Share

Satrio Sang Penguasa Wanita
Satrio Sang Penguasa Wanita
Author: Langit Berawan

Bab 1

last update publish date: 2026-05-07 22:16:12

Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, menatap bus antar-kota yang sesekali lewat menuju pusat keramaian.

"Lihat itu si Satrio," bisik Bu Darmo pada tetangga sebelahnya saat mereka berpapasan di pasar desa. "Anak kuli tani saja gayanya mau kuliah di kota. Paling-paling cuma jadi gelandangan di sana. Harusnya dia tahu diri, orang tuanya saja makan susah, kok mau sok-sokan gaya orang kaya."

Satrio mendengar itu. Ia meremas tali karung di pundaknya hingga ujung jarinya terasa perih, namun ia tidak menoleh. Hinaan bukan hal baru baginya. Teman-teman sebayanya yang memilih merantau menjadi buruh kasar sering mengejeknya saat nongkrong di pos ronda.

"Kuliah itu buat orang yang punya duit, Rio! Lo mau makan apa di Jakarta? Makan buku? Mending ikut gue ke pelabuhan, jelas dapet duitnya," ujar salah satu temannya sambil tertawa meremehkan.

Malam itu, di dalam rumah berdinding bambu yang hanya diterangi lampu temaram, Satrio duduk di hadapan kedua orang tuanya. Di atas meja kayu yang sudah reot, terdapat sebuah amplop kumal berisi uang hasil tabungan bertahun-tahun ayahnya sebagai kuli panggul dan ibunya yang berjualan jamu keliling.

"Bapak dan Ibu cuma punya ini, Rio," suara ayahnya berat, penuh kelelahan namun ada binar kebanggaan. "Ibu tidak ingin kamu seperti kami. Kamu pintar, gurumu bilang kamu anak paling tekun. Pergilah ke kota, kejar mimpimu jadi ahli komputer itu."

Ibu Satrio mengusap kepala putranya dengan tangan yang kasar karena kerja keras. "Jangan dengerin apa kata orang, Nak. Mereka bisa menghina kemiskinan kita, tapi mereka tidak bisa mencuri semangatmu. Ibu akan selalu mendoakanmu di setiap sujud Ibu."

Air mata Satrio hampir jatuh, namun ia menahannya. Ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan pengorbanan ini sia-sia. Dengan hanya membawa satu tas ransel berisi beberapa potong pakaian dan laptop bekas yang ia beli dari hasil kerja serabutan, Satrio melangkah keluar dari desa.

Saat kakinya menginjak terminal bus yang bising dan asing, ia tidak merasa takut. Ia hanyalah pemuda desa yang lapar akan keberhasilan. Ia tidak peduli jika dunia memandangnya sebelah mata karena penampilannya yang bersahaja. Ia punya kegigihan yang tidak dimiliki orang lain.

Setibanya di kota, Satrio berhasil menembus gerbang Universitas Nasional (UNAS), kampus impian yang selama ini hanya ia lihat di brosur kumal. Tapi, kesenangan itu tidak bertahan lama setelah kenyataan pahit langsung menamparnya.

. Di hari pertama orientasi, Satrio berdiri di tengah kerumunan mahasiswa yang tampil modis dengan ponsel terbaru dan kendaraan mewah. Sementara itu, Satrio hanya mengenakan kemeja putih lusuh yang kerahnya sudah mulai menguning dan sepatu kets yang solnya hampir lepas.

"Lihat tuh, anak baru dari planet mana? Bajunya bau matahari banget," bisik seorang mahasiswi sambil menutup hidung saat Satrio lewat.

Tak ada seorang pun yang mau duduk di sebelahnya di kantin. Tak ada grup seangkatan yang mengajaknya bergabung. Satrio menjadi sosok yang "tak terlihat" sekaligus sasaran empuk pandangan sebelah mata. Saat kerja kelompok, ia seringkali dikucilkan karena dianggap tidak akan sanggup iuran untuk sekadar nongkrong di kafe mahal.

Namun, Satrio tidak membiarkan hatinya patah. Setiap kali rasa rendah diri menghampiri, ia teringat wajah ibunya yang memeras jamu dan punggung ayahnya yang membungkuk memikul padi.

"Kalian boleh nggak lihat aku sekarang, tapi kalian bakal liat namaku di daftar lulusan terbaik nanti," batinnya sambil membetulkan letak kacamatanya yang sering melorot.

