เข้าสู่ระบบ
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, menatap bus antar-kota yang sesekali lewat menuju pusat keramaian.
"Lihat itu si Satrio," bisik Bu Darmo pada tetangga sebelahnya saat mereka berpapasan di pasar desa. "Anak kuli tani saja gayanya mau kuliah di kota. Paling-paling cuma jadi gelandangan di sana. Harusnya dia tahu diri, orang tuanya saja makan susah, kok mau sok-sokan gaya orang kaya."
Satrio mendengar itu. Ia meremas tali karung di pundaknya hingga ujung jarinya terasa perih, namun ia tidak menoleh. Hinaan bukan hal baru baginya. Teman-teman sebayanya yang memilih merantau menjadi buruh kasar sering mengejeknya saat nongkrong di pos ronda.
"Kuliah itu buat orang yang punya duit, Rio! Lo mau makan apa di Jakarta? Makan buku? Mending ikut gue ke pelabuhan, jelas dapet duitnya," ujar salah satu temannya sambil tertawa meremehkan.
Malam itu, di dalam rumah berdinding bambu yang hanya diterangi lampu temaram, Satrio duduk di hadapan kedua orang tuanya. Di atas meja kayu yang sudah reot, terdapat sebuah amplop kumal berisi uang hasil tabungan bertahun-tahun ayahnya sebagai kuli panggul dan ibunya yang berjualan jamu keliling.
"Bapak dan Ibu cuma punya ini, Rio," suara ayahnya berat, penuh kelelahan namun ada binar kebanggaan. "Ibu tidak ingin kamu seperti kami. Kamu pintar, gurumu bilang kamu anak paling tekun. Pergilah ke kota, kejar mimpimu jadi ahli komputer itu."
Ibu Satrio mengusap kepala putranya dengan tangan yang kasar karena kerja keras. "Jangan dengerin apa kata orang, Nak. Mereka bisa menghina kemiskinan kita, tapi mereka tidak bisa mencuri semangatmu. Ibu akan selalu mendoakanmu di setiap sujud Ibu."
Air mata Satrio hampir jatuh, namun ia menahannya. Ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan pengorbanan ini sia-sia. Dengan hanya membawa satu tas ransel berisi beberapa potong pakaian dan laptop bekas yang ia beli dari hasil kerja serabutan, Satrio melangkah keluar dari desa.
Saat kakinya menginjak terminal bus yang bising dan asing, ia tidak merasa takut. Ia hanyalah pemuda desa yang lapar akan keberhasilan. Ia tidak peduli jika dunia memandangnya sebelah mata karena penampilannya yang bersahaja. Ia punya kegigihan yang tidak dimiliki orang lain.
Setibanya di kota, Satrio berhasil menembus gerbang Universitas Nasional (UNAS), kampus impian yang selama ini hanya ia lihat di brosur kumal. Namun, euforia itu segera berbenturan dengan kenyataan pahit. Di hari pertama orientasi, Satrio berdiri di tengah kerumunan mahasiswa yang tampil modis dengan ponsel terbaru dan kendaraan mewah. Sementara itu, Satrio hanya mengenakan kemeja putih lusuh yang kerahnya sudah mulai menguning dan sepatu kets yang solnya hampir lepas.
"Lihat tuh, anak baru dari planet mana? Bajunya bau matahari banget," bisik seorang mahasiswi sambil menutup hidung saat Satrio lewat.
Tak ada seorang pun yang mau duduk di sebelahnya di kantin. Tak ada grup seangkatan yang mengajaknya bergabung. Satrio menjadi sosok yang "tak terlihat" sekaligus sasaran empuk pandangan sebelah mata. Saat kerja kelompok, ia seringkali dikucilkan karena dianggap tidak akan sanggup iuran untuk sekadar nongkrong di kafe mahal.
Namun, Satrio tidak membiarkan hatinya patah. Setiap kali rasa rendah diri menghampiri, ia teringat wajah ibunya yang memeras jamu dan punggung ayahnya yang membungkuk memikul padi.
"Kalian boleh nggak lihat aku sekarang, tapi kalian bakal liat namaku di daftar lulusan terbaik nanti," batinnya sambil membetulkan letak kacamatanya yang sering melorot.
