Home / Romansa / Satu Kali Lagi, Boss! / 55: Dia Bilang Aku Pelakor

Share

55: Dia Bilang Aku Pelakor

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-09-19 10:54:02

“Pantesan… Dulu waktu aku menyuruhmu cari perempuan buat memuaskanmu kamu menolak. Sekarang? Tiba-tiba saja… mengajukan cerai!” cecar Monica, suaranya meledak-ledak memenuhi seluruh ruangan.

Untungnya, ruangan ini cukup kedap suara.

Aku langsung diam, lalu buru-buru berdiri dan melangkah mundur untuk memberi jarak. Namun, aku tak berani benar-benar keluar dari ruangan. Dari sudut mataku, aku melihat Pak Jeremy masih duduk di tempatnya, tampak luar biasa tenang meski rahangnya menegang.

“Dan kam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Boss!   84: Kematian Bapak

    Paginya, saat aku perlahan membuka mata, sisi kasur di sampingku sudah kosong. Pak Jeremy sudah tidak ada di sana, menyisakan kerutan halus di seprai dan kehangatan samar yang mulai memudar.Aku mengusap wajah, lalu beranjak duduk di tepi tempat tidur sambil berusaha mengumpulkan kesadaran.Di atas nakas, ponselku bergetar. Suaranya memecah keheningan pagi yang tenang. Aku melirik layarnya, melihat deretan angka dari nomor tak dikenal. Tanpa prasangka apa pun, aku menggeser tombol hijau lalu menempelkannya ke telinga."Selamat pagi. Betul ini dengan Mbak Siena?" suara berat seorang pria terdengar asing di seberang sana."Iya, betul. Ini siapa ya?""Saya Bripka Hendra dari Polsek. Kami ingin mengabarkan situasi terkait Ayah Mbak Siena..."Lidahku mendadak kelu mendengarnya, ada firasat buruk yang menyusup di kepalaku. "Bapak? Ada apa dengan Bapak, Pak?""Pagi ini, saat pemeriksaan sel, petugas menemukan Ayah Mbak Siena sudah tidak sadarkan diri akibat pengeroyokan oleh tahanan lain. Ka

  • Satu Kali Lagi, Boss!   83: Cinta Tak Mengenal Batasan

    Pak Jeremy tidak bertanya lagi, yang aku rasakan saat ini hanya perasaan yang aman dan nyaman.Pelukan hangatnya, aroma tubuhnya, wangi parfumnya membuatku tak ingin melepaskannya untuk beberapa menit kemudian sebelum akhirnya aku sadar kalau hubungan ini hanya akan bertahan maksimal tiga tahun.“Saya mandi dulu!” ucapku sedikit berlari, tangan Pak Jeremy mengurai perlahan.“Hati-hati, Siena! Jangan lari!” ucapnya mengingatkan.Saat bunyi klik terdengar dari kunci pintu, aku memegang dadaku. Hari ini aku melakukan sesuatu yang jujur saja di luar keberanianku. Tidak menahan diri untuk melakukan apa yang aku mau dan inginkan dan itu menambahkan rasa kepercayaan diriku.Aku merasa benar-benar hidup dan senyum ini bener-bener senyum yang keluar dari hati.Aku melepaskan pakaianku satu per satu sebelum akhirnya air hangat mengguyur tubuhku dan wangi floral dari sabun mandi ini membuatku lebih rilex, rasa lelah pun sedikit berkurang.Tidak lama aku keluar. Di kamar, Pak Jeremy ternyata belu

  • Satu Kali Lagi, Boss!   82: Rumah Tanpa Pintu

    Setelah acara rehearsal selesai, aku meminta Yudha mengantarkan Chloe sementara aku memilih naik taksi online. Sebenarnya Yudha ngotot ingin mengantarku setelah mengantar Chloe tapi gadis itu terlihat tidak suka saat tahu aku berjalan menuju mobilnya, karena aku merasa nggak enak akhirnya aku bilang kalau aku mau naik taksi saja, dan aku bilang kalau aku mau ke mini market dulu.Chloe menatapku dengan tatapan yang semakin dingin dan tidak suka. Aku yakin, sebelum acara tadi Bu Monika sempat menelponnya lagi, karena saat di kantor pagi tadi respons Chloe rasanya tidak seburuk ini. “Sudahlah…aku memang tidak ada pada posisi yang benar, sudah sewajarnya Bu Monika membenciku” desahku pelan saat mobil yang Yudha kemudikan semakin menjadu.Tak lama, taksi yang aku pesan datang.Aku menyandarkan kepala di kaca jendela taksi, menarik napas panjang dan mencoba memejamkan mata.Ponsel di genggamanku bergetar pendek. Sebuah pesan dari Tiara masuk.“Mbak, Ibu minta Mbak cabut laporan Bapak.”Ak

