LOGIN"Bisa di-d******d di PlayStore nggak?!" Jeritan batin Avena itu tidak sempat keluar dari tenggorokannya. Ia hanya bisa melotot kesal, menahan napas sampai wajahnya makin merah padam.
Sementara itu, sang nenek di atas ranjang justru terkekeh gembira, mengangguk-angguk puas mendengar jawaban sepihak dari cucu menantunya yang kelewat tanggap itu.
"Bagus, Rafsen. Nenek pegang janji kamu, ya," ujar Nenek dengan binar mata bahagia. "Avena ini emang suka canggung, tapi aslinya manut, kok, kalau diajari."
"Ya Tuhan, Nenek ... ini cucumu lagi dijual secara tidak langsung oleh beruang kutub, lho," batin Avena lagi tak sadar rahangnya menggeram.
Rafsen sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan membunuh yang dilayangkan Avena. Pria itu mengangguk sopan pada Nenek, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Nenek istirahat dulu. Avena saya bawa pulang, kasihan dia capek habis ngajar di sekolah."
"Iya, iya, pulang sana. Cepat bikin cicit nenek sampai rumah nanti, jangan tunda lagi," goda Nenek riang.
Begitu pintu kamar VIP itu tertutup rapat, Avena langsung menyambar lengan kemeja Rafsen, menarik pria itu agak menjauh dari jangkauan suster yang lewat.
"Kamu tadi ngomong apa sama Nenek, hah?!" pekik Avena lirih, matanya hampir melompat keluar. "Mengusahakan secepatnya? Kamu gila, ya? Kita tidur aja dipembatasi guling setebal Tembok Cina, emangnya kamu mau bikin cicit dari jalur gaib?"
Rafsen menunduk, menatap tangan Avena yang meremas kemeja mahalnya hingga kusut. Ekspresinya? Masih lempeng seperti papan gilasan.
"Daripada Nenek banyak pikiran," jawab Rafsen singkat.
"Tapi jawabannya nggak gitu juga, Kulkas. Nanti kalau Nenek menagih hasil testpack minggu depan, aku harus jawab apa?" Avena mengacak rambutnya frustrasi, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di koridor rumah sakit.
Rafsen menghela napas pendek. Ia meraih pergelangan tangan Avena, melepaskan cengkeraman wanita itu dari kemejanya, lalu melangkah menuju pintu keluar.
"Pulang. Nanti dibahas di rumah."
"Bentar. Motor matic-ku gimana?"
"Dibawa Pak Joko, dia tadi saya suruh ke sini naik taksi. Kamu naik mobil sama saya."
Sepanjang perjalanan pulang, mobil hitam itu diliputi keheningan, Avena sengaja membuang muka ke jendela sambil bersedekap dada, mengomel tanpa suara. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra sumpah serapah untuk suaminya.
Ketika mobil mereka berhenti di lampu merah sebuah persimpangan jalan besar, Avena yang melirik ke samping sontak matanya membelalak.
Tepat di samping mobil mereka, berhenti sebuah motor matic merah miliknya. Di atas motor itu, duduk Pak Joko dengan helm bogo pudar milik Avena yang kesempitan di kepalanya, ditambah tas ransel gambar Barbie milik Avena yang dicangklong di dada bidang Pak Joko.
Avena menurunkan kaca mobil spontan. "Pak Joko?!"
Pak Joko menoleh, lalu membuka kaca helmnya dengan susah payah. "Eh, Nyonya Avena. Ini saya disuruh Pak Rafsen bawa motor Nyonya pulang. Tapi ini tas Barbie-nya enggak muat di bagasi, Nyonya. Jadi, saya pakai aja, deh."
Avena sontak menepuk jidatnya. "Aduh Gusti, tas kesayanganku buat mengajar dipake Pak Joko yang berbadan kekar."
Lampu hijau menyala, mobil Rafsen melaju meninggalkan Pak Joko yang melambaikan tangan dadah-dadah dari atas motor merah. Avena menoleh perlahan ke arah Rafsen yang masih fokus menyetir.
"Kamu nggak kasihan sama Pak Joko bawa tas begitu?" tanya Avena pasrah.
"Tas kamu warna merah pudar. Senada sama helmnya," sahut Rafsen datar tanpa rasa bersalah.
Sesampainya di rumah, Avena langsung melesat masuk ke kamar utama. Rasa lelah habis mengajar hingga syok ditagih cicit membuat energinya terkuras habis. Ia melempar tubuhnya ke atas ranjang empuk tanpa memedulikan batas guling lagi.
Tak lama kemudian, Rafsen masuk setelah melepas jas dan melonggarkan dasinya. Pria itu berdiri di tepi ranjang, menatap Avena yang telentang seperti penyu terbalik.
"Mandi dulu," tegur Rafsen.
"Nanti. Aku lagi ngambek, jangan disuruh-suruh," semprot Avena, menutup wajahnya dengan bantal.
