Share

Bab 265

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-07-07 13:26:06

“Urusan Tiara itu tanggung jawabku, Ma. Apa pun alasannya, aku gak akan bisa ninggalin Tiara.”

Ucapan Prana itu berputar-putar di dalam kepala, Ucapan itu terdengar begitu hidup di telinganya. Begitu mutlak, tanpa keraguan, memutus paksa seluruh sisa kebahagiaan yang baru beberapa menit lalu ia rasakan. Shanum kini duduk di tepi ranjang dengan pandangan lurus ke lantai. Pikirannya melayang jauh.

Sebelumnya ia memang pernah mencurigai kedekatan Prana dan Tiara, tapi setelahnya di antara mereka b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
ayo bikin Shanum mandiri, kk. hidup sendiri dulu. sblm tabir terbuka, jngn terima pernikahan dari Prana.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 276

    “Mas, apa maksud Tante Ralin?” tanya Shanum, matanya menatap punggung tegap Prana, menuntut penjelasan yang selama tiga tahun ini tak pernah ia ketahui. “Siapa yang menghancurkan kalian? Mereka siapa?”Prana tak langsung berbalik, bahunya menegang kaku. Ketika akhirnya memutar tubuh, tatapannya menyiratkan kepanikan pekat.“Gak ada apa-apa, Num. Jangan didengerin,” potong Prana cepat, memegang kedua lengan Shanum erat, mencoba mengalihkan perhatiannya. “Ini cuma salah paham. Kita pulang sekarang, ya?”“Salah paham, kamu bilang, Pran?!” Ralin menyambar menyakitkan. Wanita paruh baya itu melangkah maju, berdiri tepat di samping putranya, menghadap Shanum sepenuhnya. “Kamu sebut seluruh air mata Mama selama ini cuma salah paham?”“Sebenarnya ada apa, Tan?” tanya Shanum, berusaha tenang meski hatinya bergemuruh.Dilepaskannya cengkeraman Prana di lengannya. Kepalanya mulai berdenyut. Tatapan benci Ralin jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan seorang ibu yang anaknya didekati seorang jand

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 275

    “Mama gak akan kasih restu sampai kapanpun,” ucap Ralin tegas. “Kamu bakal tetap menikah?”Prana terdiam beberapa saat. Genggaman tangannya pada jemari Shanum semakin mengunci kuat, seolah memberikan tanda bahwa ia tak akan pernah melepaskan wanita itu apa pun yang terjadi.“Aku bakal tetap menikahi Shanum, Ma. Dengan atau tanpa restu dari siapa pun,” jawab Prana, mutlak tanpa keraguan sedikit pun.Shanum tersentak mendengar kalimat nekat kekasihnya. Ia menarik tangannya dari kuncian Prana dengan sekali sentakan kuat. “Mas, jangan bicara begitu sama Tante Ralin! Gak boleh!”Mata Shanum menatap Ralin dengan pandangan penuh rasa hormat sekaligus penyesalan yang mendalam. “Tante, maafkan atas semua kesalahan aku di masa lalu yang sudah membuat Tante dan Mas Prana sedih. Aku gak ada niat sedikit pun untuk mengganggu Tante dengan Mas Prana.”Ralin sama sekali tak bergeming. Ia mengabaikan posisi berdiri Shanum, bahkan tak melirik wanita itu sedikit pun. Fokusnya tetap terkunci pada Prana,

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 274

    “Apa yang mau dibicarakan sama Mama, Pran?” tanya Ralin datar.Sudah sepuluh menit mereka duduk bersama bertiga di meja sudut kafe yang agak terpisah dari meja Hania dan Lastri.Tak sedikit pun Ralin menganggap kehadiran Shanum di sana. Tatapannya tertuju lurus pada Prana, mengabaikan keberadaan wanita di sebelah putranya yang kini meremas ujung kardigan di bawah meja.Prana memajukan posisi duduknya, menaruh kedua tangannya di atas meja. Ia melirik Shanum sekilas, memberikan ketenangan lewat sorot matanya sebelum kembali menatap sang ibu.“Aku sudah melamar Shanum, Ma. Rencananya kami mau menikah dalam waktu dekat,” ucap Prana tanpa ragu. Kalimat itu meluncur begitu tenang, kokoh, dan terdengar sangat bulat.Ralin tidak langsung merespons. Ia meraih cangkir teh kamomil hangat yang baru saja disajikan pelayan, menyesapnya sedikit dengan gerakan teratur. Setelah menaruh kembali cangkir itu ke tatakan piring kecil, barulah ia menatap Prana dengan sepasang mata yang menyipit.“Menikah?”

