LOGIN“Udah selesai?”Suara itu menyadarkan Shanum yang sedari tadi melamun begitu keluar dari ruang ICU. Langkah kakinya sempat tertahan di ambang pintu kaca. Begitu mendongak, Prana sudah berdiri tegak di depannya, melemparkan senyum tipis yang menenangkan.Prana mengikis jarak di antara mereka, meraih pergelangan tangan Shanum dengan lembut. “Kita pulang dulu, yuk?”Shanum tak langsung menjawab. Matanya melirik ke arah ruang tunggu yang terletak beberapa meter di sebelah kanan. Di atas kursi panjang, Ani duduk tegak sambil melipat kedua tangan di dada. Sorot mata ibunya penuh dengan ancaman, seakan siap menerkam jika Shanum berani mengambil salah langkah.Shanum menarik pelan tangannya, mencoba memberi jarak agar tak memicu keributan baru di sana. “Mas kok di sini? Tante Ralin gimana?”“Mama lagi tidur, kondisinya udah aman,” jawab Prana. Pria itu kembali mendekat dan menaruh telapak tangannya di pinggang Shanum, menuntunnya berjalan menuju lorong lift.“Tapi, Mas...”“Aku mau antar kamu
“Jangan bicara macam-macam pada Ayahmu,” bisik Ani tajam, menyambar pergelangan tangan Shanum tepat sebelum langkah kaki putrinya melewati batas pintu.Shanum menatap jari-jari ibunya yang mencengkeram lengannya. Tanpa suara, ia menarik paksa tangannya hingga terlepas dari kekangan Ani. Tak ada niat di hatinya untuk membalas ancaman itu. Tatapannya lurus mengarah pada pintu kaca ruang ICU yang bergeser setengah terbuka.Perawat di ambang pintu memberikan isyarat dengan lambaian tangan pendek. “Silakan, Mbak. Jangan terlalu lama. Kondisi pasien masih sangat lemah dan butuh ketenangan.”Shanum mengangguk cepat. Langkah kakinya terasa begitu berat menapak lantai steril, melewati sensor pintu yang menutup otomatis di belakangnya.Di atas brankar besi, Bobby terbaring, jauh lebih pucat dan ringkih. Jarum infus tertancap di punggung tangannya, sementara mesin monitor jantung di samping tempat tidur terus mengeluarkan bunyi.“Ayah…” panggil Shanum lirih, mengikis jarak hingga berdiri di sisi
“Mbak, kenapa sih harus berantem lagi sama Ibu disini?” tegur Tiara memecah kesunyian. Matanya menatap wajah Shanum yang sembab.“Aku cuma nanya soal ayah kandung aku, Ra,” jawab Shanum pendek, pandangannya beralih menatap ubin lantai.Tiara langsung terdiam. Mulutnya yang tadi terbuka hendak melayangkan protes seketika terkatup rapat. Sorot matanya berubah canggung dan serba salah.“Tapi kan bisa nanya nanti pas udah di rumah, Mbak,” ucap Tiara kemudian. Suaranya melunak, tak ada lagi nada ketus seperti saat menghadapi ibunya tadi.“Aku udah gak bisa pulang kesana, Ra,” sahut Shanum datar.“Mbak...”Tiara menatap kakaknya dengan pandangan sedih, tahu betul kalau rumah mereka tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk Shanum. Keduanya terdiam dengan perbincangan yang menggantung, sibuk dengan pikiran masing-masing sampai derap langkah kaki yang tergesa memecah kecanggangan itu.Ani kembali dengan wajah gusar, mendatangi tempat mereka berdiri dengan napas memburu. Tampaknya ada
“Siapa yang kasih tahu kamu?” tanya Ani sinis, meski Shanum bisa menangkap ada getaran dalam suara ibunya.“Gak penting siapa yang kasih tahu aku, Bu,” kata Shanum, berdiri dari kursinya agar posisinya sejajar dengan Ani. “Yang jelas, sekarang aku udah tahu. Aku sama Mas Prana gak sedarah. Jadi kita berdua gak masalah kalau bersama.”“Kamu ini... benar-benar anak kurang ajar!” desis Ani, giginya terkatup rapat menahan amarah yang siap meledak lagi. “Kamu sengaja mau sama Prana, biar bisa mempermalukan Ibu di depan Ralin?”Shanum menyipitkan matanya tak mengerti dengan pola pikir ibunya.“Siapa yang mau mempermalukan Ibu? Aku cuma mau hidup tenang bersama orang yang aku cintai,” ucap Shanum, sorot matanya tak lagi menunjukkan ketakutan seperti tadi siang.“Aku sudah menuruti kemauan Ibu untuk menikah dengan Fadil dulu, dan hidupku hancur. Sekarang, tolong biarkan aku menentukan jalanku sendiri,” tambah Shanum.Ani terkekeh sinis, menyembunyikan kepanikannya di balik topeng kemarahan.“
