LOGIN"Nona, apa Anda tidak ingin meminumnya?"
Suara Greta memecah keheningan, wanita itu terdengar sedikit tidak sabar. Matanya terpaku pada tangan Sienna yang masih diam di atas selimut, sama sekali tidak menyentuh cangkir itu.
Sienna tersentak pelan dari lamunannya. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang.![]()
"Mana ada pelayan yang waras menodai kehormatannya sendiri?! Dia berbohong untuk menyelamatkan nyawanya yang kotor setelah nafsu bejatnya ketahuan!""saya berani bersumpah atas nama dewa!" balas Rowan berapi-api, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Surat itu ada padaku! saya bisa membuktikannya, coba periksa…"Rowan merogoh saku dalam jubah ksatrianya dengan panik, mencari-cari perkamen yang menjadi alasan kedatangannya. Namun, saku itu kosong. Tangannya meraba saku yang lain, wajahnya semakin memucat. Surat itu lenyap, entah terjatuh saat ia berlari kemari atau memang sejak awal ia telah diambil oleh seseorang di lorong tanpa ia sadari.Melihat Rowan yang membeku dengan tangan kosong, Alexandria melirik ke arah Elizabeth di ambang pintu. Tatapan mata wanita itu seolah berbicara dengan sangat jelas, Ini adalah akibat dari penolakanmu.Kau akan menyesalinya.Kalimat yang diucapkan Alexandria semalam bergema berulang-ulang di kepalanya seperti lonceng kematian. Kini ia paham sepenuh
Sinar matahari pagi baru saja menyapu sisa-sisa embun di dedaunan ketika Permaisuri Sienna melangkah menyusuri jalan setapak berbatu putih di hamparan Taman Kekaisaran. Di belakangnya, Lady Elizabeth dan Lady Lesley mengekor dalam diam.Sienna melirik sekilas dari balik bahunya. Sang Permaisuri itu bisa melihat dengan jelas ada perubahan pada diri Elizabeth hari ini. Kantung mata sang putri Duke itu tampak sedikit menggelap, menandakan malam yang dilalui tanpa tidur. Sienna tersenyum tipis dalam hati. Tampaknya, umpan yang ia lempar di ruang minum teh kemarin telah membuahkan hasil.Sementara itu, Lesley terus menundukkan wajahnya, meremas sapu tangannya dengan gelisah, seolah udara istana pagi ini membawa firasat buruk yang mencekik lehernya."Udara semakin dingin." ucap Sienna memecah keheningan yang panjang, ia memutar tubuhnya menghadap kedua dayangnya. "Mari kita kembali ke paviliun. Aku ingin menyeduh teh hangat sebelum Yang Mulia Kaisar kembali dari rapat paginya.""Baik, Yan
Malam telah larut. Setelah ketegangan yang menguras mental di ruang minum teh siang tadi, dilanjutkan dengan tugas rutinnya melayani Permaisuri di kamar utama, langkah kaki Lady Elizabeth terasa begitu berat.Tubuhnya lelah, dan pikirannya jauh lebih lelah. Terutama karena seharian ia terus merasa ketakutan Sienna akan bertanya mengenai dirinya dan Alexandria. Namun nihil, permaisuri tidak bertanya apapun.Sekarang, Alexandria hanya berharap bisa segera merebahkan diri, disambut oleh pelayan pribadinya yang akan membantunya melepas gaun berlapis yang mencekik ini, lalu tidur tanpa diganggu siapa pun.Namun, harapannya hancur berkeping-keping begitu ia membuka pintu kamarnya.Ruangan itu hanya diterangi satu lampu minyak yang meredup, namun Elizabeth bisa melihat dengan jelas ada sosok lain yang tengah duduk bersantai di sofa kamarnya. Jantung Elizabeth seolah berhenti berdetak. Sosok itu adalah Lady Alexandria Ashford.Refleks pertahanan diri Elizabeth langsung bekerja. Ia berbalik d
