MasukSinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik setelan jas mahalnya, terdapat sebuah rahasia kecil yang tergantung di lehernya, sebuah liontin batu giok berwarna hijau pekat dengan tali hitam sederhana.
Ketukan pintu memecah keheningan. "Masuk," ujar Aizar tanpa menoleh.
Satrio, seorang mahasiswa magang jurusan IT berusia 24 tahun itu, melangkah masuk dengan ragu. Penampilannya sangat bersahaja, kemeja flanel yang rapi namun murah, kacamata berbingkai tipis, dan sikap yang sangat sopan. Satrio adalah tipikal pemuda yang jujur dan tekun yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar monitor dan tidak terlihat oleh lawan jenis di kantor ini.
"Bapak memanggil saya?" tanya Satrio sedikit membungkuk.
Aizar berbalik, menatap Satrio dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia telah memutuskan untuk mengakhiri petualangan cintanya karena baru saja melamar Furi, wanita yang benar-benar ia cintai.
Ia ingin memulai lembaran baru yang bersih, namun ia tidak ingin kekuatan liontin itu musnah begitu saja. Ia butuh pewaris, dan Satrio dengan segala kepolosan dan kejujurannya adalah kandidat yang sempurna.
"Satrio, kemarilah," panggil Aizar. "Kamu sudah magang di sini selama tiga bulan, saya suka kerja kerasmu dan saya melihat potensi besar dalam dirimu.” Ia melepaskan kalung hitam itu dari lehernya. “Saya ingin memberikan ini padamu, anggap ini sebagai jimat keberuntungan untuk kariermu ke depan dan kehidupan pribadimu lebih berwarna. Pakailah, dan jangan pernah tunjukkan pada siapa pun di bawah pakaianmu."
Satrio tertegun saat menerima batu giok yang terasa dingin namun memberikan sensasi aneh saat menyentuh kulitnya. Tanpa membantah, ia mengalungkan benda itu di lehernya, tepat di bawah kemeja kantornya yang rapi.
Malam harinya, Satrio memberanikan diri mengajak Selina, staf baru di kantor Shine Group yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari jauh, untuk makan malam. Selina adalah wanita yang elegan dan sempat memiliki hubungan gelap dengan Aizar di masa lalu, sebuah hubungan yang didasari oleh pengaruh mistis liontin yang sama.
Satrio memilih Cafe Danau sebagai tujuan. Cafe itu terletak searah dengan jalan pulang ke rumah Selina, di pinggiran danau buatan dengan pemandangan lampu-lampu kota yang memantul di permukaan air. Tempat itu memang melegenda sebagai lokasi favorit untuk pasangan yang sedang jatuh cinta.
Saat mereka turun dari mobil, sebuah perubahan drastis terjadi pada sikap Selina. Wanita yang biasanya bersikap formal dan sedikit menjaga jarak itu tiba-tiba merapatkan tubuhnya, menggandeng lengan Satrio dengan mesra saat mereka berjalan masuk ke dalam cafe.
“Tidak salah lagi, liontin pemikat yang aku pakai sedang menebarkan kekuatan mistisnya pada Selina!” pikir Satrio dalam hati. Debaran jantungnya kian kencang, namun ia berusaha tetap tenang meski hasratnya mulai menggebu-gebu.
Malam kian larut, dan suasana cafe kian sepi, menyisakan mereka di sebuah meja kayu persis di pinggir danau. Cahaya lampu aneka warna menciptakan atmosfer yang sangat intim. Selina menatap Satrio dengan pandangan yang dalam, seolah sedang menembus raga pemuda itu.
Dalam benak Selina, memori tentang Aizar mendadak muncul. Ia merasakan getaran yang identik, sebuah aura gairah yang kuat yang dulu pernah membuatnya bertekuk lutut di hadapan sang Presdir.
“Mengapa aku seperti melihat gairah diri Pak Aizar dalam diri Satrio? Iya…, tatapannya dan tarikan napasnya, sama seperti yang aku lihat pada diri Pak Aizar. Iya… aku bisa merasakan gairahnya begitu kuat…” batin Selina. Ia tidak mampu lagi membendung hasratnya. Tangan Selina mulai merayap di atas meja, mencari jemari Satrio, sementara matanya tak lepas dari sosok pemuda yang kini terlihat jauh lebih menarik dari biasanya di matanya.
"Rio... antar aku pulang sekarang, ya?"
Satrio mengangguk kaku. Mereka berjalan menuju parkiran, di mana sebuah mobil kantor, sedan hitam yang dipinjamkan Pak Aizar khusus untuk operasional Satrio malam itu terparkir rapi. Selina tidak melepaskan dekapannya pada lengan Satrio, seolah takut pemuda itu akan menghilang jika ia lepaskan sedetik saja.
