共有

Bab 3

last update 公開日: 2026-05-07 22:16:30

Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.

Perlahan, jemari Selina yang lentik mulai membuka sabuk dan kancing celana panjang Satrio. Saat celana itu merosot ke lantai, diikuti oleh pakaian dalamnya, Satrio merasa dunianya seakan berputar. Selama ini, ia hanya bisa membayangkan adegan-adegan dewasa dari film blue yang sering ia tonton secara sembunyi-sembunyi untuk melampiaskan gairahnya yang terpendam. Ia terbiasa menjadi penonton pasif, namun malam ini, fantasi itu menjelma menjadi realitas yang nyata dan berdenyut.

"Luar biasa..." gumam Selina tertahan saat melihat milik Satrio yang sudah menegang sempurna.

Selina terpaku sejenak. Pikirannya melayang kembali pada sosok Pak Aizar. Kenangan tentang bagaimana sang Presdir memandunya dulu seolah tervisualisasi kembali pada diri Satrio.

"Miliknya hampir sama dengan Pak Aizar... besar, panjang, dan bersih," batin Selina dengan mata yang kian menggelap oleh nafsu.

Tepat saat Selina baru saja menyentuh milik Satrio, sebuah suara ketukan pintu depan yang cukup keras memecah keheningan malam yang intim itu.

Tok! Tok! Tok!

"Mbak Selina? Mbak... maaf mengganggu, Mbak!" suara seorang pemuda terdengar dari luar, terdengar agak terburu-buru.

Satrio tersentak kaget. Tubuhnya yang mulai dalam ketegangan karena sensasi kulit yang bertemu kulit jauh lebih dahsyat daripada apa pun yang pernah ia bayangkan, mendadak menciut karena syok. Adrenalin gairah seketika berganti menjadi adrenalin kepanikan. Selina menghentikan gerakannya seketika, ia memejamkan mata sambil mendengus kesal, wajahnya yang penuh gairah berubah menjadi ekspresi frustrasi yang nyata.

"Sial... itu si Boni, tetangga sebelah," bisik Selina dengan nada jengkel yang tertahan.

"Mbak Selina! Ini saya, Boni! Saya baru sampai dari kampung, Mbak. Ini mau ambil kunci kamar yang saya titip kemarin!" teriak pemuda di luar itu lagi. "Mbak... maaf banget ganggu jam segini, saya baru saja sampai!"

Satrio dengan gerakan kikuk dan tangan gemetar segera menarik kembali pakaian dalamnya dan mengenakan celana panjangnya. Ia merasa sangat bodoh dan malu secara bersamaan. Gairah yang tadi sudah mencapai ubun-ubun kini terperangkap di pangkal paha, menyisakan rasa pegal yang tidak nyaman.

"I-iya, Don! Sebentar!" jawab Selina setengah berteriak sambil merapikan daster dan rambutnya yang agak berantakan. Ia menatap Satrio dengan tatapan yang sangat menyesal. "Maaf ya, Rio. Si Boni ini memang kadang nggak tahu waktu. Tapi dia harus masuk rumah."

Selina memberikan isyarat agar Satrio tetap diam di dalam kamar. Satrio hanya bisa mengangguk pasrah, duduk di tepi ranjang sambil mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih memburu. Ia mendengar Selina membuka pintu depan dan suara obrolan singkat mengenai perjalanan dari kampung, memberi Selina oleh-oleh, dan serah terima kunci.

Selang beberapa menit yang terasa seperti selamanya bagi Satrio, Selina kembali ke kamar. Wajahnya tidak lagi seberingas tadi, gairahnya mendingin karena interupsi yang menghancurkan suasana.

"Maaf banget ya, Rio... suasana jadi rusak," Selina mengusap bahu Satrio dengan lembut. Ia melihat Satrio yang tampak kaku dan kecewa. "Sepertinya ini memang sudah terlalu larut. Tetangga lain juga pasti sedang istirahat."

Satrio menarik napas panjang, mencoba mengendalikan sisa-sisa adrenalin yang masih membanjiri tubuhnya. Meskipun ia mengangguk setuju, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Di balik celananya yang baru saja ia kenakan kembali, ia masih merasakan ketegangan yang luar biasa.

Efek liontin giok itu benar-benar gila. Ditambah lagi dengan darah mudanya yang baru saja pecah telur, hasrat Satrio seolah menolak untuk padam. Ia merasa seperti mesin yang baru saja dipanaskan dan siap untuk berlari jauh, namun harus dipaksa berhenti di tengah jalan.

"Iya, Kak. Aku pulang dulu," jawab Satrio dengan suara yang kini terdengar lebih berat dan dalam.

Satrio melangkah keluar dari kontrakan Selina menuju mobil kantor yang terparkir di depan. Udara malam yang dingin menerpa wajahnya, namun panas di dadanya—tepat di posisi liontin itu berada.

Di sepanjang perjalanan menuju kosnya, Satrio menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali meraba batu giok di balik kemejanya. Ia merasa seolah-olah dunia ini sekarang ada di genggamannya. Bayangan wajah Selina yang pasrah di bawah pengaruhnya terus berputar di kepalanya.

Satrio memarkir sedan hitam pinjaman Pak Aizar dengan hati yang masih bergemuruh. Namun, kegembiraannya mendadak surut saat melihat sosok di teras rumah utama. Tante Inet, pemilik kosan yang terkenal galak dan tak kenal ampun soal uang sewa, sedang duduk santai dengan daster satin tipisnya.

Satrio meraba saku celananya yang kosong. Sial, hari ini jatuh tempo, dan uang kiriman dari kampung belum juga masuk, honor dari kantor pun hanya tersisa sedikit setelah digunakan makan di cafe tadi. Biasanya, jika Satrio telat sehari saja, rentetan omelan Tante Inet akan terdengar sampai ke ujung gang.

"Aduh, mati gue. Singa betina sudah nunggu di depan," gumam Satrio pelan, mencoba menetralkan debaran jantungnya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 139

    Perjalanan menuju ibu kota berakhir di sebuah kawasan perumahan elite yang dijaga ketat oleh petugas keamanan 24 jam. Mobil sport merah milik Satrio melaju mulus melintasi jalanan aspal sehalus cermin, lalu membelok masuk ke sebuah pekarangan luas. Di sana, sebuah rumah mewah bergaya modern tropis dengan pilar-pilar kokoh dan dinding kaca besar berdiri dengan megah.Satrio mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah kedua orang tuanya yang sejak memasuki gerbang kompleks perumahan hanya bisa terdiam dengan mata membelalak tak percaya."Bapak, Ibu... kita sudah sampai. Ini rumah baru kita," ucap Satrio lembut, memecah keheningan di dalam kabin mobil.Ibunya, dengan tangan yang gemetar, membuka pintu mobil perlahan. Begitu kakinya menapak di lantai teras yang terbuat dari marmer mengkilap, air matanya menetes. Sang ayah berjalan di sampingnya, memandangi pancuran air di taman depan dengan tatapan kosong karena terlalu takjub."Astaga, Satrio... Rumah ini besar sekali, Nak. Apa ini benar-b

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 138

    Di sudut pekarangan rumah, dekat dengan pohon mangga yang rindang, sekelompok pemuda desa tampak berkerumun. Mereka adalah teman-teman sebaya Satrio yang dulu sering nongkrong di pos ronda. Tono, Supri, Dimas, dan beberapa pemuda lainnya hanya bisa berdiri di kejauhan dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.Mereka ingat betul bagaimana dulu mereka sering mengejek Satrio yang selalu membawa buku tebal. Mereka bahkan pernah terbahak-bahak sambil menepuk pundak Satrio, mengajaknya menyerah saja dari bangku kuliah untuk menjadi buruh kasar pengangkut barang di pelabuhan kota."Lihat itu... mobilnya saja mungkin seharga seluruh rumah di desa kita," bisik Tono dengan suara bergetar, matanya tidak berkedip menatap bodi berkilau mobil sport merah milik Satrio.Dimas menghela napas panjang, menendang kerikil di dekat kakinya dengan lesu. "Dulu kita selalu mengejeknya si kutu buku miskin. Sekarang... melihatnya berdiri di sana saja aku sudah merasa tidak pantas."Satrio yang sedang menunggu ib