Keheningan yang menyusul setelah pertanyaan kurang ajar itu terlontar terasa sangat kental, seolah seluruh udara di ruang minum teh itu telah tersedot habis.Namun, alih-alih meledak dalam kemarahan atau memanggil para ksatria yang berjaga di luar, Sienna justru tersenyum.Ia menatap Alexandria dengan sorot mata layaknya seorang manusia yang sedang mengamati tingkah laku seekor serangga kecil yang mencoba menggigitnya."Kau terlihat begitu tertarik pada urusan pribadiku dan Kaisar di dalam kamar kami, Lady Alexandria." balas Sienna. "Hingga membuatku bertanya-tanya, apakah tidak ada hal lain yang lebih berharga untuk mengisi pikiranmu di kondisimu saat ini?"Alexandria sama sekali tidak tersinggung oleh balasan itu. Ular berbisa itu justru merasa bahwa ia telah berhasil menekan titik lemah Sienna.Alexandria melebarkan senyumnya, menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi dengan gestur tubuh yang memancarkan superioritas."Tentu saja aku tertarik, Yang Mulia." jawab Alexandria dengan nada
Ketegangan seketika menebal, merayap dan mencekik udara di ruang minum teh itu begitu Alexandria menyelesaikan kalimatnya.Kata-kata yang baru saja dilontarkan wanita bergaun zamrud itu bukan lagi sekadar sindiran, melainkan tuduhan terang-terangan bahwa sang Permaisuri tak lebih dari seorang pencuri tak beradab yang merebut posisinya.Mendengar kalimat yang berpotensi memicu hukuman mati itu, Lady Elizabeth dan Lady Lesley langsung mencuri pandang ke arah Sienna dengan panik. Jari-jari Elizabeth menegang di atas pangkuannya, bersiap jika nyonyanya meledak dalam amarah atau memerintahkan ksatria masuk. Sementara Lesley menggigit bibir bawahnya,pikirannya langsung memperhitungkan ke siapa ia harus berpihak jika itu semua benar terjadi.Namun, Sienna sama sekali menolak untuk terprovokasi.Wajah cantik sang Permaisuri tetap tenang. Ia bahkan tidak berkedip. Alih-alih marah, matanya menatap lurus ke arah Alexandria dengan sorot tenang."'Merebut' sesuatu yang menolak menjadi milikmu...
Lucian terdiam, mencerna strategi istrinya. Pikirannya yang tajam sebagai ahli perang segera menangkap arah pemikiran Sienna."Maksudmu... kau ingin menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan untuk memancing tikus-tikus lain keluar?" geram Lucian, tangannya tanpa sadar mencengkram seprai. "Itu terlalu berisiko, Sienna. Terutama dengan kondisimu saat ini.""Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada anak kita, aku berjanji." ucap Sienna meyakinkan, menekan tangan Lucian lebih erat ke perutnya. "Aku akan membawa Elizabeth dan ksatria. Aku akan sangat berhati-hati dengan apa pun yang kusentuh atau kuminum di sana."Sienna menatap suaminya dengan tatapan memohon sekaligus menuntut kepercayaan. "Kita tidak bisa hanya bertahan di dalam kamar ini selamanya, menunggu mereka memicu ledakan."Lucian menatap dalam ke mata biru istrinya. Ia melihat api keberanian yang sama dengan yang ia miliki saat ia memutuskan untuk merebut takhta. Setelah keheningan yang cukup lama, Lucian akhirnya menghe
Sisa perjalanan menuju Ibu Kota berhasil dilewati dengan jauh lebih tenang. Berkat ramuan herbal rutin yang diberikan oleh Tabib yang ketakutan, rasa mual Sienna berangsur hilang. Rona merah perlahan kembali ke wajahnya.Ketika gerbang megah Ibu Kota mulai terlihat menjulang di kejauhan, Sienna tid
Arthur mendengarkan bisikan dari pelayan pribadinya dengan ekspresi tenang. Matanya sesekali melirik ke arah Alexandria, membuat wanita itu semakin gelisah.Setelah menyampaikan pesannya, pelayan itu membungkuk dalam da
Perjalanan baru berlangsung satu jam, roda kereta baru saja meninggalkan jalan utama berbatu di sekitar kastil dan memasuki jalan hutan yang sedikit tidak rata.Namun, di dalam kereta yang hangat itu, wajah Sienna tiba-
Lucian berjalan melewati ibunya menuju tangga, membiarkan punggungnya menjadi pemandangan terakhir bagi ibunya yang masih terisak di lantai yang dingin. Ia tidak menoleh lagi, meski teriakan dan tangisan Beatrice menggema memantul di dinding batu kastil.Ia menaiki tangga dengan langkah lebar, piki







