LOGINAira menghela napas panjang di depan cermin kamarnya. Wajahnya tampak pucat, seolah seluruh darah dalam tubuhnya tersedot keluar bersama rasa sesal yang tak kunjung surut.
Matanya sembab, tatapannya kosong, dan kantung hitam menggantung di bawah kelopak—bukti dari malam-malam tanpa tidur yang dihantui campuran ingatan antara pengkhianatan Galang dan malam panjang yang ia habiskan dengan lelaki tak dikenal.
Sudah tiga hari berlalu sejak malam itu, tapi setiap kali memejamkan mata, sisa malam itu masih melekat erat di kepalanya. Bayangan tubuh asing, desahan samar, kulit yang bersentuhan dalam kabut alkohol, semuanya seperti fragmen film yang tak mau berhenti diputar. Setiap kali mengingatnya, dadanya terasa sesak, perutnya mual, dan jantungnya berdetak tak karuan.
“Lupain, Aira…” gumamnya pada bayangan di cermin. Ia menepuk pipinya pelan. “Itu cuma kesalahan semalam. Cuma sekali dan enggak akan pernah terjadi lagi.”
Kata-kata itu seperti mantra yang sudah terlalu sering ia ucapkan. Namun setiap kali diulang, justru terasa makin terbayang-bayang. Ia menggeleng pelan. Tidak, ia tidak boleh mengingatnya. Malam itu hanya sebuah pelarian bodoh dari luka yang belum sembuh. Ia bahkan tidak tahu siapa lelaki itu, dan tidak ingin tahu.
Meski begitu, di sisi lain Aira tahu, tidak ada mantra yang bisa menghapus apa yang telah terjadi dan suara di dalam kepalanya seolah menertawakannya—karena bagaimana mungkin ia bisa melupakan sesuatu yang memang terjadi secara nyata?
Tapi hari ini, ia bertekad untuk mencoba. Hari pertama perkuliahan semester baru. Hidup harus berjalan. Ia tidak boleh membiarkan satu malam kelam menghancurkan masa depan yang sudah ia perjuangkan dengan susah payah.
Hari ini, ia harus kembali menjadi dirinya yang dulu. Seorang mahasiswa yang telah memasuki semester akhir dan akan berurusan dengan skripsi setelah semester 7 ini berakhir, bukan perempuan yang tersesat dalam bayang malam suram.
Hari ini adalah awal semester baru. Ia harus fokus. Ia harus kuat.
Ia menatap cermin sekali lagi. Rambutnya ia ikat rapi, mengenakan kemeja putih bersih, dan tas laptop tergantung di bahu kirinya.
Bagaimana pun ia harus melewati hari ini tanpa terjebak dalam bayangan kelam. Ia menarik napas panjang, berusaha meyakinkan diri bahwa hidup harus terus berjalan, walau langkahnya dan gemetar.
“Mulai lagi dari awal, Ra,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan detak jantung yang tak juga stabil.
***
Udara kampus terasa berbeda pagi itu. Terlalu riuh untuk hati yang masih berantakan. Aira berjalan perlahan melewati koridor, membawa buku catatan yang terasa lebih berat dari biasanya.
Di sekitarnya, mahasiswa-mahasiswa tampak sibuk saling menyapa, berbagi tawa yang mengisi udara, dan membicarakan gosip tentang dosen baru yang katanya akan mengajar salah satu mata kuliah inti semester ini. Tapi bagi Aira semua terdengar jauh, seperti gema yang tidak menyentuhnya.
“Katanya ada dosen baru, masih muda dan anak dari keluarga kaya raya,” ujar seorang mahasiswi dengan nada bersemangat.
“Katanya juga ganteng banget dan baru pulang dari luar negeri. Sumpah keren banget, enggak sih?” timpal yang lain penuh kekaguman.
“Kalau beneran ada dosen se-perfect itu, bisa-bisa aku rajin kuliah tiap minggu!” timbrung yang lain di sambut tawa kecil.
“Ah, gosip kalian tuh selalu dilebih-lebihkan,” sahut yang lain lagi.
Bisikan itu terdengar berseliweran di sepanjang lorong. Aira hanya menunduk dan tersenyum tipis mendengar percakapan itu. Ia tidak peduli dengan gosip itu. Baginya semua itu tidak penting. Ia hanya ingin duduk tenang, mendengarkan kuliah, lalu pulang tanpa masalah. Tidak ada drama, tidak ada gangguan.
Langkahnya berhenti di depan ruang 3.5—kelas besar yang hari ini dipakai untuk mata kuliah inti. Ia menarik napas, lalu masuk. Ruangan itu sudah hampir penuh dan mulai terasa sesak. Aira memilih kursi di barisan tengah, tempat yang tidak terlalu mencolok dan posisi aman di mana pandangan orang tidak terlalu tertuju padanya.
Ia membuka buku catatan, menulis tanggal dan nama mata kuliah di pojok atas, meski pikirannya melayang entah ke mana. Sial, sisa malam itu masih menempel seperti noda di kulit yang tak bisa dibersihkan. Ia mencoba menenangkan diri dengan mencoret-coret halaman kertas kosong.