Hidup di kota ternyata jauh lebih mahal dari dugaannya. Kiriman uang dari desa yang dikirim ibunya hanya cukup untuk membayar uang kuliah semesteran. Untuk bertahan hidup, Satrio membuang rasa malunya jauh-jauh. Di siang hari, ia adalah mahasiswa IT yang tekun di barisan kursi paling depan. Di malam hari, ia berubah menjadi buruh cuci piring di sebuah warung tenda pinggir jalan atau buruh angkut di pasar induk hingga dini hari.

Terkadang, ia hanya makan satu kali sehari dengan menu nasi putih dan kecap agar bisa membayar biaya kosan petak yang sempit dan pengap. Di kamar itulah, dalam kelelahan yang luar biasa, Satrio tetap menyalakan komputer bekasnya, belajar bahasa pemrograman secara otodidak hingga matanya merah.

Tiga tahun kemudian, kegigihan itu membuahkan hasil, indeks prestasinya selalu sempurna. Dosen-dosen mulai mengenali namanya bukan karena penampilannya yang sederhana, melainkan karena logikanya yang tajam dalam memecahkan algoritma rumit. Hingga akhirnya, berkat rekomendasi salah satu dekan yang kagum pada kerja kerasnya, membawanya menjadi mahasiswa tingkat akhir yang berhasil mendapatkan kesempatan emas: program magang di Shine Group, sebuah perusahaan elektronik dan properti raksasa di pusat kota. 

Satrio tetaplah Satrio yang polos dan jujur, sampai akhirnya di lantai 9, tepat di hadapan seorang pria bernama Aizar, sosok berpengaruh dari keluarga miliarder yang membuat banyak wanita tak bisa menahan godaan tatkala melihat pesona dalam dirinya. Pertemuan itulah akan mengubah garis hidup Satrio dan mengakhiri masa-masa penghinaannya selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 230

    Ruang pertemuan internasional di lantai atas Hotel Grand Hyatt siang itu didesain dengan tingkat kemewahan yang sangat luar biasa. Meja oval panjang berbahan marmer putih mengilat dikelilingi oleh jajaran kursi kulit yang terlihat sangat estetik. Di sekeliling ruangan, dinding kaca raksasa menyajikan panorama megah pencakar langit Jakarta yang bermandikan terik matahari siang.Di dalam ruangan tertutup itu, delegasi investor wanita asing dari kalangan jetset mancanegara sudah duduk berkumpul. Mereka adalah para sosialita borjuis yang memegang saham besar di industri mode dunia. Penampilan mereka sangat glamor, mengenakan pakaian desainer ternama Eropa dan perhiasan berlian yang berkilau mewah.Pintu ganda ruang rapat dibuka oleh petugas keamanan, dan Satrio melangkah masuk ke dalam ruangan dengan penuh karisma. Begitu langkah kakinya menapak di lantai, suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat tenang. Satrio berjalan menuju podium depan, membiarkan energi intinya

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 229

    Hari ini adalah hari pertama Satri memimpin anak perusahaan internasional, Shine International Fashion & Luxury (SIFL), dan kekuatan pemikat jiwa universal dari Putih semalaman akan menjadi modal utamanya meraih sukses besar di kancah dunia mode global tanpa ada yang bisa menghalangi pergerakannya lagi.Satu jam kemudian, Satrio memacu mobil sport merah mewahnya membelah jalanan pagi menuju kantor pusat Shine Group. Aura penguasa begitu kental menyelimuti langkah kakinya saat ia melewati pintu kaca lobi utama. Keganjilan luar biasa mulai terasa nyata di sepanjang lorong koridor.Satrio berjalan tegap menuju lift khusus eksekutif. Ketika ia berpapasan dengan dua orang staf keamanan pria berbadan kekar di dekat lobi, kedua sekuriti itu langsung menghentikan langkah mereka. Satrio menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap langsung ke dalam sepasang mata kedua sekuriti pria itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Deg…! Seketika itu juga, tatapan mata Satrio yang memancarkan kilat hija

