ログインBegitu Satria melangkah masuk ke ruang tengah, dia disambut keheningan total. Tiga wanita cantik itu menatapnya seperti melihat hantu yang baru bangkit dari kubur.
"Sudah aman, Nona, Kevin dan teman-temannya sudah pulang," lapor Satria datar sambil menyeka darah di bibirnya.
Detik berikutnya, suasana berubah seratus delapan puluh derajat.
"Satria! Astaga!"
Vera, wanita karier yang tadi menghinanya habis-habisan, kini bereaksi paling histeris. Wajah dinginnya runtuh digantikan kepanikan murni. Dia berlari kecil menghampiri Satria, melupakan gengsi dan status sosialnya.
"Kamu terluka! Bibirmu berdarah!" seru Vera panik.
Tangannya yang halus terulur menyentuh pipi Satria tanpa ragu. Kulit Vera terasa sangat lembut dan wangi di wajah Satria yang kasar dan berdebu.
"Eh, nggak apa-apa kok, Nona, cuma lecet dikit..."
"Diam! Jangan banyak omong!" potong Vera dominan.
Dia langsung menarik lengan kekar Satria dan menyeretnya menuju sofa kulit impor di tengah ruangan. Vera menekan bahu Satria dan memaksanya duduk tenggelam di empuknya sofa mewah itu.
"Kiki, ambil kotak P3K di lemari atas! Laras, ambil air minum!" perintah Vera tegas.
"Iya, Kak!" Kiki dan Laras bergerak cepat.
Vera berlutut di atas karpet tebal, tepat di depan Satria yang duduk kaku. Posisi ini membuat wajah mereka sejajar. Vera membuka satu kancing piyama sutranya yang paling atas karena gerah, lalu mengambil tisu basah.
Dengan gerakan telaten, Vera mulai membersihkan debu dan darah di wajah Satria.
"Tahan ya, ini mungkin perih sedikit," bisik Vera lembut.
Suaranya berubah total menjadi suara wanita dewasa yang penuh perhatian dan menggoda. Jarak wajah mereka begitu dekat, hanya tinggal satu jengkal. Satria bisa melihat pori-pori wajah Vera yang halus dan bibirnya yang merah basah.
Namun, yang paling menyiksa konsentrasi Satria adalah pemandangan di depannya.
Karena Vera berlutut dan membungkuk ke arahnya, kerah piyama sutra longgar yang dipakainya ikut melorot ke bawah. Dari sudut pandang Satria yang duduk lebih tinggi, dia bisa melihat jelas belahan dada Vera yang putih mulus dan padat berisi.
Dua gundukan kenyal itu terlihat saling tertekan di balik kain sutra biru dongker yang licin. Kulit dada Vera terlihat sangat kontras dengan piyamanya, bersinar menggoda di bawah lampu kristal. Satria menelan ludah kasar melihat pemandangan 'lembah surga' yang terpampang gratis di depan matanya.
Aroma parfum mahal rose bercampur feromon alami tubuh wanita dewasa menguar kuat dari leher Vera, langsung menusuk hidung Satria dan memabukkan otaknya.
"Nona, nggak usah repot-repot..." gumam Satria gugup, matanya susah payah berpaling dari belahan dada itu.
"Diam," ucap Vera pelan namun tegas.
Tangan halusnya menangkup rahang Satria, menahannya agar tetap menatap ke depan. Ibu jarinya mengusap pelan pinggiran bibir Satria yang luka, sentuhannya begitu intim dan sensual. Vera menatap bibir Satria lekat-lekat dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah dia ingin melakukan lebih dari sekadar membersihkan luka.
Belum cukup ujian iman Satria dengan Vera, Kiki datang berlari kecil membawa nampan berisi air es dan handuk basah.
"Kak Satria, minum dulu," ucap Kiki dengan nada manja yang mendayu-dayu.