Dari balik bantal, Avena mendengar suara gemerisik kain dan langkah kaki mendekat. Tiba-tiba, bantal yang menutupi wajahnya ditarik perlahan. Wajah tampan Rafsen kini berada tepat di atasnya, hanya berjarak beberapa senti.
Aroma wangi dari tubuh pria itu seketika memenuhi indra penciuman Avena.
Jantung Avena langsung berdegup maraton. "R-Rafsen? Kamu mau ngapain? Inget, ya, aku belum mandi masih bau, jangan macam-macam."
Rafsen menatap sepasang mata Avena dalam-dalam. Sepasang mata elangnya yang biasanya dingin, kali ini memancarkan pendar aneh yang membuat bulu kuduk Avena bergidik, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar ke dadanya.
Tangan besar Rafsen terangkat, jarinya yang dingin menyapu lembut dahi Avena, lalu turun mengusap pipinya yang memerah.
"Ucapan saya ke Nenek tadi, bukan sekadar formalitas."
Avena membeku total. "M-maksudnya?"
Rafsen memiringkan kepalanya sedikit, menatap bibir Avena yang sedikit terbuka karena terkejut. "Saya tidak pernah main-main dengan janji. Apalagi janji sama orang tua."
"T-tapi, kan, kita nikah tanpa cinta. Kamu sendiri yang bilang lusa mau fokus kantor, aku fokus ngajar," sahut Avena tergagap.
"Itu, kan, lusa," potong Rafsen pelan. Tangannya yang berada di pipi Avena kini merayap perlahan ke belakang leher wanita itu, menahannya agar tidak bisa melarikan diri. "Sekarang saya berubah pikiran."
Tok! Tok! Tok!
Belum sempat Avena memproses kalimat itu, pintu kamar tiba-tiba diketuk keras dari luar, membuat keduanya melongok kaget.
"Ekhem! Permisi, Pak Rafsen, Nyonya ... ini saya mau mengembalikan kunci motor sama tas Barbie-nya," ucap Pak Joko terdengar dari balik pintu.
Avena langsung mendorong dada bidang Rafsen dengan sekuat tenaga hingga pria itu terdorong mundur. Dengan kecepatan kilat, Avena menggulingkan tubuhnya ke samping hingga tak sengaja kembali jatuh mendarat telentang di lantai keras untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut.
BRUK!
"Aduuuh ... pinggangku!" jerit Avena kesakitan, memegangi pinggulnya sambil menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca.
Rafsen berdiri kaku di tepi kasur, menatap istrinya yang tergeletak di lantai, lalu melirik ke arah pintu yang masih tertutup itu dan mungkin Pak Joko juga sudah pergi.
Avena yang masih telentang di lantai menatap Rafsen dengan pandangan merana. "Rafsen, tolong panggilkan ambulans. Kayaknya cicit Nenek gagal diproduksi gara-gara pinggang ibunya patah. Awww!"
"Mobil Pak Rafsen parkir di pinggir jalan raya depan gang, Bu Avena. Beliau jalan kaki ke sini sambil bawa buket bunga Mawar Putih, mana pakaiannya rapi banget kayak CEO-CEO," ucap Pak Slamet, penjaga sekolah, bergema di koridor ruang guru yang mulai sepi. Jam pulang sekolah baru saja berlalu lima belas menit yang lalu.Avena yang sedang merapikan tasnya langsung membeku. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan rasa bersalah yang membakar dadanya sejak pembicaraannya dengan Miss Siska siang tadi."Pak Rafsen jalan kaki ke sini?" ulang Avena tak percaya."Iya, Bu. Anak-anak sama ibu-ibu wali murid yang belum pulang pada ngumpul di depan gerbang, heboh banget ngeliatin suami Ibu," jawab Pak Slamet menyengir lebar.Avena tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menyambar tasnya dan berlari kecil menyusuri koridor, melangkah keluar menuju halaman depan sekolah.Langkah Avena terhenti seketika. Di sana, di antara kerumunan beberapa wali murid yang berbisik-bisik kagum dan sekumpulan anak TK
"Miss Avena, kopi kamu sampai dingin begitu belum tersentuh dari tadi," tegur Miss Siska lembut, meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang guru TK Tulip.Avena tersentak kaget dari lamunannya. Ia memandangi cangkir kopi di depannya yang memang sudah tak lagi menguarkan uap. Jam istirahat anak-anak baru saja dimulai, tetapi sejak melangkah keluar dari mobil Rafsen di depan gang tadi pagi, pikiran dan jiwanya seolah tertinggal di tempat lain. Mengajar mewarnai dan bernyanyi bersama para murid pun dilakukannya setengah hati."Eh, iya, Miss, maaf, saya agak kurang fokus," ujar Avena, menyunggingkan senyum tipis.Miss Siska duduk di kursi samping Avena, menatap rekan kerjanya itu helaan napas lirih. "Sejak perjalanan pulang dari Puncak kemarin sore, raut wajahmu beda sekali, Miss. Anak-anak mungkin tidak sadar, tapi saya lihat kamu lebih banyak melamun. Kalau ada beban yang mengganjal, tidak apa-apa kalau mau cerita. Tapi kalau tidak mau, setidaknya jangan biarkan pikiran buruk i
