MasukSatrio duduk bersandar di kursi kerjanya yang empuk. Pandangan matanya lurus menatap langit-langit ruangan, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada tumpukan berkas di atas meja. Sepasang tangannya saling bertautan di depan dada. Detak jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak biasa semenjak kejadian di lobi beberapa menit yang lalu.Ia benar-benar masih tidak percaya. Malika, gadis yang telah mencuri segenap perhatiannya sejak awal pertemuan mereka, kini berada di bawah atap gedung yang sama. Mereka kini berbagi tempat kerja yang sama di Shine Group. Satrio menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus perlahan terbit di sudut bibirnya."Apakah ini sebuah pertanda?" gumam Satrio pada dirinya sendiri, suaranya sangat lirih.Ia mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah semesta sedang bekerja dengan cara yang ajaib untuk mengantarkan wanita terbaik di dalam hidupnya. Pikirannya mendadak melayang pada sosok Pak Aizar. Hubungan Pak Aizar dan Bu Furi yang
Mobil sport merah Satrio merapat di area drop-off lobi utama gedung Shine Group. Setelah memarkirkan kendaraannya, Satrio berjalan beriringan dengan Adirah memasuki lobi yang luas dengan lantainya yang mengilat. Sisa kehangatan dari makan siang romantis di restoran seafood tadi masih terasa di antara mereka. Adirah berjalan dengan langkah ringan, sesekali melirik Satrio di sampingnya dengan senyuman kecil yang terus tersungging di bibirnya.Namun, suasana santai itu seketika berubah saat pintu lift utama di lobi terbuka. Beberapa karyawan melangkah keluar, dan di antara mereka, tampak seorang wanita yang seketika mencuri perhatian seisi lobi.Satrio mendadak menghentikan langkah kaki tegapnya. Matanya melebar, menatap lurus ke arah wanita itu. "Malika?" gumam Satrio dengan suara yang sangat rendah, namun sarat akan keterkejutan yang mendalam.Malika berjalan dengan anggun. Hari itu, ia mengenakan pakaian yang tertutup namun tetap memancarkan kesan yang sangat modis. Atasannya berupa b
Suasana di lantai delapan berangsur renggang saat jarum jam dinding mendekati angka dua belas siang. Adirah baru saja selesai merapikan catatan agenda rapat mingguan ketika bayangan tegap seseorang mendadak menghalangi pantulan cahaya lampu di atas mejanya. Ia mendongak dan mendapati Satrio sudah berdiri di sana. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan, membuat jantung Adirah mendadak berdesir cepat."Pekerjaanmu sudah bisa ditinggal, Mbak Adirah?" tanya Satrio lembut. Tangannya bergerak santai masuk ke dalam saku celana abu-abunya.Adirah mengangguk, sedikit merapikan poni rambutnya yang agak berantakan. "Sudah, Rio. Ini tinggal menyimpan berkas terakhir saja. Ada apa?""Ayo, kita makan siang di luar," ajak Satrio. Gerak tubuhnya tampak begitu mantap dan penuh percaya diri. "Anggap saja ini bentuk terima kasihku atas bantuanmu semalam. Dan... untuk yang tadi pagi juga."Mendengar kata 'tadi pagi', wajah Adirah seketika merona merah. Ia tersadar bahwa Satrio mungkin
Satrio melangkah keluar dari lift dengan setelan kemeja abu-abu gelap yang pas di tubuh tegapnya. Wajahnya tampak segar dan sangat tenang. Begitu ia melintasi meja sekretaris, Adirah yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung mendongak. Sepasang mata gadis itu berbinar, diiringi senyuman manis yang tak bisa disembunyikan."Selamat pagi, Satrio," sapa Adirah dengan nada suara yang sedikit tertahan, mengingat peristiwa manis di ruang kerja semalam.Satrio menghentikan langkahnya sejenak, membalas tatapan Adirah dengan sorot mata yang teduh. "Selamat pagi, Mbak Adirah. Bagaimana, cukup istirahatmu semalam?""Cukup, sampai rumah aku langsung tidur," jawab Adirah, wajahnya mendadak bersemu merah jambu saat teringat kecupan hangat Satrio di jemarinya. Ia buru-buru membolak-balik kertas di tangannya agar salah tingkahnya tidak terlalu kentara.Sebelum Satrio sempat membalas, pintu ruang kerja Presiden Direktur sementara terbuka. Nikko Prambudi melangkah keluar. Namun, ada yang berbeda d
Malam mulai larut ketika sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti perlahan di depan pagar tinggi rumah baru Satrio. Suasana kompleks perumahan elite itu sudah sangat sepi. Dari dalam mobil, melangkah turun seorang wanita memakai blazer biru muda dan celana berwarna senada, ia tampak cantik dan anggun di usianya yang sudah tidak muda, namun wajahnya tampak dipenuhi kecemasan. Dia adalah Sisilia, ibu dari Nikko Prambudi. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan kepala yang sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berjalan memasuki pekarangan setelah satpam membukakan pintu pagar.Satrio, yang baru saja selesai membersihkan diri setelah pulang dari kantor, mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia berjalan ke teras depan dengan pakaian santai, sebuah kaus oblong putih dan celana panjang hitam. Begitu membuka pintu jati besar itu, alisnya sedikit terangkat."Mbak Sisilia? Ada apa datang malam-malam begini ke rumah saya?" tanya Satrio dengan suara rendah dan tenang. Sikapnya kini jauh lebih bijak,
Waktu berlalu dengan cepat hingga tidak terasa malam pun telah tiba. Jam kantor telah usai sejak pukul lima sore tadi, dan sebagian besar lampu di lantai delapan sudah mulai dimatikan untuk menghemat energi. Koridor eksekutif kini telah berubah menjadi sangat sepi dan senyap.Di dalam ruang kerjanya yang hanya diterangi oleh lampu meja, Satrio masih sibuk berkutat dengan tumpukan kertas. Jemarinya bergerak lincah menuliskan angka-angka inventaris gudang tekstil menggunakan pulpen, menghitung ulang semuanya secara manual tanpa bantuan kalkulator komputer seperti yang diperintahkan Nikko.Klek.Suara pintu ruangannya yang terbuka perlahan membuat Satrio menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak dan terkejut saat mendapati Adirah melangkah masuk ke dalam ruangannya sembari membawa sebuah map biru dan segelas kopi hangat."Adirah? Kamu belum pulang?" tanya Satrio heran, melirik jam tangan kronografnya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.Adirah tersenyum manis, melangka
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







