Teilen

Bab 153

last update Veröffentlichungsdatum: 29.05.2026 19:58:45

“Bukan siapa-siapa. Cuma spam,” ulang Prana, mengabaikan getaran ponsel di atas meja bar yang akhirnya berhenti dengan sendirinya.

Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Getaran kuat kembali terasa di atas permukaan marmer meja bar. Prana melirik sekilas ke arah layar ponsel yang menyala. Nama yang sama masih tertulis di sana. Fadil.

Rasa penasaran mulai menggelitik Shanum. Ia hendak membalikkan tubuh untuk meraih ponselnya, tetapi Prana bergerak lebih cepat. Pria itu sengaja memajukan wajahn
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 225

    Perlahan Prana menaiki ranjang, tangannya melingkari pinggang Shanum yang sudah terlelap sejak ia memasuki apartemen, lalu mencium pipi Shanum yang terasa hangat.Shanum bergerak sedikit, terdengar gumaman kecil dari bibirnya. “Udah pulang, Mas?”“Aku bangunin kamu ya?” bisik Prana di dekat telinga Shanum. “Udah, tidur lagi. Ini udah larut.”Bukannya menuruti ucapan Prana, Shanum justru memutar tubuhnya menghadap sang dokter. Ia mendekat, mencium aroma sabun dari tubuh Prana. “Kamu baru mandi ya?”“Iya, gerah banget,” jawab Prana. Ia merapikan letak selimut Shanum. “Tidur lagi, Num. Kamu harus banyak istirahat.”Hanya mengangguk kecil, Shanum mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Prana yang masih lembab. “Kenapa gak dikeringkan dulu?”“Kalau aku pakai hairdryer, nanti berisik. Tapi kamu malah tetep bangun gara-gara aku...” kata Prana.Shanum tersenyum kecil. “Aku memang belum tidur nyenyak kok.”Prana menatap wajah Shanum lekat-lekat. Mengingat kembali pesan yang dikirimkan Tiara

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 224

    “Mas, semalam Mbak Num tahu Mas dapat telepon dari Tante Ralin. Aku gak jadi nginep di apartemen soalnya dilarang datang sama Mbak Num. Ponselku semalam lowbat jadi baru ngasih tahu sekarang.”Prana membaca deretan pesan dari Tiara di layar ponsel itu dengan tatapan lurus. Kepalanya yang sudah pening sejak subuh kini terasa makin berat. Diletakkannya benda pipih tersebut di atas meja kayu kafe dengan agak keras.“Kenapa, Pran?” tanya Hendra. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan, memperhatikan raut muka sahabatnya yang mendadak berubah keruh.Mereka berdua saat ini duduk di sudut sebuah kedai kopi yang berada tak jauh dari gerbang utama rumah sakit. Jam dinding kafe menunjukkan angka delapan pagi, membuat suasana sekitar mereka belum terlalu bising oleh pengunjung.“Pesan dari Tiara,” jawab Prana pendek sambil memajukan posisi duduknya. “Shanum tahu semalam Mama telepon. Dia pura-pura tidur waktu aku pergi, terus larang Tiara datang.”Hendra meletakkan cangkir kopinya kembali ke ta

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 223

    Suara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung waspada.Tadi ia sengaja berpura-pura tidur, dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Prana di pojok ruangan, termasuk kebohongan pria itu tentang kamar mandi yang bocor dan janji untuk menginap di rumah ibunya.“Kayaknya tadi tante Ralin mau menginap disini,” gumam Shanum sambil mendudukkan diri di sofa. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang kian menumpuk. “Gara-gara aku Mas Prana sampai harus berbohong.”Ia beringsut turun dari sofa, melangkah perlahan menuju meja makan untuk mencari ponselnya. Ia harus bergerak cepat sebelum Tiara telanjur datang. Begitu menemukan benda pipih itu, Shanum langsung mendial nomor sahabatnya.“Halo, Ra?” panggil Shanum begitu panggilan tersambung.“L

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 222

    “Mama udah di jalan diantar Hania, sebentar lagi sampai.”Pesan kedua dari Ralin—Mama Prana—muncul di layar ponsel membuat tubuh Prana langsung menegang. Tatapannya beralih dari layar ke Shanum yang tertidur pulas di pangkuannya.“Sial,” gerutunya dalam hati.Prana menutup mata sesaat. Dari semua kemungkinan yang ia bayangkan hari ini, kedatangan mendadak Mamanya adalah yang paling tak ia inginkan. Perlahan ia menggeser tubuh Shanum agar bersandar pada bantal sofa. Untungnya efek obat masih membuat wanita itu tidur nyenyak.Begitu memastikan Shanum tak terbangun, Prana segera menjauh beberapa langkah dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang memburu waktu. Dengan gerakan cepat namun berhati-hati agar suaranya tak menggema, ia mencari kontak Mamanya dan langsung menekan tombol panggil.Telepon diangkat hanya dalam hitungan detik.“Halo, Pran? Mama baru aja mau telepon kamu. Hania lagi parkir bentar.” Suara Ralin langsung menyambar begitu telepon diangkat.Prana mengembusk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 221

