras. Suara baku tembak di luar sana terdengar sangat mengerikan. Dia hanya bisa berdoa dalam hati agar Satria selamat dari sergapan brutal ini.Di luar, situasi benar-benar tidak seimbang bagi para pembunuh bayaran. Meskipun mereka dibekali senjata api dan latihan militer tingkat tinggi, mereka berhadapan dengan Satria—pria yang insting tempurnya telah teruji di medan paling mematikan.Dua orang algojo merangsek maju secara bersamaan dari sisi kiri dan kanan, mencoba menjepit Satria dalam sudut mati. Satria tidak menghindar.
Langit Jakarta malam itu berubah menjadi gelap gulita. Awan mendung menggantung rendah, menutupi kerlip bintang tanpa menyisakan setitik pun cahaya bulan.Satria mengemudikan mobil SUV hitam milik Vera dengan kecepatan sedang membelah jalanan lingkar luar kota. Di kursi belakang, Vera sedang menutup matanya rapat-rapat sambil memijat pelipisnya karena kelelahan setelah seharian membereskan sisa urusan kantor yang menumpuk."Mau mampir makan dulu, Non? Atau langsung pulang ke rumah?" tanya Satria sambil melirik lewat kaca spion tengah."Langsung pulang saja, Sat. Saya pengin langsung istirahat. Badan rasanya remuk semua," jawab Vera dengan suara lemas."Baik, Non."Namun, begitu mobil melewati sebuah ruas jalan raya yang agak sepi dan dikelilingi oleh pepohonan rimbun di sisi kiri dan kanan, mata Satria mendadak menyipit tajam. Insting militernya berteriak kencang. Di kaca spion, dua buah truk boks besar berukuran sedang tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan kecepatan tinggi, meny







