Masuk"Ini gimana bangunnya? Pinggangku mau copot ini," rintih jerit Avena, matanya sudah berkaca-kaca menatap langit-langit kamar sambil memegangi pinggulnya yang berdenyut nyeri.
Rafsen menghela napas panjang. Pria itu menggelengkan kepala perlahan, melangkah mendekat, lalu tanpa basa-basi menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh Avena. Sekali angkat, tubuh mungil guru TK itu langsung terangkat ke udara. "Aduh, aduh ... pelan-pelan! Ini bukan karung beras," pekik Avena refleks mengalungkan tangannya ke leher Rafsen karena takut jatuh. Rafsen membaringkan Avena kembali ke atas kasur dengan sangat hati-hati. "Makanya kalau bergerak itu pakai perhitungan, jangan sembarangan. Nanti kalau otakmu makin konslet, saya yang repot." "Apa kamu bilang? Otak konslet?" Avena langsung meradang, dadanya kembang-kempis menahan emosi. Ia sudah siap melayangkan pukulan maut ke arah Rafsen, tapi begitu badannya bergerak sedikit saja, rasa nyeri menusuk dari pinggul bawahnya. "Aww! Aduh, aduh ... sakit banget." Rafsen menatap istrinya tanpa ekspresi, kemudian berjalan menuju lemari kecil, mengambil kotak P3K, lalu kembali duduk di tepi kasur di samping Avena. "Tengkurep," perintah Rafsen singkat. Avena melotot curiga. "Ngapain?" "Saya uurut pakai salep memar. Mau pinggangmu geser sampai besok pagi?" sahut Rafsen dingin. Avena mengerucutkan bibirnya sebal, tapi karena rasa nyerinya makin menjadi-jadi, ia akhirnya menurut. Dengan gerakan sangat pelan dan diwarnai rintihan, Avena membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap, menempelkan pipinya ke bantal. "Awas, ya, kalau makin sakit, aku aduin ke Nenek." Rafsen tidak membalas ancaman itu. Tangannya bergerak mengambil tube salep khusus memar. Namun, ketika jemari Rafsen menyentuh pinggang bawah baju Avena dan bersiap mengangkatnya, Avena langsung menegang kaku. "E-eh, mau ngapain?" Avena buru-buru menahan tangan Rafsen di pinggangnya, kepalanya menoleh ke belakang dengan mata membelalak. "I-ini kenapa kemeja aku disingkap? Kamu mau mesum, ya?" "Salepnya harus kena kulit langsung, Avena. Bukan dioles di atas kain," jawab Rafsen datar. "Saya mau lihat seberapa parah memarnya." "Nggak, nggak. Nanti kamu jelalatan. Kamu, kan, pria mesum yang tadi hampir nyium aku," tuduh Avena blak-blakan, wajahnya merona hebat sampai ke telinga. Rafsen menghela napas pendek, matanya mengunci pandangan Avena. "Saya bersumpah demi Kakek di surga dan Nenek di rumah sakit, saya tidak akan jelalatan. Saya cuma mau ngobatin. Paham?" Avena memiringkan kepala, meneliti rahang tegas dan mata jernih suaminya. Setelah tiga detik memastikan tidak ada raut licik di wajah beruang kutub itu, Avena mendengus pasrah. Ia kembali menyurukkan wajahnya ke bantal, memejamkan mata rapat-rapat. "Awas, ya, kalau bohong ... dosa tahu!" "Iya," sahut Rafsen pendek. Jemari dingin Rafsen mulai menaikkan kemeja Avena hingga ke batas punggung tengah, mengekspos kulit mulus bagian pinggangnya. Udara pendingin ruangan yang menerpa kulit telanjang itu membuat Avena sedikit merinding. Tak berhenti di situ, jari-jari Rafsen yang berukuran besar dengan perlahan menurunkan batas celana kain yang dipakai Avena. Avena menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya meremas seprai kasur hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa malu yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya saat merasakan hawa dingin menerpa area pinggul bawahnya. "Benar, kan, memar biru." Pria itu mengoleskan salep di telapak tangannya, lalu perlahan menempelkan telapak tangan hangatnya ke kulit pinggul Avena yang memar. "Ssshh ... aduh. Pelan-pelan, sakit," rintih Avena, tubuhnya sedikit meliuk merasakan oleh nyeri dan sensasi aneh yang menyetrum sarafnya. "Diam sebentar. Ini supaya memarnya nggak membeku," kata Rafsen. Namun, area memar itu ternyata terletak agak terlalu rendah, tepat di batas atas tulang panggul yang tertutup underwear renda merah jambu milik Avena. Rafsen sempat terhenti sejenak. Tanpa peringatan lebih lanjut, jemari panjang Rafsen bergerak perlahan menyelusup, sedikit menggeser