Share

BAB 6

last update publish date: 2026-02-06 23:45:52

Begitu Satria melangkah masuk ke ruang tengah, dia disambut keheningan total. Tiga wanita cantik itu menatapnya seperti melihat hantu yang baru bangkit dari kubur.

"Sudah aman, Nona, Kevin dan teman-temannya sudah pulang," lapor Satria datar sambil menyeka darah di bibirnya.

Detik berikutnya, suasana berubah seratus delapan puluh derajat.

"Satria! Astaga!"

Vera, wanita karier yang tadi menghinanya habis-habisan, kini bereaksi paling histeris. Wajah dinginnya runtuh digantikan kepanikan murni. Dia berlari kecil menghampiri Satria, melupakan gengsi dan status sosialnya.

"Kamu terluka! Bibirmu berdarah!" seru Vera panik.

Tangannya yang halus terulur menyentuh pipi Satria tanpa ragu. Kulit Vera terasa sangat lembut dan wangi di wajah Satria yang kasar dan berdebu.

"Eh, nggak apa-apa kok, Nona, cuma lecet dikit..."

"Diam! Jangan banyak omong!" potong Vera dominan.

Dia langsung menarik lengan kekar Satria dan menyeretnya menuju sofa kulit impor di tengah ruangan. Vera menekan bahu Satria dan memaksanya duduk tenggelam di empuknya sofa mewah itu.

"Kiki, ambil kotak P3K di lemari atas! Laras, ambil air minum!" perintah Vera tegas.

"Iya, Kak!" Kiki dan Laras bergerak cepat.

Vera berlutut di atas karpet tebal, tepat di depan Satria yang duduk kaku. Posisi ini membuat wajah mereka sejajar. Vera membuka satu kancing piyama sutranya yang paling atas karena gerah, lalu mengambil tisu basah.

Dengan gerakan telaten, Vera mulai membersihkan debu dan darah di wajah Satria.

"Tahan ya, ini mungkin perih sedikit," bisik Vera lembut.

Suaranya berubah total menjadi suara wanita dewasa yang penuh perhatian dan menggoda. Jarak wajah mereka begitu dekat, hanya tinggal satu jengkal. Satria bisa melihat pori-pori wajah Vera yang halus dan bibirnya yang merah basah.

Namun, yang paling menyiksa konsentrasi Satria adalah pemandangan di depannya.

Karena Vera berlutut dan membungkuk ke arahnya, kerah piyama sutra longgar yang dipakainya ikut melorot ke bawah. Dari sudut pandang Satria yang duduk lebih tinggi, dia bisa melihat jelas belahan dada Vera yang putih mulus dan padat berisi.

Dua gundukan kenyal itu terlihat saling tertekan di balik kain sutra biru dongker yang licin. Kulit dada Vera terlihat sangat kontras dengan piyamanya, bersinar menggoda di bawah lampu kristal. Satria menelan ludah kasar melihat pemandangan 'lembah surga' yang terpampang gratis di depan matanya.

Aroma parfum mahal rose bercampur feromon alami tubuh wanita dewasa menguar kuat dari leher Vera, langsung menusuk hidung Satria dan memabukkan otaknya.

"Nona, nggak usah repot-repot..." gumam Satria gugup, matanya susah payah berpaling dari belahan dada itu.

"Diam," ucap Vera pelan namun tegas.

Tangan halusnya menangkup rahang Satria, menahannya agar tetap menatap ke depan. Ibu jarinya mengusap pelan pinggiran bibir Satria yang luka, sentuhannya begitu intim dan sensual. Vera menatap bibir Satria lekat-lekat dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah dia ingin melakukan lebih dari sekadar membersihkan luka.

Belum cukup ujian iman Satria dengan Vera, Kiki datang berlari kecil membawa nampan berisi air es dan handuk basah.

"Kak Satria, minum dulu," ucap Kiki dengan nada manja yang mendayu-dayu.

Kiki meletakkan nampan, lalu duduk di sisi kiri sofa, memepetkan tubuh mungilnya ke lengan kekar Satria yang bertumpu di sandaran. Paha Kiki yang hanya berbalut celana gemes super pendek menempel hangat di paha samping Satria.

Dia mengambil handuk basah dingin itu.

"Keringetnya banyak banget sih, Kak, pasti capek ya habis berantem," gumam Kiki.

Dengan gerakan pelan dan sangat sensual, Kiki mulai mengelapkan handuk dingin itu ke leher Satria. Tangan mungilnya merambat turun ke dada bidang Satria yang terekspos lebar dari balik kaos sobek.

"Gila... badannya keras banget kayak batu kali," komentar Kiki polos.

Sambil mengelap keringat, jari-jari nakal Kiki sengaja menekan-nekan otot dada Satria yang keras. Dia meraba tekstur kulit Satria yang basah dan licin, menikmati sensasi memegang tubuh atletis itu.

Kiki bahkan sengaja menyentuh puting Satria sekilas dengan ujung handuk, membuat Satria tersentak kaget menahan geli dan nikmat.

"Kiki, jangan genit!" tegur Vera tanpa menoleh, masih sibuk dengan wajah Satria.

"Ih, Kak Vera sirik aja, kan aku bantu ngademin," balas Kiki acuh.

Dia menjulurkan lidah kecilnya yang merah, lalu mengedipkan sebelah matanya nakal ke arah Satria. Tatapan Kiki turun ke perut kotak-kotak Satria, lalu dia sengaja mengusap perut itu dengan gerakan memutar yang lambat.

Dari arah kanan, Laras mendekatkan kursi rodanya. Dia meraih tangan kanan Satria dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya yang lembut dan hangat.

"Makasih ya, Sat," ucap Laras lirih dengan mata berkaca-kaca penuh pujaan. "Kamu beneran pahlawanku malam ini."

Situasi saat itu benar-benar gila bagi Satria. Dia duduk di sofa mahal, dikepung tiga wanita cantik dengan karakter berbeda.

Tanpa bisa dikontrol, jantung Satria berpacu gila-gilaan. 'Si Pusaka' di bawah sana langsung bangun dari tidurnya dengan semangat tempur empat puluh lima.

Di balik celana jinsnya yang ketat, tercipta sebuah tenda yang sangat jelas, keras, dan menonjol tinggi. Batang itu berkedut-kedut nyeri minta jatah, tersiksa oleh kain celana yang menjepitnya.

"Kiki, tolong kompres paha Kak Satria juga, tadi kayaknya kena tendang di sana," perintah Vera sambil menutup botol obat.

"Siap, Bos!"

Kiki segera meluncur turun dari sofa dan duduk di lantai karpet, posisinya tepat di antara kedua kaki Satria yang terbuka lebar. Wajah cantik Kiki kini sejajar dengan pinggang dan selangkangan Satria.

"Sini ya, Kak? Sakit nggak?" tanya Kiki polos.

Dia menempelkan kompres es itu ke paha bagian dalam Satria, sangat dekat dengan area 'segitiga bermuda'. Tangan halusnya memijat pelan paha dalam Satria yang keras berotot.

Satria menahan napas, perutnya menegang kaku. Dia bisa merasakan napas hangat Kiki menembus celana jinsnya.

Saat Kiki menggerakkan tangannya untuk mencari titik lebam, sikunya bergerak mundur sedikit.

DUG.

Siku Kiki menyenggol sesuatu yang sangat keras, hangat, dan menegang di balik ritsleting celana Satria.

"Eh?" Kiki terhenti.

Dia merasakan tekstur yang jelas bukan tulang paha ataupun kunci motor. Benda itu terasa panjang, bulat, dan membal saat ditekan. Kiki melirik ke bawah sekilas dan matanya membelalak lebar.

Dia melihat polisi tidur besar yang terbentuk di celana jins Satria, tepat di depan wajahnya. Tenda itu berdiri tegak menantang, berkedut pelan seolah menyapa Kiki.

Satria menahan napas, wajahnya memucat lalu berubah merah padam sampai ke telinga.

"Mati aku, ketahuan!" batin Satria histeris.

Kiki mendongak menatap wajah Satria yang panik dan salah tingkah. Bukannya menjerit atau jijik, sudut bibir gadis sembilan belas tahun itu malah terangkat membentuk senyuman jahil dan penuh arti.

Matanya berbinar nakal seolah baru saja menemukan mainan baru yang sangat menarik dan besar. Dia kembali melirik ke arah tenda itu, lalu menatap mata Satria lagi.

"Kak Satria..." bisik Kiki pelan, suaranya serak menggoda, hanya bisa didengar oleh Satria. "Kok ada yang bangun? Padahal belum pagi lho..."

"M-maaf... itu... anu... refleks adrenalin..." gagap Satria dengan suara tercekat. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.

Kiki menahan tawa, wajahnya terlihat sangat menikmati penderitaan nikmat Satria. Dia sadar kalau Vera atau Laras melihat ini, suasana akan menjadi canggung.

Dengan gerakan cepat namun santai, Kiki menyambar sebuah bantal sofa kecil yang ada di dekatnya.

"Kenapa, Ki? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Vera curiga sambil membereskan obat.

Kiki langsung mengubah ekspresinya menjadi polos dan lugu dalam sekejap.

"Nggak apa-apa kok, Kak! Cuma, kayaknya Kak Satria kedinginan deh kena AC. Lihat tuh, mukanya merah dan gemetaran lagi," alibi Kiki dengan lancar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ade Rukmana
anjing udah bosan monyet
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 409

    Tepat pukul satu siang, bunyi denting penutup laptop Vera terdengar mantap. Semua berkas validasi rantai pasok regional untuk hari ini berhasil dikirim ke server pusat tanpa hambatan sedikit pun.Vera meregangkan kedua lengannya ke atas sambil menghela napas panjang dan puas. "Pekerjaan hari ini beres total! Sekarang saatnya eksekusi menu makan siang kita, Sat."Satria yang sedang membaca majalah otomotif di kursi teras langsung menutup bacaannya dan bangkit berdiri. "Waktunya panen kemangi perdana."Mereka berdua berjalan menuju ambang jendela dapur. Vera mengambil gunting dapur kecil, lalu dengan hati-hati memotong pucuk-pucuk daun kemangi yang rimbun dan hijau tua dari dalam pot gerabah. Begitu batang daun terpotong, aroma harum khas kemangi yang segar langsung semerbak memenuhi area dapur."Wah, aromanya tajam dan segar banget, Sat! Beda memang kalau hasil tanaman sendiri yang dirawat pakai tanah subur," ujar Vera riang sambil mencuci seikat daun kemangi itu di bawah kucuran air b

  • Satria Idaman Wanita   BAB 408

    Sinar matahari pagi kembali membasahi halaman depan rumah, memantulkan kilau bersih di atas paving blok dan daun-daun pohon mangga yang masih basah oleh embun. Suasana pagi itu terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi ketergesaan atau langkah kaki terburu-buru yang menuruni tangga untuk mengejar jam rapat kantor.Vera turun ke lantai bawah dengan pakaian santai, mengenakan kemeja katun longgar dan celana kulot abu-abu. Senyum cerah tersungging di bibirnya saat melihat Satria sedang menata meja makan dengan dua mangkuk bubur havermut hangat bertabur irisan pisang raja dan madu alami."Selamat pagi, Sat! Wangi madu sama pisangnya langsung tercium sampai ke tangga," sapa Vera ceria sambil menarik kursi kayu di meja makan.Satria menoleh sambil menuangkan air putih hangat ke dalam dua gelas bening. "Selamat pagi, Vera. Karena hari ini kamu mulai masa transisi kerja sistem daring dari rumah, sarapannya kubikin yang ringan dan sehat biar fokus kerjamu tetap prima."Ve

  • Satria Idaman Wanita   BAB 407

    Pukul lima kurang seperempat, mobil SUV abu-abu gelap milik Satria sudah terparkir rapi di area penjemputan lobi kantor Vera. Mesin mobil tetap menyala halus dengan pendingin udara yang sejuk menyegarkan kabin. Satria melirik kaca spion samping, memperhatikan kerumunan karyawan yang mulai melangkah keluar dari pintu putar kaca gedung bertingkat itu.Tepat pada pukul lima lewat lima menit, sosok Vera muncul dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Begitu membuka pintu depan dan duduk di kursi samping kemudi, aroma parfum vanila lembut miliknya seketika memenuhi ruangan mobil."Selamat sore, Penjemput Andalan!" seru Vera dengan mata berbinar riang sambil melepas blazer biru dongkernya dan menaruhnya di pangkuan.Satria tersenyum hangat seraya menginjak pedal gas perlahan untuk membelah jalan keluar dari area lobi. "Selamat sore, Bintang Kantor. Mukanya kelihatan puas banget. Ceritanya sukses besar ya?""Bukan cuma sukses, Sat," kata Vera

