登入Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.
Perlahan, jemari Selina yang lentik mulai membuka sabuk dan kancing celana panjang Satrio. Saat celana itu merosot ke lantai, diikuti oleh pakaian dalamnya, Satrio merasa dunianya seakan berputar. Selama ini, ia hanya bisa membayangkan adegan-adegan dewasa dari film blue yang sering ia tonton secara sembunyi-sembunyi untuk melampiaskan gairahnya yang terpendam. Ia terbiasa menjadi penonton pasif, namun malam ini, fantasi itu menjelma menjadi realitas yang nyata dan berdenyut.
"Luar biasa..." gumam Selina tertahan saat melihat milik Satrio yang sudah menegang sempurna.
Selina terpaku sejenak. Pikirannya melayang kembali pada sosok Pak Aizar. Kenangan tentang bagaimana sang Presdir memandunya dulu seolah tervisualisasi kembali pada diri Satrio.
"Miliknya hampir sama dengan Pak Aizar... besar, panjang, dan bersih," batin Selina dengan mata yang kian menggelap oleh nafsu.
Tepat saat Selina baru saja menyentuh milik Satrio, sebuah suara ketukan pintu depan yang cukup keras memecah keheningan malam yang intim itu.
Tok! Tok! Tok!
"Mbak Selina? Mbak... maaf mengganggu, Mbak!" suara seorang pemuda terdengar dari luar, terdengar agak terburu-buru.
Satrio tersentak kaget. Tubuhnya yang mulai dalam ketegangan karena sensasi kulit yang bertemu kulit jauh lebih dahsyat daripada apa pun yang pernah ia bayangkan, mendadak menciut karena syok. Adrenalin gairah seketika berganti menjadi adrenalin kepanikan. Selina menghentikan gerakannya seketika, ia memejamkan mata sambil mendengus kesal, wajahnya yang penuh gairah berubah menjadi ekspresi frustrasi yang nyata.
"Sial... itu si Boni, tetangga sebelah," bisik Selina dengan nada jengkel yang tertahan.
"Mbak Selina! Ini saya, Boni! Saya baru sampai dari kampung, Mbak. Ini mau ambil kunci kamar yang saya titip kemarin!" teriak pemuda di luar itu lagi. "Mbak... maaf banget ganggu jam segini, saya baru saja sampai!"
Satrio dengan gerakan kikuk dan tangan gemetar segera menarik kembali pakaian dalamnya dan mengenakan celana panjangnya. Ia merasa sangat bodoh dan malu secara bersamaan. Gairah yang tadi sudah mencapai ubun-ubun kini terperangkap di pangkal paha, menyisakan rasa pegal yang tidak nyaman.
"I-iya, Don! Sebentar!" jawab Selina setengah berteriak sambil merapikan daster dan rambutnya yang agak berantakan. Ia menatap Satrio dengan tatapan yang sangat menyesal. "Maaf ya, Rio. Si Boni ini memang kadang nggak tahu waktu. Tapi dia harus masuk rumah."
Selina memberikan isyarat agar Satrio tetap diam di dalam kamar. Satrio hanya bisa mengangguk pasrah, duduk di tepi ranjang sambil mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih memburu. Ia mendengar Selina membuka pintu depan dan suara obrolan singkat mengenai perjalanan dari kampung, memberi Selina oleh-oleh, dan serah terima kunci.
Selang beberapa menit yang terasa seperti selamanya bagi Satrio, Selina kembali ke kamar. Wajahnya tidak lagi seberingas tadi, gairahnya mendingin karena interupsi yang menghancurkan suasana.
"Maaf banget ya, Rio... suasana jadi rusak," Selina mengusap bahu Satrio dengan lembut. Ia melihat Satrio yang tampak kaku dan kecewa. "Sepertinya ini memang sudah terlalu larut. Tetangga lain juga pasti sedang istirahat."
Satrio menarik napas panjang, mencoba mengendalikan sisa-sisa adrenalin yang masih membanjiri tubuhnya. Meskipun ia mengangguk setuju, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Di balik celananya yang baru saja ia kenakan kembali, ia masih merasakan ketegangan yang luar biasa.
Efek liontin giok itu benar-benar gila. Ditambah lagi dengan darah mudanya yang baru saja pecah telur, hasrat Satrio seolah menolak untuk padam. Ia merasa seperti mesin yang baru saja dipanaskan dan siap untuk berlari jauh, namun harus dipaksa berhenti di tengah jalan.
