Beranda / Romansa / Satu Malam Bersama Dosen Tampan / Bab 4 Takdir yang tak berpihak padanya

Share

Bab 4 Takdir yang tak berpihak padanya

Penulis: Merah
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-24 18:21:19

Jam berjalan lambat. Setiap menit di kelas hari ini terasa seperti hukuman bagi Aira.

Suara Adrian yang menjelaskan teori dan konsep dasar, entah mengapa terasa terlalu dekat, terlalu familiar. Kadang, Aira bahkan bisa mendengar gema napas berat Adrian di telinganya sendiri, seolah ingatan malam itu menolak pergi.

Aira berusaha menulis, tapi ujung penanya hanya mencoret garis tak berarti, sementara pikirannya berlari ke mana-mana. Ia merasa seolah duduk di bawah cahaya yang terlalu terang, dengan seluruh rahasianya tergantung di udara, siap jatuh kapan saja.

Ah... lebih sialnya lagi, hari ini Nita izin tidak masuk, jadi tidak ada sosok sahabat yang mampu sedikit menenangkan gelisah hatinya.

“Itu saja untuk materi hari ini,” ujar Adrian di penghujung kelas, suaranya tenang dan berat. “Saya ingin kalian menulis esai singkat tentang motivasi kalian menempuh jurusan ini. Kumpulkan minggu depan.”

Beberapa mahasiswa berdesis pelan, yang lain mengangguk. Adrian mematikan sambungan proyektor dari laptopnya dan tanpa sadar menghela napas ringan.

Rasa lega sempat menyapu dada Aira ketika akhirnya lamunan panjangnya terhenti dengan suara Adrian yang sepertinya akan segera mengakhir kelas. Aira buru-buru menutup bukunya, meraih tas, dan tubuhnya bangkit sendiri. Ia hanya ingin keluar dari ruangan itu secepat mungkin—melarikan diri dan menjauh dari pria yang telah membuatnya kehilangan kesuciannya.

Namun langkahnya terhenti ketika suara berat itu kembali terdengar.

“Kamu,” ucap Adrian, pandangannya terarah pada barisan tengah. “Yang di kursi ketiga.”

Aira membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya menegang. Ia menoleh perlahan—dan benar, tatapan Adrian tertuju padanya.

Tatapan yang sama seperti malam itu: dalam, intens, dan tajam. Tapi kali ini tanpa kabut alkohol dan desah samar yang membungkusnya.

“Jangan terburu-buru,” ujar Adrian dengan nada datar tapi tegas. “Saya belum selesai bicara.”

Seluruh kelas sontak menoleh ke arahnya. Bisik-bisik pelan terdengar. Wajah Aira memanas, dadanya sesak. Ia menunduk dalam, menahan napas yang terasa semakin berat sambil berusaha menenangkan diri.

“Maaf, Pak…” suaranya pelan, nyaris hilang di antara deru napasnya sendiri.

Adrian mengalihkan pandangan, melanjutkan penjelasan seolah tegurannya hanyalah angin lalu. Tapi bagi Aira cukup untuk membuat darahnya hampir berhenti mengalir.

“Baik.” Suara Adrian terdengar lagi—tenang, berat, dan terukur. “Sebelum kita akhiri pertemuan hari ini, saya membutuhkan satu orang penanggung jawab mata kuliah ini. Tugasnya sederhana—mengumpulkan tugas, mencatat kehadiran, dan menjadi penghubung jika ada informasi tambahan dari saya.”

Ia berhenti sejenak. Tatapannya berkeliling perlahan, menelusuri wajah-wajah mahasiswa di depannya.

“Silakan tentukan siapa yang akan menjadi penanggung jawab mata kuliah saya,” lanjutnya. “Setelah itu, saya harap mahasiswa yang menjadi penanggung jawab mata kuliah saya, dapat langsung menemui saya di ruang dosen.”

Nada suaranya tetap datar, tapi entah kenapa setiap kata yang keluar terasa berat di telinga Aira. Ia menunduk lagi, tidak berani menatap.

Ketika Adrian menutup laptopnya dan meninggalkan ruangan dengan langkah tenang, suasana hening beberapa detik sebelumnya, akhirnya pecah oleh suara riuh mahasiswa di kelas Aira. Rasanya Aira bukan lagi berada di kampus, melainkan sedang menyaksikan pertunjukan sirkus di pasar malam.

