共有

 Bab 2

last update 公開日: 2026-05-07 22:16:22

Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik setelan jas mahalnya, terdapat sebuah rahasia kecil yang tergantung di lehernya, sebuah liontin batu giok berwarna hijau pekat dengan tali hitam sederhana.

Ketukan pintu memecah keheningan. "Masuk," ujar Aizar tanpa menoleh.

Satrio, seorang mahasiswa magang jurusan IT berusia 24 tahun itu, melangkah masuk dengan ragu. Penampilannya sangat bersahaja, kemeja flanel yang rapi namun murah, kacamata berbingkai tipis, dan sikap yang sangat sopan. Satrio adalah tipikal pemuda yang jujur dan tekun yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar monitor dan tidak terlihat oleh lawan jenis di kantor ini.

"Bapak memanggil saya?" tanya Satrio sedikit membungkuk.

Aizar berbalik, menatap Satrio dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia telah memutuskan untuk mengakhiri petualangan cintanya karena baru saja melamar Furi, wanita yang benar-benar ia cintai. 

Ia ingin memulai lembaran baru yang bersih, namun ia tidak ingin kekuatan liontin itu musnah begitu saja. Ia butuh pewaris, dan Satrio dengan segala kepolosan dan kejujurannya adalah kandidat yang sempurna.

"Satrio, kemarilah," panggil Aizar. "Kamu sudah magang di sini selama tiga bulan, saya suka kerja kerasmu dan saya  melihat potensi besar dalam dirimu.” Ia melepaskan kalung hitam itu dari lehernya. “Saya ingin memberikan ini padamu, anggap ini sebagai jimat keberuntungan untuk kariermu ke depan dan kehidupan pribadimu lebih berwarna. Pakailah, dan jangan pernah tunjukkan pada siapa pun di bawah pakaianmu."

Satrio tertegun saat menerima batu giok yang terasa dingin namun memberikan sensasi aneh saat menyentuh kulitnya. Tanpa membantah, ia mengalungkan benda itu di lehernya, tepat di bawah kemeja kantornya yang rapi.

Malam harinya, Satrio memberanikan diri mengajak Selina, staf baru di kantor Shine Group yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari jauh, untuk makan malam. Selina adalah wanita yang elegan dan sempat memiliki hubungan gelap dengan Aizar di masa lalu,  sebuah hubungan yang didasari oleh pengaruh mistis liontin yang sama.

Satrio memilih Cafe Danau sebagai tujuan. Cafe itu terletak searah dengan jalan pulang ke rumah Selina, di pinggiran danau buatan dengan pemandangan lampu-lampu kota yang memantul di permukaan air. Tempat itu memang melegenda sebagai lokasi favorit untuk pasangan yang sedang jatuh cinta.

Saat mereka turun dari mobil, sebuah perubahan drastis terjadi pada sikap Selina. Wanita yang biasanya bersikap formal dan sedikit menjaga jarak itu tiba-tiba merapatkan tubuhnya, menggandeng lengan Satrio dengan mesra saat mereka berjalan masuk ke dalam cafe.

“Tidak salah lagi, liontin pemikat yang aku pakai sedang menebarkan kekuatan mistisnya pada Selina!” pikir Satrio dalam hati. Debaran jantungnya kian kencang, namun ia berusaha tetap tenang meski hasratnya mulai menggebu-gebu.

Malam kian larut, dan suasana cafe kian sepi, menyisakan mereka di sebuah meja kayu persis di pinggir danau. Cahaya lampu aneka warna menciptakan atmosfer yang sangat intim. Selina menatap Satrio dengan pandangan yang dalam, seolah sedang menembus raga pemuda itu.

Dalam benak Selina, memori tentang Aizar mendadak muncul. Ia merasakan getaran yang identik, sebuah aura gairah yang kuat yang dulu pernah membuatnya bertekuk lutut di hadapan sang Presdir.

“Mengapa aku seperti melihat gairah diri Pak Aizar dalam diri Satrio? Iya…, tatapannya dan tarikan napasnya, sama seperti yang aku lihat pada diri Pak Aizar. Iya… aku bisa merasakan gairahnya begitu kuat…” batin Selina. Ia tidak mampu lagi membendung hasratnya. Tangan Selina mulai merayap di atas meja, mencari jemari Satrio, sementara matanya tak lepas dari sosok pemuda yang kini terlihat jauh lebih menarik dari biasanya di matanya.

"Rio... antar aku pulang sekarang, ya?"

Satrio mengangguk kaku. Mereka berjalan menuju parkiran, di mana sebuah mobil kantor, sedan hitam yang dipinjamkan Pak Aizar khusus untuk operasional Satrio malam itu terparkir rapi. Selina tidak melepaskan dekapannya pada lengan Satrio, seolah takut pemuda itu akan menghilang jika ia lepaskan sedetik saja.

Di dalam mobil, aroma parfum Selina bercampur dengan aura panas dari batu giok di leher Satrio, menciptakan atmosfer yang menyesakkan napas. Satrio memacu kendaraan menuju rumah kontrakan Selina yang terletak di area perumahan yang cukup tenang. Sepanjang jalan, tangan Selina tidak bisa diam; ia sesekali mengusap bahu Satrio, membuat konsentrasi pemuda itu buyar.

Sesampainya di depan pagar kontrakan, Selina tidak langsung turun. Ia menatap Satrio dengan senyum penuh arti.

"Mampirlah sebentar, Rio. Haus, kan? Di dalam ada minuman dingin," ajak Selina dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Satrio menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. "Tapi Kak... ini sudah hampir tengah malam."

"Sebentar saja," potong Selina sambil menarik tangan Satrio masuk ke dalam rumah.

Di dalam kamar kontrakan yang harum aromaterapi itu, Selina mulai melepaskan outer-nya, menyisakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Ia mendekat, memojokkan Satrio ke arah dinding.

"Kamu tegang banget, Rio. Kamu... belum pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya Selina sambil mengusap dada Satrio, tepat di atas posisi liontin itu berada.

Satrio menunduk, wajahnya memerah padam. Dengan suara gemetar, ia mengaku, "Belum, Kak. Sejujurnya... saya belum pernah berhubungan dengan wanita mana pun. Saya masih... perjaka."

Mendengar pengakuan itu, mata Selina berbinar nakal. Ada kepuasan tersendiri yang muncul di benaknya. Jika dulu ia hanya menjadi salah satu penaklukan Pak Aizar, kini ia yang memegang kendali. Merenggut kesucian seorang pemuda lugu yang memiliki gairah sebesar Aizar adalah tantangan yang membakar semangatnya.

"Oh, jadi ini yang pertama buatmu?" bisik Selina, jemarinya kini mulai membuka satu per kancing kemeja Satrio. "Jangan takut... Kakak akan mengajarimu semuanya malam ini."

Satrio hanya bisa terdiam, membiarkan hasrat yang dipicu oleh kekuatan mistis di lehernya mengambil alih akal sehatnya sepenuhnya. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Satrio benar-benar kehilangan jati dirinya yang lama.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 130.

    Hati Sisilia terasa sangat panas terbakar api cemburu yang teramat sangat. Pengaruh mistis liontin giok telah merusak seluruh akal sehatnya, memicu obsesi gila yang tidak bisa ia kendalikan lagi. Ia menatap tajam ke arah kerumunan wanita yang mengelilingi Satrio dengan pandangan penuh kebencian.Sisilia melirik suaminya, Darma, yang masih sibuk tertawa bersama kerabatnya yang lain di atas pelaminan untuk persiapan foto. Waktunya sangat sempit. Sebelum sesi foto keluarga selesai dan sebelum Debby kembali ke sisi Satrio, Sisilia harus bergerak.Jemari Sisilia meremas tas tangan kecilnya dengan kuat. Pikirannya berputar hebat, menyusun taktik kilat. "Aku tidak peduli dengan apa pun lagi," bisik Sisilia di dalam hatinya dengan napas yang memburu. "Aku harus memisahkan Satrio dari wanita-wanita murahan itu. Aku harus membuat Satrio bersamaku dan memuji kecantikanku malam ini. Walaupun hanya untuk satu menit di pesta ini, aku harus mendapatkannya!"Dengan tekad yang sudah bulat dan mata yan

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 129

    Ketegangan yang tak kasat mata kini mulai merayap di sela-sela denting gelas kristal dan obrolan formal para tamu VIP. Satrio, yang masih berjalan dengan langkah tegap di samping Debby, dapat merasakan puluhan pasang mata wanita sedang menguliti punggungnya. Pusaran asmara yang diciptakan oleh kekuatan mistis liontin giok di dadanya benar-benar telah membuat atmosfer ballroom mewah itu menjadi medan pertempuran emosi yang sunyi namun membara.Di sudut lain area VIP, tepat di barisan meja bundar khusus keluarga besar Prambudi, sosok Sisilia duduk dengan tubuh yang kaku. Wanita sosialita bertubuh sintal itu mengenakan dress malam terbaiknya malam ini—sebuah gaun mahakarya desainer papan atas berwarna hitam legam dengan taburan payet berkilau yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna. Potongan leher gaunnya yang rendah sengaja dirancang untuk memamerkan kulit leher dan dadanya yang seputih pualam, sebuah penampilan yang sudah ia persiapkan sejak jauh-jauh hari khusus demi memika

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 128

    Satrio mengulas senyuman yang sangat hangat dan teduh, senyuman palsu yang dikemas dengan begitu rapi hingga tampak seperti ketulusan yang nyata. Ia mengulurkan kedua tangan kokohnya, menangkup kedua pipi lembut Debby dengan gerakan yang sangat protektif, lalu menghapus sisa air mata yang sempat menetes di pipi mulus gadis itu menggunakan ibu jarinya."Debby, dengarkan aku," ucap Satrio dengan suara rendah, berat, dan tenang yang seketika memberikan efek menenangkan pada jiwa Debby yang sedang bergejolak. "Aku sangat menghargai dan memahami setiap jengkal perasaanmu. Kamu adalah wanita yang sangat luar biasa dan berharga bagi jas yang kupakai malam ini."Debby menahan napas, matanya berbinar penuh harap menanti kalimat selanjutnya."Pesta malam ini adalah malam milik Kak Aizar dan Mbak Furi, kita tidak boleh mencuri panggung kebahagiaan mereka dengan pengumuman hubungan kita sekarang," lanjut Satrio dengan alasan yang sangat masuk akal, menolak secara halus tanpa sedikit pun menyakiti

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 127

    Kemegahan Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton malam itu benar-benar merepresentasikan kelas sosial tertinggi di ibu kota. Ribuan lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula besar memancarkan cahaya keemasan yang berkilau, memantul sempurna pada gaun-gaun malam mewah dan setelan tuksedo para tamu undangan. Alunan musik orkestra simfoni mengalun lambat, memenuhi setiap sudut ruangan dengan atmosfer yang sangat elegan dan berkelas.Satrio berdiri di dekat pilar marmer besar di area VIP, memegang sebuah gelas berkilau berisi minuman soda dingin. Penampilannya malam ini benar-benar mencuri perhatian banyak orang. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam pekat yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu yang rapi. Pakaian itu adalah setelan jas mewah yang dikirimkan oleh Debby secara khusus ke unit apartemennya beberapa hari lalu.Sebagai eksekutif muda yang baru saja menerima bonus saham fantastis setelah meruntuhkan Trust Corp, Satr

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 126

    "Satrio, tunggu sebentar. Ini jalan ke arah mana lagi? Kenapa kita malah berbelok ke arah deretan gedung tinggi?" tanya Ningrum, suaranya dipenuhi keheranan yang amat sangat saat sedan mewah inventaris kantor itu melambat di sebuah persimpangan besar.Sepasang mata bulat milik gadis desa itu menatap bingung ke luar jendela. Hari sudah benar-benar gelap, dan lampu-lampu jalanan ibu kota telah menyala benderang. Jalur yang mereka lewati saat ini dipenuhi oleh jajaran gedung pencakar langit yang megah, sangat bertolak belakang dengan jalanan sempit berdebu menuju area pemukiman padat tempat kontrakan sederhananya berada.Satrio memutar kemudi dengan santai, mengarahkan moncong mobilnya memasuki lobi sebuah gedung apartemen menara kembar yang sangat eksklusif. "Kita tidak langsung pulang ke kontrakannmu, Ning. Aku ingin membawamu mampir sebentar ke tempat tinggalku saat ini," jawab Satrio tenang sembari menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk lobi yang dijaga oleh beberapa petugas k

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 125

    Matahari sore meredup, menyisakan semburat warna jingga yang memantul di kaca depan sebuah mobil sedan mewah. Di depan gerbang sebuah pabrik tekstil yang padat, ratusan buruh mulai berhamburan keluar setelah bel tanda berakhirnya jam kerja berbunyi nyaring. Di antara kerumunan pekerja yang tampak lelah, sosok Ningrum berjalan perlahan dengan tas kain sederhana di pundaknya. Satrio yang sejak tadi menunggu segera mengarahkan kendaraannya mendekat, lalu menurunkan kaca mobil sembari memberikan isyarat agar gadis desa itu segera masuk. Kehadiran mobil mewah di depan pabrik tersebut seketika mencuri perhatian puluhan mata memandang, membuat beberapa rekan kerja Ningrum berbisik penuh rasa ingin tahu dan kagum.Ningrum bergegas membuka pintu dan duduk di samping Satrio, wajahnya tampak sedikit memerah karena merasa menjadi pusat perhatian. "Maaf ya, Satrio, kalau membuatmu menunggu lama. Tadi antrean absen pulangnya agak panjang," ucap Ningrum sembari merapikan anak rambutnya yang sediki

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 3

    Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 1

    Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 5

    Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 4

    Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status