"Iya, Kak. Aku pulang dulu," jawab Satrio dengan suara yang kini terdengar lebih berat dan dalam.
Satrio melangkah keluar dari kontrakan Selina menuju mobil kantor yang terparkir di depan. Udara malam yang dingin menerpa wajahnya, namun panas di dadanya—tepat di posisi liontin itu berada.
Di sepanjang perjalanan menuju kosnya, Satrio menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali meraba batu giok di balik kemejanya. Ia merasa seolah-olah dunia ini sekarang ada di genggamannya. Bayangan wajah Selina yang pasrah di bawah pengaruhnya terus berputar di kepalanya.
Satrio memarkir sedan hitam pinjaman Pak Aizar dengan hati yang masih bergemuruh. Namun, kegembiraannya mendadak surut saat melihat sosok di teras rumah utama. Tante Inet, pemilik kosan yang terkenal galak dan tak kenal ampun soal uang sewa, sedang duduk santai dengan daster satin tipisnya.
Satrio meraba saku celananya yang kosong. Sial, hari ini jatuh tempo, dan uang kiriman dari kampung belum juga masuk, honor dari kantor pun hanya tersisa sedikit setelah digunakan makan di cafe tadi. Biasanya, jika Satrio telat sehari saja, rentetan omelan Tante Inet akan terdengar sampai ke ujung gang.
"Aduh, mati gue. Singa betina sudah nunggu di depan," gumam Satrio pelan, mencoba menetralkan debaran jantungnya.
Mobil sport merah Satrio merapat di area drop-off lobi utama gedung Shine Group. Setelah memarkirkan kendaraannya, Satrio berjalan beriringan dengan Adirah memasuki lobi yang luas dengan lantainya yang mengilat. Sisa kehangatan dari makan siang romantis di restoran seafood tadi masih terasa di antara mereka. Adirah berjalan dengan langkah ringan, sesekali melirik Satrio di sampingnya dengan senyuman kecil yang terus tersungging di bibirnya.Namun, suasana santai itu seketika berubah saat pintu lift utama di lobi terbuka. Beberapa karyawan melangkah keluar, dan di antara mereka, tampak seorang wanita yang seketika mencuri perhatian seisi lobi.Satrio mendadak menghentikan langkah kaki tegapnya. Matanya melebar, menatap lurus ke arah wanita itu. "Malika?" gumam Satrio dengan suara yang sangat rendah, namun sarat akan keterkejutan yang mendalam.Malika berjalan dengan anggun. Hari itu, ia mengenakan pakaian yang tertutup namun tetap memancarkan kesan yang sangat modis. Atasannya berupa b
Suasana di lantai delapan berangsur renggang saat jarum jam dinding mendekati angka dua belas siang. Adirah baru saja selesai merapikan catatan agenda rapat mingguan ketika bayangan tegap seseorang mendadak menghalangi pantulan cahaya lampu di atas mejanya. Ia mendongak dan mendapati Satrio sudah berdiri di sana. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan, membuat jantung Adirah mendadak berdesir cepat."Pekerjaanmu sudah bisa ditinggal, Mbak Adirah?" tanya Satrio lembut. Tangannya bergerak santai masuk ke dalam saku celana abu-abunya.Adirah mengangguk, sedikit merapikan poni rambutnya yang agak berantakan. "Sudah, Rio. Ini tinggal menyimpan berkas terakhir saja. Ada apa?""Ayo, kita makan siang di luar," ajak Satrio. Gerak tubuhnya tampak begitu mantap dan penuh percaya diri. "Anggap saja ini bentuk terima kasihku atas bantuanmu semalam. Dan... untuk yang tadi pagi juga."Mendengar kata 'tadi pagi', wajah Adirah seketika merona merah. Ia tersadar bahwa Satrio mungkin
Satrio melangkah keluar dari lift dengan setelan kemeja abu-abu gelap yang pas di tubuh tegapnya. Wajahnya tampak segar dan sangat tenang. Begitu ia melintasi meja sekretaris, Adirah yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung mendongak. Sepasang mata gadis itu berbinar, diiringi senyuman manis yang tak bisa disembunyikan."Selamat pagi, Satrio," sapa Adirah dengan nada suara yang sedikit tertahan, mengingat peristiwa manis di ruang kerja semalam.Satrio menghentikan langkahnya sejenak, membalas tatapan Adirah dengan sorot mata yang teduh. "Selamat pagi, Mbak Adirah. Bagaimana, cukup istirahatmu semalam?""Cukup, sampai rumah aku langsung tidur," jawab Adirah, wajahnya mendadak bersemu merah jambu saat teringat kecupan hangat Satrio di jemarinya. Ia buru-buru membolak-balik kertas di tangannya agar salah tingkahnya tidak terlalu kentara.Sebelum Satrio sempat membalas, pintu ruang kerja Presiden Direktur sementara terbuka. Nikko Prambudi melangkah keluar. Namun, ada yang berbeda d