“Gila, gue mau jadi penanggung jawabnya! kalau bisa ketemu Pak Adrian tiap minggu, siapa juga yang nolak?”

“Ya ampun, please aku aja. Tolong izinin aku biar bisa sering ketemu Pak Adrian, dong!”

“Enggak bisa, pokoknya harus aku!”

“Woy, gantian napa, lo pada kan udah ada yang jadi PJ dosen lain. Kali ini gue juga mau!”

Suasana kelas benar-benar meledak tak terkendali dan berubah menjadi arena rebutan penuh tawa dan canda. Aira hanya bisa menatap pemandangan itu dengan kosong dan lelah. Dunia mereka penuh semangat dan rasa ingin dekat dengan dosen muda itu, sementara dunia Aira terasa seperti pusaran ketakutan yang semakin dalam, sehingga membuatnya sama sekali tak mau berurusan lagi dengan dosen muda idaman mereka.

Ia menunduk, pura-pura sibuk memasukkan buku ke dalam tas, meski jantungnya masih berdetak terlalu cepat. Sungguh ia tidak mau ikut dalam hiruk pikuk itu. Ia hanya ingin keluar, bernapas, melupakan.

“Eh, udah, daripada ribut mending kita undi aja,” saran salah satu mahasiswa. “Biar adil!”

“Setuju! Undi aja! Biar enggak ribut!” Sorakan setuju langsung terdengar.

Dalam hitungan menit, kertas kecil disobek, nama-nama ditulis, dan semuanya dimasukkan ke dalam wadah plastik bekas minuman yang sudah kering.

“Yang keluar, dia yang jadi penanggung jawab, ya!” seru teman sekelasnya, Risa, sambil mengocok wadah itu.

Semua mahasiswi tertawa, bersorak, menunggu hasilnya dengan wajah berbinar-binar penuh pengharapan.

Sementara Aira hanya menunduk, menggenggam ujung roknya erat-erat. Dalam hati ia berdoa—berdoa agar bukan namanya yang keluar dari sana. Ia tidak sanggup lagi kalau harus sering berhadapan dengan lelaki itu, bahkan hanya untuk sekadar bertukar kata.

Namun takdir, seperti biasa, selalu saja seperti senang sekali mempermainkannya.

“Dan penanggung jawab mata kuliah Pak Adrian adalah…”

Risa membuka lipatan kecil itu perlahan, dengan senyum jahil di wajahnya, membuat seluruh mahasiswi yang sudah menanti-nanti menahan napas. “Aira Prameswari!”

Suara tawa dan tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.

“Wah, selamat, Ra!”

“Cieee, hoki banget!”

“Lo bakalan sering ketemu Pak Adrian, tuh!”

“Sumpah, Kalau gue jadi lo, udah pasti bakal seneng mampus!”

“Jangan lupa foto bareng, ya!”

Aira terpaku di tempat. Tak ada keinginan ikut tertawa dalam dirinya. Yang ia rasa malah bibirnya begitu kelu. Dunia terasa berputar pelan. Kertas kecil itu seperti vonis yang jatuh tanpa bisa digugat.

Kata-kata mereka bukan terasa sesuatu yang menyenangkan untuknya, tetapi malam terasa menghantam dadanya seperti palu godam.

Ia hanya bisa mengangguk kecil tanpa suara, sementara teman-temannya masih berceloteh penuh tawa. Aira tersenyum kaku, menyembunyikan kekacauan yang berputar di dadanya.

Mereka tidak tahu—ini bukan keberuntungan, tapi mimpi buruk yang kembali hidup.

“Ini beneran aku yang jadi PJnya? Enggak bisa diganti aja sama yang lain?” suaranya pelan, nyaris tak terdengar.

Risa terkekeh. “Aturan undian enggak bisa diganggu gugat, Ra. Rezeki lo tuh. Lagian kan kita semua udah sepakat di awal. Kalau diganti terus yang ada anak-anak kelas pada ribut lagi.”

Aira hanya bisa menanggapinya dengan menarik bibirnya membentuk senyum kecil yang dipaksakan.

