Share

Bab 14

last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-13 20:05:23

Satrio tersentak bangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja berlari maraton dalam tidurnya. Ia segera terduduk di tepi ranjang, matanya menyapu setiap sudut kamar kosnya yang sempit. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan dengungan kipas angin tua.

Namun, indra penciumannya tidak bisa berbohong. Kamar itu masih dipenuhi aroma bunga mawar yang sangat pekat, harum yang begitu melenakan dan tidak mungkin berasal dari pewangi ruangan murah miliknya. Satrio menc
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 28: Jerat Manis Adik Presdir

    Jarum jam dinding di ruangan divisi IT lantai lima merayap perlahan menuju angka dua belas siang. Satrio baru saja menyelesaikan pemindaian sistem data keluhan pelanggan di lantai dasar bersama Selina, sebelum akhirnya kembali ke kubikelnya untuk membereskan beberapa berkas teknis. Suasana kantor mulai berangsur santai karena para karyawan bersiap menyambut jam istirahat makan siang.Pzzz... Pzzz... Pzzz...Ponsel seluler di atas meja kerja Satrio bergetar panjang. Suara dering bernada standar bergema singkat, memecah keheningan di sudut ruangan. Satrio meraih ponsel genggamnya, matanya sedikit memicing saat melihat nama yang tertera di layar monokromnya: Pak Aizar.Satrio menekan tombol hijau, lalu menempelkan ponsel jadul itu ke telinganya. "Selamat siang, Pak Aizar. Ada yang bisa saya bantu terkait jaringan di lantai atas?" tanya Satrio dengan nada suara bariton yang sangat tenang dan penuh wibawa.Di seberang saluran, terdengar suara helaan napas panjang dari Pak Aizar, disusul ke

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 27

    "Lama sekali kamu naik, Rio," bisik Adirah begitu jarak mereka hanya tersisa satu lengan. Ia menerima map dokumen dari tangan Satrio, namun jemari lentiknya sengaja bergesekan lama hingga meraba perlahan permukaan kulit tangan pemuda itu.Aroma parfum floral bercampur kehangatan mistis dari dada Satrio seketika menyerang indra penciuman Adirah, memicu debaran jantung yang kian berpacu liar. Gairah yang tertahan di ulu hati sang sekretaris utama mendadak mencair, meruntuhkan seluruh dinding profesionalisme yang selama bertahun-tahun ia bangun di lantai delapan itu.Adirah melangkah maju tanpa memedulikan batasan, merapatkan tubuh indahnya hingga dada bidang Satrio bergesekan langsung dengan tubuhnya. Tangan kanannya yang sedikit gemetar karena desiran aneh mulai bergerak berani, meraba dada kemeja abu-abu arang Satrio, tepat di mana giok pemikat hasrat itu berada di balik pakaian."Aku hampir gila menunggumu sejak pagi, Rio... Sentuh aku, aku tidak peduli lagi dengan urusan kantor ini,

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 26

    Belum sempat Satrio melanjutkan pekerjaannya setelah mengantar dokumen di delapan, sesosok pria paruh baya yang merupakan kepala supervisor divisi IT berjalan mendekati kubikelnya dengan langkah yang terburu-buru. Wajah sang supervisor tampak agak tegang, membawa sebuah papan kerja berisi manifes tugas lapangan."Satrio," panggil sang supervisor sambil mengetuk pinggiran pembatas kubikel. "Ini ada instruksi mendesak dari divisi Customer Service di lantai dasar. Bu Selina meminta satu orang dari tim IT untuk turun. Katanya ada pembaruan sistem input data keluhan pelanggan yang harus dipantau secara berkala. Saya lihat jadwalmu hari ini masih longgar, jadi kamu yang turun ke bawah, ya?"Satrio melirik papan kerja yang disodorkan kepadanya. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. Ia tahu persis ini bukan sekadar urusan pembaruan sistem yang rusak. Ini adalah trik murahan dari Selina. Kepala CS yang posesif itu pasti sudah menyadari bahwa dirinya gagal mencegat Satr

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 25

    Pagi hari Satrio terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa bugar. Pancaran energi dari giok di dadanya bekerja dengan sempurna sepanjang malam, memulihkan seluruh stamina yang sempat terkuras setelah pergumulan panasnya bersama Maya di basemen kantor Shine Group kemarin sore.Satrio bersiap-siap pergi ke kantor mengenakan kemeja slim-fit berwarna abu-abu arang yang membungkus sempurna lekuk tubuh atletisnya. Tanpa kacamata tebal yang dulu selalu membingkai wajahnya, ketampanan aslinya kini terpancar seutuhnya, memancarkan wibawa maskulin yang sangat kuat. Ia mengendarai sedan hitam mewah pinjaman dari Pak Aizar, membelah jalanan kota yang mulai padat menuju gedung perkantoran Shine Group.Sesampainya di kantor ia masuk melalui tangga darurat parkiran, menghindari pertemuan dengan Selina. Ia langsung menuju kubikel kerjanya di divisi IT lantai lima, suasana kantor masih relatif sepi. Beberapa karyawan baru saja datang dan mulai menyalakan komputer mereka. Satrio meletakkan tasnya

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 24

    Perhatian Satrio seketika tertuju ke arah teras rumah utama yang dihuni oleh sang pemilik kos. Di sana, di bawah temaramnya cahaya lampu neon yang berwarna kuning hangat, Tante Inet berdiri bersandar pada tiang teras sambil melipat kedua tangan di bawah dada. Pose tubuhnya yang santai namun menantang itu seketika menonjolkan lekuk tubuh matangnya yang berbalut daster satin hitam tipis.Tante Inet memberikan tatapan mata yang sarat akan makna kepada Satrio. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan godaan tersungging di bibirnya yang kemerahan, menyambut kedatangan Satrio yang baru saja tiba di rumah kosan itu. "Baru pulang, Rio? Agak malam hari ini pulangnya?" sapa Tante Inet dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mengalun manja di kesunyian malam. Ia melangkah turun dari teras, mendekati pembatas halaman yang memisahkan area rumah utama dengan koridor kamar-kamar kos.Satrio menghentikan langkahnya, "Iya, Tante. Tadi ada beberapa urusan pekerjaan di kantor Shine Group yang tidak bi

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 23

    Ketika pintu darurat basemen dibuka, hawa pengap dan sunyi langsung menyambut kedatangan Selina. Matanya yang tajam segera menyapu ke seluruh sudut area parkir yang remang-remang, menyusuri deretan kendaraan yang tersisa.Langkah kaki Selina melambat, namun ketukannya tetap terdengar tegas di atas lantai semen yang dingin. Setelah berjalan beberapa meter menuju blok khusus direksi, langkah Selina mendadak terhenti.Matanya melebar penuh kemenangan bercampur kejengkelan saat melihat mobil sedan hitam mewah milik Satrio ternyata masih ada di sana, terparkir rapi di bawah keremangan cahaya lampu.Ia mulai melangkah perlahan mendekati area sekitar mobil itu, sambil memicingkan mata, “Kemana dia pergi?” pikir Selina penuh tanya.Sementara itu, di dalam mobil sedan hitam yang gelap dan kedap suara, keintiman antara Satrio dan Maya telah bergolak hebat dan semakin mendekati puncak kenikmatan yang mereka reguk.Maya sudah sepenuhnya menyerahkan seluruh tubuhnya, mulai melenguh pasrah dalam ku

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status