“Kalau aku milih lari sama Mas Prana... gimana?” tanya Shanum. Matanya beralih menatap Tiara, mencari secercah pembenaran atas pikiran nekat yang mendadak melintas di kepalanya.Tiara tertegun sejenak, menatap kakaknya dengan pandangan meneliti. Bukannya terkejut, anak perempuan itu justru mengangguk cepat. “Lebih baik gitu, Mbak. Cari kehidupan kalian sendiri, jangan lihat ke belakang lagi.”Shanum mengerutkan kening, agak terkejut dengan jawaban lugas adiknya. “Tapi... Ayah sama Ibu gimana, Ra? Ibu pasti bakal ngamuk, dan kondisi Ayah sekarang lagi gini. Apa aku gak egois?”“Gak usah mikirin mereka, Mbak,” tukas Tiara ketus. Ada nada kekecewaan yang mendalam saat membahas orang tua mereka.“Kalau Mbak tetap mikirin mereka, selamanya Mbak gak bakalan bahagia. Mbak udah ngalah menuruti kemauan Ayah dan Ibu dengan menikah. Sekarang lihat hasilnya?”Shanum menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Tiara menghantam logikanya.“Mereka yang menanam benih masalah ini di masa lalu, Mbak. Mereka be
“Fadil? Buat apa dia bahas Mama?” Mendengar nama Fadil, Prana melepaskan pelukannya. Kedua matanya berubah lebih tajam. “Apa yang dia bicarakan?”Shanum menyeka pipinya dengan punggung tangan. “Sebenarnya dulu ceweknya Fadil pernah datang ke rumah, ngasih flashdisk. Di sana ada bukti Fadil selingkuh, terus ada rekaman obrolan dia sama teman dia bahas soal Ayah.”Prana mendengarkan dengan seksama, alisnya bertaut rapat.“Di rekaman itu,” Shanum menelan ludah, dadanya naik turun mengumpulkan keberanian. “Fadil bilang kalau Ayah selama ini sebenarnya miskin sama mendompleng hidup.”“Terus?”“Ayah katanya merebut warisan wanita lain. Makanya Ayah bisa jadi seperti sekarang. Ini juga yang jadi alasan kenapa Ayah gak bisa lepas dari keluarga mereka, soalnya yang membantu Ayah dan Ibu mengambil harta warisan itu ayah Fadil.”Shanum menatap Prana dengan pandangan memohon, menuntut kebenaran yang selama ini tertimbun rapi. “Apa benar, Mas? Warisan wanita lain yang dimaksud itu... milik Tante R
“Buat apa kamu ke sana?” tanya Prana, terdengar tak menyukai Shanum mendatangi rumah orang tuanya. Dahinya berkerut dalam, garis-garis ketegangan di wajahnya yang lelah kembali tercetak jelas. “Ada apa Ayahmu memanggil? Kenapa mendadak sekali?”Shanum menatap gelas di hadapannya, agak ragu untuk me
“Keluyuran terus gak bilang-bilang,” sindir Fadil tanpa menoleh.Shanum langsung menangkap sosok Fadil yang sedang duduk santai di sofa panjang sembari menonton televisi, begitu dirinya memasuki rumah.Fadil hanya melirik Shanum sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali memfokuskan perhatian pada
Begitu Shanum dan Prana melangkah masuk, atmosfer ruangan kerja Hendra. Pengacara ternama itu berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja slim-fitnya, lalu menyambut mereka dengan cengiran lebar yang terasa terlalu ceria untuk sebuah rencana perceraian.“Wah, Shanum! Lama gak ketemu, makin ca
“Bangun, Sayang.”Prana tak menggunakan guncangan kasar atau teriakan untuk membangunkan wanita di sampingnya. Ia hanya mengusap pipi Shanum dengan punggung jarinya—sebuah sentuhan yang ternyata jauh lebih efektif daripada bunyi alarm mana pun.Sinar lampu tidur yang masih menyala membuat pandangan







