LOGIN”Rasanya nggak masuk akal? Apa hidupku sedrama ini?”Ponsel di tanganku ikut bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal, berisi tautan berita online nasional dengan tajuk utama yang mencatut nama Pak Jeremy dan skandal perebutan hak asuh anak, lengkap dengan foto-foto buram kami saat keluar dari gedung KUA kemarin.Dunia di sekelilingku mendadak terasa berputar. Baru semalam aku merasa lega karena Ibu merestui pernikahan kami, dan sekarang masalah yang jauh lebih besar menerjang tanpa ampun.Pak Jeremy melangkah mendekat, menggenggam kedua tanganku yang mulai dingin. Tidak ada kepanikan di wajahnya, tetapi sorot matanya menyiratkan kemarahan yang tertahan."Dengar," kata Pak Jeremy tegas. "Aku tidak akan biarkan siapa pun mengusik pernikahan kita. Apapun caranya, masalah ini akan aku selesaikan.”Ucapan itu terdengar menenangkan, tetapi aku tahu realitas di luar sana jauh lebih rumit dari sekadar kata-kata penenang. Menikah secara siri dan diam-diam di KUA bukan berart
Apa yang dikatakan Pak Jeremy selalu ditepati, aku memang nggak kemana-mana. Karena pada akhirnya aku sekarang ada di kantor KUA. Pernikahan kami berlangsung sangat sederhana, inti dari pernikahan kami adalah sah dan kami memiliki bukti kalau kami suami istri. Pak Jeremy sempat bilang, kalau dia akan mengumumkan ke publik tapi aku yang menolak. Aku belum siap dengan berbagai macam serangan karena perbedaan usia, perbedaan kelas sosial dan mereka pasti akan mengulik latar belakang keluargaku. “Yang penting kamu aman, nyaman” Itu yang dikatakan Pak Jeremy. Aku benar-benar merasa tersanjung dengan sikapnya yang tegas. Namun, pernikahan yang buru-buru itu tetap ditentang oleh ibuku. Dia dan Tiara mendatangi apartemen kami dengan amarah yang membuncah. “Kamu benar-benar melakukanya?” Sergahnya sambil melempar handphone Tiara yang menampilkan fotoku dan Pak Jeremy dengan buku nikah di tangan kami. Aku mengambil handphone itu, kemudian ikut duduk. “Bu, aku dan apakah Jeremy sudah mint
Aku menggeleng, kemudian berdiri dan membungkukkan tubuhku sedikit. "Terima kasih untuk hinaan Ibu hari ini," ucapku tenang, lalu berbalik meninggalkan Bu Amanda yang masih duduk di meja sudut kafetaria.“Hey, kamu mau kemana? Siena!” teriak Bu Amanda.Aku menulikan pendengaranku dan berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit sambil berkali-kali menghapus air mata yang terus meleleh di pipi. Aku menangis bukan karena Bu Amanda menyuruhku meninggalkan Pak Jeremy—bukan karena ancaman atau tawaran uang itu—melainkan karena hinaannya. Cara ia memandang asal-usulku, merendahkan keluargaku, dan memperlakukan harga diriku seolah barang obralan benar-benar menohok. Langkahku terhenti di dekat lift koridor lantai perawatan. Di sanalah aku melihatnya. Pak Jeremy berdiri dengan kemeja yang lengannya digulung setengah, tampak sedang mencari-cari seseorang.Begitu melihatku, matanya langsung menyipit tajam. Lelaki itu mempercepat langkah, berdiri tepat di hadapanku dalam hitungan detik."Sien
“Siena, saya ingin bicara sama kamu. Ikut saya!”Aku langsung memutar tubuhku mendengar suara Bu Amanda, dia sudah berdiri di belakangku dengan tas tangan di lengannya.Aku tidak langsung menjawab. Aku terdiam sejenak, menatap Bu Amanda dengan kening berkerut bingung. Kenapa tiba-tiba wanita paruh baya ini mengajakku bicara empat mata di luar kamar rawat?Pandanganku mengarah ke pintu di kamar di mana Chloe dirawat.“Jangan khawatir, kali ini aku nggak minta kamu ninggalin anak saya,” ucap Bu Amanda seolah bisa membaca keraguan di wajahku.“Lalu?” tanyaku singkat.Keningku semakin berkerut halus. “Saya punya tawaran lain!” lanjutnya, lalu berjalan meninggalkan tempatku berdiri begitu saja.Aku menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya melangkah mengekor di belakangnya. Bukan karena aku setuju atau merasa gentar, melainkan karena rasa penasaranku jauh lebih besar. Kira-kira penawaran apa lagi yang akan dikeluarkan oleh ibu Pak Jeremy ini?Kami berjalan menuju kafetaria rumah sakit ya
Aku mendongak, menatap Pak Jeremy yang berdiri di depanku. Matanya memperlihatkan sikap yang jelas tidak mau ditawar. Namun bagaimanapun juga, berhadapan dengan anak remaja yang sedang emosi dan terluka bukan hal yang bisa diselesaikan dengan cara memaksa.“Bukan soal dia harus terbiasa, Pak,” kataku pelan. “Chloe baru saja sadar. Dunianya sedang berantakan karena perceraian orang tuanya, ditambah lagi kecelakaan ini. Wajar kalau dia menolak kehadiran saya.”Pak Jeremy menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan satu tangan. Raut wajahnya memperlihatkan kalau ia lelah terjepit di antara situasi ini.“Dia anakku, Siena. Dan kamu pasanganku. Aku nggak mau pura-pura seolah keberadaanmu di sisiku itu salah,” ucapnya pendek dan itu membuatku merasa jauh lebih aman walaupun dia nggak mau menyebutku sebagai calon istri tapi pasanganku.“Saya mengerti,” sahutku sambil merapikan tas kecil di pangkuan. “Tapi memaksanya melihat saya di dalam sana tadi justru membuatnya makin histeris. Bukan
Bau khas cairan antiseptik langsung menyambut begitu kami mendorong pintu kamar rawat. Suasana di dalam ruangan jauh lebih tegang dibanding kemarin.Chloe duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangan kanannya. Wajah anak itu tampak pucat, matanya sembab, dan bibirnya terkatup rapat. Di sisinya, Monika berdiri dengan tatapan tajam dan penuh permusuhan, sementara Bu Amanda tampak gelisah di dekat jendela.Begitu melihat kami masuk—terutama saat mendapati tanganku dan Pak Jeremy bergandengan—Monika langsung maju dengan napas memburu.“Jeremy? Kenapa kamu ajak perempuan itu kesini?” sambutnya, kemudian menoleh kearahku “ dan, Kamu!” tunjuk Bu Monika mentah-mentah ke arahku. “Belum puas merusak keluarga kami, sekarang sengaja pamer di depan anak yang baru siuman? Kamu ini benar-benar perempuan tidak tahu malu!”Sebelum aku menjawab, Pak Jeremy menyahut duluan.“Monika, cukup,” potong Pak Jeremy dengan suara rendah namun mutlak, langsung







