Inicio / Romansa / Satu Hari Dua Akad / Dasar Anak Awan!

Compartir

Dasar Anak Awan!

Autor: Azalea
last update Fecha de publicación: 2023-09-21 16:31:20

"Kenapa teriak-teriak?" Jingga melihat Langit yang berdiri di depan pintu dengan wajah santai.

"Nggak ada. Aku mau tidur di sini ya," ujarnya lalu melangkah masuk. Menghempaskan tubuhnya ke kasur.

"Eh. Kamu itu bukan anak kecil, masa tidur di kamar Bunda sama Papa sih?" Jingga menyusul, menarik-narik tangan Langit agar turun dari kasur.

Anak satu ini tengilnya tidak ada obat. Tahu saja jika orang tuanya mau melakukan yang iya-iya makanya mengganggu.

"Malam ini aja deh jadi anak kecil. Aku mau d
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Tri Wahyuni
semoga Jingga hamil lagi dpt anak laki2 dr Dipta sang dokter yg sabar dn romantis .biar g iri jibgga mempunyai dpt anak laki2 dr Dipta tuk anak menutup ...
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Satu Hari Dua Akad   Akhirnya Bisa Bahagia

    “Gue tahu lo kecewa sama Mama. Lo beneran nggak mau nemuin Mama?” tanya Bisma.“Daripada gue marah-marah ke Mama mending nggak dulu.” Bian masih merasakan kekecewaan yang mendalam.“Sekarang Mama nggak pura-pura lagi, gue sendiri yang nemuin dokternya. Mama bener-bener kena stroke.”Bukan Bian yang kaget tapi Aini yang membuka mulutnya dengan lebar saking kagetnya mendengar kabar soal ibu mertuanya. Kemarin mereka menganggap Bu Liana itu pura-pura tapi nyatanya memang terkena serangan jantung hingga membuatnya terkena stroke.Bukan hanya tidak bisa berjalan, Bu Liana juga tidak bisa bicara sama sekali.“Mas, kita lihat Mama ya,” pinta Aini, ia masih memiliki hati.“Sayang ....”“Mas, aku nggak mau kamu terus menjauhi Mama. Mungkin dengan kejadian ini Mama menyadari apa yang pernah diperbuatnya itu sebuah kesalahan. Aku nggak mau kamu jadi anak durhaka, Mas.” Aini menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca.Aini sudah menganggap Bu Liana sebagai ibunya meski perlakuan Bu Liana jauh da

  • Satu Hari Dua Akad   Sandiwara Mama Mertua

    “Mama kok bisa di sini?” Aini langsung berdiri menghampiri ibu mertuanya yang ada di ambang pintu, duduk di kursi roda.“Mama sudah keluar dari rumah sakit dan mau melihat Lyla,” ujar Bu Liana tapi pandangan matanya menghunus pada Nella yang tidak kalah tajam menatap Bu Liana.“Bukannya dokter bilang kalau Mama-”“Mama nggak tenang kalau ada di rumah sakit takutnya kamu didatangi orang bermuka dua ini,” potong Bu Liana tanpa mengalihkan pandangan dari Nella.Nella menyeringai, ia tahu Bu Liana kini mulai melakukan permainannya. Nella tidak akan langsung masuk tapi mengambil ancang-ancang.“Mbak Ai, kalau begitu aku permisi dulu ya. Lain kali aku main lagi,” pamit Nella.“Loh, kenapa?”“Bawaannya panas di sini. Ada yang terbakar tapi bukan api,” ucap Nella dengan senyum penuh arti, ia beralih pada Lyla yang sibuk dengan mainannya, “Lyla, Tante pulang dulu ya. Nanti main lagi ke sini.”“Tante, Lyla masih mau main

  • Satu Hari Dua Akad   Perdebatan Sengit

    "Mas, ayo kita lihat Mama.""Kamu di sini aja, biar Mas yang kesana." Bian menahan Aini untuk tidak ikut."Tapi, Mas-""Nurut ya. Besok baru kamu boleh nengokin Mama. Aku juga sekalian ke pasar habis dari rumah sakit jadi kami mending nggak usah ikut.""Ya udah, semoga Mama nggak kenapa-kenapa."Aini merasa khawatir pada ibu mertuanya. Meskipun Bu Liana sering berbuat jahat tapi Aini tidak sampai hati jika harus senang atas berita yang didengarnya. Ia tetap menghormati Bu Liana sebagai ibu mertua."Mas berangkat ya." Bian langsung pergi setelah taksi online yang dipesannya datang.Alamat rumah sakit sudah dikirimkan oleh art Bu Liana. Bian mengubah tujuan langsung ke rumah sakit, terpaksa ia harus memesan mobil itu sampai nanti pulang lagi karena tidak ingin ribet apalagi harus menunggu lagi. Bian pun tidak akan lama di rumah sakit, hanya melihat kondisi ibunya setelah itu pulang."Nyonya di dalam, dari tadi men

