Share

04: Jadi Simpanan

Penulis: BlackDiamond
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 09:07:37

"Siena? Kok bisa Pak Jeremy ngomong sama kamu?" gumam Sella dengan mata membelalak tak percaya.

"Bukannya Pak Jeremy paling pantang berinteraksi sama staf bawah? Dia bahkan terkenal dingin banget..." sahut rekan kerja lainnya dengan nada heran sekaligus cemas.

Aku berdiri kaku di tengah bisik-bisik dan tatapan penasaran dari rekan-rekan kerja. Tanganku tertaut meremas ujung kemeja pinjaman ini, mencoba menenangkan gemuruh di dalam dada yang kian tak beraturan.

Takdir rasanya benar-benar sedang bercanda. Pria yang memegang kekuasaan tertinggi atas nasib pekerjaanku di perusahaan ini adalah pria yang sama, yang mobil mewahnya tidak sengaja kutabrak pagi tadi.

Langkahku terasa berat saat menyusuri koridor menuju ruang direksi. Di depan pintu kayu besar itu, aku berhenti sebentar, mencoba mengatur napas dan menenangkan diri.

Setelah mengetuk tiga kali, aku mendorong pintu pelan-pelan. Pak Jeremy sedang berdiri di dekat jendela kaca. Mendengar suara pintu, dia membalikkan badan.

Dia tidak langsung bicara. Matanya cuma menatapku dari atas ke bawah—memerhatikan kemeja kekecilan yang terlalu sempit di dadaku, rok pensil sebatas lutut yang sedikit kotor, sampai plester luka yang menempel di lututku. Tatapannya dingin dan intens, membuatku makin salah tingkah dan cuma bisa berdiri mematung di dekat pintu.

 "Jangan cuma berdiri di situ. Kesini, duduklah!" ucap Pak Jeremy.

 Nada suaranya kali ini terdengar lebih tenang dan terkontrol, berbeda dari ketegasan mengintimidasi yang tadi sempat membuat nyaliku menciut saat di ruang meeting tadi.

 Aku melangkah ragu menghampiri set sofa kulit di tengah ruangan kerjanya yang luas. Dengan gerakan canggung, aku duduk di salah satu sofa, persis berseberangan dengan pria yang memegang kendali penuh atas nasib pekerjaanku saat ini.

 "Jadi, bagaimana saya bisa mendapatkan ganti rugi atas kerusakan mobil saya pagi ini?" tanyanya langsung pada intinya.

Pertanyaan itu sama sekali tidak mengejutkan, aku sudah menduganya sejak melangkah masuk. Namun, tetap saja rasa takut membelit leherku hingga tenggorokanku terasa kering. Jawaban yang diinginkannya adalah uang—hal yang paling tidak kupunya saat ini. Rasa malu dan terdesak membakar pipi serta telingaku, mengingat posisiku yang benar-benar di ujung tanduk. 

"Mmm--itu..." jawabku pelan sambil menunduk lama.

"Intinya kamu tidak bisa menggantinya?"

Aku mengangguk pelan, tak sanggup menatap matanya.

"Lalu saya harus bagaimana? Saya ingin segera menyelesaikan masalah ini."

"Ka-kasih saya waktu, Pak!" pangkasku memohon.

"Sayangnya, itu tidak ada dalam pilihan yang akan saya berikan untuk menyelesaikan masalah ini," tegasnya dingin.

"Ta-tapi... saya..." Aku kehabisan kata-kata, lidahku mendadak kelu.

Pak Jeremy memperhatikanku sejenak sebelum melontarkan pertanyaan yang tak terduga. "Kamu sehat?"

Aku mengerutkan dahi, bingung dengan arah pembicaraannya. "Ma-maksud Bapak?"

"Fisik, segalanya. Termasuk masalah... seksual."

Pertanyaan itu menghantamku telak. Meski terkejut dan bingung, aku buru-buru menjawab agar tak timbul salah paham. "Sehat, Pak. Saya tidak pernah pacaran. Saya masih perawan."

Pak Jeremy bersandar pada sandaran sofanya. Manik matanya yang tajam memperhatikanku dengan cermat, seolah sedang menilai sebuah komoditas berharga. "Kalau suka lawan jenis?"

 "Saya normal, Pak... ya, saya pernah naksir kakak tingkat waktu kuliah, tapi cuma naksir biasa saja," jawabku jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.

 Pak Jeremy menaikkan sebelah alisnya. Pria itu tampaknya memahami dengan baik apa yang kusampaikan. Namun, justru aku yang makin bingung kenapa seorang presiden direktur menanyakan hal-hal sejauh dan sesensitif ini pada karyawan biasa sepertiku.

 "Aku bisa memberi kamu solusi," ucapnya santai namun penuh penekanan.

 "Benarkah?" mataku membulat, ada secercah harapan yang mendadak muncul.

 "Hm." Pak Jeremy mengangguk pelan. "Jadi simpanan saya!"