Dalam hati, ia tahu, ini bukan rezeki, tapi jebakan takdir yang hobi sekali mengerjainya seperti anak kecil.

Ketika satu per satu mahasiswa meninggalkan kelas, Aira masih duduk di kursinya. Tangannya gemetar di atas meja.

Ia tahu, sebentar lagi ia harus melangkah ke ruang dosen. Dan di sana, di balik pintu itu, ada seseorang yang semestinya tidak pernah ia temui lagi.

Benaknya pun terus mengalunkan tanya.

Apa yang akan terjadi nanti?

Apakah Adrian akan mengenalinya?

Atau hanya akan memperlakukannya seperti biasa sebagai mahasiswa yang menjadi penanggung jawab mata kuliah yang diampu oleh lelaki itu?

Ia tidak tahu. Tapi yang pasti, rahasia yang berusaha ia kubur semalam, kini terasa seperti mulai menggeliat di permukaan.

Dan seperti mimpi buruk yang menolak padam, bayangan malam itu—sentuhan, bisikan, dan tatapan mata asing itu—lagi-lagi kembali menjerat pikirannya tanpa ampun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 18 Kebenaran yang Tersingkap Sepenuhnya

    Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan mendung yang menggelayuti hati Aira. Di depan cermin kamar kos apartemen kecilnya, Aira menatap pantulan wajahnya yang masih tampak pucat pasi seperti kemarin. Ia berkali-kali memulas sedikit perona pipi dan lipstik agar tidak terlihat seperti mayat hidup, namun gurat rasa sakit bercampur lelah itu seolah tetap saja mampu menembus lapisan riasannya.“Ra, aku mohon, sekali ini saja dengerin aku. Kamu enggak usah berangkat,” suara Nita terdengar dari ambang pintu. Sahabatnya itu sudah berdiri di sana sejak sepuluh menit yang lalu dengan tangan bersedekap dan wajah penuh kekhawatiran.Aira menghela napas, tangannya masih sibuk merapikan kerah kemejanya yang terasa sedikit longgar dengantangan yang gemetar. “Aku enggak bisa, Nit. Hari ini bagianku yang presentasi. Kalau aku absen, takut berpengaruh sama penelitian kelompok kita.”“Tapi Pak Adrian sendiri yang bilang kemarin, kalau kamu butuh istirahat, kamu enggak perlu datan

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 17 Rahasia yang Mulai Retak

    Sejak subuh tadi, Aira merasa perutnya menegang tanpa alasan. Bukan sakit, tapi ada tekanan halus yang membuat langkahnya berat sejak ia bangun. Ketika membuka mata, kamar terasa lebih gelap dari biasanya, meski tirai jendela belum sepenuhnya tertutup. Udara kamar pun terasa lebih pengap, seolah dunia enggan memberi ruang baginya untuk bernapas lega.Ia bangkit pelan dan merasakan pusing menyambar begitu telapak kakinya menyentuh lantai. Tubuhnya menolak untuk tegak, namun ia memaksakan diri.Di kampus, Aira mencoba mengubur Perasaan tak nyaman di tubuhnya. Saat duduk di kelas, ia merasa pusing datang menyergap. Senyum Nita muncul sekilas di tepi penglihatannya, lalu menghilang saat Aira memejamkan mata.“Aira?” bisik Nita pelan. “Kamu sakit?”Aira menggeleng. “Cuma pusing… sedikit.”Nita tidak percaya, tapi ia menahan diri. Ia menggeser botol air ke arah Aira, lalu kembali menatap papan tulis.Aira meminum air itu perlahan, meski mual kemba