Di dalam mobil, aroma parfum Selina bercampur dengan aura panas dari batu giok di leher Satrio, menciptakan atmosfer yang menyesakkan napas. Satrio memacu kendaraan menuju rumah kontrakan Selina yang terletak di area perumahan yang cukup tenang. Sepanjang jalan, tangan Selina tidak bisa diam; ia sesekali mengusap bahu Satrio, membuat konsentrasi pemuda itu buyar.
Sesampainya di depan pagar kontrakan, Selina tidak langsung turun. Ia menatap Satrio dengan senyum penuh arti.
"Mampirlah sebentar, Rio. Haus, kan? Di dalam ada minuman dingin," ajak Selina dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Satrio menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. "Tapi Kak... ini sudah hampir tengah malam."
"Sebentar saja," potong Selina sambil menarik tangan Satrio masuk ke dalam rumah.
Di dalam kamar kontrakan yang harum aromaterapi itu, Selina mulai melepaskan outer-nya, menyisakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Ia mendekat, memojokkan Satrio ke arah dinding.
"Kamu tegang banget, Rio. Kamu... belum pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya Selina sambil mengusap dada Satrio, tepat di atas posisi liontin itu berada.
Satrio menunduk, wajahnya memerah padam. Dengan suara gemetar, ia mengaku, "Belum, Kak. Sejujurnya... saya belum pernah berhubungan dengan wanita mana pun. Saya masih... perjaka."
Mendengar pengakuan itu, mata Selina berbinar nakal. Ada kepuasan tersendiri yang muncul di benaknya. Jika dulu ia hanya menjadi salah satu penaklukan Pak Aizar, kini ia yang memegang kendali. Merenggut kesucian seorang pemuda lugu yang memiliki gairah sebesar Aizar adalah tantangan yang membakar semangatnya.
"Oh, jadi ini yang pertama buatmu?" bisik Selina, jemarinya kini mulai membuka satu per kancing kemeja Satrio. "Jangan takut... Kakak akan mengajarimu semuanya malam ini."
Satrio hanya bisa terdiam, membiarkan hasrat yang dipicu oleh kekuatan mistis di lehernya mengambil alih akal sehatnya sepenuhnya. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Satrio benar-benar kehilangan jati dirinya yang lama.
Saat sampai di lobi lantai 5, Rio berpapasan dengan Maya (staf keuangan) yang sedari tadi mondar-mandir seperti macan lapar. Begitu melihat Satrio keluar sendirian, Maya langsung menyergapnya."Rio! Kamu ke mana saja? Aku cari di pantry nggak ada, di ruang IT nggak ada. Mbak Adirah juga mukanya ditekuk pas lewat tadi," cerocos Maya sambil kembali memegang lengan Satrio, aroma mawar dari tubuh Satrio kembali membuatnya hampir kehilangan kendali."Baru saja dari arsip, Mbak. Ada urusan teknis," jawab Satrio singkat.Maya mendekatkan wajahnya ke dada Satrio, menghirup aroma yang sangat ia sukai itu. "Lupakan soal arsip. Ikut aku ke ruang rapat kecil di lantai ini, lampunya mati dan aku takut masuk sendirian buat ambil berkas audit. Temani aku ya?"Satrio menatap mata Maya. Kali ini, ia merasa Maya jauh lebih menarik daripada Bu Mayang atau Adirah yang terlalu menuntut. Namun, ia juga ingat janji "laporan" di pantry atas bersama Adirah.Satrio menatap mata Maya yang berbinar penuh harap.