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 137

    Pagi itu, garasi rumah mewah Satrio diterangi oleh kilauan merah menyala dari sebuah mobil sport keluaran terbaru yang baru saja ia dapatkan. Di tangannya, Satrio menggenggam erat kunci mobil mewah itu beserta map kulit berisi surat kepemilikan rumah mewah di kawasan elite Jakarta itu. Semua kemewahan ini adalah hasil dari jerih payahnya, termasuk dari apa yang berhasil ia amankan melalui pengaruh rahasianya.Satrio tersenyum tipis, merapikan kerah kemeja kasual bermerek yang melekat pas di tubuh atletisnya. Ia tidak lagi memakai kacamata tebal yang dulu membuatnya terlihat seperti kutu buku yang lemah. Matanya kini tajam, memancarkan pesona dan kepercayaan diri yang mutlak."Sudah saatnya Bapak dan Ibu tidak perlu lagi hidup susah di kampung," gumam Satrio seraya membuka pintu mobil sport merahnya.Deru mesin berkapasitas besar itu menggelegar memecah keheningan garasi. Satrio menginjak pedal gas, membawa kendaraan miliaran rupiah itu membelah jalanan ibu kota, melaju menuju kampung

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 136

    Hari pertama Nikko Prambudi menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Sementara langsung menjadi hari yang panjang bagi Satrio. Sejak jam kantor dimulai, Nikko tidak membuang waktu untuk menunjukkan taringnya. Ia sengaja memanfaatkan ketidakhadiran Pak Aizar untuk menekan Satrio dan menjatuhkan mental pria itu di hadapan seluruh karyawan Shine Group."Satrio! Kemari kamu!" panggil Nikko dengan suara meninggi, berdiri di ambang pintu ruang kerjanya di lantai delapan.Beberapa staf administrasi yang sedang berjalan di koridor langsung menghentikan langkah. Satrio yang baru saja keluar dari ruangannya, menoleh dengan tenang. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah mendekati meja kerja sekretaris yang berada tepat di depan ruangan Nikko.Di sana, Adirah sedang duduk dengan tegang. Sebagai sekretaris sementara yang ditugaskan mendampingi Nikko selama Pak Aizar cuti, posisi Adirah sangat serba salah. Jemarinya meremas pulpen di tangannya, matanya menatap Satrio dengan pandangan penuh rasa simpa

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 135

    Suasana di lantai delapan gedung kantor pusat Shine Group pagi ini terasa sedikit berbeda dari biasanya. Sejak Pak Aizar mengambil cuti pernikahan untuk menikmati bulan madu romantis bersama Furi ke Maladewa, udara di koridor eksekutif mendadak berubah menjadi lebih tegang. Pucuk pimpinan sementara perusahaan raksasa ini kini diserahkan kepada sosok baru yang ditunjuk langsung oleh jajaran komisaris besar keluarga Prambudi. Dia adalah Nikko Prambudi, putra tunggal dari pasangan Darma dan Sisilia.Nikko baru saja menyelesaikan studi magisternya di salah satu universitas bergengsi di London. Di usianya yang masih sangat muda—seumuran dengan Satrio—Nikko langsung mendapatkan posisi strategis sebagai Wakil Presiden Direktur Sementara, menduduki ruangan megah di lantai delapan yang letaknya tepat berseberangan dengan ruangan kerja Satrio.Lelaki itu mewarisi garis wajah ibunya yang rupawan, namun dibalut dengan keangkuhan yang teramat pekat. Ketampanannya terbilang paripurna untuk ukuran

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 134

    Dilingkupi rasa takjub dan gairah yang sudah tidak terbendung lagi, Sisilia tidak tahan untuk tidak bertindak lebih jauh. Perlahan namun pasti, ia memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajah cantiknya pada kejantanan sempurna milik Satrio, siap menuntaskan setiap jengkal malam pembalasan ini di bawah kendali sang penguasa baru Shine Group itu."Ssshh... Ahh..." Satrio mengerang tertahan, suara beratnya memecah kesunyian malam di dalam unit apartemen yang temaram. Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran kursi mewah tempatnya duduk, membiarkan punggungnya menegang saat merasakan jepitan hangat dan basah yang begitu pas dari bibir tipis Sisilia. Sensasi yang dihantarkan oleh wanita sosialita itu benar-benar kuat, mengalirkan gelombang kenikmatan yang langsung menusuk hingga ke pusat kesadarannya."Kamu... kamu benar-benar tahu cara melayani seorang pria, Sisilia... Ssshh... Teruskan," bisik Satrio dengan napas yang memburu cepat, matanya terpejam rapat menikmati setiap hisapan dan ger

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 47

    "Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 4

    Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada

  • Satrio Sang Penguasa Wanita    Bab 2

    Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 1

    Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status