  • Satu Hari Dua Akad   Karma dan Bahagia

    POV Author“Aish! Kenapa juga aku harus memohon kayak gini, macam nggak ada cowok lain.” Nella melemparkan ponselnya sembarang arah lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia baru saja membaca ulang pesan yang kemarin malam dikirim pada Bian.Menjatuhkan harga diri, pikir Nella.Nella bukan wanita yang haus akan cinta, ia memang marah dan kecewa saat tahu ternyata ibu mertuanya itu menipunya metah-mentah. Mengatakan jika Bian tidak pernah menikah padahal nyatanya sudah menikah bahkan memiliki anak dari Aini.Tidak hanya marah pada Bu Liana tapi pada Bian dan juga Aini karena merasa dibohongi, ia merasa seperti orang bodoh karena hanya ia sendiri yang tidak tahu soal fakta besar ini.Setelah tahu fakta, Nella menurunkan orang kepercayaannya untuk mencari tahu soal apa yang terjadi sebenarnya, apakah memang kesengajaan. Nella tidak mau salah membenci orang.Tidak bisa dipungkiri jika ia merasa nyaman bersama dengan Bian tapi bicara

  • Satu Hari Dua Akad   Masih Harus Berjuang

    “Tadi pas aku lewat denger suara orang nangis, aku kira Lyla yang nyariin Mbak Ai ternyata aku salah,” jawab Mas Bian sambil tertawa.Aku pikir dia akan membongkar semuanya.“Salahnya apa?”“Ternyata Mbak Ai yang nangis.”Ya ampun, kenapa Mas Bian malah mengatakan itu.“Terus kamu nyelonong saja begitu? Ih, nggak sopan banget sih. Mbak Ai pasti marah.”“Tadi saja aku langsung diusir, aku hanya khawatir Lyla kenapa-napa.”“Syukurlah kalau Lyla nggak apa-apa. Tapi kamu itu bikin malu, Mas. Main masuk ke kamar orang saja.”Sekarang bisa bernapas lega saat mendengar suara langkah kaki mereka menjauh. Salahku memang karena lupa mengunci pintu kamar, besok malam aku harus mengunci pintu agar Mas Bian tidak main masuk ke dalam kamar dan kepergok seperti tadi, untung saja Bu Nella percaya kalau tidak akan semakin bahaya.Aku bangun lebih pagi berniat membersihkan halaman belakang setelah selesai memasukkan semu

  • Satu Hari Dua Akad   Memilih Menjauh

    “Sayang.”aku berjengit mendengar suara Mas Bian. Menoleh menatapnya menyembulkan kepala di celah pintu kamar mandi.“Kenapa, Mas?”“Kalau mau pesan makan sekalian kopi ya.”“Ya ampun, kamu cuman mau bilang itu doang keluar kamar mandi?” Aku geleng-geleng kepala dengan tingkah Mas Bian.“Iya.” Dia menjawab sambil tersenyum lebar lalu masuk lagi ke dalam kamar mandi.Dia tidak menyadari raut wajahku jadi tidak khawatir. Biarkan nanti Mas Bian membaca sendiri pesan dari Bu Nella. Aku jadi penasaran bagaimana reaksi Mas Bian nanti. Apa dia akan mengikuti keinginan Bu Nella atau tetap dengan pendiriannya untuk tidak ikut campur lagi dengan urusan ibu mertua.Tapi mendengar sampai membawa-bawa hukum, ngeri juga sebenarnya. Tapi jika memang Bu Nella dan keluarganya merasa tertipu itu hal wajar, aku saja marah saat Mas Bian diberitahu kalau aku sudah meningga

  • Satu Hari Dua Akad   Season 2 (Bagaimana Rasanya Tidur Dengan Suamiku)

    Bab 1 "Iya, papa pulang minggu depan. Maaf ya, banyak sekali pekerjaan soalnya." Aku mencoba melepaskan tangan mas Dirga. Dia menelpon istrinya di hadapanku, sepertinya dia tidak takut jika tiba-tiba aku merebut ponsel dan bicara pada istrinya. "Lepas!" Mulutku bergerak tanpa suara. Bukannya melepas

  • Satu Hari Dua Akad   Semakin Tua Semakin Menggoda

    "Gue kira ada ukhti yang pengen ta'aruf gitu, ternyata kang paket," gumam Langit lalu melempar paket itu sembarangan.Embun bicara seolah-olah ada seseorang penting yang mencari sang kakak, nyatanya hanya kurir yang mengantarkan paket."Mana ada ukhti yang mau sama Abang, paling kunti yang mau," celet

  • Satu Hari Dua Akad   Kembar Tiga

    "Bunda pindah profesi ya dari ibu rumah tangga jadi tukang salon?" celetuk Langit."Berisik!" Jingga melotot.Diam-diam Awan mengulum senyum, akhirnya ia bisa melihat sosok Langit yang sebenarnya. Tidak jaim seperti biasanya tapi tetap saja hal yang ditunggu Awan itu Langit memanggilnya dengan sebutan

  • Satu Hari Dua Akad   Saat Mereka Bertemu

    "Soal Mama lah, sayang. Soal apa lagi, tapi aku janji aku bakalan lebih tegas lagi. Aku nggak mau dianggap kepala keluarga yang lembek karena kalah terus dari Mama.""Ini bukan soal kalah atau menangnya, Mas. Tapi kamu juga harus tetap bicara baik-baik ke Mama, semakin berumur tingkahnya seperti anak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status