Pintu ruang arsip yang berat itu berderit tertutup, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara rak-rak besi tinggi yang penuh dengan map tua. Adirah tidak menuju meja pencarian dokumen. Dengan langkah yang terburu-buru dan napas yang mulai tak beraturan, ia justru menarik lengan Satrio menuju pojok ruangan yang paling gelap dan tersembunyi."Mbak... dokumennya di sebelah mana?" tanya Satrio dengan suara jantannya yang tenang, namun penuh godaan.Adirah tidak menjawab. Ia memojokkan Satrio ke dinding rak, lalu jemarinya yang lentik mulai gemetar menyentuh wajah Satrio. Ia mengusap rahang Satrio yang kini tampak begitu tegas, lalu turun ke leher di mana jakun Satrio tampak menonjol dan naik-turun saat pemuda itu menelan ludah. Mata Adirah seolah terkunci pada bibir Satrio yang tipis, merah merona, dan tampak sangat menggoda akibat sisa energi Putih semalam."Lupakan dokumennya, Rio... aku nggak tahan liat kamu kayak gini," bisik Adirah serak. Ia berjinjit, wajahnya hanya berjara
Satrio melangkah keluar dari ruangan Pak Aizar dengan wibawa yang sulit dijelaskan. Langkah kakinya terdengar mantap di lorong lantai eksekutif, menuju area pantry untuk sekadar membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah mendengar rahasia besar dari Sang Presdir.Begitu pintu pantry yang terbuat dari kaca buram itu ia dorong, suasana yang tadinya bising oleh suara tawa dan denting sendok mendadak senyap seketika.Di sana ada Selina, yang sedang menyeduh teh bersama tiga staf wanita lainnya dari bagian administrasi dan marketing. Begitu Satrio masuk tanpa bingkai kacamata yang biasanya menutupi wajahnya, semua mata tertuju padanya seolah terhipnotis."Rio?" gumam Selina lirih. Gelas teh di tangannya hampir saja terlepas.Tanpa kacamata, mata Satrio tampak begitu dalam, tajam, namun memiliki binar yang sangat memikat, efek dari penyatuan energinya dengan Putih semalam. Rahangnya yang tegas dan kulitnya yang terlihat lebih bersih membuat staf wanita lainnya saling berbisik denga
Di kantor Shine, Satrio melangkah masuk ke ruangan Pak Aizar dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut soal pekerjaan, tapi karena rahasia besar yang ia simpan sejak terbangun pagi tadi.Pak Aizar sedang menyesap kopi hitamnya saat Satrio duduk di hadapannya. Sang Presdir menurunkan cangkirnya, lalu menatap Satrio tajam. Alisnya terangkat saat melihat Satrio tidak lagi mengenakan kacamata."Wah, ada yang beda hari ini. Makin tajam saja penglihatanmu, Rio," puji Aizar sambil tersenyum simpul. "Gimana kemarin di rumah? Debby bilang komputernya sudah beres. Dia sepertinya senang sekali kamu datang."Satrio mengangguk sopan. "Sudah lancar, Pak. Cuma masalah debu di hardware-nya saja."Suasana mendadak hening sejenak. Satrio meremas jemarinya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal yang mengusik jiwanya. Dengan suara yang sedikit bergetar dan nada yang dijaga agar tetap rendah, ia akhirnya bertanya."Pak... boleh saya tanya sesuatu yang prib
Satrio tersentak bangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja berlari maraton dalam tidurnya. Ia segera terduduk di tepi ranjang, matanya menyapu setiap sudut kamar kosnya yang sempit. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan dengungan kipas angin tua.Namun, indra penciumannya tidak bisa berbohong. Kamar itu masih dipenuhi aroma bunga mawar yang sangat pekat, harum yang begitu melenakan dan tidak mungkin berasal dari pewangi ruangan murah miliknya. Satrio mencari-cari sosok Putih, wanita dari negeri di atas awan itu, namun ia telah lenyap tanpa jejak."Putih?" bisiknya pelan, suaranya masih serak.Tidak ada jawaban. Satrio kemudian menunduk dan tertegun. Di balik celana yang ia kenakan, ia merasakan sensasi lembap yang nyata. Saat ia memeriksa, bagian bawahnya sudah basah kuyup oleh sisa-sari pati tubuhnya yang tumpah dalam pergulatan panas tadi. Rasa nikmat yang luar biasa itu masih membekas di saraf-sarafnya, terasa terlalu nyata untuk sekadar dise
Malam itu, kamar kos Satrio terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Setelah kepuasan batin menaklukkan hati Debby, Satrio tertidur lelap tanpa gangguan dari Tante Inet yang untungnya sudah masuk ke rumahnya lebih awal. Namun, tepat pada pukul dua dini hari, suasana kamar yang pengap itu mendadak berubah secara mistis. Aroma bunga mawar yang sangat segar dan harum semerbak memenuhi setiap sudut ruangan, mengalahkan bau apek kamar kos pria pada umumnya.Dalam keadaan setengah sadar, Satrio membuka matanya. Di ujung ranjangnya, berdiri sesosok wanita yang kecantikannya mustahil ada di dunia nyata. Kulitnya seputih pualam dan memancarkan cahaya redup, rambutnya panjang terurai hingga ke pinggang, dan ia mengenakan kain sutra tipis yang seolah melayang ditiup angin gaib. Dialah Putih, sang penjaga liontin dari Negeri di Atas Awan."Satrio..." bisik Putih. Suaranya terdengar merdu seperti denting kecapi, langsung menggetarkan liontin giok di dada Satrio hingga batu itu berpendar hijau teran