LOGINAku membuka mataku perlahan. Langit-langit ruangan itu tampak kabur pada detik-detik pertama, sebelum akhirnya fokus pandanganku kembali tersusun. Badanku terasa sangat lemas, seolah seluruh tenaga di dalam tulang-tulangnya tersedot habis tanpa sisa. Tubuhku menggigil hebat, sementara hawa dingin dari pendingin ruangan menusuk-nusuk hingga ke permukaan kulit.Beruntung, seorang perawat berseragam rapi sedang berdiri di samping tempat tidur, sibuk memeriksa cairan infus yang menetes pelan.“Sus... dingin, bisa minta selimut lagi? AC-nya dimatiin saja,” pintaku dengan suara yang terdengar begitu lemas dan parau.Ingatanku perlahan merangkai kepingan kejadian sebelum semuanya berubah gelap. Ya, setelah mendengar bahwa Chloe kritis dan membutuhkan golongan darah resus negatif, aku nekat berjalan sendiri ke Unit Transfusi Darah. Dokter sempat menolak keras karena melihat keadaanku yang baru saja mengalami benturan hebat dan cedera kepala. Tapi aku ngotot. Aku meyakinkan mereka kalau aku
Dan akhirnya, semua kupaksa kembali normal. Pekerjaan, bisnis, dan pertemuan-pertemuan penting berjalan seperti biasa. Pak Jeremy banyak menghabiskan waktu di kantornya, dan beberapa malam belakangan ia memilih pulang ke rumah utamanya daripada ke apartemen kami. Aku nggak menuntut apa-apa, karena jujur saja, aku juga kadang butuh waktu sendiri untuk mencerna perubahan hidup yang terjadi begitu cepat ini.Sampai pada hari yang sudah kami jadwalkan untuk menikah secara diam-diam.Semua persiapan sudah beres. Kebaya sederhana yang kami pilih sudah tergantung rapi di dekat ranjang, menunggu jamnya tiba. Namun, tiba-tiba saja ponselku berdering nyaring. Nama Pak Jeremy tertera di layar. Tanpa curiga, aku langsung mengangkatnya.“Siena... Chloe kecelakaan. Aku dalam perjalanan ke rumah sakit,” suara di seberang terdengar begitu tegang dan panik.Sebelum aku sempat memberikan respons atau menanyakan keadaannya, sambungan telepon langsung terputus begitu saja.Aku tertegun sejenak m
“Siena, kenapa kamu keras kepala? Arian Bima sudah sangat baik dan menerimamu walaupun—”Ibu tidak melanjutkan kalimatnya. Udara di dalam rumah kecil itu mendadak terasa begitu pengap, menekan dadaku hingga terasa sesak.“Walaupun aku bekas wanita nggak benar?” sahutku pelan, suaraku hampir tertelan di tenggorokan karena menahan perih.Ibu diam. Tidak ada sangkalan, tidak ada bantahan untuk meralat ucapannya. Dan kebisuan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun yang pernah ia lemparkan kepadaku.Aku menoleh ke samping, mendapati Pak Jeremy berdiri tegap di sebelahku. Pria itu langsung merangkul bahuku erat, memberikan kehangatan dan sandaran di saat tubuhku rasanya mau runtuh.“Ibu... Saya tahu saya tidak berhak bicara begini ke Ibu, tapi Siena gadis baik-baik. Saya ke sini untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya perbuat,” ungkap Pak Jeremy akhirnya ikut bicara, suaranya tenang namun tegas memecah keheningan yang menyesakkan.“Apa yang terjadi di anta
Setelah kata deal itu kami buat, esoknya Pak Jeremy menyodorkan sebuah e-catalog cincin berlian dari layar tabletnya. Mungkin perempuan di luar sana akan exciting melihat gemerlap batu permata tersebut, tapi buatku? Yang menarik justru angka di balik nominal harganya.“Terlalu mahal untuk sebuah pernikahan rahasia...” gumamku pelan, tanpa ada niat sedikitpun untuk menolak kebaikan Pak Jeremy, hanya sekadar takjub dan bergumam pada diri sendiri. Tapi telinga Pak Jeremy telanjur menangkap kalimat itu. “Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, Siena. Pilih saja,” ujarnya mutlak.Akhirnya... aku memilih satu model yang paling sederhana, paling elegan, dan sialnya, ternyata juga menjadi salah satu yang paling mahal di katalog itu.“Kamu memiliki selera yang bagus, Siena,” puji Pak Jeremy singkat. Setelah urusan cincin beres, dia bahkan sudah merancang urusan kebaya dan pakaian akad, padahal kami sama sekali belum meminta izin pada Ibu. Kesehatan Ibu memang sudah jauh membaik dan bel
“Menikah? Saya menikah dengan Bapak?”Tatapanku terpaku pada mata gelap Pak Jeremy. Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa aba-aba, menggantung di udara ruang tengah yang sunyi.Aku tersenyum tipis. Perlahan, kuangkat wajahku lalu mengecup kelopak matanya dengan lembut. Setelah itu, kutarik tubuhnya dalam pelukan, menyandarkan daguku di pundaknya sementara posisiku masih tetap duduk di atas pangkuannya.“Jangan melakukan sesuatu karena merasa terpaksa atau karena rasa tanggung jawab,” ucapku pelan, tepat di dekat telinganya, sambil mengecup pelan lehernya yang hangat.Pak Jeremy tetap bergeming di posisinya. Tangannya masih melingkar pas di pinggangku, menahan tubuhku agar tidak bergeser.“Begitu? Kamu nggak mau menikah?” tanyanya pelan, suaranya terdengar rendah di balik pundakku.“Tentu mau, siapa yang bilang nggak mau?” sahutku jujur. “Tapi Bapak sendiri yang bilang kalau Bapak nggak mau janjiin apa-apa soal masa depan. Kenapa sekarang, pas selesai dari rumah sakit dan Ibu marah
“Ibu... ada Mas Rian di luar. Aku kembali dulu...” pamitku, mengakhiri perdebatan yang hanya membuat kepalaku semakin berdenyut.“Pikirkan apa kata Ibu, Nak. Mulai hidup yang benar!” tukas Ibu dengan suara pelan namun penuh tekanan, mengiringi langkahku keluar dari ruang rawat.Di ambang pintu, aku berpapasan dengan Mas Rian yang baru saja melangkah masuk dengan membawa kantong buah. Kami sempat bertukar tatap sejenak, tapi aku tidak berniat memperpanjang percakapan. Aku langsung bergegas meninggalkan rumah sakit dan naik taksi menuju apartemen.Aku nekat pulang bukan semata-mata karena ingin menghindari desakan Ibu di kamar rawat, melainkan karena Rama sudah menelepon hingga tiga kali, mengabarkan ada beberapa revisi dokumen pekerjaan yang mendesak dan butuh laptop kerjaku.Begitu pintu apartemen dibuka dan aku melangkah masuk, suasana sunyi langsung menyergap. Di ruang tengah, pandanganku langsung menangkap sosok Pak Jeremy. Pria itu duduk di sudut sofa dengan laptop menyala di pang