    “Kawin lari?” seru Shanum, matanya membelalak sempurna. “Maksud kamu apa, Mas?”Raut wajah Shanum berubah total. Rasa sedih yang tadinya menggelayuti matanya mendadak lenyap, berganti ekspresi kaget sekaligus bingung yang luar biasa. Ia menatap Prana seolah-olah pria di hadapannya ini baru saja kehilangan akal sehatnya akibat terlalu banyak bekerja.“Aku serius,” sahut Prana, matanya memancarkan kesungguhan. “Kita bisa pergi sekarang juga ke daerah yang sangat terpencil. Tempat yang susah sinyal ponsel. Kalau bisa kita cuma tinggal berdua.”Shanum mengernyitkan keningnya, menatap Prana aneh. “Mas, kamu gak baik-baik aja kan? Apa efek kurang tidur beberapa hari ini jagain aku terus?”Prana tak membalas candaan itu. Ia justru memajukan tubuhnya, menatap Shanum dengan tatapan yang benar-benar serius.“Aku gak bercanda, Shanum. Nanti di sana gak akan yang bisa ganggu kita. Kita bikin kehidupan baru yang benar-benar cuma buat kita berdua aja.”“Apaan sih, Mas?” Shanum akhirnya tak bisa men

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 220

    “Jangan kamu buka, Num!” Larangan itu terdengar kencang dari arah pintu masuk apartemen.Tangan Shanum yang mulai bergerak untuk menyobek selotip yang merekat erat di pinggiran dus pemberian Topan langsung terhenti.Ia menoleh ke arah sumber suara, matanya membelalak terkejut melihat Prana sudah berdiri di sana. Napas pria itu sedikit memburu, seolah-olah baru saja berlari sepanjang koridor apartemen.“Lho… Mas?” Shanum mengerutkan kening heran.Hendra dan Tiara baru sekitar lima belas menit yang lalu meninggalkan apartemen setelah membantu Shanum merapikan semua keperluan dan barang-barangnya. Jadi Shanum tak menyangka Prana akan muncul secepat ini.“Kok udah pulang? Kata Tiara jadwal Mas padat banget hari ini?” tanya Shanum saat melihat Prana berjalan lebar menghampirinya.“Udah selesai semua,” jawab Prana pendek.Tatapannya langsung tertuju pada dus cokelat di atas meja. Tanpa membuang waktu, Prana perlahan mendekat. Ia meraih dus tersebut, mengangkatnya, dan memindahkannya ke atas

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 61

    “Kau benar-benar akan melakukannya?” bisik Prana pelan, antara marah dan tidak percaya. Tangannya dengan cepat mencekal pergelangan tangan Shanum, menahannya di tempat. “Kau akan masuk ke sana dan membantu laki-laki itu melakukan... hal itu?”Shanum menoleh, menatap Prana dengan sorot mata menantan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 60

    “Kenapa kamu di sini? Bukannya sekarang jadwal jaga di rumah sakit?” tanya Prana tenang tapi ada penekanan yang tegas.Prana tampak berusaha keras menjaga dinding profesionalismenya di tengah pusaran perasaan pribadi yang mulai tak terkendali.Ia melirik Sarah sekilas, lalu kembali menatap Shanum y

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 59

    “Benar-benar buang waktu, Shanum! Aku ini sehat. Kamu lihat sendiri, kan? Aku olahraga setiap hari, tubuhku bugar. Tidak mungkin ada masalah denganku!” gerutu Fadil.Shanum menarik napas panjang, mencoba membangun benteng kesabaran yang mulai menipis.“Ini prosedur standar, Mas. Dokter bilang pemer

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 57

    “Dokter Prana! Pasien di Ruang VIP 6, Ibu Megawati, tiba-tiba sesak napas berat!” suara bidan jaga di seberang telepon terdengar sangat panik. “Tekanan darahnya melonjak ke 190/110 mmHg. Pasien juga mengeluh pandangan kabur dan nyeri ulu hati yang hebat," lanjutnya menjelaskan.Tangan Prana baru s

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status