Malam mulai larut ketika sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti perlahan di depan pagar tinggi rumah baru Satrio. Suasana kompleks perumahan elite itu sudah sangat sepi. Dari dalam mobil, melangkah turun seorang wanita memakai blazer biru muda dan celana berwarna senada, ia tampak cantik dan anggun di usianya yang sudah tidak muda, namun wajahnya tampak dipenuhi kecemasan. Dia adalah Sisilia, ibu dari Nikko Prambudi. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan kepala yang sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berjalan memasuki pekarangan setelah satpam membukakan pintu pagar.Satrio, yang baru saja selesai membersihkan diri setelah pulang dari kantor, mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia berjalan ke teras depan dengan pakaian santai, sebuah kaus oblong putih dan celana panjang hitam. Begitu membuka pintu jati besar itu, alisnya sedikit terangkat."Mbak Sisilia? Ada apa datang malam-malam begini ke rumah saya?" tanya Satrio dengan suara rendah dan tenang. Sikapnya kini jauh lebih bijak,
Waktu berlalu dengan cepat hingga tidak terasa malam pun telah tiba. Jam kantor telah usai sejak pukul lima sore tadi, dan sebagian besar lampu di lantai delapan sudah mulai dimatikan untuk menghemat energi. Koridor eksekutif kini telah berubah menjadi sangat sepi dan senyap.Di dalam ruang kerjanya yang hanya diterangi oleh lampu meja, Satrio masih sibuk berkutat dengan tumpukan kertas. Jemarinya bergerak lincah menuliskan angka-angka inventaris gudang tekstil menggunakan pulpen, menghitung ulang semuanya secara manual tanpa bantuan kalkulator komputer seperti yang diperintahkan Nikko.Klek.Suara pintu ruangannya yang terbuka perlahan membuat Satrio menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak dan terkejut saat mendapati Adirah melangkah masuk ke dalam ruangannya sembari membawa sebuah map biru dan segelas kopi hangat."Adirah? Kamu belum pulang?" tanya Satrio heran, melirik jam tangan kronografnya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.Adirah tersenyum manis, melangka
Langkah kaki Satrio terdengar mantap saat ia menapakkan kakinya kembali di lantai delapan gedung kantor pusat Shine Group. Jam dinding di koridor eksekutif telah menunjuk ke arah angka satu siang. Penampilan Satrio tampak sangat bersahaja. Ia hanya mengenakan kemeja polos tanpa dasi dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku. Tidak ada lagi kacamata tebal yang dulu selalu bertengger di hidungnya, digantikan oleh tatapan mata yang jernih, tenang, dan sarat akan kedewasaan. Pesan dari ibunya di rumah baru mereka benar-benar tertanam dalam di lubuk hatinya."Baru datang jam segini, Satrio?!" sebuah suara keras yang melengking tinggi memecah keheningan kantor.Nikko Prambudi sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja Wakil Presiden Direktur. Lelaki itu bersedekap dada, menatap Satrio dengan pandangan yang berapi-api. Jas abu-abunya tampak sedikit kusut, mencerminkan emosinya yang sedang tidak stabil. Di kubikel sekretaris yang berada tepat di depan ruangan Nikko, Adirah tampak duduk m
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me
"Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den
Godaan demi godaan dari para wanita di kafe itu mulai bermunculan secara bergantian, membuat telinga Adirah terasa panas. Beberapa remaja di meja sebelah kanan sengaja tertawa kencang sambil berulang kali melirik Satrio, bahkan salah satu dari mereka sengaja menjatuhkan sapu tangan ke lantai dekat
"Luar biasa... Rio, kamu..." Tante Inet seolah kehilangan kata-kata. Ia berlutut di depan Satrio, tangannya yang dingin perlahan meraih dan menggenggam milik Satrio. Ia belum pernah melihat milik lelaki yang begitu gagah dan menegang kuat seperti milik Satrio, apalagi dalam jarak sedekat ini. Getar







