LOGINSuara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung waspada.Tadi ia sengaja berpura-pura tidur, dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Prana di pojok ruangan, termasuk kebohongan pria itu tentang kamar mandi yang bocor dan janji untuk menginap di rumah ibunya.“Kayaknya tadi tante Ralin mau menginap disini,” gumam Shanum sambil mendudukkan diri di sofa. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang kian menumpuk. “Gara-gara aku Mas Prana sampai harus berbohong.”Ia beringsut turun dari sofa, melangkah perlahan menuju meja makan untuk mencari ponselnya. Ia harus bergerak cepat sebelum Tiara telanjur datang. Begitu menemukan benda pipih itu, Shanum langsung mendial nomor sahabatnya.“Halo, Ra?” panggil Shanum begitu panggilan tersambung.“L
“Mama udah di jalan diantar Hania, sebentar lagi sampai.”Pesan kedua dari Ralin—Mama Prana—muncul di layar ponsel membuat tubuh Prana langsung menegang. Tatapannya beralih dari layar ke Shanum yang tertidur pulas di pangkuannya.“Sial,” gerutunya dalam hati.Prana menutup mata sesaat. Dari semua kemungkinan yang ia bayangkan hari ini, kedatangan mendadak Mamanya adalah yang paling tak ia inginkan. Perlahan ia menggeser tubuh Shanum agar bersandar pada bantal sofa. Untungnya efek obat masih membuat wanita itu tidur nyenyak.Begitu memastikan Shanum tak terbangun, Prana segera menjauh beberapa langkah dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang memburu waktu. Dengan gerakan cepat namun berhati-hati agar suaranya tak menggema, ia mencari kontak Mamanya dan langsung menekan tombol panggil.Telepon diangkat hanya dalam hitungan detik.“Halo, Pran? Mama baru aja mau telepon kamu. Hania lagi parkir bentar.” Suara Ralin langsung menyambar begitu telepon diangkat.Prana mengembusk
“Kawin lari?” seru Shanum, matanya membelalak sempurna. “Maksud kamu apa, Mas?”Raut wajah Shanum berubah total. Rasa sedih yang tadinya menggelayuti matanya mendadak lenyap, berganti ekspresi kaget sekaligus bingung yang luar biasa. Ia menatap Prana seolah-olah pria di hadapannya ini baru saja kehilangan akal sehatnya akibat terlalu banyak bekerja.“Aku serius,” sahut Prana, matanya memancarkan kesungguhan. “Kita bisa pergi sekarang juga ke daerah yang sangat terpencil. Tempat yang susah sinyal ponsel. Kalau bisa kita cuma tinggal berdua.”Shanum mengernyitkan keningnya, menatap Prana aneh. “Mas, kamu gak baik-baik aja kan? Apa efek kurang tidur beberapa hari ini jagain aku terus?”Prana tak membalas candaan itu. Ia justru memajukan tubuhnya, menatap Shanum dengan tatapan yang benar-benar serius.“Aku gak bercanda, Shanum. Nanti di sana gak akan yang bisa ganggu kita. Kita bikin kehidupan baru yang benar-benar cuma buat kita berdua aja.”“Apaan sih, Mas?” Shanum akhirnya tak bisa men
“Jangan kamu buka, Num!” Larangan itu terdengar kencang dari arah pintu masuk apartemen.Tangan Shanum yang mulai bergerak untuk menyobek selotip yang merekat erat di pinggiran dus pemberian Topan langsung terhenti.Ia menoleh ke arah sumber suara, matanya membelalak terkejut melihat Prana sudah berdiri di sana. Napas pria itu sedikit memburu, seolah-olah baru saja berlari sepanjang koridor apartemen.“Lho… Mas?” Shanum mengerutkan kening heran.Hendra dan Tiara baru sekitar lima belas menit yang lalu meninggalkan apartemen setelah membantu Shanum merapikan semua keperluan dan barang-barangnya. Jadi Shanum tak menyangka Prana akan muncul secepat ini.“Kok udah pulang? Kata Tiara jadwal Mas padat banget hari ini?” tanya Shanum saat melihat Prana berjalan lebar menghampirinya.“Udah selesai semua,” jawab Prana pendek.Tatapannya langsung tertuju pada dus cokelat di atas meja. Tanpa membuang waktu, Prana perlahan mendekat. Ia meraih dus tersebut, mengangkatnya, dan memindahkannya ke atas
