LOGIN“Mas, apa maksud Tante Ralin?” tanya Shanum, matanya menatap punggung tegap Prana, menuntut penjelasan yang selama tiga tahun ini tak pernah ia ketahui. “Siapa yang menghancurkan kalian? Mereka siapa?”Prana tak langsung berbalik, bahunya menegang kaku. Ketika akhirnya memutar tubuh, tatapannya menyiratkan kepanikan pekat.“Gak ada apa-apa, Num. Jangan didengerin,” potong Prana cepat, memegang kedua lengan Shanum erat, mencoba mengalihkan perhatiannya. “Ini cuma salah paham. Kita pulang sekarang, ya?”“Salah paham, kamu bilang, Pran?!” Ralin menyambar menyakitkan. Wanita paruh baya itu melangkah maju, berdiri tepat di samping putranya, menghadap Shanum sepenuhnya. “Kamu sebut seluruh air mata Mama selama ini cuma salah paham?”“Sebenarnya ada apa, Tan?” tanya Shanum, berusaha tenang meski hatinya bergemuruh.Dilepaskannya cengkeraman Prana di lengannya. Kepalanya mulai berdenyut. Tatapan benci Ralin jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan seorang ibu yang anaknya didekati seorang jand
“Mama gak akan kasih restu sampai kapanpun,” ucap Ralin tegas. “Kamu bakal tetap menikah?”Prana terdiam beberapa saat. Genggaman tangannya pada jemari Shanum semakin mengunci kuat, seolah memberikan tanda bahwa ia tak akan pernah melepaskan wanita itu apa pun yang terjadi.“Aku bakal tetap menikahi Shanum, Ma. Dengan atau tanpa restu dari siapa pun,” jawab Prana, mutlak tanpa keraguan sedikit pun.Shanum tersentak mendengar kalimat nekat kekasihnya. Ia menarik tangannya dari kuncian Prana dengan sekali sentakan kuat. “Mas, jangan bicara begitu sama Tante Ralin! Gak boleh!”Mata Shanum menatap Ralin dengan pandangan penuh rasa hormat sekaligus penyesalan yang mendalam. “Tante, maafkan atas semua kesalahan aku di masa lalu yang sudah membuat Tante dan Mas Prana sedih. Aku gak ada niat sedikit pun untuk mengganggu Tante dengan Mas Prana.”Ralin sama sekali tak bergeming. Ia mengabaikan posisi berdiri Shanum, bahkan tak melirik wanita itu sedikit pun. Fokusnya tetap terkunci pada Prana,
“Apa yang mau dibicarakan sama Mama, Pran?” tanya Ralin datar.Sudah sepuluh menit mereka duduk bersama bertiga di meja sudut kafe yang agak terpisah dari meja Hania dan Lastri.Tak sedikit pun Ralin menganggap kehadiran Shanum di sana. Tatapannya tertuju lurus pada Prana, mengabaikan keberadaan wanita di sebelah putranya yang kini meremas ujung kardigan di bawah meja.Prana memajukan posisi duduknya, menaruh kedua tangannya di atas meja. Ia melirik Shanum sekilas, memberikan ketenangan lewat sorot matanya sebelum kembali menatap sang ibu.“Aku sudah melamar Shanum, Ma. Rencananya kami mau menikah dalam waktu dekat,” ucap Prana tanpa ragu. Kalimat itu meluncur begitu tenang, kokoh, dan terdengar sangat bulat.Ralin tidak langsung merespons. Ia meraih cangkir teh kamomil hangat yang baru saja disajikan pelayan, menyesapnya sedikit dengan gerakan teratur. Setelah menaruh kembali cangkir itu ke tatakan piring kecil, barulah ia menatap Prana dengan sepasang mata yang menyipit.“Menikah?”
