Partager

25: Arian Bima

Auteur: BlackDiamond
last update Date de publication: 2026-09-08 10:23:28

Uang lagi. Lagi-lagi uang. Apakah memang masalah di dunia ini diciptakan dari uang?

Aku menatap Pak Budi, menunggu penjelasan lanjutan untuk kasus Vino.

“Kurang lebih 35 juta. Itu sudah termasuk biaya pengkondisian berkas agar dia tidak perlu ditahan di sel dan bisa langsung dirujuk ke rehab,” terang Pak Budi datar. “Saya kasih waktu sampai besok siang sebelum berkasnya resmi saya limpahkan ke Kejaksaan. Kalau sampai besok siang tidak ada, ya mohon maaf, prosedur hukum biasa tetap jalan.”

35 ju
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    160: Kamu Nggak Kemana-mana

    Aku menggeleng, kemudian berdiri dan membungkukkan tubuhku sedikit. "Terima kasih untuk hinaan Ibu hari ini," ucapku tenang, lalu berbalik meninggalkan Bu Amanda yang masih duduk di meja sudut kafetaria.“Hey, kamu mau kemana? Siena!” teriak Bu Amanda.Aku menulikan pendengaranku dan berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit sambil berkali-kali menghapus air mata yang terus meleleh di pipi. Aku menangis bukan karena Bu Amanda menyuruhku meninggalkan Pak Jeremy—bukan karena ancaman atau tawaran uang itu—melainkan karena hinaannya. Cara ia memandang asal-usulku, merendahkan keluargaku, dan memperlakukan harga diriku seolah barang obralan benar-benar menohok. Langkahku terhenti di dekat lift koridor lantai perawatan. Di sanalah aku melihatnya. Pak Jeremy berdiri dengan kemeja yang lengannya digulung setengah, tampak sedang mencari-cari seseorang.Begitu melihatku, matanya langsung menyipit tajam. Lelaki itu mempercepat langkah, berdiri tepat di hadapanku dalam hitungan detik."Sien

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    159: Kamu Harus Pergi!

    “Siena, saya ingin bicara sama kamu. Ikut saya!”Aku langsung memutar tubuhku mendengar suara Bu Amanda, dia sudah berdiri di belakangku dengan tas tangan di lengannya.Aku tidak langsung menjawab. Aku terdiam sejenak, menatap Bu Amanda dengan kening berkerut bingung. Kenapa tiba-tiba wanita paruh baya ini mengajakku bicara empat mata di luar kamar rawat?Pandanganku mengarah ke pintu di kamar di mana Chloe dirawat.“Jangan khawatir, kali ini aku nggak minta kamu ninggalin anak saya,” ucap Bu Amanda seolah bisa membaca keraguan di wajahku.“Lalu?” tanyaku singkat.Keningku semakin berkerut halus. “Saya punya tawaran lain!” lanjutnya, lalu berjalan meninggalkan tempatku berdiri begitu saja.Aku menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya melangkah mengekor di belakangnya. Bukan karena aku setuju atau merasa gentar, melainkan karena rasa penasaranku jauh lebih besar. Kira-kira penawaran apa lagi yang akan dikeluarkan oleh ibu Pak Jeremy ini?Kami berjalan menuju kafetaria rumah sakit ya

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    158: Membiasakan Diri

    Aku mendongak, menatap Pak Jeremy yang berdiri di depanku. Matanya memperlihatkan sikap yang jelas tidak mau ditawar. Namun bagaimanapun juga, berhadapan dengan anak remaja yang sedang emosi dan terluka bukan hal yang bisa diselesaikan dengan cara memaksa.“Bukan soal dia harus terbiasa, Pak,” kataku pelan. “Chloe baru saja sadar. Dunianya sedang berantakan karena perceraian orang tuanya, ditambah lagi kecelakaan ini. Wajar kalau dia menolak kehadiran saya.”Pak Jeremy menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan satu tangan. Raut wajahnya memperlihatkan kalau ia lelah terjepit di antara situasi ini.“Dia anakku, Siena. Dan kamu pasanganku. Aku nggak mau pura-pura seolah keberadaanmu di sisiku itu salah,” ucapnya pendek dan itu membuatku merasa jauh lebih aman walaupun dia nggak mau menyebutku sebagai calon istri tapi pasanganku.“Saya mengerti,” sahutku sambil merapikan tas kecil di pangkuan. “Tapi memaksanya melihat saya di dalam sana tadi justru membuatnya makin histeris. Bukan