“Apa lagi yang kamu mau, Topan?” suara Shanum terdengar tertahan, seolah setiap kata harus dipaksa keluar dari tenggorokannya.“Tenang saja. Gak perlu setegang itu.” Topan melangkah pelan, santai, seakan parkiran itu miliknya sendiri. Ia bahkan tidak menghiraukan tatapan tajam Hendra yang berdiri kokoh menghalangi di depan Shanum. “Aku cuma ingin menyapa.”Sebuah isyarat kecil dari tangannya membuat salah satu anak buahnya menyerahkan sebuah amplop. Namun sebelum sampai ke Shanum, Hendra lebih cepat merebutnya. Ia membuka isi amplop itu, dan dalam sekejap, raut wajahnya berubah.Dua lembar foto di dalamnya membuat amarah yang semula tertekan langsung meledak di dada. Tangannya bergetar.Shanum melangkah maju, menunjuk Topan dengan mata yang mulai basah oleh emosi. “Kamu…!”“Kenapa? Mau marah?” potong Topan cepat, bibirnya melengkung sinis. “Jangan pasang wajah korban seperti itu di depanku. Harusnya kamu berterima kasih. Aku sudah cukup baik datang langsung ke sini.”“Berterima kasih?
“Ra, kamu ngerasa gak kalau Mas Prana dari kemarin agak beda? Banyak diam,” tanya Shanum sambil memperhatikan Tiara memasukkan sisa barang-barangnya ke dalam tas jinjing besar.Pagi ini Shanum sudah diijinkan pulang. Wajahnya terlihat segar, sejak mengetahui kalau perceraiannya akan segera ketuk palu, Shanum jadi lebih banyak tersenyum.Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya perlahan terangkat. Kepedihannya kehilangan janin juga sedikit terobati setelah mendengar tuntutan hukuman berlapis yang akan diberikan pada Fadil.Tapi ada yang mengganggunya sejak kemarin sore. Setelah kepulangan orang tuanya dan Hendra, Prana lebih banyak diam. Pria itu hanya berbicara singkat. Beberapa kali Shanum bertanya ada apa, Prana akan mengalihkan pembicaraan.“Mungkin capek, Mbak,” jawab Tiara santai. “Kerjaan Mas Prana padat banget. Tadi subuh aja, dia udah ada operasi.”Shanum mengangguk pelan, meski ada sedikit keraguan yang melintas di benaknya. “Benar juga. Beberapa hari ini dia harus bo
“Aa… ada apa, Mbok?” tanya Shanum tergagap.Dia langsung berdiri, melangkah cepat menghampiri wanita tua itu sambil mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. Jantungnya kembali berdegup kencang, kali ini karena rasa takut tertangkap basah.“Pak Fadil telepon, Mbak. Katanya nelepon M
“Keluar dari rumahku sekarang!” Shanum mendorong dada Prana sekuat mungkin. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dia punya untuk menyingkirkan pria itu dari hadapannya. Tetapi tubuh Prana sama sekali tak bergeser.Alih-alih mundur, Prana justru mengambil langkah besar ke depan, mendesak Shanum m
“Kenapa, Mbak?” Tiara terkejut melihat kakaknya berlari cepat kembali menuju pintu depan. “Tante Kartika balik lagi?”Shanum tak menjawab. Dia langsung memutar kunci, lalu membuka pintu kayu itu lebar-lebar.Benar saja, Prana sudah berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja abu-abu yang
Shanum bergerak cepat membelah ruang tengah, diikuti Tiara yang berjalan setengah berlari di belakangnya. Di ruang tamu menampilkan sosok Kartika yang berdiri tegak dengan tas bermerek yang dicengkeram erat di tangan kirinya. Wajah mertuanya itu menekuk masam.“Ma, ada apa pagi-pagi ke sini?” tanya