dan menurunkan pinggiran underwear tipis itu agar salep bisa menjangkau seluruh area kulit yang memar. Sentuhan kulit ke kulit secara langsung di area sensitif itu seketika membuat napas Avena tertahan. Kulitnya yang mulus terasa kontras dengan telapak tangan Rafsen yang sedikit kasar dan hangat. Usapan memutar yang diberikan Rafsen awalnya terasa menyakitkan, tapi perlahan-lahan berubah menjadi pijatan lembut. Avena yang tadinya merintih kesakitan, kini malah menahan napasnya sendiri. Sensasi hangat dari salep bercampur dengan getaran aneh dari sentuhan jemari Rafsen membuat dadanya bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Rafsen bisa mendengarnya. "Masih sakit?" tanya Rafsen. Usapan tangannya di pinggul Avena melambat, ibu jarinya diam-diam mengusap lembut garis pinggang halus wanita itu. Avena tidak berani menjawab. Ia menyembunyikan wajahnya yang sudah membara di balik bantal, matanya merem-melek menahan desiran aneh yang menyerang seluruh kesadarannya. "Aduh, ini kenapa usapannya malah makin naik-turun begini, sih?" Rafsen menunduk lebih dalam, embusan napas hangatnya kini terasa tepat di tengkuk Avena yang terbuka, membuat bulu kuduk istrinya itu berdiri sempurna. Tangan Rafsen yang memegang pinggul Avena kini tidak lagi memijat memar, melainkan meremas pelan pinggang ramping istrinya. "Avena," panggil Rafsen, suaranya pelan. Avena mendongak sedikit dari bantal dengan mata berkaca-kaca dan napas yang agak memburu. "A-apa?" "Memarnya sudah diolesi," ujar Rafsen datar. Namun, bukannya menarik tangannya kembali atau menaikkan celana Avena, pria itu justru makin memiringkan tubuhnya di atas Avena. Matanya menatap tajam ke arah bibir Avena yang agak terbuka. "Tapi janji saya sama Nenek tadi belum." Avena membelalakkan mata, otaknya langsung loading darurat. "T-tunggu! Katanya kamu bersumpah cuma mau ngobatin?" "Tadi itu waktu kamu sakit," sahut Rafsen santai, kini jemarinya justru makin erat mengunci pinggang Avena. "Sekarang, kan, sudah diobati. Berarti udah nggak sakit, kan? Apa kita bisa lanjut penuhi janji pada Nenek, Avena? "Lho?! Logika macam apa itu?!" jerit Avena histeris."Jangan teriak-teriak. Telinga saya sakit," ujar Rafsen tetap setenang dan sedingin es batu di dalam kulkas, meski jemarinya di pinggang Avena terasa sehangat bara api.Avena yang tadinya sudah siap melayangkan amukan langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia membelalak, melotot ke arah suaminya dengan napas terengah-engah.Rafsen bergerak perlahan, membalikkan tubuh Avena yang tadinya tengkurap menjadi berbaring terlentang dengan sangat hati-hati. Tatapannya meneliti raut wajah Avena yang memerah padam."Kamu bisa ganti baju sendiri?" tanya Rafsen. "Kalau tidak bisa, saya bantu.""Bisa! Bisa sendiri! Nggak usah sok perhatian," semprot Avena kesal. Kali ini ia menahan diri untuk tidak memekik keras-keras, takut mulutnya disumpal atau malah dimarahi lagi oleh beruang kutub di hadapannya ini.Avena mencoba mendudukkan tubuhnya. Ia menyangga bobot badannya dengan kedua siku, bermaksud untuk berdiri menuju lemari. Namun, baru saja pinggulnya terangkat beberapa sentimeter dari permu
"Ini gimana bangunnya? Pinggangku mau copot ini," rintih jerit Avena, matanya sudah berkaca-kaca menatap langit-langit kamar sambil memegangi pinggulnya yang berdenyut nyeri.Rafsen menghela napas panjang. Pria itu menggelengkan kepala perlahan, melangkah mendekat, lalu tanpa basa-basi menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh Avena. Sekali angkat, tubuh mungil guru TK itu langsung terangkat ke udara."Aduh, aduh ... pelan-pelan! Ini bukan karung beras," pekik Avena refleks mengalungkan tangannya ke leher Rafsen karena takut jatuh.Rafsen membaringkan Avena kembali ke atas kasur dengan sangat hati-hati. "Makanya kalau bergerak itu pakai perhitungan, jangan sembarangan. Nanti kalau otakmu makin konslet, saya yang repot.""Apa kamu bilang? Otak konslet?" Avena langsung meradang, dadanya kembang-kempis menahan emosi. Ia sudah siap melayangkan pukulan maut ke arah Rafsen, tapi begitu badannya bergerak sedikit saja, rasa nyeri menusuk dari pinggul bawahnya. "Aww! Aduh, aduh ... saki
