Share

BAB 59

last update publish date: 2026-03-07 21:24:54

Satria mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih lengket. Dia menguap lebar, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan secara kasar. Punggung dan lehernya terasa sangat pegal karena tidur di kursi kecil semalaman suntuk.

Mendengar tuduhan bosnya, Satria malah tersenyum tipis. Wajah panik dan salah tingkah Vera pagi ini benar-benar hiburan yang luar biasa buatnya.

"Ya ampun, Non. Bangun tidur kok langsung fitnah asistennya sendiri," jawab Satria santai sambil merenggangkan otot bahunya sampai ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 117

    Lima belas menit berlalu, tapi bagi Satria rasanya seperti lima belas tahun. Matanya terpejam sangat rapat, tapi otaknya malah berputar seratus kilometer per jam. Bagaimana mau tidur nyenyak kalau di sebelahnya ada perempuan cantik yang aroma vanillanya terus menerus menyiksa hidung?Satria mencoba mengatur napasnya sepelan mungkin supaya kelihatan sudah tidur pulas. Dada bidangnya naik turun dengan ritme yang sengaja dibuat sangat teratur. Tapi dia lupa satu hal penting. Dinda itu bukan anak kemarin sore yang gampang dibohongi pakai trik receh.Dinda yang masih berbaring miring menatap wajah Satria dengan senyum tertahan. Dia bisa melihat jelas kelopak mata Satria yang sedikit berkedut kedut menahan gugup. Belum lagi rahang pemuda itu yang sesekali mengeras."Sok sokan pules lu, Sat," batin Dinda geli. "Napas lu aja masih kaku gitu."Dinda memutuskan kalau godaannya siang ini harus dituntaskan sampai level maksimal. Tanpa aba aba sama sekali, Dinda langsung memajukan tubuhnya.Hap!K

  • Satria Idaman Wanita   BAB 116

    Dinda sama sekali tidak peduli dengan wajah Satria yang memerah panik. Perempuan cantik itu malah bergeser sedikit ke arah tembok, merapatkan tubuhnya untuk menyisakan ruang kosong di kasur. Ruang itu jelas cuma pas pasan buat badan Satria yang kekar dan besar.Tangan Dinda mulai menepuk nepuk bantal kosong di sebelahnya dengan ritme pelan tapi sangat menuntut."Sini buruan," panggil Dinda santai. "Gak usah banyak mikir. Lu dari semalam pasti belum tidur benar kan? Muka lu udah kusut banget kayak kanebo kering. Rebahan sini sebelah gue."Satria masih berdiri kaku memeluk handuknya. Dia menatap kasur itu seperti menatap jurang maut."Din, lu beneran gak waras ya. Gue ini cowok normal lho," protes Satria dengan suara yang agak serak. "Kasur lu kecil banget ukurannya. Entar kalau gue ketiduran terus gak sengaja meluk lu gimana? Gue kalau tidur kadang suka sembarangan geraknya."Mendengar alasan Satria yang setengah panik itu, Dinda malah makin tersenyum usil. Matanya mengerling jahil."P

  • Satria Idaman Wanita   BAB 115

    Di dalam kamar mandi yang ukurannya cuma sepetak itu, Satria menyandarkan punggungnya ke pintu. Dia membuang napas panjang. Udara di dalam kamar mandi ini ternyata sama saja, dipenuhi wangi sabun stroberi dan sampo bunga yang biasa dipakai Dinda.Satria menatap handuk biru muda di tangannya. Entah kenapa, ucapan jahil Dinda tadi malah terus terngiang ngiang di kepalanya, bikin otaknya traveling ke mana mana. Satria buru buru menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk mengusir pikiran kotor yang mulai datang gara gara cewek usil di luar sana."Astaga naga. Bisa gila gue lama lama kalau begini ceritanya," gumam Satria sendirian sambil menyalakan keran air shower buat mendinginkan kepala dan badannya yang mulai kepanasan.Sementara itu di luar, Dinda kembali duduk di atas kasurnya. Dia mendengarkan suara gemericik air dari dalam kamar mandi sambil senyum senyum sendiri. Rencananya buat bikin preman kaku itu salah tingkah berjalan sangat sukses siang ini.Suara gemericik air dari dalam kam