Kiki meletakkan nampan, lalu duduk di sisi kiri sofa, memepetkan tubuh mungilnya ke lengan kekar Satria yang bertumpu di sandaran. Paha Kiki yang hanya berbalut celana gemes super pendek menempel hangat di paha samping Satria.
Dia mengambil handuk basah dingin itu.
"Keringetnya banyak banget sih, Kak, pasti capek ya habis berantem," gumam Kiki.
Dengan gerakan pelan dan sangat sensual, Kiki mulai mengelapkan handuk dingin itu ke leher Satria. Tangan mungilnya merambat turun ke dada bidang Satria yang terekspos lebar dari balik kaos sobek.
"Gila... badannya keras banget kayak batu kali," komentar Kiki polos.
Sambil mengelap keringat, jari-jari nakal Kiki sengaja menekan-nekan otot dada Satria yang keras. Dia meraba tekstur kulit Satria yang basah dan licin, menikmati sensasi memegang tubuh atletis itu.
Kiki bahkan sengaja menyentuh puting Satria sekilas dengan ujung handuk, membuat Satria tersentak kaget menahan geli dan nikmat.
"Kiki, jangan genit!" tegur Vera tanpa menoleh, masih sibuk dengan wajah Satria.
"Ih, Kak Vera sirik aja, kan aku bantu ngademin," balas Kiki acuh.
Dia menjulurkan lidah kecilnya yang merah, lalu mengedipkan sebelah matanya nakal ke arah Satria. Tatapan Kiki turun ke perut kotak-kotak Satria, lalu dia sengaja mengusap perut itu dengan gerakan memutar yang lambat.
Dari arah kanan, Laras mendekatkan kursi rodanya. Dia meraih tangan kanan Satria dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya yang lembut dan hangat.
"Makasih ya, Sat," ucap Laras lirih dengan mata berkaca-kaca penuh pujaan. "Kamu beneran pahlawanku malam ini."
Situasi saat itu benar-benar gila bagi Satria. Dia duduk di sofa mahal, dikepung tiga wanita cantik dengan karakter berbeda.
Tanpa bisa dikontrol, jantung Satria berpacu gila-gilaan. 'Si Pusaka' di bawah sana langsung bangun dari tidurnya dengan semangat tempur empat puluh lima.
Di balik celana jinsnya yang ketat, tercipta sebuah tenda yang sangat jelas, keras, dan menonjol tinggi. Batang itu berkedut-kedut nyeri minta jatah, tersiksa oleh kain celana yang menjepitnya.
"Kiki, tolong kompres paha Kak Satria juga, tadi kayaknya kena tendang di sana," perintah Vera sambil menutup botol obat.
"Siap, Bos!"
Kiki segera meluncur turun dari sofa dan duduk di lantai karpet, posisinya tepat di antara kedua kaki Satria yang terbuka lebar. Wajah cantik Kiki kini sejajar dengan pinggang dan selangkangan Satria.
"Sini ya, Kak? Sakit nggak?" tanya Kiki polos.
Dia menempelkan kompres es itu ke paha bagian dalam Satria, sangat dekat dengan area 'segitiga bermuda'. Tangan halusnya memijat pelan paha dalam Satria yang keras berotot.
Satria menahan napas, perutnya menegang kaku. Dia bisa merasakan napas hangat Kiki menembus celana jinsnya.
Saat Kiki menggerakkan tangannya untuk mencari titik lebam, sikunya bergerak mundur sedikit.
DUG.
Siku Kiki menyenggol sesuatu yang sangat keras, hangat, dan menegang di balik ritsleting celana Satria.
"Eh?" Kiki terhenti.
Dia merasakan tekstur yang jelas bukan tulang paha ataupun kunci motor. Benda itu terasa panjang, bulat, dan membal saat ditekan. Kiki melirik ke bawah sekilas dan matanya membelalak lebar.