"Turunkan aku di depan gang. Mobil kamu kebesaran, nggak bakal muat masuk sampai depan TK," kata Avena dingin, matanya menatap lurus ke kaca depan tanpa sedikit pun melirik pria di samping kemudi.Rafsen tidak membalas. Tangan kekarnya mencengkeram erat roda kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Ketika mobil berhenti tepat di mulut gang sempit menuju TK tempat Avena mengajar, Avena langsung melepas sabuk pengamannya. Ia meraih tasnya, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan kata terima kasih yang biasanya selalu meluncur manis dari bibirnya.BRAKK!Pintu mobil ditutup kencang, sukses membuat otot rahang Rafsen makin mengeras.Melalui kaca mobil, Rafsen terus menatap punggung Avena. Langkah kaki istrinya begitu cepat, rok kain lebar yang dikenakannya melambai searah dengan emosinya. Pria itu terus mengawasi Avena yang lambat laun menyatu dan menghilang di antara kerumunan orang.Bahkan ketika bayangan Avena benar-benar sudah tidak terl
"Siapa yang mengizinkanmu memindahkan barang-barangmu ke kamar lain?" Pria itu berdiri kaku di ambang pintu kamar tamu, menatap Avena yang sedang menata bantal dan selimut yang dibawanya dari kamar utama. Avena menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun. Sikap kaku dan tatapan tajam Rafsen selama perjalanan pulang dari Puncak tadi sore masih membakar dadanya. Di dalam bus tadi, mereka berdua saling diam bagaikan dua patung es yang dipajang berdampingan, membuat seluruh guru TK dan anak-anak merinding ketakutan. "Ruang kerja kamu, kan, dekat dari kamar utama, aku nggak mau mengganggu telepon pekerjaan rahasia kamu malam-malam. Di kamar tamu lebih tenang." Rafsen melangkah lebar, memotong jalan Avena dan mengunci pergerakan wanita itu tepat di depan pintu kamar. Iris matanya menatap Avena lekat-lekat, menyembunyikan rasa gelisah yang mulai mencengkeram dadanya. "Saya suami kamu, Avena. Tempat kamu di kamar utama, bersama saya," tegas Rafsen. Avena mendongak, menyunggin
Keesokan Harinya Avena sedang sibuk merapikan tumpukan kertas warna-warni di meja saung terbuka, saat yang sama, ponselnya di dalam tas kecil berdering nyaring. Ia merogohnya, mengira itu telepon dari Rafsen yang sedang mengecek area restoran bersama Bagas.Namun, nomor di layar tidak dikenal."Halo, selamat pagi?" sapa Avena ramah."Selamat pagi, Avena. Maaf mengganggu waktumu." Suara wanita di ujung telepon terdengar begitu halus.Avena menegang. Ia mengenali suara itu. "N-Natasha?"Natasha tertawa kecil. "Senang kamu masih ingat suaraku. Aku cuma mau mengucapkan selamat atas acara study tour-mu yang mewah. Luar biasa, ya, Rafsen sampai menguras fasilitas Vantara Resort cuma demi menuruti kemanjaan kamu."Avena mengepalkan tangannya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Kalau kamu cuma mau bicara hal gak penting, maaf, aku lagi kerja.""Tentu aku tahu kamu sibuk, Avena. Tapi apa kamu tidak penasaran kenapa Rafsen tiba-tiba memanjakanmu setinggi langit?" Jeda sejenak membuat dad
Beberapa Jam Kemudian | Vantara Resort Puncak"Om Bagas, tolong pegangin ember ini. Aku mau nangkep ikan lele giant." Suara cempreng milik Alvaro melengking tepat di telinga Bagas. Asisten pribadi berkemeja polo ketat bertuliskan PANITIA itu memejamkan mata erat-erat, meratapi nasibnya yang kini berdiri melamun di tengah kolam lumpur dangkal Vantara Resort Puncak. Celana bahan mahal yang biasanya melintasi lantai marmer kantor kini digulung asal-asalan sebatas lutut, dipenuhi cipratan lumpur kecokelatan."Eh, bocil, ini Lele Siluman, kalau ditangkap malah kamu bisa dimakan sama dia. Tolong jangan aneh-aneh, ya, Om nggak mau disalahin. Tangkap yang kecil-kecil aja itu," ratap Bagas dengan senyum meringis yang teramat pasrah.Avena yang berdiri di pinggir kolam bersama anak-anak TK kelas Tulip lain langsung tertawa pingkal-pingkal. Mengenakan kaus seragam yayasan dan topi caping mungil, Avena tampak begitu menggemaskan."Semangat, Pak Bagas. Itu demi bonus lima puluh persen," goda Ave