Hidup di kota ternyata jauh lebih mahal dari dugaannya. Kiriman uang dari desa yang dikirim ibunya hanya cukup untuk membayar uang kuliah semesteran. Untuk bertahan hidup, Satrio membuang rasa malunya jauh-jauh. Di siang hari, ia adalah mahasiswa IT yang tekun di barisan kursi paling depan. Di malam hari, ia berubah menjadi buruh cuci piring di sebuah warung tenda pinggir jalan atau buruh angkut di pasar induk hingga dini hari.
Terkadang, ia hanya makan satu kali sehari dengan menu nasi putih dan kecap agar bisa membayar biaya kosan petak yang sempit dan pengap. Di kamar itulah, dalam kelelahan yang luar biasa, Satrio tetap menyalakan komputer bekasnya, belajar bahasa pemrograman secara otodidak hingga matanya merah.
Tiga tahun kemudian, kegigihan itu membuahkan hasil, indeks prestasinya selalu sempurna. Dosen-dosen mulai mengenali namanya bukan karena penampilannya yang sederhana, melainkan karena logikanya yang tajam dalam memecahkan algoritma rumit. Hingga akhirnya, berkat rekomendasi salah satu dekan yang kagum pada kerja kerasnya, membawanya menjadi mahasiswa tingkat akhir yang berhasil mendapatkan kesempatan emas: program magang di Shine Group, sebuah perusahaan elektronik dan properti raksasa di pusat kota.
Satrio tetaplah Satrio yang polos dan jujur, sampai akhirnya takdir membawanya ke lantai 9, tepat di hadapan seorang pria bernama Aizar, sosok berpengaruh dari keluarga miliarder yang membuat banyak wanita tak bisa menahan godaan tatkala melihat pesona dalam dirinya. Pertemuan itulah akan mengubah garis hidup Satrio dan mengakhiri masa-masa penghinaannya selamanya.
Keesokan pagi, Satrio duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong, menghirup udara dalam-dalam. Namun, hasil yang didapatnya nihil. Aroma wangi mawar yang biasanya melekat erat di setiap sudut ruangan itu tidak pernah kembali lagi. Kamar itu kini hanya menyisakan bau debu dan kayu tua yang mati.Satrio terbangun dengan rasa hampa dan kehilangan yang luar biasa di dadanya. Sebuah lubang besar menganga di hatinya, menyisakan rasa perih yang tak kasat mata. Ia melirik ke luar jendela, menatap kunci mobil sport merahnya di atas meja. Meskipun saat ini ia sudah memiliki apartemen mewah, mobil mahal, jabatan mentereng, dan ribuan wanita kantor yang siap bertekuk lutut di bawah perintah dan pesonanya, Satrio tahu semua itu semu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kejayaan mistis serta segala kemudahan yang ia nikmati selama ini tidak pernah lepas dari peran dan pengorbanan Putih. Tanpa dewi gaib itu, ia hanyalah pria biasa yang beruntung.Untuk menghapus rasa kesedihan yang terus mencengkeram
Rasa takut yang luar biasa mencengkeram dada Satrio setelah mendengar ucapan Putih. Jantungnya berdegup kencang, menimbulkan sensasi ngilu yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Satrio memajukan tubuhnya dan langsung merengkuh sosok wanita gaib di depannya ke dalam pelukan yang sangat erat."Tidak, Putih! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" seru Satrio, suaranya tercekat di tenggorokan, bergetar menahan gejolak emosi yang membuncah.Meskipun tubuh Putih terasa sedingin es, Satrio tetap mendekapnya dengan seluruh kehangatan yang ia miliki. Pada detik itu, Satrio menyadari satu kebenaran yang mendalam di dalam hatinya. Jauh di lubuk jiwanya, ia sudah sangat dekat dan selalu dahaga akan kelembutan serta belaian dari dewi gaib itu. Putih bukan sekadar penjaga baginya. Putih adalah satu-satunya sosok yang mengetahui seluruh rahasia, ambisi, ketakutan, dan setiap jengkal kelemahan terbesar seorang Satrio. Di depan para wanita, Satrio harus selalu tampil sempurna, kuat