  • Satria Idaman Wanita   BAB 406

    Sinar matahari pagi menyinari kaca depan mobil SUV abu-abu gelap yang terparkir di depan garasi. Hasil kerja keras Satria dan Vera mencuci mobil kemarin sore terlihat sangat nyata. Permukaan bodi mobil tampak begitu mengilap, memantulkan bayangan langit biru cerah tanpa ada setitik pun noda debu.Pukul tujuh pagi, pintu depan rumah terbuka. Vera melangkah keluar dengan setelan blazer biru dongker yang elegan dan celana bahan senada. Sepatu pantofel hitamnya berbunyi teratur di atas paving blok. Di tangannya, sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat dipegang erat bersama tas jinjing kerjanya.Satria yang sudah berdiri di samping pintu kemudi dengan kemeja kasual rapi langsung membukakan pintu untuk Vera."Selamat pagi, Bu Manajer. Mobil dinas VIP hari ini siap meluncur," goda Satria sambil tersenyum ramah.Vera tertawa renyah sambil melangkah masuk ke kursi penumpang depan. "Gaya banget sih pakai sebutan mobil dinas VIP segala! Tapi beneran ya, Sat, mobil ini kelihatan kayak baru kelu

  • Satria Idaman Wanita   BAB 405

    Pukul tiga lewat lima belas sore, udara panas perlahan mereda tertutup bayang-bayang pohon mangga yang rimbun di pekarangan depan. Satria sudah mengeluarkan mobil SUV abu-abu gelap dan motor matik hitamnya ke bagian tengah halaman paving blok yang luas.Ia menyambungkan selang air panjang ke keran utama, lalu mengisi dua ember besar dengan air bersih yang dicampur sampo khusus kendaraan beraroma lemon segar. Busa putih tebal seketika membumbung tinggi menutupi permukaan ember saat diaduk.Pintu depan terbuka, dan Vera melangkah keluar dengan penampilan yang sangat santai. Ia mengenakan kaus oblong abu-abu tua, celana pendek katun longgar, dan sandal jepit karet. Rambutnya dicepol rapi ke atas agar tidak basah terkena cipratan air."Pasukan pencuci mobil siap bertugas, Komandan!" seru Vera riang sambil mengambil salah satu spons busa berukuran besar dari tangan Satria.Satria terkekeh geli melihat semangat wanita itu. "Siap, prajurit. Kita mulai dari basahi seluruh bodi mobil dulu biar

  • Satria Idaman Wanita   BAB 404

    Udara Minggu pagi terasa sangat sejuk dan bebas dari deru knalpot kendaraan bermotor. Kabut tipis yang sempat turun saat subuh perlahan menghilang, tergantikan hangatnya sinar matahari pagi yang menerobos rimbunnya pohon-pohon peneduh di sepanjang jalan perumahan.Satria dan Vera sudah melangkah keluar dari pagar rumah sejak pukul enam pagi. Keduanya mengenakan pakaian olahraga santai. Vera mengenakan jaket parasut biru muda dan sepatu lari putih, sedangkan Satria memakai kaus olahraga abu-abu serta celana pendek training hitam.Langkah kaki mereka berirama santai, menyusuri trotoar bersih yang mengelilingi taman utama kompleks."Segar banget udaranya, Sat. Jarang-jarang bisa jalan pagi tanpa mikirin jam masuk kantor begini," kata Vera sambil mengayunkan kedua lengannya ke depan dan belakang untuk meregangkan otot bahu.Satria menoleh dan tersenyum melihat raut wajah Vera yang tampak riang. "Makanya hari Minggu itu paling pas dipakai buat gerak santai kayak gini. Otot badan jadi nggak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status