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 16 Jarak yang Mulai Tumbuh

    Hari-hari setelah ia mendapati dua garis itu, seolah berjalan seperti kabut yang enggan menyingkir. Aira bangun setiap pagi dengan kepala yang jauh lebih berat dan dada yang jauh lebih sesak, seperti ada sesuatu yang menahan napasnya lebih parah daripada saat ia mengetahui kalau Adrian adalah lelaki malam itu dan saat ia menyadari ada tanda-tanda tak biasa pada tubuhnya.Ranjang yang ia tiduri pun tidak lagi terasa hangat atau nyaman—lebih seperti tempat ia menunggu kekhawatiran berikutnya.Semua hal seolah tampak jauh baginya. Hanya satu hal yang selalu terasa dekat: garis merah ganda yang muncul di kepalanya setiap kali ia berhenti sejenak. Seakan bayangan itu menolak pergi.Di kelas, Nita selalu di sampingnya. Sahabatnya itu setiap hari selalu saja menanyakan keadaannya, meski jawaban yang ia berikan selalu sama, tapi sahabatnya itu tak pernah absen bertanya, mungkin sampai rasa curiga dalam hatinya dapat menemui jawab yang tak mengandung dusta.“Ra, kamu kenapa, sih? Sekarang maki

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 15 Garis yang Tak Bisa Disangkal

    Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi Aira masih duduk di lantai kamar mandi. Dinding tempatnya bersandar seakan kian merembeskan rasa dingin hingga ke tulangnya.Telapak tangannya menekan ubin, seolah mencari pegangan agar tubuhnya tidak runtuh. Napasnya terengah, pendek-pendek, dan setiap tarikan udara terasa tidak pernah cukup dan justru membuat aliran udara di dadanya kian menyempit.Ia belum berani mengangkat kepala. Ada bagian dalam dirinya yang berharap waktu berhenti tepat di momen ini—sebelum apa pun berubah, sebelum pikirannya dipaksa menerima sesuatu yang belum siap ia hadapi. Namun tubuhnya tidak memberi pilihan. Jantungnya berdetak terlalu keras, terlalu cepat, seakan mendesaknya untuk menyelesaikan ketegangan yang menggantung di udara.Dengan gerakan pelan, nyaris ragu, Aira akhirnya mendongak.Pandangan matanya langsung tertuju pada benda kecil di tepi wastafel.Test pack itu tergeletak diam, sederhana, tanpa suara, tanpa gerak—seolah tidak menyadari kekacauan yang b

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 14 Memastikan Ketakutan

    Adrian masuk seperti biasa—tenang, rapi, dan seolah tidak membawa apa pun selain urusan akademik ke dalam kelas. Namun sejak langkahnya melewati pintu, Aira sudah tahu ada sesuatu yang berbeda. Bukan dari sikap Adrian, melainkan dari dirinya sendiri. Suara Adrian terdengar jelas, menjelaskan materi dengan nada datar dan terukur. Kata demi kata meluncur rapi. Tapi di telinga Aira, semuanya terasa jauh. Bergema. Seolah pikirannya berada di ruang lain yang tak bisa dijangkau suara mana pun. Pulpen di tangannya diam beberapa detik. Lalu sebuah pikiran menyusup, lirih tapi tajam. “Bagaimana kalau benar?” Dadanya mengencang. “Bagaimana kalau aku memang hamil?” Bayangan itu muncul begitu saja. Dirinya duduk di kelas yang sama, beberapa bulan ke depan—sementara sesuatu tumbuh perlahan di tubuhnya, sesuatu yang tak bisa ia sembunyikan selamanya. Dan Adrian? Ia melirik ke de

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 13 Kian Jelas, Kian Menakutkan

    Hari-hari setelah kejadian di klinik terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.Setiap pagi, Aira bangun dengan rasa mual yang menjadi lebih sering datang dan pergi tanpa alasan, lelah kian menyerang bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.Rasa berat yang menggantung di belakang mata dan di pangkal leher, seolah ada sesuatu yang mengambil tenaga darinya sedikit demi sedikit.Ia bangun lebih lambat dari biasanya, dan untuk pertama kalinya sejak semester dimulai, ia beberapa kali hampir telat masuk kelas. Tapi yang paling menakutkan bukanlah rasa sakit itu, melainkan pikiran-pikiran yang terus berputar di kepalanya.Nita memperhatikan perubahan itu dengan gelisah.“Ra, kamu yakin enggak apa-apa?” tanyanya suatu pagi sambil mengaduk kopi. “Dari kemarin kamu kelihatan makin lemes. Kamu tuh butuh ke dokter, bukan Cuma istirahat.”Aira menepuk pipinya pelan, mencoba memberi warna pada wajah yang terasa dingin. “Aku Cuma capek.”“Capek setiap hari?” tanya Nita, nada suaranya lembut tapi je

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status