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    157: Penolakan Chloe

    Bau khas cairan antiseptik langsung menyambut begitu kami mendorong pintu kamar rawat. Suasana di dalam ruangan jauh lebih tegang dibanding kemarin.Chloe duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangan kanannya. Wajah anak itu tampak pucat, matanya sembab, dan bibirnya terkatup rapat. Di sisinya, Monika berdiri dengan tatapan tajam dan penuh permusuhan, sementara Bu Amanda tampak gelisah di dekat jendela.Begitu melihat kami masuk—terutama saat mendapati tanganku dan Pak Jeremy bergandengan—Monika langsung maju dengan napas memburu.“Jeremy? Kenapa kamu ajak perempuan itu kesini?” sambutnya, kemudian menoleh kearahku “ dan, Kamu!” tunjuk Bu Monika mentah-mentah ke arahku. “Belum puas merusak keluarga kami, sekarang sengaja pamer di depan anak yang baru siuman? Kamu ini benar-benar perempuan tidak tahu malu!”Sebelum aku menjawab, Pak Jeremy menyahut duluan.“Monika, cukup,” potong Pak Jeremy dengan suara rendah namun mutlak, langsung

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    156: Di Dalam Mobil

    “Kamu terlihat kecewa.”Kalimat itu keluar datar dari mulut Pak Jeremy begitu pintu mobil tertutup. Mesin belum dinyalakan. Lampu basement parkir redup, hanya menyisakan bayangan wajahnya di sisi pengemudi.Aku menelan ludah. “Tidak.” Jawabku berbohong.Ia memiringkan kepala sedikit, menatapku dari dekat. “Bohong. Dari tadi kamu gelisah. Bukan karena aku nggak melakukan apa-apa di restaurant, bukan?.”Pipiku terasa panas. Aku memalingkan wajah, pura-pura mengikat sabuk pengaman.“Siena…kalau kamu mau, ingin…kamu boleh memulai dan mengatakannya…gak papa” imbuhnya dan pipiku semakin panas mendengar hal itu.Pak Jeremy tidak langsung menyalakan mesin. Ia hanya duduk diam, menatapku dengan intensitas yang familiar—yang biasa muncul saat ia sudah memutuskan sesuatu.“Siena.” panggilnya dengan suara pelan, ia menegakkan punggungnya.“Ya, Pak?” jawabku menoleh kearahnya.“Lepas seat belt kamu.”Aku menoleh. “Di sini?”“Lepas.”Suara itu tidak meninggi, tapi tidak memberi ruang. Aku menurut.

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    155: Makan Malam

    “Jangan pakai bra.”Kalimat itu keluar datar dari mulut Pak Jeremy saat aku baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengeringkan rambut dengan handuk. Aku menoleh, mengira salah dengar.Ia sedang berdiri di depan lemari, memilih kemeja. Tidak menatapku.“Maksud Bapak?”“Nanti malam. Jangan pakai bra.” Ia menutup lemari, lalu menoleh. Matanya tenang, tapi ada sesuatu yang gelap di baliknya. “Pilih dress yang longgar. Yang mudah kutarik ke atas.”Aku terdiam. Pipi terasa panas. Bukan karena terkejut—lebih karena cara ia mengatakannya, seolah itu perintah paling biasa di dunia. Dan aku nggak pernah melakukan hal yang seliar dan seaneh ini, tapi dari awal Pak Jeremy sudah mendeskripsikan dirinya seseorang yang memiliki gairah berlebih.“Baik,” jawabku pelan. Ya, aku akhirnya setuju walaupun aku takut tapi aku juga penasaran.Satu jam kemudian kami sudah duduk di meja sudut sebuah restoran Jepang yang sangat privat. Lampu redup, sekat kayu tinggi, dan jarak antar meja yang cukup jauh mem

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status