Dia melihat polisi tidur besar yang terbentuk di celana jins Satria, tepat di depan wajahnya. Tenda itu berdiri tegak menantang, berkedut pelan seolah menyapa Kiki.
Satria menahan napas, wajahnya memucat lalu berubah merah padam sampai ke telinga.
"Mati aku, ketahuan!" batin Satria histeris.
Kiki mendongak menatap wajah Satria yang panik dan salah tingkah. Bukannya menjerit atau jijik, sudut bibir gadis sembilan belas tahun itu malah terangkat membentuk senyuman jahil dan penuh arti.
Matanya berbinar nakal seolah baru saja menemukan mainan baru yang sangat menarik dan besar. Dia kembali melirik ke arah tenda itu, lalu menatap mata Satria lagi.
"Kak Satria..." bisik Kiki pelan, suaranya serak menggoda, hanya bisa didengar oleh Satria. "Kok ada yang bangun? Padahal belum pagi lho..."
"M-maaf... itu... anu... refleks adrenalin..." gagap Satria dengan suara tercekat. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.
Kiki menahan tawa, wajahnya terlihat sangat menikmati penderitaan nikmat Satria. Dia sadar kalau Vera atau Laras melihat ini, suasana akan menjadi canggung.
Dengan gerakan cepat namun santai, Kiki menyambar sebuah bantal sofa kecil yang ada di dekatnya.
"Kenapa, Ki? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Vera curiga sambil membereskan obat.
Kiki langsung mengubah ekspresinya menjadi polos dan lugu dalam sekejap.
"Nggak apa-apa kok, Kak! Cuma, kayaknya Kak Satria kedinginan deh kena AC. Lihat tuh, mukanya merah dan gemetaran lagi," alibi Kiki dengan lancar.
Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya, mundur selangkah sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Satria. Matanya menyalang penuh dendam. Dia tidak terima dipermalukan oleh seorang "kacung" berseragam rapi yang dia anggap hanya modal tampang."Berani sekali kau..." geram Bang Jago, ludahnya muncrat. Dia menoleh ke arah salah satu anak buahnya yang paling besar—seorang pria bertubuh tambun dengan lengan sebesar paha orang dewasa dan tato tengkorak di lehernya. Orang memanggilnya Si Sumo."Sumo! Hancurkan kepalanya! Bikin dia nyesel udah lahir!" teriak Bang Jago memberi perintah.Sumo menyeringai lebar, memamerkan gigi kuningnya yang jarang-jarang. Dia berdiri dari bangku kayu panjang, membuat bangku
Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya tetap cepat dan berirama, sepatu hak tingginya menapak tegas di atas tanah yang tidak rata, memancarkan aura dominasi yang membuat siapa pun menyingkir.Satria berjalan satu langkah di belakang sisi kanan Vera. Matanya yang tajam di balik kacamata hitam yang tadi dipaksa beli oleh Vera memindai setiap sudut. Dia melihat para pekerja proyek yang duduk bergerombol di atas tumpukan bata hebel menatap kedatangan mereka dengan ekspresi campur aduk: kaget, heran, dan takut.Mereka seperti melihat alien turun dari langit. Seorang wanita cantik berpenampilan eksekutif masuk ke area proyek yang kotor, diikuti seorang pria berbadan tegap yang terlihat seperti aktor film laga.Vera berhenti tepat di d
Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsleting jaketnya sampai dada untuk menutupi tubuh bertelanjang dadanya di balik jaket.Satria berjalan menuju ruang tengah dengan langkah ringan. Di sana, pemandangan pagi keluarga kaya raya tersaji di depan matanya.Kiki sudah siap berangkat kuliah. Gadis itu mengenakan outfit kekinian: rok plisket pendek di atas lutut, kemeja crop top yang modis, dan tas bermerek yang harganya mungkin bisa buat beli motor Satria. Dia sedang memoles lip gloss di depan cermin hias besar.Sementara itu, Laras duduk santai di kursi rodanya di dekat jendela yang bermandikan cahaya matahari pagi. Di pangkuannya ada sebuah buku tebal bersampul kulit. Dia terlihat anggun dan tenang, sangat kontras dengan adiknya yang pe
"Satria, sudah bangun?"Itu suara wanita. Bukan suara cempreng Kiki ataupun suara lembut Laras.Suara ini terdengar alto, sedikit serak khas orang baru bangun tidur namuntetap dominan.Satria tersentak kaget hingga langsung duduk tegak di kasur. Diamengucek matanya yang masih lengket karena kotoran mata. Nyawanya belumterkumpul sepenuhnya."I-iya! Sebentar!" seru Satria panik.Dia melihat ke bawah ke arah tubuhnya sendiri. Untungnya dia masihmemakai celana jinsnya meski kaosnya yang sobek sudah dia lepas semalam. Satriabertelanjang dada dan memamerkan otot-otot perut serta dadanya yang bidang.Satria buru-buru turun dari kasur empuk itu. Dia menyambar kaos sobeknyadari kursi untuk menutupi dada bidangnya. Satria berjalan sempoyongan menujupintu dengan langkah gontai.Cklek.Pintu terbuka lebar. Mata Satria yang tadinya sipit karena kantuklangsung terbuka lebar sebulat bola pingpong. Pemandangan di depannyabenar-benar menguji iman seorang perjaka di pagi buta.Vera hanya menge
"Ehem," deham Kiki keras. "Sudah, dong, dramanya. Lihat,tuh, es batunya sampai mencair gara-gara suasananya panas banget."Laras tersentak kaget. Dia buru-buru melepaskan tangan Satria danmenegakkan duduknya di kursi roda. Wajahnya merah padam karena malu ketahuanbermanja-manja di depan adiknya."Eh, maaf... aku... aku cuma..." Laras tergagap salah tingkah.Satria tertawa kecil melihat tingkah kakak beradik itu. "Iya, nih,Ki. Es batunya sudah jadi air sop."Kiki mencibir lucu, lalu kembali menatap Satria dengan tatapan tajam danpenuh arti yang seolah berkata, 'Nanti kita lanjutin lagi urusan kita dibawah bantal itu.'Tepat saat itu, Vera muncul dari arah dapur membawa nampan berisi tekoteh hangat. Aroma teh melati langsung memenuhi ruangan. Vera melihat wajahmerah Laras, wajah jahil Kiki, dan Satria yang masih memeluk bantal. Diamengernyitkan dahi, merasa ketinggalan sesuatu tapi memilih tidak bertanya."Minum dulu, Satria," kata Vera sambil menuangkan teh."Biar tenang saraf
Tanpa membuang waktu, Kiki meletakkan bantal sofa itu di pangkuanSatria, menutupi tenda yang sedang berdiri tegak itu dengan sempurna daripandangan Vera dan Laras."Nih, pakai bantal biar anget ya, Kak," ucap Kiki manis.Namun, di balik bantal itu, terjadi sesuatu yang membuat Satria nyaristerlonjak.Tangan Kiki menyelinap masuk ke bawah bantal. Jari-jari lentiknya dengansengaja menekan pelan batang keras Satria yang terbungkus celana jins. Diameremasnya sekilas, merasakan ukuran dan kekerasannya, lalu mengusapnya pelandari pangkal ke ujung.Mata Kiki mengedip nakal ke arah Satria, memberikan sinyal rahasia bahwadia tahu 'rahasia besar' itu dan dia menyukainya."M-makasih, Kiki... kamu perhatian banget," jawab Satria kakudengan suara bergetar menahan desahan.Jantungnya serasa mau melompat keluar merasakan remasan tangan Kiki yang'mematikan' di area vitalnya."Sama-sama," jawab Kiki riang.Dia menarik tangannya kembali, lalu pura-pura sibuk mengompres pahaSatria lagi, meski