 Kata-kata itu meluncur begitu lugas dari bibirnya. Tipikal bos-bos besar yang sangat efisien dan tidak suka berbelit-belit jika menginginkan sesuatu.

 "P-Pak... ta-tapi..." Aku sampai terbata-bata karena terlampau kaget. Pria di hadapanku ini terkenal dengan citranya yang bersih, suami setia, dan sosok penyayang keluarga. Bagaimana mungkin dia tanpa beban menawariku posisi sebagai wanita simpanannya?

 "Saya memiliki hasrat yang sedikit lebih tinggi dari pria kebanyakan. Sewaktu-waktu saya menginginkan pelepasan, tapi saya tidak mau membeli perempuan asal-asalan di luar. Saya butuh satu perempuan yang jelas dan terikat," jelasnya gamblang.

 Aku berusaha mencerna kalimat demi kalimatnya. Hasrat lebih tinggi, butuh pelepasan sewaktu-waktu, dan tidak mau membeli wanita di luar. Ya, tentu saja. Jika dia sembarangan menyewa wanita panggilan, hal itu bisa menghancurkan reputasinya dalam semalam.

 "Tapi kamu harus bisa merahasiakannya rapat-rapat," tambahnya lagi.

 "Ba-Bapak mengatakan ini ke saya, apa tidak takut kalau nanti saya bocorkan?" tanyaku spontan. Mungkin pertanyaan itu terdengar sangat polos atau bahkan lugu di telinganya.  "Tidak..." Pak Jeremy menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. "Karena kamu butuh pekerjaan ini dan kamu butuh uang. Tidak mau dipenjara, bukan?"

Dipenjara? Kalau aku sampai masuk penjara, bagaimana nasib ibu dan adik-adikku?

Jawaban Pak Jeremy sangat logis dan menohok. Jika aku berani membuka mulut, tinggal hitungan detik sampai aku kehilangan pekerjaan dan hancur sekalian.

 "Ta-tapi kenapa harus saya, Pak?" Tentu saja pikiranku makin kalut. Aku bingung harus menerima atau menolak. Uang itu adalah hal yang paling kubutuhkan saat ini untuk pengobatan Ibu dan biaya sekolah adik-adikku. Tapi menjadi simpanan? Pilihan itu bahkan tidak pernah terlintas sedikit pun di kepalaku selama ini.

 "Karena kamu punya masalah, dan saya punya masalah. Kita hanya dua orang yang saling memanfaatkan dan saling membantu," jawabnya tenang. Kalimat yang sangat cerdas untuk merasionalkan penawaran gila ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Boss!   10: Sentuhan yang Membakar

    "Kemarilah. Aku tidak mungkin harus mengajarimu step-by-step bahkan hanya untuk keluar dari kamar dan makan, kan?" tegurnya.Mungkin dia melihat kekakuanku yang terus berdiri ragu di dekat pintu. Saat ini aku hanya mengenakan jubah sutra warna cream tanpa sehelai benang pun di baliknya. Hanya pakaian itu yang disediakan di dalam lemari kamar mandi. Sementara di seberang sana, Pak Jeremy sudah duduk santai menggunakan jubah sutra serupa, namun berwarna hitam pekat.Aku melangkah mendekat perlahan. "Maaf, Pak. Saya hanya canggung... dan saya merasa...""Hm... tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada pura-pura sok tahu. Makan yang banyak, karena kamu akan butuh banyak tenaga malam ini," potongnya tenang.Mendengar kalimat ‘butuh banyak tenaga,’ jantungku mendadak berdegup kencang. Maksudnya apa? Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, mencoba menetralkan desiran aneh di dadaku sebelum akhirnya duduk di kursi seberangnya.Pak Jeremy menyodorkan sebuah piring padaku—daging steak di atasnya sudah

  • Satu Kali Lagi, Boss!   09: Ukuran XL

    "Bilang ke sopir untuk mampir sebentar ke supermarket untuk membeli kondom yang kotak emas atau hitam, ambil yang ukuran XL."Pesan singkat dari Pak Jeremy itu masuk persis setelah aku selesai mampir ke rumah, menyerahkan sejumlah uang untuk kebutuhan adik-adikku, serta mencarikan tetangga terpercaya untuk menutupi keberadaanku. Pak Jeremy melarangku membawa baju maupun pakaian dalam dari rumah. Katanya, semua sudah disiapkan di apartemen. Aku hanya bisa menurut.Tapi pesan susulan ini... benar-benar membuat seluruh mukaku panas karena malu. Langkah kakiku terasa sangat berat saat memasuki pintu kaca minimarket yang berdenting halus. Beruntung, lorong minimarket saat itu sedang sepi. Namun, begitu mataku tertuju pada barisan kotak kecil di rak, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya salah seorang pramuniaga yang melihatku celingukan seperti orang bingung, aku menggeleng pelan. Kemudian tersenyum.Jari-jariku yang gemetar meraih satu kotak be