  • Satria Idaman Wanita   BAB 114

    Mendengar ketakutan konyol dari laki-laki yang punya reputasi mengerikan di dunia bawah tanah itu, tawa Dinda langsung meledak seketika."Hahaha! Buset dah, Satria!" Dinda tertawa lepas sampai harus memegangi perutnya. Dia ikut duduk bersila di atas karpet, berhadapan tepat dengan Satria."Muka lu doang yang sangar berani ngelawan komplotan Bang Jago, giliran sama Pak RT malah ciut sampai keringat dingin begitu," ledek Dinda di sela-sela tawanya. Wajah perempuan itu terlihat sangat ceria, berhasil melupakan sejenak beban pekerjaan di kantornya.Dinda mencondongkan badannya sedikit ke depan, menatap wajah panik Satria dengan senyum manis yang sangat tulus."Lu tenang aja, Satria. Kosan ini emang campur, tapi khusus lantai satu ini rata-rata penghuninya kerja shift malam, jadi siang gini pada tidur semua. Ibu kos gue juga lagi pulang kampung ke Jawa," jelas Dinda menenangkan. "Selama kita gak setel musik keras-keras atau bikin keributan, gak bakal ada yang peduli. Lagian lu kan tamu gue

  • Satria Idaman Wanita   BAB 113

    Satria tertawa kecil. "Ya lihat nanti aja. Gampang nyari kosan mah. Jakarta luas."Mendengar jawaban Satria yang terlalu menyepelekan nasib, Dinda langsung mengambil keputusan cepat. Tangannya meraih lengan Satria dengan erat."Gak usah sok kuat nyari kosan siang siang panas begini," ucap Dinda tegas. Nada suaranya tidak menerima penolakan sama sekali. "Lu ikut gue sekarang. Malam ini lu tidur di kosan gue aja."Satria sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar ajakan frontal itu. Dia menatap Dinda dengan dahi berkerut tajam."Buset, lu sehat, Din? Masa gue tidur di kosan cewek. Ntar digerebek warga gimana ceritanya. Lagian kamar lu kan sempit," tolak Satria panik."Bawel lu ah," potong Dinda cepat. "Ibu kos gue orangnya santai kok, yang penting pintu jangan dikunci rapat terus gak berisik. Lagian teman lu ini lagi nawarin bantuan, masa lu tolak mentah mentah. Anggap aja gue balas budi karena lu sering nolongin gue dulu. Ayo bawa tas lu sekarang."Dinda langsung berdiri dan menarik ra

  • Satria Idaman Wanita   BAB 112

    Satria memacu motor bebeknya membelah panasnya jalanan Jakarta. Kepalanya masih terasa sangat penuh. Tamparan Nona Vera tadi lumayan terasa panas di pipi kirinya. Tapi yang paling bikin dia muak adalah tuduhan soal memeras harta. Gengsi jalanannya benar benar terluka dan tidak bisa menerima hal itu.Sekitar setengah jam berkendara tanpa tujuan, Satria akhirnya menepi di sebuah warung kopi pinggir jalan yang letaknya lumayan tersembunyi dekat area pasar. Warung kopi Mak Ijah. Tempat ini dulunya sering jadi posko tempat Satria nongkrong bareng teman teman premannya sebelum dia ditarik kerja sama Nona Vera."Kopi hitam satu, Mak. Gula sedikit aja," pesan Satria sambil meletakkan ransel bututnya di bangku kayu panjang.Mak Ijah yang lagi mengaduk panci mi instan menoleh. Wajah keriputnya langsung sumringah melihat pelanggan lamanya datang. Tapi matanya yang jeli langsung menyadari pipi Satria yang sedikit memerah dan tas ransel besar di sebelahnya."Tumben siang siang ke mari bawa tas ged

  • Satria Idaman Wanita   BAB 11

    Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 10

    Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsletin

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Satria Idaman Wanita   BAB 7

    Tanpa membuang waktu, Kiki meletakkan bantal sofa itu di pangkuanSatria, menutupi tenda yang sedang berdiri tegak itu dengan sempurna daripandangan Vera dan Laras."Nih, pakai bantal biar anget ya, Kak," ucap Kiki manis.Namun, di balik bantal itu, terjadi sesuatu yang membuat Satria nyaristerlo

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Satria Idaman Wanita   BAB 8

    "Ehem," deham Kiki keras. "Sudah, dong, dramanya. Lihat,tuh, es batunya sampai mencair gara-gara suasananya panas banget."Laras tersentak kaget. Dia buru-buru melepaskan tangan Satria danmenegakkan duduknya di kursi roda. Wajahnya merah padam karena malu ketahuanbermanja-manja di depan adiknya.

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status