Share

BAB 60

last update publish date: 2026-03-08 22:17:54

"B-bukan gitu, Ras! Anu... maksudnya... i-itu salah paham!" jawab Satria terbata-bata, nyaris menggigit lidahnya sendiri saking paniknya. "Aku bisa jelasin, Ras. Sumpah, ini gak seperti kelihatannya!"

Laras memiringkan kepalanya sedikit. Alisnya bertaut. "Salah paham gimana? Aku kan cuma nanya kamu tidur di situ atau enggak. Kok kamu malah panik begitu?"

"Ya panik dong, Ras. Takutnya kamu mikir yang aneh-aneh," Satria mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba menenangkan diri. Dia menarik napas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 148

    Namun, sebelum Siska sempat membalas, seorang pria muda dari meja sebelahnya tiba tiba menggebrak meja dengan sangat keras.Brak!Gelas gelas kaca di atas meja sampai berdenting nyaring beradu satu sama lain. Pria muda itu langsung berdiri. Dia memakai setelan jas desainer ternama berwarna abu abu perak, rambutnya disisir klimis ke belakang, dan jam tangan Richard Mille berkilauan di pergelangan kirinya. Dia adalah Kevin, pewaris tunggal perusahaan properti raksasa sekaligus tunangan Siska yang sejak tadi hanya diam mengamati.Melihat calon istrinya dipermalukan berkali kali, ego kelaki lakian Kevin akhirnya meronta ronta. Pahlawan kesiangan ini merasa harus unjuk gigi untuk membela kehormatan Siska sekaligus mencari muka di hadapan Tuan Wira Atmaja yang sedang menonton."Heh, berandal! Jaga mulut kamu!" bentak Kevin dengan suara menggelegar, telunjuknya menuding lurus ke arah wajah Satria. Muka Kevin merah padam layaknya tomat rebus.Kevin melangkah keluar dari barisan mejanya, menat

  • Satria Idaman Wanita   BAB 147

    Siska yang kebetulan menoleh ke belakang usai memberi hormat kepada Tuan Wira, matanya langsung menangkap kelakuan Satria tersebut. Darah Siska yang sejak tadi sudah panas melihat Vera, kini kembali mendidih hingga ke ubun ubun. Kesempatannya untuk mencari muka di depan kolektor legendaris itu sekaligus menjatuhkan asisten Vera akhirnya datang lagi.Tanpa mempedulikan etiket ketenangan, Siska menunjuk lurus ke arah Satria dengan jari telunjuknya yang berhias cincin berlian."Heh! Pengawal kampungan!" bentak Siska memecah keheningan sakral di ruangan itu. Suaranya terdengar sangat nyaring dan kasar. "Kamu tidak punya mata ya?! Tuan Besar Wira Atmaja baru saja masuk! Semua direktur, CEO, dan konglomerat di ruangan ini berdiri memberi hormat. Berani beraninya kamu tetap duduk santai begitu?! Di mana letak sopan santunmu, hah?!"Teguran keras Siska itu otomatis membuat ratusan kepala di ballroom menoleh serempak ke arah meja paling belakang. Tuan Wira yang tadinya sedang berjalan menuju k

  • Satria Idaman Wanita   BAB 146

    Ballroom Hotel Mulia masih dipenuhi gaung tawa cemoohan. Siska dan rombongannya benar benar menikmati momen ini. Merasa di atas angin, mereka terus melontarkan kalimat kalimat bernada ejekan yang menyamakan Vera dengan pemulung rongsokan."Bawa pulang sana kayunya, Vera! Lumayan buat numis kangkung nanti malam, kan lumayan bisa ngirit gas!" seru Siska disusul tawa melengking teman temannya yang terdengar menyebalkan seperti kawanan lalat hijau di pasar ikan.Vera hanya tersenyum tipis. Bagaikan karang yang disiram air cucian piring, dia sama sekali tidak goyah. Di sebelahnya, Satria malah asyik membersihkan telinganya menggunakan kelingking. Bagi preman ini, gonggongan Siska tidak lebih dari suara kaset kusut yang diulang ulang tanpa makna.Tepat saat pembawa acara hendak mengetuk palu untuk melanjutkan sesi lelang, pintu utama ballroom yang terbuat dari kayu jati berukir itu tiba tiba ditarik terbuka lebar oleh dua orang petugas hotel.Seorang pria paruh baya dengan rambut memutih me