“Jadi ini urusan yang kamu bilang ke Mama di telepon tadi?” tanya Ralin.Prana menarik napas dalam. Ia melangkah maju mendekati ibunya. Dengan gerakan tenang, Prana melingkarkan lengan di pundak wanita paruh baya itu, memeluknya hangat mencoba meredam amarah sang ibu.“Jangan marah dulu,” bisik Prana lembut. Ia menunduk sedikit, mendaratkan satu ciuman penenang di pelipis ibunya.Ralin tak menolak pelukan itu, tapi tubuhnya tetap kaku. Matanya masih melirik tajam ke arah Shanum yang berdiri membeku beberapa langkah di belakang Prana.Prana mengurai pelukannya, mundur satu langkah besar ke posisi semula. Tanpa ragu, ia kembali meraih tangan Shanum yang tadi sempat terlepas, menggenggamnya begitu erat di depan mata ketiga wanita itu. Tindakan Prana membuat Lastri langsung mendengus tak suka.Shanum sendiri berusaha melepaskan tangannya tapi Prana menggenggamnya lebih erat.“Kebetulan kita ketemu di sini. Gimana kalau kita ngobrol di kafenya? Di dalam ada banyak makanan minuman hangat,”
“Iya, kita datangi Mama untuk minta restu. Buat jadwalnya nanti aku atur lagi ya,” ujar Prana, terdengar datar, sangat kontras dengan kehangatan yang ia pamerkan beberapa menit lalu.Shanum hanya mengangguk setuju.“Kenapa kita gak nikah aja dulu, baru nanti minta restu?” tanya Prana meraih cangkir jus stroberinya yang tinggal setengah. Ia meminumnya sedikit, memberikan jeda waktu yang cukup lama hanya untuk menelan cairan manis itu.“Gak bisa gitu, Mas,” tegur Shanum “Kita punya orang tua. Aku mau pernikahan kita langgeng selamanya.”“Iya, sayang.” Prana mencium pelipis Shanum sambil tersenyum.Ketenangann mereka teralihkan oleh, ponsel Prana yang bergetar beberapa kali. Beberapa pesan masuk berturut-turut. Prana mengambilnya di tas meja. Ibu jarinya bergerak menyapu layar untuk membuka baris pesan yang baru saja masuk.Visual riang di wajah dokter itu seketika lenyap tanpa sisa. Alisnya bertaut rapat, membentuk kerutan dalam di dahinya. Sepasang matanya menatap lurus pada deretan ka
"Aku baru cerai, sekarang mau nikah sama kamu, kecepetan gak sih, Mas?" tanya Shanum sambil menyimpan teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis di meja.Mereka sekarang berada di café daerah puncak bogor. Tadi pagi, Prana tiba-tiba saja membangunkannya, dan mengajaknya berkendara jauh ke atas sini. Katanya, lumayan masih ada waktu sisa cuti sebelum ia kembali sibuk masuk rumah sakit besok lusa.Prana yang sedang duduk di kursi rotan mendongak. "Nggak ada yang cepat, Num. Aku udah nunggu momen ini sejak lama.”Shanum memandangi cincin berlian yang melingkar di jarinya. "Orang-orang pasti bakal ngomongin kita, Mas.""Gak usah di dengar. Yang menjalani hidup ini aku dan kamu, bukan mereka. Urusan Mama juga biar jadi bagianku untuk meluruskan semuanya," balas Prana.Shanum mengangguk pelan. Entah kenapa, ia merasa senyum Prana kali ini sedikit dipaksakan. Tapi, Shanum memilih untuk bungkam dan menyimpan pertanyaannya rapat-rapat.“Hari ini kita kemana?” tanya Shanum berusaha mengubah s
“Dokter, tolong! Istri saya mau melahirkan!”Teriakan itu memecah ketenangan pasca istirahat siang. Beberapa orang membopong seorang wanita yang terus mengerang sambil mendekap perutnya yang besar. Daster panjang yang ia kenakan sudah basah kuyup—cairan ketuban bercampur bercak merah.“Kayaknya bay
Shanum bergerak cepat membelah ruang tengah, diikuti Tiara yang berjalan setengah berlari di belakangnya. Di ruang tamu menampilkan sosok Kartika yang berdiri tegak dengan tas bermerek yang dicengkeram erat di tangan kirinya. Wajah mertuanya itu menekuk masam.“Ma, ada apa pagi-pagi ke sini?” tanya
“Mbak... tolong percaya sama aku,” lirih Tiara, memohon dengan tatapan mata yang beralih gelisah. “Aku sama Mas Prana gak ada apa-apa.”Shanum tidak berniat merespons lagi. Dia menurunkan bungkusan es batu dari pipinya yang mulai terasa kebas, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kaca. Tubuh
“Kamu pikir kamu hebat? Hah?!” gertak Fadil tanpa menoleh. “Berani-beraninya kamu mempermalukan aku di depan bapak ibumu! Pakai bawa-bawa urusan ikat pinggang segala! Mau sok melawan kamu?”Wajah Fadil sudah tak sehangat atau berderai air mata seperti tadi di hadapan mertuanya. Pria itu menyetir de







