LOGINDi sebuah bar salah satu kota Jakarta, dentuman musik yang mengusik telinga, saling bersinambung dengan lampu lampu yang gemerlap. Bau alkohol di segala sisi, bunyi gelas yang bersentuhan sudah menjadi hal wajar disana.
Wanita dan pria menari nari mengikuti alunan musik, melenggak lenggokkan tubuh seakan melepas beban. Demikian juga dengan Lea yang ikut menari nari di bawah lampu gemerlap, hanya mengikuti alunan musik tak ada gerakan khusus. "Mau?" Tawar seorang pria menyodorkan minuman beralkohol dalam gelas. "Gue nggak minum" Tolak Lea menggelengkan kepala. "Coba dikit aja" Pria itu masih mencoba untuk memaksa Lea. "Sorry" Lea akhirnya memilih undur diri, duduk di sebuah meja bar. "Bagi minuman yang non Alkohol" Ujarnya pada bartender. "Kenapa nggak ke cafe mbak? lagi galau ya?" tebak bartender melihat wajah muram Lea. "Ya gitu" Lea mengangguk. "Have fun aja mbak, pria itu harus di imbangi" Bartender itu memberikan minuman pada Lea yang tidak memiliki kadar alkohol. "Benar juga" Lea mengangguk lalu beralih melihat sekilas beberapa pria bayaran di sudut ruangan. "Disini tarif cowok berapa?" Bisik Lea pada bartender sedikit malu. "Beragam mbak, mungkin dua juta" Jelas bartender itu. "Mahal banget" "Coba mbak tawar sana" "Udah kayak jualan cabe pake di tawar" Lea meletakkan minumannya, mencoba bernegosiasi dengan model pria yang menurutnya oke di pandang. "Cih mahal mahal sekali untuk ukuran barang bekas" Kesal Lea kembali duduk. Di sebelah Lea tampak pria tampan, menggunakan kemeja putih dengan dua kancing yang terbuka. Tengah santai menikmati minum tanpa sepatah katapun, bahkan sama sekali tak memperdulikan keributan di sekitarnya. "Berapa tarifmu semalam?" Tanya Lea pada pria itu. Ardian, pria tampan dengan tinggi badan menjulang, rahang yang tegas, hidung mancung dan alis yang tebal, perpaduan yang begitu sempurna. Menatap Lea dengan penuh selidik. 'Menarik' Batin Ardian. "Satu juta" Jawab Ardian dengan santai sambil kembali meneguk minumannya. "Dollar" Imbuhnya dengan seringai licik. "Deal. Ayo aku beli kamu malam ini" Lea menarik dasi Ardian yang sedikit berantakan. Dia sama sekali tidak mendengar kata Dollar di belakang ucapan Ardian karna suara dentuman musik yang cukup keras. Ardian mengikuti langkah kaki gadis yang di duga akan membelinya malam ini. Di sebuah Hotel berbintang kini mereka mengarungi malam panjang dengan penuh gairah. Meski tidak di dasari dengan rasa cinta sedikitpun. "Hei.. ayo lagi, aku tidak mau menyia nyiakan uangku untuk membelimu malam ini" Lea membelai wajah tampan Ardian yang dia duga pria bayaran. "Bukankah sudah?" Ardian menatap heran wanita di sampingnya kenapa bisa begitu bersemangat dan tidak memiliki ras lelah. Padahal ini merupakan pengalaman pertama Lea, di ketahui dengan bercak merah yang tertinggal di sprei putih. "Aku membelimu semalam, bukan sekali keluar" bisik Lea. Dengan cepat Ardian membalik tubuh Lea, kembali menghujani Lea dengan cumbuan di seluruh tubuh. Memanjakan dan memuaskan Lea sampai dia merasa terbang. Ardian tak henti hentinya menggerakkan tubuhnya naik turun di atas Lea, memanjakan gadis yang sedang patah hati. ~~~**~~~ Keesokan paginya. "Apa ini? apa aku semurah ini?" Heran Ardian dengan uang seratus ribuan di atas meja kecil samping ranjang. "Bayaran mu untuk semalam" Jawab Lea yang sedang merapikan pakaiannya. "Satu juta?" Ardian benar benar tidak menyangka, harga untuk keperjakaan nya hanya di nilai satu juta rupiah. "Bukankah sesuai kesepakatan kita? Satu juta, untuk skill mu yang masih perlu di asah, durasimu untuk yang pertama cuma beberapa menit? Tapi staminamu cukup baik, hanya skillnya saja yang kurang pro" Senyum Lea mengkritik kinerja Ardian. Ardian berdiri begitu saja mendekati Lea, mengabaikan jika dirinya bahkan masih belum memakai pakaian. Membiarkan miliknya menggantung begitu saja tanpa sehelai benang. "Stop! Jangan minta lagi, uang gajiku sudah habis buat bayar jasa kamu semalam" Tahan Lea dengan menggunakan jari telunjuknya