FAZER LOGINPagi hari Satrio terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa bugar. Pancaran energi dari giok di dadanya bekerja dengan sempurna sepanjang malam, memulihkan seluruh stamina yang sempat terkuras setelah pergumulan panasnya bersama Maya di basemen kantor Shine Group kemarin sore.Satrio bersiap-siap pergi ke kantor mengenakan kemeja slim-fit berwarna abu-abu arang yang membungkus sempurna lekuk tubuh atletisnya. Tanpa kacamata tebal yang dulu selalu membingkai wajahnya, ketampanan aslinya kini terpancar seutuhnya, memancarkan wibawa maskulin yang sangat kuat. Ia mengendarai sedan hitam mewah pinjaman dari Pak Aizar, membelah jalanan kota yang mulai padat menuju gedung perkantoran Shine Group.Sesampainya di kantor ia masuk melalui tangga darurat parkiran, menghindari pertemuan dengan Selina. Ia langsung menuju kubikel kerjanya di divisi IT lantai lima, suasana kantor masih relatif sepi. Beberapa karyawan baru saja datang dan mulai menyalakan komputer mereka. Satrio meletakkan tasnya
Perhatian Satrio seketika tertuju ke arah teras rumah utama yang dihuni oleh sang pemilik kos. Di sana, di bawah temaramnya cahaya lampu neon yang berwarna kuning hangat, Tante Inet berdiri bersandar pada tiang teras sambil melipat kedua tangan di bawah dada. Pose tubuhnya yang santai namun menantang itu seketika menonjolkan lekuk tubuh matangnya yang berbalut daster satin hitam tipis.Tante Inet memberikan tatapan mata yang sarat akan makna kepada Satrio. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan godaan tersungging di bibirnya yang kemerahan, menyambut kedatangan Satrio yang baru saja tiba di rumah kosan itu. "Baru pulang, Rio? Agak malam hari ini pulangnya?" sapa Tante Inet dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mengalun manja di kesunyian malam. Ia melangkah turun dari teras, mendekati pembatas halaman yang memisahkan area rumah utama dengan koridor kamar-kamar kos.Satrio menghentikan langkahnya, "Iya, Tante. Tadi ada beberapa urusan pekerjaan di kantor Shine Group yang tidak bi
Ketika pintu darurat basemen dibuka, hawa pengap dan sunyi langsung menyambut kedatangan Selina. Matanya yang tajam segera menyapu ke seluruh sudut area parkir yang remang-remang, menyusuri deretan kendaraan yang tersisa.Langkah kaki Selina melambat, namun ketukannya tetap terdengar tegas di atas lantai semen yang dingin. Setelah berjalan beberapa meter menuju blok khusus direksi, langkah Selina mendadak terhenti.Matanya melebar penuh kemenangan bercampur kejengkelan saat melihat mobil sedan hitam mewah milik Satrio ternyata masih ada di sana, terparkir rapi di bawah keremangan cahaya lampu.Ia mulai melangkah perlahan mendekati area sekitar mobil itu, sambil memicingkan mata, “Kemana dia pergi?” pikir Selina penuh tanya.Sementara itu, di dalam mobil sedan hitam yang gelap dan kedap suara, keintiman antara Satrio dan Maya telah bergolak hebat dan semakin mendekati puncak kenikmatan yang mereka reguk.Maya sudah sepenuhnya menyerahkan seluruh tubuhnya, mulai melenguh pasrah dalam ku
Suasana di dalam sedan hitam itu semakin memanas, bertolak belakang dengan embusan AC yang berdesis dingin. Ciuman liar Maya yang menuntut kepastian fisik membuat gairah muda Satrio menyala hebat. Cengkeraman tangan Satrio pada pinggang ramping Maya semakin mengerat, mengangkat tubuh eksotis staf keuangan itu dengan mudah agar berpindah posisi sepenuhnya ke atas pangkuannya."Ahhh... Rio..." lenguh Maya parau di sela-sela pagutan mereka yang basah dan dalam.Tubuh sawo matangnya yang berbalut blus kerja tipis kini bergesekan langsung dengan kemeja biru dongker Satrio. Aroma parfum rempah manis dari tubuh Maya bercampur dengan wangi mawar gaib dari kulit Satrio, menciptakan kombinasi sensual yang mengaburkan kesadaran.Satrio tidak memberikan celah bagi Maya untuk menarik napas. Sebagai pria yang kini memegang kendali atas gairah wanita, ia memimpin ritme pergumulan itu dengan sangat agresif. Tangan kokoh Satrio mulai bergerak liar, menyusuri lekuk pinggul Maya yang kencang, lalu naik
Jarum jam dinding di ruang kerja Satrio akhirnya bergerak menembus angka lima sore. Bunyi bel tanda berakhirnya jam kantor menggema di setiap penjuru koridor Shine Group, disusul oleh langkah kaki karyawan yang bersiap untuk pulang. Di lobi utama lantai dasar, suasana mendadak ramai oleh antrean di depan mesin absensi. Di sudut ruangan yang strategis, tidak jauh dari pintu kaca otomatis, Selina berdiri tegak dengan keanggunan yang sengaja ia pamerkan. Ia telah memperbarui riasan wajahnya seindah mungkin, memulas gincu merah pekatnya, dan terus melirik ke arah lift dengan pandangan mata yang posesif. Di kepalanya, ia sudah mengunci janji sore hingga malam ini bersama Satrio. Selina tidak akan membiarkan ada wanita lain, termasuk Adirah, yang mengusik lelaki pilihan hatinya itu malam ini.Namun, Satrio yang masih di lantai atas, kini bukanlah pemuda gampangan yang bisa dengan mudah disetir atau dijebak begitu saja. Pengaruh energi dari Putih dan getaran konstan dari giok pemikat hasr
Cklek…!Saat Satrio memutar selot kunci dan membuka daun pintu sedikit untuk menghalangi pandangan ke dalam, Selina sudah berdiri tegak di sana. Tatapan mata Selina tampak berkilat curiga yang teramat dalam, napasnya memburu menahan amarah, dan dadanya naik-turun tidak teratur akibat api cemburu yang tersulut hebat karena merasa hak miliknya atas Satrio sedang direbut secara sepihak.Selina berdiri tegak dengan tumit sepatu hak tingginya yang menancap kokoh di atas lantai, sementara kedua tangannya berkacak pinggang. Amarah yang tersulut oleh rasa cemburu buta membuat wajah cantiknya yang dilapisi riasan tampak memerah padam. Insting wanitanya yang tajam tidak pernah berbohong, ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di balik pintu yang sengaja dikunci dari dalam ini.Begitu pintu terbuka hanya selebar celah tubuh manusia, Selina langsung mengambil tindakan agresif. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa penasaran yang membuncah, Selina mencoba menerobos masuk ke dalam ruan