Namun, tangan yang menggenggam pena itu terus bergetar. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan lelaki itu datang kembali—suara beratnya, sentuhannya, bahkan aroma parfum maskulinnya. Ia menelan ludah, berusaha fokus.
Beberapa menit kemudian, suara riuh di kelas mendadak mereda seketika. Pintu kelas terbuka, dan seseorang masuk dengan langkah tenang. Suara bisik-bisik langsung pecah di udara.
“Itu dia dosen barunya!”
“Ya ampun, beneran masih muda!”
“Ganteng banget, sumpah!”
Aira sempat mengangkat kepala tanpa berpikir. Seketika, darahnya seolah berhenti mengalir.
Pria itu.
Pria yang menarik pinggangnya malam itu. Pria yang memeluknya dalam kabut alkohol dan kepanikan. Pria yang napasnya membakar telinganya dengan permohonan samar. Dan pria yang menatapnya dengan tajam penuh gejolak. Kini berdiri tegap di depan kelas, mengenakan kemeja putih bersih, wajahnya bersih, rambutnya tersisir rapi, sorot matanya tajam tapi berwibawa.
“Selamat pagi,” ucapnya dengan suara berat yang sama seperti malam itu—namun kini terdengar lebih dalam, jernih, terkontrol, dan berwibawa. “Nama saya Adrian Wiratama. Mulai semester ini, saya akan menjadi dosen kalian untuk mata kuliah ini.”
Suasana kelas bertambah riuh. Bisik-bisik, tawa kecil, helaan napas kagum kian menjadi. Tapi Aira seolah tak mendengar apa pun. Dunia seolah hanya berisi satu suara yang menggema dalam kepalanya—nama itu. Adrian Wiratama.
Tangannya yang memegang pena bergetar hebat. Dadanya naik turun tak beraturan. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Ia menunduk cepat, berharap tidak ada yang melihat wajahnya yang kini memucat.
Di tengah gelisah hatinya, ia mencoba mencuri pandang sedikit. Suara itu, tatapan itu—semuanya sama. Hanya konteksnya yang berbeda. Ia merasakan jantungnya berdetak keras, keringat dingin menetes di tengkuknya. Dunia seolah berputar pelan di sekelilingnya.
Aira kembali menunduk cepat, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik rambut. Ia merasa tidak sanggup menatap lebih lama.
Apa Adrian mengenalinya? Apa lelaki itu tahu siapa dirinya?
Tapi ketika ia memberanikan diri untuk mengangkat kepala kembali dan menatap ke arah depan lebih lama, Adrian tampak profesional, sama sekali tidak menoleh padanya. Tidak ada tanda ia mengenali Aira.
Lelaki itu berbicara datar, menjelaskan silabus, menulis di papan tulis, lalu menjawab pertanyaan mahasiswa lain dengan ketenangan yang tidak sejalan dengan badai yang mengguncang hati Aira.
Mungkin… ia memang tidak ingat.
Mungkin malam itu benar-benar kabur baginya—pengaruh obat, alkohol, dan kabut gairah samar yang menelan semuanya. Mungkin wajah Aira tidak terlalu jelas dalam ingatannya.
Aira menelan ludah. Ada sedikit rasa lega yang muncul, tapi bersama itu muncul rasa getir lain: mengapa justru dirinya yang masih mengingat semuanya begitu jelas?
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan mendung yang menggelayuti hati Aira. Di depan cermin kamar kos apartemen kecilnya, Aira menatap pantulan wajahnya yang masih tampak pucat pasi seperti kemarin. Ia berkali-kali memulas sedikit perona pipi dan lipstik agar tidak terlihat seperti mayat hidup, namun gurat rasa sakit bercampur lelah itu seolah tetap saja mampu menembus lapisan riasannya.“Ra, aku mohon, sekali ini saja dengerin aku. Kamu enggak usah berangkat,” suara Nita terdengar dari ambang pintu. Sahabatnya itu sudah berdiri di sana sejak sepuluh menit yang lalu dengan tangan bersedekap dan wajah penuh kekhawatiran.Aira menghela napas, tangannya masih sibuk merapikan kerah kemejanya yang terasa sedikit longgar dengantangan yang gemetar. “Aku enggak bisa, Nit. Hari ini bagianku yang presentasi. Kalau aku absen, takut berpengaruh sama penelitian kelompok kita.”“Tapi Pak Adrian sendiri yang bilang kemarin, kalau kamu butuh istirahat, kamu enggak perlu datan
Sejak subuh tadi, Aira merasa perutnya menegang tanpa alasan. Bukan sakit, tapi ada tekanan halus yang membuat langkahnya berat sejak ia bangun. Ketika membuka mata, kamar terasa lebih gelap dari biasanya, meski tirai jendela belum sepenuhnya tertutup. Udara kamar pun terasa lebih pengap, seolah dunia enggan memberi ruang baginya untuk bernapas lega.Ia bangkit pelan dan merasakan pusing menyambar begitu telapak kakinya menyentuh lantai. Tubuhnya menolak untuk tegak, namun ia memaksakan diri.Di kampus, Aira mencoba mengubur Perasaan tak nyaman di tubuhnya. Saat duduk di kelas, ia merasa pusing datang menyergap. Senyum Nita muncul sekilas di tepi penglihatannya, lalu menghilang saat Aira memejamkan mata.“Aira?” bisik Nita pelan. “Kamu sakit?”Aira menggeleng. “Cuma pusing… sedikit.”Nita tidak percaya, tapi ia menahan diri. Ia menggeser botol air ke arah Aira, lalu kembali menatap papan tulis.Aira meminum air itu perlahan, meski mual kemba