di dada Ardian, meski matanya melirik sedikit milik Ardian yang menggantung bebas, meski posisi tidur namun cukup besar dan panjang. Cukup memanjakan mata wanita yang belum pernah melihat aset demikian. "Yang aku minta satu juta dollar, bukan satu juta rupiah" Jelas Ardian. "Apa! Satu juta dollar? Jangan coba-coba meras" Tak Terima Lea. "Sisa pembayarannya mau di transfer atau cash?" Ardian menggoyangkan ponselnya siap memberikan qris pembayaran. Jedeerr.. jantung Lea terasa tersambar petir hebat. Bagaimana mungkin dia memiliki uang sebanyak itu? Bahkan gajinya satu tahun saja masih belum cukup. "Burung macam apa yang harganya sampai satu juta dollar? Itu sama saja enam belas milyar" Protes Lea sembari menghitung dengan jari-jarinya. "Oke, kita selesaikan di pengadilan" Ardian berbalik, memungut celananya yang berserakan dan memakainya begitu saja. "Nggak bisa gini. Kemarin kita sepakat satu juta rupiah" Lea kembali bernegosiasi. "Periksa telingamu" Ardian memakai pakaiannya, menyugar rambutnya asal dengan jari. "Aku tunggu sampai besok pagi" Senyum Ardian penuh kemenangan. "Tunggu!" Cegah Lea saat Ardian hendak pergi. "Semalam pengalaman pertama ku, aku.. aku masih virgin" Jelas Lea. " So why?" "Ya harusnya kamu juga beruntung, bisa rasain virgin. Masih aku bayar lagi, jadi nggak usah di perpanjang" "No. Aku tidak mungkin menjual perjakaku dengan harga semurah itu" Ardian berlalu begitu saja. "Ingat! Jangan coba coba kabur," imbuh Ardian mewanti-wanti Lea. "Aaaarrrggghh.... " Pekik Lea begitu kesal. "Burung premium yang hidup dimana harganya sampai enam belas milyar? Mau gue jual sawah tetangga, pake pesugihan tumbal tetangga julid juga masih belum bisa... Leaa.. kenapa hidup lo berantakan dan kacau sekali?" "Apa gue mesti jual ginjal?" Lea memegang dadanya. "Harusnya semalam gue jual diri aja, masih lumayan dapat duit, gak malah punya utang sama rentenir itu" Kesal Lea. Padahal dompet nya kini hanya tinggal sisa tiga lembar uang berwarna biru.Bahkan saat di rumah pun Lea masih setia mendiamkan Ardian. Kemana Ardian pergi dia akan selalu menghindar menjauh."Lea!" Ardian mencekal tangan Lea kala Lea hendak pergi kembali. "Aku mau pup, apa kamu mau menahannya lalu membuangnya jika sampai jatuh disini?" Ketus Lea. Seketika Ardian melepas tangan Lea. "Cepatlah"Lea berjalan dengan kesal, dia sebenarnya tidak hendak pup, namun bibirnya sudah keluar kata demikian dengan mudahnya. Sehingga dia tetap harus berpura-pura untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tak berselang lama Lea keluar, namun baru saja dia membuka pintu sudah di kejutkan dengan Ardian yang berdiri melipat tangannya di dada tepat di depan pintu kamar mandi. "Sebelas menit empat puluh detik. Apa yang kamu keluarkan sampai selama ini?" Tegur Ardian sambil melihat jam tangannya. "Kurang kerjaan sampai hitungin orang pup?" Sindir Lea masih dengan ketus. Tanpa aba-aba, Ardian langsung mengangkat tubuh Lea dalam gendongannya layaknya anak kecil. Membawanya ke atas mej
Di perusahan Gama Buana. Kini Lea sedang harap-harap cemas, berkali-kali dia mengangkat tubuhnya, menunggu panggilan dari HRD. "Lo kenapa si Le? Pantat lo bisulan?" Heran Gisel karna melihat tingkah sahabatnya. "Gue lagi siap-siap angkat kaki Sel" "Iya iya.. Nyonya bos mau ongkang-ongkang kaki di rumah, duit ngalir" "Enak aja, gue kemarin udah bikin Ardian marah" Bisik Lea. "Lo cari masalah si Le, nggak tahu apa dia itu donatur utama lo, sumber duit Le" "Iya gue tahu, tapi gimana lagi." "Emang lo apain?" "Gue mau jitak dia" Lea berbisik kembali, satu kata saja sudah membuat Gisel menganga. "Trus gue suruh dia bikin nasi goreng cumi malam-malam, dia aja belum ganti baju. Tapi.. Gue malah tidur" Imbuh Lea. "Parah lo Le.. Parah" Gisel menggelengkan kepalanya. "Mana dia bilang kalo di kantor gue itu tetep karyawannya" "Udah, end lo. Buruan beresin barang-barang lo" Gisel justru membantu Lea mengemasi. "Gisel.. Kenapa lo malah bikin gue takut" Belum selesai apa yang me