  • Satria Idaman Wanita   BAB 145

    Langkah Vera dan Satria yang nyaris menyentuh gagang pintu utama ballroom mendadak terhenti.Di atas panggung, pembawa acara yang wajahnya sudah sepucat kertas HVS berusaha keras menyelamatkan muka yayasan dan mengendalikan kekacauan. Dengan suara bariton yang sengaja dikeraskan dan sedikit bergetar, dia mengetuk mikrofon beberapa kali."Hadirin sekalian! Mohon tenang! Mari kita anggap kejadian barusan sebagai sedikit miskomunikasi teknis. Kita akan langsung beralih ke barang lelang kedua yang tidak kalah eksklusifnya!" seru pembawa acara itu memecah dengung keributan.Di deretan paling depan, Pak Darmawan yang urat malunya setebal tembok benteng rupanya menolak pergi sebagai pihak yang kalah. Pria tua itu menarik paksa lengan Siska yang masih sesenggukan, memaksanya kembali duduk di kursi VIP. Siska mengusap air matanya dengan kasar. Matanya yang sembab kini menatap tajam ke arah punggung Vera di kejauhan, memancarkan dendam kesumat bak ular berbisa yang ekornya baru saja diinjak.Se

  • Satria Idaman Wanita   BAB 144

    Suara 'ting' yang nyaring itu seolah menjadi lonceng kematian bagi harga diri Siska dan karier Pak Anton. Hening sesaat menyelimuti ballroom mewah itu. Namun sedetik kemudian, kasak-kusuk para tamu undangan meledak menjadi dengungan keributan yang tidak bisa dibendung lagi.Orang-orang kaya yang sejak tadi menonton mulai menunjuk-nunjuk Siska dan Pak Anton sambil berbisik bisik, bahkan ada yang menahan tawa. Fakta dan logika yang dilempar Satria terlalu masuk akal untuk dibantah, apalagi suara nyaring khas keramik pabrik itu terdengar sangat jelas ke seluruh sudut ruangan.Wajah Siska yang tadinya dihiasi senyum kemenangan kini berubah merah padam, semerah gaun yang dia pakai. Urat-urat di lehernya tercetak jelas. Harga dirinya sebagai sosialita papan atas hancur lebur berkeping-keping di depan ratusan pasang mata relasi bisnis ayahnya. Dia baru saja pamer kegirangan karena membeli barang rongsokan seharga lima puluh juta.Pak Anton sendiri sudah mandi keringat dingin. Dia menelan lud

  • Satria Idaman Wanita   BAB 143

    "Ini bukan sekadar pendapat pribadi, Nona Vera!" potong Pak Anton mulai meninggikan suaranya. Wajahnya memerah karena merasa kredibilitasnya sebagai pakar seni sedang diinjak injak. "Anda sedang meragukan reputasi saya dan yayasan ini. Barang itu sudah melewati proses kurasi ketat. Sertifikat keasliannya ada. Tuduhan Anda sangat tidak berdasar dan merugikan nama baik kami."Siska menyeringai puas dari belakang punggung Pak Anton. "Tuh dengar sendiri, Vera. Kalau memang lagi gak punya uang, mending diam saja. Jangan nekat bikin malu diri sendiri pakai fitnah barang palsu."Dada Vera sedikit berdesir. Dia memang percaya pada Satria, tapi dihadapkan langsung dengan kurator seni yang mengamuk dan membawa bawa sertifikat keaslian tentu saja membuatnya sedikit terpojok. Dia tidak punya bukti fisik, hanya bermodal omongan asistennya.Melihat bos besarnya mulai diserang secara terang terangan, Satria tidak bisa tinggal diam lagi. Preman jalanan itu langsung berdiri dari kursinya. Badannya yan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 53

    Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Satria Idaman Wanita   BAB 37

    Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Satria Idaman Wanita   BAB 34

    Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satria Idaman Wanita   BAB 33

    Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status