تسجيل الدخولCahaya matahari pagi yang cerah telah sepenuhnya menerangi kamar tidur utama kekaisaran.
Di depan cermin berukuran besar yang berada di ruangan itu, sepasang penguasa benua utara itu telah berdiri dengan penampilan yang sempurna.
Sienna tampak luar biasa anggun dalam balutan gaun sutra formal berwarna biru safir dengan sula
Cahaya matahari pagi yang cerah telah sepenuhnya menerangi kamar tidur utama kekaisaran.Di depan cermin berukuran besar yang berada di ruangan itu, sepasang penguasa benua utara itu telah berdiri dengan penampilan yang sempurna.Sienna tampak luar biasa anggun dalam balutan gaun sutra formal berwarna biru safir dengan sulaman benang emas, sementara rambut pirangnya telah ditata rapi ke atas oleh para pelayan.Di belakangnya, Lucian berdiri menjulang, mengenakan seragam kebesaran Kaisar berwarna hitam legam yang dihiasi medali militer dan jubah merah marun yang menjuntai gagah.Mereka berdua sudah rapi, siap untuk melangkah keluar dari kamar dan melaksanakan tugas kenegaraan mereka masing-m
Melihat noda darah itu, keheningan yang luar biasa menyesakkan tiba-tiba turun menyelimuti mereka berdua. Udara di dalam foyer itu terasa seolah membeku.Sebagai seorang prajurit yang telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di medan pertempuran, Caesar tahu persis bahwa darah yang berada di celana adiknya itu masih segar hanya dari aromanya.Dan di tengah situasi politik yang sedang mencekik keluarganya saat ini, otak Caesar yang brilian dengan cepat merangkai semua teka-teki itu.Ia dapat langsung menebak dari mana adiknya baru saja pulang, dan Caesar tahu persis darah siapa yang kini menodai celana yang dikenakan adiknya tersebut.Urat-urat di leher Caesar seketika menonjol keluar. Rahangnya m
Hantaman keras dari tongkat besi itu mendarat telak di kepala bagian belakang Rowan.Rasa sakit yang luar biasa hebat seketika meledak di tengkoraknya. Pandangan Rowan mendadak memutih, duunia di sekelilingnya berputar dengan cepat.Darah segar seketika mengalir deras dari kepala Rowan, membasahi kerah kemejanya. Pertahanan kakinya runtuh, dan tubuh besar sang pahlawan perang itu pun jatuh menghantam jalanan berbatu dalam keadaan tidak sadarkan diri.Pria berpakaian hitam yang memukulnya tadi menurunkan senjatanya. Ia melangkah maju, menatap tubuh Rowan yang tergeletak bersimbah darah."Lord Noah." panggil si pembunuh bayaran dengan suara serak. "Apa yang harus kami lakukan pada mayatnya sekarang?"
Namun, di tempat lain, kebahagiaan yang dibayangkan oleh Alice sama sekali tidak dirasakan oleh pria yang menjadi tujuan hadiah sulamannya tersebut.Di dalam sebuah kamar penginapan mewah yang disediakan istana untuk para Ksatria, Rowan berbaring telentang di atas ranjang.Ia masih mengenakan kemejanya yang longgar. Salah satu lengannya diletakkan melintang menutupi kedua matanya, mencoba menghalau cahaya lentera sekaligus bayang-bayang kelam di kepalanya.Pikirannya bergemuruh hebat, terus kembali pada pertemuan singkatnya dengan Elizabeth di taman istana sore itu.Aku akan segera bertunangan.Kalimat yang diucapkan gadis itu terus terngiang-ngiang,
Mendengar perkataan ayahnya, Noah melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Lalu kenapa Ayah tidak memberikan perintah pada Ksatria kita? Caesar menolak untuk bertindak. Kakak terlalu penakut dan hanya menyuruhku untuk menelan harga diri keluarga kita dan mematuhi Kaisar!"Mendengar nama putra sulungnya disebut, rahang Duke Mountford mengeras. Ia mendengus kasar."Kakakmu adalah seorang komandan perang. Otaknya hanya bekerja di dalam barisan dan aturan yang tertulis. Dia terlalu kaku untuk melakukan pekerjaan kotor yang sesungguhnya." ucap sang Duke dengan nada meremehkan."Jika kita menyerang Rowan secara terang-terangan dan tanpa alasan, Kaisar akan menjadikan itu sebagai alasan pemberontakan
"Rowan?!" Noah terperangah, mengulangi nama itu seolah kata tersebut adalah racun di lidahnya. Keterkejutan di wajahnya dengan cepat berganti menjadi rasa jijik yang luar biasa. "Maksudmu si mantan pelayan itu?!""Sepertinya dia meminta Elizabeth sebagai hadiahnya karena telah menjadi pahlawan perang." jawab Caesar dengan suara datar, meski matanya menyorotkan kelelahan yang mendalam.Noah mengerutkan keningnya, memancarkan ketidaksukaan yang tak ditutup-tutupi. Ia melangkah maju dengan tangan yang mengepal erat."Ayah tidak mungkin menyetujuinya, kan? Itu sama saja dengan membuang kotoran ke wajah keluarga kita! Rowan itu memiliki darah pelayan. Menikahkannya dengan putri dari Duchy Mountford akan menodai silsilah kita selamanya!"
Arthur mendengarkan bisikan dari pelayan pribadinya dengan ekspresi tenang. Matanya sesekali melirik ke arah Alexandria, membuat wanita itu semakin gelisah.Setelah menyampaikan pesannya, pelayan itu membungkuk dalam da
Perjalanan baru berlangsung satu jam, roda kereta baru saja meninggalkan jalan utama berbatu di sekitar kastil dan memasuki jalan hutan yang sedikit tidak rata.Namun, di dalam kereta yang hangat itu, wajah Sienna tiba-
Lucian berjalan melewati ibunya menuju tangga, membiarkan punggungnya menjadi pemandangan terakhir bagi ibunya yang masih terisak di lantai yang dingin. Ia tidak menoleh lagi, meski teriakan dan tangisan Beatrice menggema memantul di dinding batu kastil.Ia menaiki tangga dengan langkah lebar, piki
Sienna membulatkan matanya mendengar perkataan itu. Apa obat itu… membuat orang yang mengkonsumsinya jadi berbicara melantur?"Itu... itu berlebihan sekali...." ucap Sienna dengan dahi berkerut. "Anda tidak boleh mempertaruhkan nyawa semudah itu, Tuan Duke! Itu mengerikan!"Lucian terdiam sejenak.