  • Satu Kali Lagi, Boss!   08: Apakah ini Keajaiban

    Perasaan bersalah dan asing akibat kejadian bersama Pak Jeremy masih terus membuntutiku sampai aku tiba di rumah sakit. Namun, fokusku langsung teralih begitu melihat Dokter William berjalan tergesa menemuiku di depan koridor UGD dengan wajah cerah. "Mbak Siena... apa yang saya bilang? Yakini apa yang kamu imani. Ada orang baik yang mendonasikan dana untuk operasi Ibumu, dan itu membuat pihak rumah sakit bergerak cepat mendapatkan donor ginjal yang cocok," ucap Dokter William dengan senyum lega.Aku berdiri terpaku di tempatku. Rasa tercengang yang luar biasa menahan napas di tenggorokanku sebelum akhirnya air mataku meleleh deras. Dokter William berpikir ini adalah buah dari iman dan keajaiban doa. Namun di dalam hati, aku bertanya-tanya dengan getir... apakah Pak Jeremy adalah jawaban dari sebagian doa-doaku itu? Atau justru jalan dosa yang sengaja kuambil demi bertahan hidup?"Kamu anak baik dan pekerja keras, Siena. Tuhan selalu memberikan jalan untuk anak sebaik kamu," lanjutny

  • Satu Kali Lagi, Boss!   07: Pelepasan Pertama

    Kumingkan sedikit kepalaku, lalu menjulurkan lidahku dan memasukkannyake dalam mulut pria itu, mencoba meniru setiap gerakan dominan yangditunjukkannya tadi.Dengan keberanian terakhir yang kupunya, aku merengkuh tengkuk PakJeremy dengan kedua tangan yang gemetar. Kumingkan sedikit kepalaku, lalumenjulurkan lidahku dan memasukkannya ke dalam mulut pria itu. Aku mencobameniru setiap gerakan dominan yang baru saja ditunjukkannya.Balasan spontanku rupanya seperti menyulut api di dalam dada pria itu.Pak Jeremy mengerang rendah di dalam tenggorokannya. Gerakannya mendadakberubah brutal. Dia menyambar lidahku, melumatnya lebih dalam dan makinmenuntut. Pagutan panas itu terasa begitu agresif hingga membuat kepalakupening dan seluruh pasokan oksigen di paru-paruku terkuras habis.Bukannya melepaskanku seperti yang dia janjikan, sentuhan Pak Jeremy dibalik dalamanku justru makin berani dan memabukkan. Usapan jarinya di titiksensitifku kini bergerak makin cepat, ritmis, dan menekan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   06: Sentuhan Pertama

    "Aku ingin kamu memberikan pelayanan pertamamu hari ini. Anggap saja... perkenalan singkat sebelum kamu terbiasa," jawabnya santai.Namun aku tetap bergeming di tempatku, duduk kaku di kursi seberang mejanya."Ke sinilah, mendekat," perintahnya lagi.Aku berdiri dengan ragu-ragu, melangkah pelan memutari meja. Dinginnya pendingin udara di ruangan ini rasanya makin menusuk hingga ke tulang, membuat persendianku melemas. Padahal aku hanya berjalan mendekat, belum melakukan apa pun."Kamu gugup?" tanya Pak Jeremy melihat langkahku yang tertahan.Aku mengangguk jujur."Duduk di sini," ucapnya tegas, lalu menepuk salah satu paha kekalnya.Dadaku berdesir hebat. ‘Tuhan... apakah ini benar? Masuk akalkah aku harus duduk di pangkuan bosku sendiri?’"Gemetar?" tanya Pak Jeremy.Suara beratnya terdengar begitu dekat di telingaku saat tangan besarnya mulai bermain di atas pahaku. Ketika telapak tangannya merayap makin naik melintasi kain rok kerja yang kukenakan, aku mendadak merasa seperti lup

  • Satu Kali Lagi, Boss!   05: Deposit Tiga Tahun

    "Kamu butuh waktu untuk berpikir?" tanyanya lagi ketikamelihatku bungkam. Aku mengangguk cepat. Pak Jeremy tersenyum tipis melihatresponsku. Pria matang dengan jejak janggut tipis di sepanjang rahang tegasnyaini memang terlihat sangat tampan secara visual. Garis wajahnya keras, maskulin, dan punya kharisma yang sulit diabaikan.Secara fisik, tidak ada alasan untuk menolaknya. Aku menyukai pria yang tampandan matang, tapi... bukankah dia terlalu matang untukku? Sial, kepalaku rasanyamau pecah.“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?” tanya Pak Jeremy tenang. Beliaumenyesap kopinya santai, kontras dengan dadaku yang rasanya mau meledak.“Sa-satu minggu, Pak...” bisikku pasrah.Pak Jeremy tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulukudukku berdiri. “Satu minggu? Kamu tahu betul kamu tidak akan punya uangsebanyak itu bahkan dalam satu tahun, Siena.”Pasi. Seluruh darah di tubuhku serasa menyusut. Kata-katanya menembustepat di titik terlemahku.“Saya tidak suka mengu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status