"Sial..!" Kesal Tamara kala mendapat penolakan terang-terangan dari Ardian. Apalagi kala dia melewati kamar mereka terdengar suara lenguhan Lea yang membuat dirinya semakin terbakar. "Aku saja belum pernah merasakan tubuh Ardian, tapi kenapa justru gadis desa dan udik itu yang rasain" "Aku harus ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" Ia mulai merencanakan kembali untuk membuat Lea berpisah dengan Ardian. "Jika Ardian peduli sama kamu karna anak itu, maka aku akan buat anak itu lenyap. Kita lihat, apa Ardian masih mau dengan wanita yang membunuh anaknya sendiri?" Tamara kembali melengkungkan senyum kejahatan. Tamara mulai mengupas sebuah nanas muda, tanpa mencucinya bahkan langsung membuatnya menjadi jus. "Kita lihat Lea. Apa kamu bisa bertahan! Hanya aku yang boleh jadi ibu anak-anak Ardian. Kamu sama sekali tidak pantas!" Tamara mengangkat gelas itu tinggi tinggi. Dengan keterampilannya memasak, Tamara berhasil membuat jus nanas muda itu menjadi minuman yang sam
Uhuuk uhuukk... Suara Ardian yang terbatuk. "Kamu sakit?" Cemas Lea memandang pria tampan di depannya kini. Wajahnya benar-benar lelah dengan bibir pucat. "Pasti karna semalam kamu hujan-hujanan" Imbuh Lea memeriksa suhu tubuh Ardian dengan menempelkan telapak tangan di dahi Ardian. "Boleh aku tidur sebentar?" "Tidurlah" Lea mengangguk. "Tidak jadi" Ardian menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Bukannya kamu nggak enak badan?" "Pasti kamu nanti kabur lagi" Sindir Ardian. Lea membelalakkan matanya, tak menyangka dengan sisi unik Ardian. "Tergantung" "Ya udah, nggak usah tidur. Uhuuk uhuuuk" Kembali Ardian terbatuk. "Istirahat lah. Aku akan menjagamu disini" "Kamu... Anggap aku kayak tahanan!" Kesal Lea. Ardian hanya menghela nafas berat, dia sama sekali tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Lea. "Ngapain pake huufftt gitu? Kesel sama aku?" Cecar Lea. "Aku cuma nafas" "Nggak, jelas-jelas kamu tadi kesel sama aku" Ardian menggendong kembali Lea tanpa aba-aba, mele
Setelah di rasa lebih tenang, kini Lea kembali bisa duduk membuka ponselnya yang sejak semalam dia matikan. Banyak sekali panggilan dan chat dari Ardian. "Dia hanya khawatir sama anaknya, bukan sama gue" Gumam Lea kesal. "Sama aja Lea, dia juga khawatir sama elo sama bayi elo" Ujar Gisel menjadi penengah. "Dia itu mau ambil anak gue Sel" "Nggak akan bisa Lea, gue disini sama elo. Gue bisa call om gue yang pengacara, biar bantu hak asuh anak lo nanti kalo lahir" "Gisel.. Lo baik banget sama gue" Lea kembali memeluk sahabatnya itu. "Mendingan kalian selesain dulu deh, kasihan dia di depan semalaman" Lea mengangguk, perlahan dia berjalan keluar, memastikan Ardian masih ada di depan kontrakan Gisel. Benar saja Ardian berdiri dengan bersandar di mobil, menentang sinar matahari yang sudah mulai terik. Pandangannya masih fokus ke arah kontrakan Gisel. "Mas! Sejak semalam saya perhatiin disini? Mau ngintipin anak kost saya? Mau buat jahat?" Tuding ibu kost memarahi Ardian. "
"Kenapa dia keras kepala sekali?" Ardian benar-benar tidak bisa fokus untuk bekerja. Semua fikirannya terarah pada Lea dan calon anaknya. "Pak.. " Kevin datang dengan nafas tersengal-sengal. "Apa kau tidak bisa ketuk pintu!" "Maaf pak, tapi ini urgent" "Katakan! Jangan membuatku mengirimmu ke Afrika" "Bu Lea tidak ada di rumah sakit" "APA!" Ardian langsung saja berdiri. "Sial" Umpatnya menyambar ponsel juga jasnya dengan singkat. Ia berjalan cepat segera mencari keberadaan Lea dimana. Suasana malam yang gelap di temani dengan hujan yang mengguyur kota membuat Ardian semakin kelabakan. Fikirannya benar-benar kacau seakan di obrak-abrik oleh Lea. "Lea.. Kamu dimana?" Pandangan Ardian mengedar ke semua arah, samar-samar dalam guyuran hujan ia berharap melihat Lea. "Lea... " Gumamnya kembali memukul setir kemudi dengan kesal. Di saat inilah dia baru sadar jika dia tidak mengenal dekat Lea. Bahkan tempat-tempat yang biasa di datangi Lea saja dia tidak tahu, yang dia tahu hany