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 273

    “Jadi ini urusan yang kamu bilang ke Mama di telepon tadi?” tanya Ralin.Prana menarik napas dalam. Ia melangkah maju mendekati ibunya. Dengan gerakan tenang, Prana melingkarkan lengan di pundak wanita paruh baya itu, memeluknya hangat mencoba meredam amarah sang ibu.“Jangan marah dulu,” bisik Prana lembut. Ia menunduk sedikit, mendaratkan satu ciuman penenang di pelipis ibunya.Ralin tak menolak pelukan itu, tapi tubuhnya tetap kaku. Matanya masih melirik tajam ke arah Shanum yang berdiri membeku beberapa langkah di belakang Prana.Prana mengurai pelukannya, mundur satu langkah besar ke posisi semula. Tanpa ragu, ia kembali meraih tangan Shanum yang tadi sempat terlepas, menggenggamnya begitu erat di depan mata ketiga wanita itu. Tindakan Prana membuat Lastri langsung mendengus tak suka.Shanum sendiri berusaha melepaskan tangannya tapi Prana menggenggamnya lebih erat.“Kebetulan kita ketemu di sini. Gimana kalau kita ngobrol di kafenya? Di dalam ada banyak makanan minuman hangat,”

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 272

    “Iya, kita datangi Mama untuk minta restu. Buat jadwalnya nanti aku atur lagi ya,” ujar Prana, terdengar datar, sangat kontras dengan kehangatan yang ia pamerkan beberapa menit lalu.Shanum hanya mengangguk setuju.“Kenapa kita gak nikah aja dulu, baru nanti minta restu?” tanya Prana meraih cangkir jus stroberinya yang tinggal setengah. Ia meminumnya sedikit, memberikan jeda waktu yang cukup lama hanya untuk menelan cairan manis itu.“Gak bisa gitu, Mas,” tegur Shanum “Kita punya orang tua. Aku mau pernikahan kita langgeng selamanya.”“Iya, sayang.” Prana mencium pelipis Shanum sambil tersenyum.Ketenangann mereka teralihkan oleh, ponsel Prana yang bergetar beberapa kali. Beberapa pesan masuk berturut-turut. Prana mengambilnya di tas meja. Ibu jarinya bergerak menyapu layar untuk membuka baris pesan yang baru saja masuk.Visual riang di wajah dokter itu seketika lenyap tanpa sisa. Alisnya bertaut rapat, membentuk kerutan dalam di dahinya. Sepasang matanya menatap lurus pada deretan ka

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 271

    "Aku baru cerai, sekarang mau nikah sama kamu, kecepetan gak sih, Mas?" tanya Shanum sambil menyimpan teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis di meja.Mereka sekarang berada di café daerah puncak bogor. Tadi pagi, Prana tiba-tiba saja membangunkannya, dan mengajaknya berkendara jauh ke atas sini. Katanya, lumayan masih ada waktu sisa cuti sebelum ia kembali sibuk masuk rumah sakit besok lusa.Prana yang sedang duduk di kursi rotan mendongak. "Nggak ada yang cepat, Num. Aku udah nunggu momen ini sejak lama.”Shanum memandangi cincin berlian yang melingkar di jarinya. "Orang-orang pasti bakal ngomongin kita, Mas.""Gak usah di dengar. Yang menjalani hidup ini aku dan kamu, bukan mereka. Urusan Mama juga biar jadi bagianku untuk meluruskan semuanya," balas Prana.Shanum mengangguk pelan. Entah kenapa, ia merasa senyum Prana kali ini sedikit dipaksakan. Tapi, Shanum memilih untuk bungkam dan menyimpan pertanyaannya rapat-rapat.“Hari ini kita kemana?” tanya Shanum berusaha mengubah s

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 70

    “Maksud kamu... Fadil boleh menikah lagi?” tanya Kartika memastikan bahwa telinganya tak salah dengar. “Kamu nggak masalah?”Matanya yang biasanya penuh kilat sinis kini melebar dengan binar antusiasme yang tak terbendung. Shanum menyesap teh, tetap terlihat tenang.“Kenapa harus masalah, Ma?” Shan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 64

    Shanum menarik paksa flashdisk itu dari port USB. Napasnya memburu, bukan karena kelelahan, melainkan karena amarah yang akhirnya membakar habis sisa-sisa kesabarannya selama lima tahun.Isi folder itu adalah racun sekaligus obat. Di sana, wajah asli ayah mertuanya yang tamak dan kelakuan rendah Fa

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 61

    “Kau benar-benar akan melakukannya?” bisik Prana pelan, antara marah dan tidak percaya. Tangannya dengan cepat mencekal pergelangan tangan Shanum, menahannya di tempat. “Kau akan masuk ke sana dan membantu laki-laki itu melakukan... hal itu?”Shanum menoleh, menatap Prana dengan sorot mata menantan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 57

    “Dokter Prana! Pasien di Ruang VIP 6, Ibu Megawati, tiba-tiba sesak napas berat!” suara bidan jaga di seberang telepon terdengar sangat panik. “Tekanan darahnya melonjak ke 190/110 mmHg. Pasien juga mengeluh pandangan kabur dan nyeri ulu hati yang hebat," lanjutnya menjelaskan.Tangan Prana baru s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status