LOGIN“Prana? Udah lama banget kita gak ketemu. Gimana kabarnya?” tanya seorang pria paruh baya, melangkah keluar menghampiri Shanum dan Prana di paviliun rumah megah itu.Shanum terlihat kikuk sejak mobil Prana memasuki kompleks perumahan super elit. Jarak dari gerbang menuju paviliun ini jauh, deretan pohon tinggi dan pagar besi menjulang sepanjang jalan terasa asing baginya.“Baik Om,” jawab Prana sopan, sedikit membungkuk.“Baik-baik,” pria paruh baya itu mengangguk-angguk, mengamati Prana dari ujung kepala hingga kaki dengan senyum ramah. “Kemarin asisten Om nelepon, katanya kamu udah menghubungi Om dari dua minggu lalu mau ketemu. Maaf, Om baru nyampe Indonesia dua hari lalu, jadi baru bisa ketemu sekarang.”“Gak masalah, Om. Terima kasih udah meluangkan waktu di tengah kesibukan Om,” balas Prana.“Ayo duduk, jangan sungkan.” Pria itu menyandarkan satu tangan di kursi rotan pav
“Jadi kamu bakal bareng anak Ralin?” desis Ani di dapur begitu melihat Shanum bersiap-siap akan kembali pergi.Selama Bobby dirawat, Shanum memang tak tinggal di apartemen. Ia lebih banyak menginap di rumah sakit, dan sesekali pulang ke rumah ini untuk mengambil keperluan Bobby dan Ani.“Ada apa sih, Bu?” tanya Tiara pelan, melangkah masuk ke dapur dengan kening berkerut mendengar keributan itu. “Nanti Ayah dengar di kamar.”“Ini Mbakmu memang gak bisa diomongin! Maunya gimana dia sendiri!” omel Ani, menunjuk Shanum dengan sendok sayur di tangannya.“Ya udahlah, biarin. Mbak Num udah dewasa juga,” sela Tiara santai, mengabaikan raut gusar ibunya.Shanum yang mendengar perdebatan itu memilih tetap tenang. Ia duduk di salah satu kursi makan di hadapan Ani tanpa berniat membalas ocehan ibunya. Matanya melirik jam dinding, menunggu waktu yang tepat sebelum Prana tiba di depan pagar.&ld
“Udah kubilang jangan terlalu berharap banyak,” ulang Prana tenang, mengecup dahi Shanum lembut, menenggelamkan wajahnya ke dada agar perbincangan itu benar-benar usai.Mendengar jawaban itu, Shanum tak bertanya lagi. Ia harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, apalagi Ani menganggap mantan suaminya sudah mati.“Tapi gimana Tante Ralin dan Mas Prana bisa kenal?” tanya Shanum dalam hati, menyandarkan kepala di dada Prana, membiarkan kehangatan tubuhnya perlahan menuntunnya tidur.Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesibukan masing-masing. Prana kembali ke jadwal padatnya sebagai dokter, membagi fokus antara pasien, memantau perkembangan Bobby, dan menjaga Ralin yang pemulihannya bertahap membaik.Shanum sendiri memilih menyibukkan diri mengurus usahanya yang sempat terbengkalai, sekaligus bergiliran menjaga Bobby di rumah sakit.“Mas masih di ruang operasi?” tanya Shanum, sambil menempelkan ponsel di t
“Mas tahu ayah kandung aku?” tanya Shanum, menatap lurus ke dalam manik mata Prana dengan raut tak percaya.Napasnya memburu. Air di dalam bathtub berkecak pelan seiring gerakan tubuhnya yang mendadak sigap, dan berputar menghadap Prana sepenuhnyaPrana menyunggingkan senyum tipis. Kedua tangannya bergerak menahan pinggang Shanum agar posisi duduk wanita itu di dalam bak mandi tak merosot.“Tahu,” jawab Prana tenang.“Siapa, Mas?” desak Shanum. Tangannya mencengkeram erat bahu Prana, mengabaikan cipratan air hangat yang membasahi dada pria itu.Prana menggelengkan kepala secara perlahan. “Nanti, Num. Gak sekarang.”“Mas, kenapa disembunyikan lagi?” sahut Shanum, nada suaranya bergeser ke arah jengkel. “Aku udah berhak tahu sekarang. Selama dua puluh delapan tahun ini aku gak tahu apa-apa. Masa Mas juga mau ikut-ikutan merahasiakan ini dari aku?”“Aku gak bermaksud merahasiakan ini buat membohongi kamu, Sayang,” potong Prana lembut. Pria itu mengusap sisa busa yang menempel di pipi Sha
“Yakin masih mau mandi sendiri?” Prana melepaskan kancing blouse Shanum satu per satu hingga pakaian itu meluncur jatuh, meninggalkan tubuh wanita itu hingga tak tertutupi sehelai kain pun.“Mas...” bisik Shanum pelan, reflex mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan.Prana tak banyak bicara. Ia langsung menggendong tubuh Shanum, membawanya melangkah beberapa tindak mendekati bak pualam di sudut ruangan. Air hangat yang berbusa lavender langsung menyambut begitu Prana menurunkan tubuh Shanum perlahan ke dalam bathtub.“Kita cuma mandi, Sayang. Emang kamu pikir apa?” goda Prana, terkekeh sembari mencolek ujung hidung Shanum yang masih merona.“Mas!” gerutu Shanum, memercikkan sedikit air berbusa ke arah lengan Prana.Prana tertawa kecil sambil melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu ikut bergabung masuk ke dalam bak mandi. Ruang yang terbatas membuat air hangat sedikit meluap ke tepi.Prana menarik lembut tubuh Shanum agar bersandar rapat pada dada bidangnya yang koko
"Mas!" tegur Shanum, memukul pelan bahu Prana. Wajahnya yang semula pucat mendadak merona kemerahan. "Situasi kayak gini aja masih aja kepikiran buat nakal!"Prana tersenyum kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Godaan singkat itu berhasil mengalihkan sedikit mendung di wajah Shanum. Pria itu bangkit dari posisi berlututnya, meraih ponsel hitam dari saku celana, dan menekan beberapa digit nomor di layar.Shanum memperhatikan Prana yang kini menempelkan gawai ke telinga, menanti sambungan terhubung."Halo, Sus. Ini Dokter Prana," ucap Prana begitu panggilan di seberang sana diangkat."Saya masih di luar sekarang. Tolong pantau berkala kondisi jaminan kamar VIP Ibu Ralin, ya. Kalau ada lonjakan tensi atau dia terbangun dan mencari saya, langsung hubungi nomor saya."Prana mendengarkan jawaban dari sepersekian detik arahan perawat di seberang telepon."Iya, untuk Dokter Bobby di ICU juga tolong saya dikasih laporan berkala lewat pesan singkat. Saya akan kembali ke rumah sakit
Rasa penasaran mendorongnya menekan tombol daya ponselnya. Ia menunggu beberapa detik yang terasa sangat lama, berharap ada logo merek atau sekadar cahaya yang muncul dari kegelapan layar.Namun, layar itu tetap hitam pekat. Shanum mencoba menekannya berkali-kali, namun nihil. Ponsel itu mati total
Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel
“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata
Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua