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 228

    "Putih, aku sudah tidak bisa menahannya lagi! Rasakan seluruh kekuatanku!" geram Satrio dengan suara rendah yang serak dan berat, tepat di dekat daun telinga sang dewi gaib. Bersamaan dengan erangan jantan itu, tubuh tegap Satrio menegang hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jantungnya berdegup kencang, melepaskan seluruh sumbat bendungan berahi yang telah membakar saraf-saraf tubuhnya sepanjang malam.Dari ujung miliknya yang tertanam di dalam rahim Putih, Satrio menyemburkan cairan kental sari pati tubuhnya dalam jumlah yang sangat berlimpah ruah. Lahar hangat dan pekat itu menyembur deras tanpa ampun, membanjiri dan memenuhi seluruh rongga keintiman Putih hingga seolah meluap keluar menembus batas dimensi nyata."Ahhh... Satrio! Besar dan nikmat sekali... rahimku terasa sangat penuh... mmmhh..." rintih Putih pasrah dengan suara yang terengah-engah memburu pendek.Putih melengkungkan tubuh indahnya yang seputih pualam di atas hamparan seprai sutra, mencengkeram erat otot bise

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 227

    “Selamat malam, Pak Satrio... Sekadar mengingatkan jadwal penting Bapak untuk esok hari,” tulis Cindy di dalam pesan singkatnya, kalimatnya sengaja dirangkai dengan nada suara yang terdengar sangat manja dan penuh perhatian. “Besok pagi ada acara pertunjukan fashion internasional besar yang harus dihadiri oleh divisi kita. Kalau Pak Satrio ingin didampingi sepanjang acara, saya selaku asisten pribadi Bapak sudah siap sedia menemani Bapak besok. Jangan lupa istirahat yang cukup ya, Pak... Sampai ketemu esok pagi.”Satrio menatap deretan teks di layar ponselnya dengan pandangan mata yang datar dan dingin. Pikiran dan batinnya sedang mempertaruhkan keinginan serta keliaran hasrat dari sang ratu kampus seksi tersebut. Ia mengingat kembali bagaimana kesempurnaan bentuk tubuh Cindy saat mereka bermesraan di parkiran belakang kafe semalam. Namun, sisa rasa hampa akibat ketiadaan Putih membuat Satrio memilih untuk tidak merespons pesan tersebut. Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 226

    Satrio terkesiap, sepasang matanya melotot sempurna menyaksikan kemolekan bentuk tubuh Cindy yang terpampang nyata tanpa busana di depan matanya. Dua bulatan dadanya yang berukuran besar, kencang, dan putih mulus tampak menonjol menantang di bawah keremangan dalam mobil. Satrio kehilangan seluruh sisa kendali dirinya; ia langsung memajukan tubuhnya, menundukkan kepala, lalu melumat dan menghisap kedua bulatan kembar di dada Cindy dengan pagutan yang teramat sangat panas dan penuh gairah yang meledak-ledak."Ahhh... Satrio... nikmat sekali..." lenguh Cindy parau, mencengkeram erat rambut Satrio. Tiiittt…! Tiiittt…! Suara lengkingan klakson mobil yang cukup keras tiba-tiba memecah keheningan dalam mobil Satrio yang penuh keintiman itu. Satrio dan Cindy seketika tersentak hebat dengan jantung berdenyut kencang karena rasa terkejut. Satrio buru-buru menarik kepalanya mundur, sementara Cindy dengan panik menarik kembali kain kemejanya untuk menutupi dadanya yang polos.Melalui kaca s

  • Satrio Sang Penguasa Wanita    Bab 225

    "Jangan berani-berani menyentuh fisik saya, Bu Adirah... Mbak Selina," perintah Cindy dengan nada suara yang beralih menjadi teramat rendah, dingin, dan tidak menerima bantahan apa pun.Ia mengangkat gawainya di udara, mengarahkan mikrofonnya tepat di depan wajah Adirah dan Selina yang seketika membeku kaku di tempat mereka berdiri. "Asal kalian berdua tahu ya, sejak awal pintu ini dikunci oleh tangan Mbak Selina, seluruh kalimat makian kasar, tuduhan murahan, hingga ancaman intimidasi yang keluar dari mulut kalian berdua... semuanya sudah terekam dengan sangat jelas di dalam ponsel saya ini." Cindy menyunggingkan seringai kemenangan seorang staf baru yang tidak bisa diinjak begitu saja. "Kalian pikir aku ini gadis bodoh yang bisa kalian kucilkan dengan sanksi sosial? Jika kalian berani melangkah satu tapak lagi atau mempersulit ruang gerak kerjaku di lantai tujuh, aku tidak akan segan-segan membawa rekaman audio otentik ini langsung menyerahkannya ke atas meja kerja Pak Aizar dan

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 5

    Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 4

    Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 3

    Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem

  • Satrio Sang Penguasa Wanita    Bab 2

    Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status