"Bisa di-download di PlayStore nggak?!" Jeritan batin Avena itu tidak sempat keluar dari tenggorokannya. Ia hanya bisa melotot kesal, menahan napas sampai wajahnya makin merah padam. Sementara itu, sang nenek di atas ranjang justru terkekeh gembira, mengangguk-angguk puas mendengar jawaban sepihak dari cucu menantunya yang kelewat tanggap itu."Bagus, Rafsen. Nenek pegang janji kamu, ya," ujar Nenek dengan binar mata bahagia. "Avena ini emang suka canggung, tapi aslinya manut, kok, kalau diajari.""Ya Tuhan, Nenek ... ini cucumu lagi dijual secara tidak langsung oleh beruang kutub, lho," batin Avena lagi tak sadar rahangnya menggeram.Rafsen sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan membunuh yang dilayangkan Avena. Pria itu mengangguk sopan pada Nenek, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Nenek istirahat dulu. Avena saya bawa pulang, kasihan dia capek habis ngajar di sekolah.""Iya, iya, pulang sana. Cepat bikin cicit nenek sampai rumah nanti, jangan tunda lagi," goda Nenek r
"Mundur, Pak! Mundur! Ini gang sempit, jam segini waktunya anak-anak masuk sekolah, malah nekat bawa mobil segede gaban ke sini!" teriak seorang bapak-bapak berkaus kutang dari atas motor bebeknya, tangannya mengacung-acung kesal ke arah kaca mobil tersebut."Iya, nih, bikin macet aja. Mana anak saya udah mau bel masuk lagi," sahut ibu-ibu di belakangnya yang sedang memegangi payung.Avena langsung turun, jantungnya berdisko menahan malu tingkat dewa. Ia memarkirkan motornya asal di pinggir jalan, lalu berlari kecil membelah kerumunan orang-orang yang mulai bersungut-sungut. Kepala Avena rasanya mau pecah. Bagaimana bisa pria jenius yang otaknya biasa merancang tata kota dan gedung bertingkat, mendadak kehilangan fungsi navigasi dasar sampai tersesat di gang senggol selebar dua meter ini?Avena mengetuk kaca mobil Rafsen dengan brutal. "Rafsen, buka! Kamu ngapain di sini, sih?"Rafsen menoleh perlahan, wajahnya tetap lempeng tanpa dosa. Pria itu menurunkan kaca mobilnya secara pen
"Kamu gila , Rafsen? Aku lebih cantik darinya, latar belakangku jelas dan aku lebih lama kenal kamu. Aku bisa bantu kamu di kantor, dia bisa apa? Pasti bisanya cuma nyusahin!" jerit Clarissa, napasnya memburu tersulut amarah. Rafsen tidak memandang Clarissa sama sekali, sepasang mata legamnya sejak tadi tertuju pada Avena, sembari kian mengencangkan tangannya di pinggang wanita itu. "Jaga ucapanmu. Satu kata lagi kamu merendahkan istri saya, saya tidak akan segan-segan memutuskan semua kontrak kerja kita." Clarissa terkesiap, melangkah mundur dengan pandangan tidak percaya. Selama bekerja di biro arsitektur milik Rafsen, ia belum pernah melihat pria sekaku beton itu mengeluarkan ancaman personal demi seorang wanita. Avena yang awalnya tegang, mendadak merasa di atas angin. Otaknya yang terbiasa menghadapi drama anak-anak TK langsung menyimpulkan satu hal, "Wah, suamiku lagi butuh partner sandiwara buat mengusir lalat, nih." Demi mensukseskan akting Rafsen, Avena sengaja menyand
Pagi ini setelah bangun, Avena sudah berkutat di dapur. Mengingat ia tumbuh besar tanpa orang tua dan hanya dirawat oleh sang nenek, urusan dapur sudah menjadi keahliannya sejak kecil. Tangannya bergerak cekatan, sembari mengaduk masakan, matanya sesekali melirik layar ponsel. Neneknya masih berada di rumah sakit. Untungnya, Rafsen sudah menyewa perawat khusus untuk berjaga di sana selama dua puluh empat jam. Avena menghela napas panjang, mendadak rasa rindu mendera dadanya. Setelah sarapan ini selesai, ingin sekali rasanya pergi menjenguk ke rumah sakit. Tap! Tap! Tap! Suara langkah kaki membuat Avena sontak menegakkan tubuh. Rafsen turun dari tangga dengan rambut acak-acakan. Avena berdeham. "Pagi, ini aku masak nasi goreng sama telur ceplok. Dimakan aja kalau mau," ujar Avena sambil menyendokkan nasi ke atas piring dan menyuguhkannya di meja makan. Rafsen tidak bersuara. Pria itu menarik kursi, duduk, dan langsung menyendok nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya. Aven