  • Satu Kali Lagi, Boss!   81: Kecurigaan

    Suara musik pengiring bergema cukup keras memenuhi balai pertunjukan yang setengah gelap. Di panggung utama, puluhan anak berdiri rapi memantulkan siluet cahaya lampu sorot. Aku duduk di barisan kursi penonton bagian depan bersama Mas Yudha, memperhatikan gerak-gerik Chloe yang sedang melatih koreografinya.Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kertas jadwal acara di genggamanku mulai agak kusut karena sejak tadi kuremas pelan. Aku tidak pernah menghadiri acara seperti ini sebelumnya, jujur aku tidak paham apapun. Hanya hadir."Siena," bisik Yudha pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung. "Habis ini Chloe ada jeda istirahat lima belas menit sebelum gladi bersih terakhir. Mau ditawari minum sekarang?""Boleh, Mas. Biar saya yang antarkan ke belakang panggung," jawabku seraya berdiri dari kursi empuk.Aku melangkah menyusuri lorong samping panggung yang agak remang, membawa botol air mineral dan handuk kecil yang sudah disiapkan sejak dari kantor. Di lorong belakang pan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   80: Tidak Cocok!

    Sampai di kantor, aku dan Pak Jeremy berjalan beriringan. Semua orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, jadi suasana area kantor relatif tenang; yang terdengar hanya seperti suara bisikan samar dan ketukan cepat pada keyboard komputer.Namun, begitu sampai di lantai sembilan, aku dan Pak Jeremy dibuat terkejut. Chloe sudah duduk di sana—di sofa lounge depan ruang kerja utama—dengan kedua tangan bersedekap dan kaki bersilang.“Sayang… kok tidak di sekolah?” tanya Pak Jeremy heran seraya melangkah mendekati putrinya. Aku memilih melangkah lebih dulu menuju meja kerjaku untuk meletakkan tas.“Mama pergi lagi! Ini semua salah Papa!” potong Chloe cepat dengan bibir mencebik dan mata yang sudah memerah.“Kalau aja Papa nggak minta cerai terus, pasti Mama masih disini nemenin Chloe!”Pak Jeremy menghela napas pendek, mencoba mengendalikan situasi. “Kita bicara di ruangan Papa.”Ia membimbing putrinya masuk ke dalam ruang kerja. Sebelum pintu tertutup penuh, Pak Jeremy memberi isyara

  • Satu Kali Lagi, Boss!   79: Senyum Itu Milikku

    “Siena, kamu memang datang ke rehearsal menggantikan mamanya Chloe, tapi kamu jangan berpikir kamu bisa menggantikan posisi mamanya.”Kalimat itu meluncur santai saat Pak Jeremy sedang membenahi letak dasinya di depan cermin besar kamar. Kata-kata itu seharusnya terasa menyakitkan dan memukul telak harga diriku, tapi aku justru menerimanya dengan senyum tipis di bibir.“Tentu tidak bisa, Pak. Saya belum pernah menjadi ibu, mana bisa saya menggantikan posisi itu. Tapi saya bisa menjadi teman atau kakak buat Chloe,” jawabku tanpa beban seraya berdiri menata tas kerjaku.Pak Jeremy menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuh, menatapku lekat-lekat. Langkah kakinya mendekat hingga bayangannya menutupi tubuhku. Tangan besarnya terulur, merapikan helai rambutku yang menyampir ke depan bahu dengan gerakan pelan. Aku tidak tahu apa arti dari tatapan dan gestur lembutnya yang mendadak ini, tapi aku memilih tetap mempertahankan senyum profesional di wajahku.“Kamu jangan senyum begitu ke semua le

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status