Hari-hari setelah ia mendapati dua garis itu, seolah berjalan seperti kabut yang enggan menyingkir. Aira bangun setiap pagi dengan kepala yang jauh lebih berat dan dada yang jauh lebih sesak, seperti ada sesuatu yang menahan napasnya lebih parah daripada saat ia mengetahui kalau Adrian adalah lelaki malam itu dan saat ia menyadari ada tanda-tanda tak biasa pada tubuhnya.Ranjang yang ia tiduri pun tidak lagi terasa hangat atau nyaman—lebih seperti tempat ia menunggu kekhawatiran berikutnya.Semua hal seolah tampak jauh baginya. Hanya satu hal yang selalu terasa dekat: garis merah ganda yang muncul di kepalanya setiap kali ia berhenti sejenak. Seakan bayangan itu menolak pergi.Di kelas, Nita selalu di sampingnya. Sahabatnya itu setiap hari selalu saja menanyakan keadaannya, meski jawaban yang ia berikan selalu sama, tapi sahabatnya itu tak pernah absen bertanya, mungkin sampai rasa curiga dalam hatinya dapat menemui jawab yang tak mengandung dusta.“Ra, kamu kenapa, sih? Sekarang maki
Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi Aira masih duduk di lantai kamar mandi. Dinding tempatnya bersandar seakan kian merembeskan rasa dingin hingga ke tulangnya.Telapak tangannya menekan ubin, seolah mencari pegangan agar tubuhnya tidak runtuh. Napasnya terengah, pendek-pendek, dan setiap tarikan udara terasa tidak pernah cukup dan justru membuat aliran udara di dadanya kian menyempit.Ia belum berani mengangkat kepala. Ada bagian dalam dirinya yang berharap waktu berhenti tepat di momen ini—sebelum apa pun berubah, sebelum pikirannya dipaksa menerima sesuatu yang belum siap ia hadapi. Namun tubuhnya tidak memberi pilihan. Jantungnya berdetak terlalu keras, terlalu cepat, seakan mendesaknya untuk menyelesaikan ketegangan yang menggantung di udara.Dengan gerakan pelan, nyaris ragu, Aira akhirnya mendongak.Pandangan matanya langsung tertuju pada benda kecil di tepi wastafel.Test pack itu tergeletak diam, sederhana, tanpa suara, tanpa gerak—seolah tidak menyadari kekacauan yang b
Adrian masuk seperti biasa—tenang, rapi, dan seolah tidak membawa apa pun selain urusan akademik ke dalam kelas. Namun sejak langkahnya melewati pintu, Aira sudah tahu ada sesuatu yang berbeda. Bukan dari sikap Adrian, melainkan dari dirinya sendiri. Suara Adrian terdengar jelas, menjelaskan materi dengan nada datar dan terukur. Kata demi kata meluncur rapi. Tapi di telinga Aira, semuanya terasa jauh. Bergema. Seolah pikirannya berada di ruang lain yang tak bisa dijangkau suara mana pun. Pulpen di tangannya diam beberapa detik. Lalu sebuah pikiran menyusup, lirih tapi tajam. “Bagaimana kalau benar?” Dadanya mengencang. “Bagaimana kalau aku memang hamil?” Bayangan itu muncul begitu saja. Dirinya duduk di kelas yang sama, beberapa bulan ke depan—sementara sesuatu tumbuh perlahan di tubuhnya, sesuatu yang tak bisa ia sembunyikan selamanya. Dan Adrian? Ia melirik ke de
Hari-hari setelah kejadian di klinik terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.Setiap pagi, Aira bangun dengan rasa mual yang menjadi lebih sering datang dan pergi tanpa alasan, lelah kian menyerang bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.Rasa berat yang menggantung di belakang mata dan di pangkal leher, seolah ada sesuatu yang mengambil tenaga darinya sedikit demi sedikit.Ia bangun lebih lambat dari biasanya, dan untuk pertama kalinya sejak semester dimulai, ia beberapa kali hampir telat masuk kelas. Tapi yang paling menakutkan bukanlah rasa sakit itu, melainkan pikiran-pikiran yang terus berputar di kepalanya.Nita memperhatikan perubahan itu dengan gelisah.“Ra, kamu yakin enggak apa-apa?” tanyanya suatu pagi sambil mengaduk kopi. “Dari kemarin kamu kelihatan makin lemes. Kamu tuh butuh ke dokter, bukan Cuma istirahat.”Aira menepuk pipinya pelan, mencoba memberi warna pada wajah yang terasa dingin. “Aku Cuma capek.”“Capek setiap hari?” tanya Nita, nada suaranya lembut tapi je