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun Satrio memilih untuk tidak mengarahkan kendaraannya menuju rumah barunya yang megah dan nyaman. Pikirannya yang penat dan dipenuhi rasa bersalah setelah melihat perubahan drastis pada Adirah serta sikap menyengat dari Selina menuntun langkahnya kembali ke tempat lama. Kosan lamanya.Satrio memarkirkan mobilnya di bawah rindangnya pohon mangga di sudut halaman kos. Setelah mengunci pintu mobil, ia melangkah menyusuri lorong kosan yang remang-remang. Langkah kaki tegapnya terdengar bergema pelan di atas lantai tegel yang dingin. Begitu kunci pintu kamarnya berputar dan terbuka, Satrio langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa tanpa sempat mengganti kemeja kerjanya.Malam merambat semakin larut, melewati garis tengah malam hingga suasana menjadi sunyi senyap. Hanya ada suara jangkrik yang mengerik samar dari balik dinding luar.Satrio yang semula terpejam mendadak membuka kedua matanya. Indra perasanya yang tajam menangkap sesua
Satrio... menyukai wanita itu," bisik Adirah dengan suara yang sangat rendah dan bergetar. "Kemarin dia bilang padaku kalau itu hanya urusan hutang budi keluarga. Tapi matanya... matanya tidak bisa berbohong."Selina mendengus kencang, meletakkan cangkirnya dengan ketukan yang keras. "Hutang budi? Itu cuma alasan klasiknya saja untuk menutupi sesuatu! Kita berdua sudah lama di kantor ini, Dirah. Kita tahu bagaimana cara Satrio memperlakukan wanita. Tapi kali ini berbeda. Wanita baru itu adalah ancaman buat kita berdua."Adirah menatap Selina, menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam merasakan kecemburuan dan ancaman ini. Pengaruh energi negatif dari sisa-sisa sihir giok di dalam diri Adirah seolah menemukan bahan bakar baru. Rasa kepemilikan dan obsesi yang mendalam terhadap Satrio kini mulai menyatukan ego mereka berdua.Dua wanita yang dulunya selalu bersaing ketat, saling menjatuhkan, dan saling berebut perhatian Satrio di koridor kantor, kini berdiri merapat di sudut pantry yang r
Pagi hari berikutnya membawa suasana baru di gedung Shine Group. Sebagai staf baru di divisi HRD lantai lima, Malika mulai aktif menjalankan tugas-tugasnya. Kehadiran gadis itu seperti membawa angin segar yang menyejukkan. Sejak jam masuk kantor dimulai, Satrio sudah menyusun rencana matang. Ia ingin memberikan perhatian, namun dengan cara yang sangat halus agar tidak memicu desas-desus di kalangan karyawan lain.Menjelang istirahat siang, Satrio sengaja turun ke lantai lima dengan membawa beberapa dokumen internal. Setelah menyelesaikan urusannya di kubikel manajer HRD, langkah kakinya berbelok santai menuju meja kerja Malika."Bagaimana hari pertamamu, Malika? Sudah bisa beradaptasi dengan sistem input datanya?" tanya Satrio sembari bersandar ringan pada sekat kubikel. Gerak tubuhnya terlihat santai, namun sepasang matanya menatap Malika dengan binar perhatian yang hangat.Malika mendongak dari layar komputer, lalu tersenyum manis hingga matanya yang bulat tampak menyipit indah. "Pu
Satrio duduk bersandar di kursi kerjanya yang empuk. Pandangan matanya lurus menatap langit-langit ruangan, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada tumpukan berkas di atas meja. Sepasang tangannya saling bertautan di depan dada. Detak jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak biasa semenjak kejadian di lobi beberapa menit yang lalu.Ia benar-benar masih tidak percaya. Malika, gadis yang telah mencuri segenap perhatiannya sejak awal pertemuan mereka, kini berada di bawah atap gedung yang sama. Mereka kini berbagi tempat kerja yang sama di Shine Group. Satrio menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus perlahan terbit di sudut bibirnya."Apakah ini sebuah pertanda?" gumam Satrio pada dirinya sendiri, suaranya sangat lirih.Ia mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah semesta sedang bekerja dengan cara yang ajaib untuk mengantarkan wanita terbaik di dalam hidupnya. Pikirannya mendadak melayang pada sosok Pak Aizar. Hubungan Pak Aizar dan Bu Furi yang
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik