Share

Bab 15

last update publish date: 2026-05-14 19:40:40

Di kantor Shine, Satrio melangkah masuk ke ruangan Pak Aizar dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut soal pekerjaan, tapi karena rahasia besar yang ia simpan sejak terbangun pagi tadi.

Pak Aizar sedang menyesap kopi hitamnya saat Satrio duduk di hadapannya. Sang Presdir menurunkan cangkirnya, lalu menatap Satrio tajam. Alisnya terangkat saat melihat Satrio tidak lagi mengenakan kacamata.

"Wah, ada yang beda hari ini. Makin tajam saja penglihatanmu, Rio," puj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 18

    Saat sampai di lobi lantai 5, Rio berpapasan dengan Maya (staf keuangan) yang sedari tadi mondar-mandir seperti macan lapar. Begitu melihat Satrio keluar sendirian, Maya langsung menyergapnya."Rio! Kamu ke mana saja? Aku cari di pantry nggak ada, di ruang IT nggak ada. Mbak Adirah juga mukanya ditekuk pas lewat tadi," cerocos Maya sambil kembali memegang lengan Satrio, aroma mawar dari tubuh Satrio kembali membuatnya hampir kehilangan kendali."Baru saja dari arsip, Mbak. Ada urusan teknis," jawab Satrio singkat.Maya mendekatkan wajahnya ke dada Satrio, menghirup aroma yang sangat ia sukai itu. "Lupakan soal arsip. Ikut aku ke ruang rapat kecil di lantai ini, lampunya mati dan aku takut masuk sendirian buat ambil berkas audit. Temani aku ya?"Satrio menatap mata Maya. Kali ini, ia merasa Maya jauh lebih menarik daripada Bu Mayang atau Adirah yang terlalu menuntut. Namun, ia juga ingat janji "laporan" di pantry atas bersama Adirah.Satrio menatap mata Maya yang berbinar penuh harap.

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 17

    Pintu ruang arsip yang berat itu berderit tertutup, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara rak-rak besi tinggi yang penuh dengan map tua. Adirah tidak menuju meja pencarian dokumen. Dengan langkah yang terburu-buru dan napas yang mulai tak beraturan, ia justru menarik lengan Satrio menuju pojok ruangan yang paling gelap dan tersembunyi."Mbak... dokumennya di sebelah mana?" tanya Satrio dengan suara jantannya yang tenang, namun penuh godaan.Adirah tidak menjawab. Ia memojokkan Satrio ke dinding rak, lalu jemarinya yang lentik mulai gemetar menyentuh wajah Satrio. Ia mengusap rahang Satrio yang kini tampak begitu tegas, lalu turun ke leher di mana jakun Satrio tampak menonjol dan naik-turun saat pemuda itu menelan ludah. Mata Adirah seolah terkunci pada bibir Satrio yang tipis, merah merona, dan tampak sangat menggoda akibat sisa energi Putih semalam."Lupakan dokumennya, Rio... aku nggak tahan liat kamu kayak gini," bisik Adirah serak. Ia berjinjit, wajahnya hanya berjara

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 16

    Satrio melangkah keluar dari ruangan Pak Aizar dengan wibawa yang sulit dijelaskan. Langkah kakinya terdengar mantap di lorong lantai eksekutif, menuju area pantry untuk sekadar membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah mendengar rahasia besar dari Sang Presdir.Begitu pintu pantry yang terbuat dari kaca buram itu ia dorong, suasana yang tadinya bising oleh suara tawa dan denting sendok mendadak senyap seketika.Di sana ada Selina, yang sedang menyeduh teh bersama tiga staf wanita lainnya dari bagian administrasi dan marketing. Begitu Satrio masuk tanpa bingkai kacamata yang biasanya menutupi wajahnya, semua mata tertuju padanya seolah terhipnotis."Rio?" gumam Selina lirih. Gelas teh di tangannya hampir saja terlepas.Tanpa kacamata, mata Satrio tampak begitu dalam, tajam, namun memiliki binar yang sangat memikat, efek dari penyatuan energinya dengan Putih semalam. Rahangnya yang tegas dan kulitnya yang terlihat lebih bersih membuat staf wanita lainnya saling berbisik denga

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 15

    Di kantor Shine, Satrio melangkah masuk ke ruangan Pak Aizar dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut soal pekerjaan, tapi karena rahasia besar yang ia simpan sejak terbangun pagi tadi.Pak Aizar sedang menyesap kopi hitamnya saat Satrio duduk di hadapannya. Sang Presdir menurunkan cangkirnya, lalu menatap Satrio tajam. Alisnya terangkat saat melihat Satrio tidak lagi mengenakan kacamata."Wah, ada yang beda hari ini. Makin tajam saja penglihatanmu, Rio," puji Aizar sambil tersenyum simpul. "Gimana kemarin di rumah? Debby bilang komputernya sudah beres. Dia sepertinya senang sekali kamu datang."Satrio mengangguk sopan. "Sudah lancar, Pak. Cuma masalah debu di hardware-nya saja."Suasana mendadak hening sejenak. Satrio meremas jemarinya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal yang mengusik jiwanya. Dengan suara yang sedikit bergetar dan nada yang dijaga agar tetap rendah, ia akhirnya bertanya."Pak... boleh saya tanya sesuatu yang prib

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 14

    Satrio tersentak bangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja berlari maraton dalam tidurnya. Ia segera terduduk di tepi ranjang, matanya menyapu setiap sudut kamar kosnya yang sempit. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan dengungan kipas angin tua.Namun, indra penciumannya tidak bisa berbohong. Kamar itu masih dipenuhi aroma bunga mawar yang sangat pekat, harum yang begitu melenakan dan tidak mungkin berasal dari pewangi ruangan murah miliknya. Satrio mencari-cari sosok Putih, wanita dari negeri di atas awan itu, namun ia telah lenyap tanpa jejak."Putih?" bisiknya pelan, suaranya masih serak.Tidak ada jawaban. Satrio kemudian menunduk dan tertegun. Di balik celana yang ia kenakan, ia merasakan sensasi lembap yang nyata. Saat ia memeriksa, bagian bawahnya sudah basah kuyup oleh sisa-sari pati tubuhnya yang tumpah dalam pergulatan panas tadi. Rasa nikmat yang luar biasa itu masih membekas di saraf-sarafnya, terasa terlalu nyata untuk sekadar dise

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 13

    Malam itu, kamar kos Satrio terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Setelah kepuasan batin menaklukkan hati Debby, Satrio tertidur lelap tanpa gangguan dari Tante Inet yang untungnya sudah masuk ke rumahnya lebih awal. Namun, tepat pada pukul dua dini hari, suasana kamar yang pengap itu mendadak berubah secara mistis. Aroma bunga mawar yang sangat segar dan harum semerbak memenuhi setiap sudut ruangan, mengalahkan bau apek kamar kos pria pada umumnya.Dalam keadaan setengah sadar, Satrio membuka matanya. Di ujung ranjangnya, berdiri sesosok wanita yang kecantikannya mustahil ada di dunia nyata. Kulitnya seputih pualam dan memancarkan cahaya redup, rambutnya panjang terurai hingga ke pinggang, dan ia mengenakan kain sutra tipis yang seolah melayang ditiup angin gaib. Dialah Putih, sang penjaga liontin dari Negeri di Atas Awan."Satrio..." bisik Putih. Suaranya terdengar merdu seperti denting kecapi, langsung menggetarkan liontin giok di dada Satrio hingga batu itu berpendar hijau teran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status